MasukPandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api.
Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal.Jemari gadis itu mencengkeram ujung handuknya erat-erat agar tidak melorot dan jantung Andrea berdetak tak karuan karena melihat ekspresi cowok di hadapannya."Aku mau merokok sekarang," ucap Kyrran dengan napaRestoran yang dipilih Jasper memiliki suasana elegan dengan pencahayaan hangat dan alunan musik lembut. Meja-meja ditata berjauhan sehingga percakapan para pengunjung tidak mudah terdengar oleh orang lain.Jasper memilih meja untuk dua orang di dekat jendela. Setelah mempersilakan Andrea duduk, ia mengambil tempat tepat di hadapan gadis itu.Tak lama kemudian, hidangan mereka tiba.Awalnya, makan malam itu berlangsung cukup menyenangkan. Jasper bercerita tentang kuliahnya, beberapa rencana yang sedang ia persiapkan untuk pertandingan basket dan Andrea menanggapinya dengan ramah."Kamu sendiri bagaimana? Kuliah kamu lancar?" tanya Jasper sembari memotong steak di piringnya."Lumayan, tugas lagi banyak-banyaknya sekarang," ucap Andrea."Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kamu harus jaga kesehatan," ucap Jasper penuh perhatian.Andrea mengangguk. "Iya, kamu juga."Jasper tersenyum, lalu mengambil gelasnya. Ia meny
Sore harinya, Andrea berdiri di depan cermin kamar sembari merapikan gaun yang jatuh lembut di bawah lututnya. Gaun berwarna putih gading itu memiliki potongan sederhana dengan detail pita kecil di bagian pinggang. Rambut hitam panjangnya diikat setengah, sementara riasan gadis itu dibuat tipis agar terlihat alami.Bersamaan saat ia berbalik membelakangi cermin, ponsel Andrea bergetar, memunculkan notifikasi pesan dari Kyrran di layar.[Aku sudah di dekat gerbang, Sayang. Ingat, jangan manis-manis depan dia]Andrea tersenyum kecil sembari mengerutkan kening saat menatap stiker karakter lucu dengan gambar api-api di kepala yang dikirim Kyrran."Dasar…" gumamnya seraya mengetik balasan.[Iya, Baby Ran. Tenang saja]Setelah itu, Andrea memasukkan ponsel ke dalam tas kecil yang berwarna senada dengan gaunnya, lalu melangkah keluar dari asrama.Di dekat gerbang asrama, Jasper yang mengenakan kemeja biru navy, menunggu di samping mobilnya. Di tangan cowok itu terdapat sebuket bunga dengan p
Siang harinya, Andrea berjalan menuju ruang baca arsip di lantai paling atas perpustakaan kampus. Tempat itu jarang dikunjungi mahasiswa karena sebagian besar koleksinya berupa dokumen lama dan jurnal akademik yang hanya bisa dibaca di tempat. Suasananya tenang, dengan beberapa meja kayu panjang dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang fakultas. Di salah satu sudut ruangan, Kyrran sudah menunggunya. Cowok itu duduk dengan laptop terbuka di hadapannya. Namun, begitu melihat Andrea datang, Kyrran segera menutup layar laptop tersebut dan mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sebelahnya. "Kenapa, Baby Ran?" tanya Andrea sembari meletakkan tasnya di atas meja. "Kok tiba-tiba ngajak ketemu di sini?" "Kamu harus lihat ini, Sayang." Kyrran mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka beberapa foto yang sejak pagi tadi terus mengusik pikirannya. Ia menyerahkan ponsel tersebut kepada Andrea tanpa banyak bicara.
Keesokan paginya, Kyrra yang sudah siap berangkat ke kampus menghampiri ranjang. Andrea masih terlelap di balik selimut—dengan rambut sedikit berantakan dan wajah yang tampak begitu tenang.Cowok itu membungkuk, lalu mengecup lembut dahi kekasihnya."Hmm… kamu udah mau berangkat?" gumam Andrea dengan mata masih terpejam."Iya, Sayang," ucap Kyrran dengan suara rendah.Andrea bergerak sedikit, berniat membuka mata, tetapi Kyrran lebih dulu mengusap kepalanya dengan lembut."Aku anterin sampai depan pintu," tawar gadis itu dengan suara serak khas bangun tidur."Enggak usah, Sayang. Kamu lanjut tidur aja." Kyrran merapikan selimut yang menutupi tubuh Andrea. "Aku sudah siapin sarapan buat kamu di meja. Jangan lupa makan sebelum berangkat ke kampus ya."Kali ini, Andrea membuka mata perlahan. Ia mendongak menatap cowok yang berdiri di sisi ranjang itu, kemudian tersenyum kecil."Makasih ya, Baby Ran Sayang," ucap Andrea.Kyrran membalas senyum Andrea dengan kecupan singkat di kening gadi
Andrea bersandar pada headboard tempat tidur sembari membaca buku jurnalistik yang berada di tangannya. Sesekali, gadis itu membalik halaman, larut dalam bacaan hingga tak menyadari Kyrran baru saja keluar dari kamar mandi.Sekitar beberapa menit, Kyrran berjalan mendekat dengan mengenakan piama kimono biru navy. Rambut hitam legamnya masih sedikit lembap, beberapa helainya jatuh di dahi.Saat Andrea mengangkat pandangannya dari buku, gadis itu menahan napas sekilas lantaran cowoknya itu selalu sukses mencuri perhatiannya.'Astaga, Baby Ran makin ganteng saja sih,' batinnya.Andrea lekas mengalihkan pandangan, berpura-pura kembali membaca. Namun, sudut bibirnya telanjur terangkat, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya.Sementara itu, tanpa banyak bicara, Kyrran naik ke atas kasur. Bukannya mengambil tempat di samping Andrea, cowok itu justru merebahkan kepala di perut Andrea, lalu melingkarkan kedua lengan di pinggang gadisnya itu.Andrea sontak menunduk, jemari
Andrea mengalungkan lengannya lebih erat di tengkuk Kyrran. "Kamu sudah ingat sesuatu?" tanyanya penuh harap.Kyrran menatap Andrea lekat-lekat, meniti setiap fitur wajah cantik gadisnya itu. Lantas ia menggeleng pelan. "Belum, Sayang. Aku cuma menebak cepat."Kyrran mengalihkan pandangan ke layar laptop. "Aku pikir, mungkin passwordnya nama kamu. Soalnya, setelah kita kembali bersama, aku melakukan hal yang sama. Aku memakai nama kamu atau tanggal ulang tahun kamu untuk password dan PIN."Andrea terdiam sesaat sebelum senyumnya mengembang. "Dan kamu benar, Baby Ran."Kyrran mengangguk. "Hm."Gadis itu kemudian mengangkat tangannya, mengusap lembut rahang kekasihnya dengan ibu jari. Ada kehangatan yang memenuhi tatapannya saat memandangi wajah yang begitu ia cintai.Kyrran tersenyum tipis, lalu menangkap tangan Andrea dan mengecup punggungnya sekilas."Untuk beberapa waktu ini, aku justru mengingat potongan-potongan sewa
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h







