로그인Di hari Minggu biasanya kafetaria tidak terlalu ramai. Kebanyakan siswa memilih bangun siang atau memesan makanan di luar. Namun siang itu, suasana ramai.
Andrea melangkah masuk sambil merapatkan sweater rajut kuning mudanya. Rok pendek yang dipadukan stocking hitam transparan, membuat kaki jenjangnya terlindung dari udara bulan November yang mulai dingin. Di sudut ruangan, Noela, Derby dan Jolina tampak melambaikan tangan dari meja dekat jendela. Andrea membalaMakan malam keluarga besar Alveroz akhirnya tiba. Kediaman utama keluarga itu jauh lebih ramai daripada biasanya. Lampu-lampu kristal menyala hangat menyertai suara percakapan memenuhi ruang makan panjang yang mampu menampung puluhan orang sekaligus.Sudah cukup lama sejak seluruh keluarga Alveroz berkumpul selengkap ini.Mereka datang terutama karena ingin bertemu Kyrran setelah kepulangannya dari Valkenburg dan ingin mendengar langsung perkembangan pengobatannya.Kyrran sendiri duduk di sisi meja bersama Noela. Di hadapannya, para paman, bibi, sepupu, dan opa oma dari pihak mamanya sibuk mengobrol.Topik pembicaraan berganti-ganti. Mulai dari bisnis keluarga, rencana liburan, prestasi para generasi keempat sampai kemenangan tim basket sekolah Kyrran beberapa waktu lalu.Namun suasana hangat itu perlahan berubah ketika Opa Riovandra meletakkan sendoknya. Ruangan mendadak lebih tenang."Kondisi Kyrran bagaimana sekarang?"
Dua minggu berlalu sejak Kyrran kembali dari Valkenburg. Namun kepulangannya itu bukan berarti rangkaian pengobatan selesai. Justru sejak kembali ke negaranya, jadwal Kyrran semakin padat. Dokter Armand yang menanganinya di dalam negeri terus berkomunikasi dengan tim medis dari Valkenburg. Hasil pemeriksaan yang dibawa Kyrran dari luar negeri dipelajari ulang, sementara beberapa pemeriksaan tambahan dilakukan untuk memastikan kondisi tubuhnya cukup kuat apabila nantinya menjalani terapi. Hampir setiap beberapa hari, Kyrran melakukan konsultasi. Kadang secara langsung atau melalui panggilan video bersama dokter Sebastian dari Valkenburg. Dan selama menunggu keputusan akhir, Kyrran memilih menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tidak mau waktunya hanya dihabiskan di rumah sakit. Ia makan malam bersama dua keluarga besarnya. Bertemu sahabat-sahabatnya. Menghabiskan waktu dengan Darell dan Noela yang masih saja suka mengganggunya. Dan tentu saja, bersama Andrea sang kekasih. Bahkan
Bagaimana cara membuat Kyrran berhenti marah saat ini? Andrea juga bingung.Ciuman yang didominasi sendiri oleh cowoknya tadi ternyata sama sekali tidak mempan juga meredam amarahnya. Kyrran masih memasang wajah dingin, tatapannya bahkan tak sedikit pun melunak.Andrea mengembuskan napas pelan. Kalau begini terus, mereka tidak akan selesai.Ia kemudian menjinjit, berusaha menyamai tinggi cowoknya itu di depannya, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Kyrran."Jangan marah lagi dong, Baby Ran," pintanya lirih. "Kita lama gak ketemu, harusnya kita lepas kangen aja."Cowok itu terdiam. Tatapannya turun menatap Andrea yang kini bergelayut manja di lehernya."Kalau begitu… block dan hapus permanen chatnya dia," ujar Kyrran datar. Biasanya kalau Andrea mendekat, tangannya akan merengkuh pinggang Andrea, namun kali ini kedua tangan Kyrran masih lurus di sisi tubuh tingginya.Andrea mengerucutkan bibir sebentar, lalu berkat
"Kamu chattingan lagi sama Jasper?" Suara Kyrran begitu tajam sampai membuat jantung Andrea berdetak tak nyaman. Andrea menelan salivanya berat, lalu melangkah buru-buru menghampiri Kyrran. Napasnya masih sedikit tersengal saat ia menjatuhkan diri di sisi kasur, tepat di sebelah cowoknya itu. "Baby Ran, aku niat mau cerita soal dia setelah kamu kembali," kata Andrea dengan suara yang sangat lembut. "Tadi kita bicarakan hasil pemeriksaan kamu dulu, jadi aku belum sempat bahas soal Jasper." Andrea memegang pundak cowoknya itu dengan kedua tangan. "Sekarang kita bahas, oke, Sayang?" Kyrran memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum menoleh pada Andrea. Rahangnya mengeras dan tatapannya menancap lurus ke wajah gadis itu. Andrea bisa merasakan sorot mengintimidasi dari iris hitam cowok itu. "Please…" pinta Andrea, memamerkan puppy eyes di kilat matanya. Kyrran tidak menjawab sama sekali. Namun sorot mata tajamnya sudah menjadi sinyal untuk dia segera menjelaskan. "K
Andrea mengulum bibirnya bingung. Kalau ia tidak balas lagi chat Jasper, apakah cowok itu akan melaporkan Andrea yang sekolah di Alveroz High ke Kakek Dedrick? Pasalnya hal itu masih jadi rahasia Andrea yang tersimpan rapi dari kakeknya. Ia kemudian menghela napas sebelum membalas pesan Jasper seadanya. Seperti kabar baik dan rencana kuliah. Andrea akan memberitahu Kyrran setelah pacarnya itu kembali. Terakhir kali Andrea laporkan soal Jasper, Kyrran marah besar. Sekarang, ia mau Kyrran fokus pada pemeriksaannya dulu dan tidak memikirkan hal lain. Hidup Andrea kembali berjalan seperti biasa. Kelas, tugas, rapat klub jurnalistik, festival di sekolah, jalan bersama para sahabatnya—semuanya berjalan berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah dua minggu sejak Kyrran berangkat ke German. Selama berada di Valkenburg, Kyrran dan Andrea tidak pernah kehilangan kontak. Hampir setiap pagi ada pesan singkat. Kadang mereka hanya bertukar foto makanan atau Kyrran mengirimkan pemandangan kota
Hari keberangkatan Kyrran ke luar negeri akhirnya tiba. Bandara internasional pagi itu dipenuhi lalu-lalang penumpang dengan koper dan tas perjalanan. Pengumuman keberangkatan terdengar berkala dari pengeras suara.Namun jauh dari keramaian terminal utama, di salah satu lounge VIP privat, suasananya jauh lebih tenang.Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap langsung ke apron bandara. Di luar sana, sebuah jet pribadi berwarna putih dengan lambang keluarga Yoseviano telah menunggu.Beberapa kru terlihat melakukan pemeriksaan terakhir sebelum keberangkatan.Sementara di dalam lounge, Kyrran berdiri berhadapan dengan Andrea. Cowok itu mengenakan jaket hitam, celana panjang, dan ransel yang tersampir di bahunya. Di sampingnya ada koper yang akan membawanya ke Valkenburg, German. Tempat yang mungkin menjadi harapan terbesar untuk kesembuhannya atau mungkin kesempatan terakhir. Andrea tidak mau memikirkan kemungkinan kedua. Jadi ia memili
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh
Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu me
Setelah kegiatan di klub jurnalistik selesai, Andrea bergegas keluar, langkah sepatunya menyusuri koridor yang lengang. Dia harus menemui Kyrran demi keselamatan naskahnya malam ini. "Ada-ada saja," geram Andrea, berjalan cepat sambil menunduk, kedua ibu jarinya menari di layar. [Kamu di mana]