FAZER LOGIN"Andrea sudah dibawa sama mereka," bisik Noela pada Derby dan Jolina. Gadis berambut sebahu itu menunjukkan tas dan ponsel Andrea yang ia temukan di depan toilet setelah listrik menyala. Jolina mengangguk. "Sekarang giliran kita beraksi juga.""Ayo ke mobil," ajak Derby. Cowok itu melangkah lebih dulu. Ketiga remaja tersebut berjalan cepat menembus kerumunan pesta, menuju parkiran. Noela yang menyetir mobil sementara Derby duduk di sebelahnya sambil memangku laptop. Di jok belakang Jolina duduk sambil berkutat dengan ponselnya. "Aku sudah dapat empat belas cewek yang pernah disekap grup KGA dan bersedia speak up," celetuk Jolina. Noela memandangi pantulan gadis itu di kaca depan. "Sesuai kata Andrea, kumpulkan minimal dua puluh orang, jadi harus dicari lagi.""I'm on it, baby," kata Jolina.Noela kemudian melirik ke arah Derby yang jemarinya menari di atas keyboard laptop. "Sudah dapat lokasinya?"
"Mari bermain," ujar Andrea tajam, sebelum melangkahkan heels sambil mengarahkan cahaya ponselnya. Tepat saat gadis itu melewati pintu toilet, sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuhnya dari belakang. Tas kecil dan ponselnya lepas dari genggaman, jatuh ke lantai. Meski sesuai prediksinya, Andrea tetap membuat dirinya meronta dan mencoba berteriak agar tidak memupuk kecurigaan para anggota grup itu. "Mmphhhh!"Kain tebal membekap hidung dan mulutnya, lalu aroma kimia menyengat indera penciuman Andrea hingga gadis itu kehilangan kesadaran. Saat membuka mata, hal pertama yang Andrea rasakan adalah dinginnya lantai beton yang menyergap kulit gadis itu. Andrea mengerjap pelan sambil mencoba fokus. Kepalanya masih terasa berat dan tangannya yang terikat menekan lantai kasar. Selanjutnya dia berusaha perlahan untuk duduk. Matanya menyapu sekeliling, mencoba mengingat detail-detail yang sama dengan tempat penyekapan Andrea s
"Would you dance with me?" suara Kyrran begitu dalam. Andrea mengangkat pandangannya pada iris hitam Kyrran yang begitu dekat. Sesuatu di kilat mata cowok itu seolah membelenggu sekujur tubuhnya. Andrea tidak tahu apa, tapi seluruh sarafnya terasa kesemutan. Gadis itu akhirnya menelan saliva pelan untuk mengontrol debar jantungnya. Namun, merasa tidak ada efek, Andrea kemudian menyapu sekitar. Siswa-siswi dari sekolah mereka sudah memperhatikan sambil berbisik-bisik. Tatapan penasaran, syok, iri, sampai tidak percaya bercampur jadi satu. Dan di saat yang sama, Andrea mengingat kembali alasan kenapa ia harus berada di dekat Kyrran malam ini. Perlahan, Andrea kembali menatap Kyrran lalu menjawab, "yes… i would love to." Di kejauhan, tiga sahabatnya sudah berada di posisi masing-masing. Noela dibawa oleh crushnya ke lantai dansa. Sementara Jolina dan Derby berdiri di sisi bar.
Satu jam sebelumnya, Kyrran menghentikan langkahnya di sebelah sebuah supercar jingga yang terparkir di depan gerbang asrama putra. Lantas cowok itu mengangkat pintu gunting perlahan, lalu masuk ke kursi penumpang sambil mengembuskan napas panjang. Di balik kemudi, Darell—kakak sepupunya—sudah menunggu sambil tersenyum jahil. "Aku sudah mendengar kalau semua kendaraanmu disita sementara oleh Papa Adriell." Darell terkekeh kecil sambil menyalakan mesin supercar. "Pantas saja kau mau nebeng." Kyrran mendesis pelan sambil memasang seatbelt. "Gak usah banyak omong. Jalan saja." "Ya, ya. Sensitif amat," timpal Darell. Mesin mobil meraung halus sebelum keluar dari lingkungan sekolah, menuju jalanan kota yang penuh lampu malam. Darell menyetir santai dengan satu tangan di kemudi sambil mengangguk-angguk mengikuti musik yang mengalun. Sementara itu, Kyrran sibuk denga
Andrea mondar-mandir di kamarnya sejak dua puluh menit terakhir. Jemari lentik gadis itu beberapa kali masuk ke rambutnya sendiri dengan frustrasi sambil terus memutar ulang detail yang baru saja Andrea sadari. Astaga. Bagaimana bisa dia melewatkan hal sepenting itu? Kenapa dia tidak curiga dari awal dengan tanda di telapak tangan sang Ketua Kyrran’s Guardian Angels malam itu? Ponsel Andrea di atas meja terus bergetar penuh notifikasi, tapi Andrea belum sempat membalas satu pun. Begitu suara ketukan terdengar yang ia yakini berasal dari Noela, Andrea membuka pintu cepat lalu menarik sahabatnya masuk. Noela mengernyit bingung. Wajar. Gadis berambut sebahu itu daritadi sibuk belajar membuat kue dan pasti belum cek grup. "Kenapa?" tanya Noela. Andrea menoleh dengan napas yang berat. "Aku sudah tau siapa Ketua grup KGA," ujarnya pelan dengan kilatan mata serius.
Sore harinya, Andrea menapaki tangga ke lantai tiga gedung seni sambil membawa paper bag. Di dalamnya ada kardigan milik Natasya yang sudah dicuci bersih. Setibanya di studio balet, alunan musik klasik memenuhi pendengaran Andrea. Lantas ia membawa langkahnya semakin ke dalam. Tepat di tengah ruangan yang dikelilingi oleh cermin besar, ada Natasya yang sedang menari sendirian dengan gerakan balet ringan dan anggun. Rok latihan hitamnya berputar lembut mengikuti tiap langkah pointe yang nyaris tanpa suara. Andrea terpaku beberapa jenak, memperhatikannya. Ketika musik akhirnya berhenti, Natasya menoleh ke arah pintu lalu tersenyum kecil saat menyadari keberadaan Andrea. Ia berjalan mendekat sambil menyeka peluh tipis di lehernya. "Aku membawa kardiganmu," kata Andrea, menyodorkan paper bag itu. "Padahal kamu tidak perlu buru-buru mengembalikannya," timpal Natasya. Senyum tipis tersungging di bibir Andrea. "Aku gak biasa menyimpan barang orang lain terlalu lama." Nata







