تسجيل الدخولOlivia tidak menyangka kepindahannya ke Jakarta akan membawanya bertemu kembali dengan Kafka, sosok penguasa sekolah yang ditakuti semua SMA Budi Karya. Di balik topeng bengis yang ia pasang setiap hari, siapa sangka bahwa sebenarnya laki-laki itu hanyalah seonggok anak mami? "Daripada lo gue jadiin target. Gue mau jadi pacar lo, nggak?" ujar Kafka menyodorkan tawaran paling masuk akal agar rahasia memalukan itu tetap terkubur. Olivia terdiam cukup lama. Pertanyaannya yang salah atau pria itu yang gila? "Bukannya harusnya gue yang mau jadi pacar lo?" Kafka tersenyum tipis. "Oke, gue mau." Olivia mematung di tempat, matanya membelalak tak percaya mendengar jawaban itu. Sial, apa yang baru saja dia lakukan? Sadar, Oliv! Setelah pertemuan pertama, harusnya sadar! Peraturan pertama bertemu Kafka, jangan sampai jatuh cinta sama dia!
عرض المزيد“Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"
Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama.
Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Olivia menginjakkan kaki di Jakarta dan memulai kehidupan barunya di SMA Budi Karya.
Sekolah paling elit se Jakarta Raya, katanya. Tapi minusnya, jangan pernah memancing perhatian Kafka Pradipta Kusuma, sang putra tunggal pemilik yayasan yang memimpin kelompok perundung paling ditakuti di sekolah.
Di depan sana, sekelompok cowok dengan seragam yang sengaja dikeluarkan sedang berdiri.
Salah satu dari mereka—Kafka Pradipta Kusuma—sedang bersandar di dinding, menatap seorang siswa yang berlutut di depannya dengan tatapan yang nyaris kosong.
Siapa sangka, di balik topeng 'bengis' yang disandang sang ketua itu, ada rahasia yang sanggup menghancurkan reputasinya?
Semuanya bermula tiga bulan lalu, jauh sebelum Olivia pindah ke Jakarta. Saat ia menginap di rumah Tante Ratna, teman baik mamanya di Bogor, ia tidak sengaja memergoki Kafka—si dingin yang ditakuti seluruh sekolah—sedang menangis sesenggukan karena bundanya ketinggalan di villa keluarga.
Kafka yang di sekolah tampak seperti monster, di rumah hanyalah seorang anak mami yang bahkan tidak berani mematikan lampu kamar karena takut gelap.
Olivia menatap lebih lama. Laki-laki itu hanya diam, membiarkan anggota kelompoknya melakukan tugas kotor, sementara dia sendiri adalah simbol otoritas yang tak tersentuh.
Namun, sial.
Hari ini Kafka menangkap basah tatapannya dari seberang koridor.
Tanpa sepatah kata pun, Kafka berdiri tegak. Dia melangkah lebar membelah kerumunan siswa. Sebelum Olivia sempat berbalik untuk lari, sebuah tangan besar mencengkeram lengan seragamnya dengan cukup kuat.
"Ikut gue."
Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang hanya bisa didengar Olivia.
Kafka menyeretnya masuk ke dalam ruang lab kimia yang kosong, menjauh dari kerumunan, dan mengunci pintu dari dalam.
Olivia menahan napas. Ia hanya seorang murid pindahan yang ingin lulus dengan tenang, bukan mencari masalah dengan anak geng-gengan.
Ruangan itu berbau cairan kimia dan debu, suasana yang pengap membuat Olivia merasa dadanya sesak.
Gadis itu berdiri kaku di dekat meja praktikum, matanya menatap lantai, tidak berani membalas tatapan Kafka yang kini bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada.
"Gue nggak bakal bilang siapa-siapa soal—”gumam Olivia, suaranya bergetar hebat.
Kafka mendekat. Dia tidak menindas secara fisik, tapi auranya membuat ruangan yang luas itu terasa sangat sempit.
Ia bersandar di meja praktikum, tepat di depan Olivia, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan tidak suka, sekaligus kewaspadaan yang tidak biasa di sana.
“Sejak kapan lo pindah?”
Olivia mengangkat muka sebelum laki-laki itu kembali mengusiknya. "Dengar. Lo pikir gue peduli soal apa yang lo omongin?"
"Gue nggak bakal kasih tahu siapa pun!" Olivia mendongak, matanya berkaca-kaca karena bingung dan takut. "Gue cuma–gue nggak punya waktu buat ngurusin hidup lo. Tolong, biarin gue pergi."
"Tapi lo udah liat," potong Kafka dingin.
Kafka bergerak cepat, memojokkan Olivia di antara meja lab dan tubuhnya yang jauh lebih tinggi.
Ia tidak menyentuh Olivia, namun keberadaannya sudah cukup untuk membuat Olivia tidak bisa berkutik. Kafka yang di sekolah ini terlihat sepuluh kali lipat lebih mengerikan dibanding Kafka yang manja di villa.
Ia adalah ancaman nyata bagi masa depan Olivia di sekolah ini. Kafka mencondongkan wajahnya, membiarkan Olivia merasakan betapa dingin dan tidak tersentuhnya sosok ketua The Syndicate ini.
“Terus lo mau apa, Ka? Gue tutup mulut?”
Kafka tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru memutar kursinya, menatap jendela yang memperlihatkan lapangan sekolah dari ketinggian lantai tiga.
Dengan gerakan lambat yang sengaja ia buat agar Olivia merasa terintimidasi, Kafka bangkit dan kembali merangsek maju. Ia berhenti tepat di depan Olivia, menunduk hingga tatapan mereka terkunci dalam jarak yang sangat berbahaya.
"Tutup mulut aja nggak cukup," Kafka berucap pelan, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Orang yang tahu rahasia gue punya kebiasaan nggak sengaja keceplosan. Lo bakal tau konsekuensinya.”
"Konsekuensinya apa?" tanya Olivia lirih.
Kepalanya pening karena situasi ini. Ia merasa terperangkap dalam skenario yang sama sekali tidak ia inginkan.
"Konsekuensinya, lo harus jadi orang yang selalu tahu di mana gue berada," jawab Kafka pelan. “Kalau ada yang nanya kenapa lo sering ada di sekitar kelompok gue, bilang aja lo anak baru yang disuruh bantuin urusan administratif beasiswa.”
"Cuma buat tutup mulut kalau lo… anak mami? Gue nggak mau terlibat sama kalian!"
"Gue nggak minta saran," tegas Kafka.
Matanya menajam, memberikan peringatan tanpa kata.
Kafka merogoh saku seragamnya, lalu melemparkan sebuah kartu akses ruangan khusus "Simpan.”
Olivia menatap kartu akses itu dengan tangan gemetar. Ia tidak pernah ingin terlibat dalam dunia Kafka, tapi Kafka memberikannya pilihan yang tidak bisa ia tolak. Ia terjebak dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
"Lo bakal lakuin apa yang gue suruh," bisik Kafka.
Olivia terdiam sejenak. Sorot matanya melunak sedetik, sebelum akhirnya kembali menjadi dingin.
"Dengar, Olivia. Kalau lo nggak mau jadi salah satu target bully Syndicate, lo harus simpan rahasia gue. Mulai detik ini, lo bakal selalu jadi dalam pengawasan gue.”
“Inget ya Olivia, mulai hari ini sampai seterusnya lo akan selalu berangkat dan pulang sekolah bareng gue,” Kafka membuka seatbelt nya dan keluar dari mobil untuk membukakan pintu bagi Olivia.Ini hari pertama mereka berangkat sekolah bersama, kafka yang memaksa. Padahal Olivia sudah sengaja menghindari cowok itu sejak kemarin, tapi cowok itu terus menerus berusaha mengejarnya. Kini, Olivia sama seperti tawanan yang akan selalu diawasi setiap saat.“Tapi—”“Nggak ada penolakan.” Potong Kafka.Olivia membuka seatbelt nya dan memasang wajah memelas, “Kafka, lo duluan aja deh masuk ke sana, gue belakangan aja. Nggak enak kalau pada lihatin kita.”Kafka tak bergeming, tangan laki-laki itu masih setia memegang pintu mobilnya di sisi Olivia.“Turun.” titah Kafka.Olivia berdecak sebal, Kafka selalu seperti ini. Tidak mau dibantah dan terus memberikan perintah.Olivia turun dari mobil Kafka tepat saat bel masuk sekolah berbunyi.Koridor sekolah sudah dipenuhi oleh anak-anak yang berlarian me
Olivia duduk termenung sendirian di kedai minimarket dekat rumahnya, sudah hampir larut malam dan Kafka belum juga menghubunginya sejak kemarin cowok itu pamit pergi duluan.Ia tahu urusan keluarga yang Kafka maksud adalah Tante Ratna meninggal, Olivia akui ia khawatir keadaan cowok itu. Tapi ia masih enggan untuk memulai menghubunginya duluan.Hari ini Kafka tidak masuk sekolah dan pengumuman tentang Bundanya meninggal bahkan sudah bergema di seluruh sekolah sejak pagi tadi, tapi Olivia tidak mendapatkan kabar apapun dari cowok itu selain dari Mama.Mama mengirimkan foto Kafka yang sedang berdiri di pinggir kolam renang, menggunakan pakaian serba hitam. Yang paling membuat Olivia tertegun lama adalah tatapan mata kosong milik Kafka, sangat kontras sekali dengan tatapan yang Olivia lihat kemarin di kantin.Dan lagi, Olivia tidak melihat ada jejak air mata di wajah Kafka. Bagaimana bisa cowok itu menahan tangisannya di saat keluarganya sedang berduka begini?Olivia masih menyimpan rasa
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di koridor mendadak diam. Kafka tidak melepaskan cengkeramannya, justru dia menarik Olivia mendekat sampai bahu mereka bersentuhan.“Jalan di samping gue, jangan ketinggalan," bisik Kafka dingin, namun terdengar sangat otoriter."Lepasin, Kaf. Lo bikin gue makin jadi bahan omongan," desis Olivia, berusaha melepaskan diri namun sia-sia karena Kafka justru mempererat rangkulannya.Kafka tidak peduli. Dia membawa Olivia berjalan menuju kantin. The Syndicate lainnya duduk di meja pojok, menatap mereka dengan wajah tidak percaya. Mereka tampak bingung, mengapa ketua mereka yang biasanya dingin malah bersikap "protektif" terhadap gadis yang baru saja mereka siram es teh kemarin."Duduk," perintah Kafka sa
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak pulang sekolah beberapa hari lalu dengan seragam basah, bau menyengat, dan wajah sembab. Puluhan pertanyaan sudah coba diutarakan Mama dan Papa, tapi Olivia masih membatu, enggan membahas masalah itu. Untuk pertama kalinya, ia dirundung di sekolah barunya atas kesalahan yang bahkan tidak ia buat. “Liv,” suara Mama menyapa dari arah belakang. Tangan lembut wanita itu mengusap kepalanya dan mengecup ubun-ubunnya dalam. “Ada Kafka di ruang tamu.”Deg.Cowok jelek itu lagi.“Aku nggak mau ketemu siapapun,Ma. Bilang aja aku lagi tidur atau lagi apa gitu, asal jangan suruh aku nemuin dia.” imbuhnya. “Lagian dia tau darimana sih rumah kita?”Mama menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.