LOGINCahaya matahari tropis menyusup lewat celah tirai lebar, memantul di lantai kayu kamar utama dan menari di permukaan kaca balkon. Chloe menggeliat pelan di atas kasur yang berantakan. Sisi ranjang di sebelahnya kosong, sudah dingin.“Daddy?” panggil Chloe dengan suara serak khas baru bangun tidur.Tidak ada jawaban dari kamar mandi. Matanya menyapu seisi kamar, lalu terpaku pada pintu balkon yang sedikit terbuka. Dari sana tampak siluet Jordan berdiri memunggungi kamar, mengenakan celana linen pendek dan kemeja pantai yang tidak dikancingkan. Bahunya tegang. Tangan kanannya memegang ponsel satelit.Di luar, laut Maldives membentang biru dan tenang. Pemandangan itu terlalu sempurna untuk mengiringi suara dingin yang keluar dari mulut Jordan.“Ulangi,” kata Jordan pendek.Dari seberang telepon, suara Leo terdengar hati-hati. “Mereka membuang sauh tepat tiga mil dari batas radar pertahanan pulau, Bosman. Dari atas kelihatan seperti yacht turis biasa—ada beberapa wanita berjemur di dek.
Tiga belas jam penerbangan akhirnya berlalu. Sinar matahari tropis yang terik dan hamparan air laut sebening kristal menyambut kedatangan rombongan Arsenio di pulau privat Maldives. Vila utama yang berdiri anggun di atas perairan dangkal itu semestinya menjadi saksi bulan madu Jordan dan Chloe—tenang, mewah, dan romantis.Sayangnya, begitu koper-koper diturunkan dan para staf mulai bergerak, suasana pulau itu justru berubah aneh. Aroma laut asin yang seharusnya menyegarkan malah kalah oleh bau bawang putih, cabai, dan terasi bakar yang menyeruak dari dek vila.“Nyonya Chloe, ini daging lobster yang sudah saya timbang,” ujar Nayla dengan sopan sambil meletakkan piring kecil dan timbangan digital di meja payung pantai. “Tepat seratus lima puluh gram, sesuai takaran protein harian Nyonya.”“Bagus,” jawab Chloe puas. Ia duduk santai dengan gaun musim panas longgar, lalu menambahkan sesendok kecil caviar di atas lobster itu. “Ternyata lobster dicocol sambal terasi itu jauh lebih enak darip
"Mayatnya hilang?"Sorot mata Jordan berubah tajam. Rahangnya mengeras, tetapi pria itu tidak langsung meledak. Dengan ketenangan yang justru lebih mengerikan, ia menekan nomor darurat. Panggilan tersambung pada dering pertama."Jelaskan," titah Jordan dingin."Maaf, Tuan," suara Mogi terdengar tegang di tengah derap langkah terburu-buru. "Kami baru tiba di ruang VIP bawah tanah kasino untuk membereskan kekacauan. Tapi... Tuan Liem tidak ada." Mata Jordan menyipit. "Tidak ada? Jangan bilang mayat tua bangka itu bangkit lalu kabur memesan taksi." "Darah di lantai masih segar, Tuan,” jawab Mogi. "Ada jejak seretan menuju ventilasi darurat. Seseorang mengevakuasinya dengan sangat rapi. Hampir tanpa sidik jari.""Tuan!" kali ini suara Leo yang terdengar panik, diiringi bunyi ketikan keyboard. " "Saya baru saja mencoba meretas arsip medis rahasia Mr. Liem dari Hong Kong. Dia mengidap dextrocardia.”Jordan mendesis pelan. "Maksudmu, jantung keparat itu berada di sebelah kanan?""Benar. T
Makan malam keluarga malam itu ditutup dengan kehangatan yang tak lazim di dalam dinding Mansion Arsenio.Dua puluh menit sudah berlalu dengan cepat, diwarnai dengan Nyonya Carmen yang secara mengejutkan terus-terusan memastikan piring menantunya terisi penuh."Habiskan segelas susu almond ini, Gadis liar. Jangan disisakan setetes pun," perintah Carmen dengan dagu terangkat angkuh, menyodorkan gelas ke hadapan Chloe. "Nutrisi di pesawat itu tidak bisa diandalkan untuk cucuku."Chloe meringis, memegangi perutnya yang sudah terasa mau meledak. "Tapi, Bu... aku sudah makan tiga potong steak. Napasku sudah ngos-ngosan ini.""Minum, atau kubatalkan izin penerbangan kalian.""Ya ampun, kau ini ibunya atau sipir penjara, Mi Amor?" tegur Lorenzo sambil tertawa terbahak-bahak, menyesap sisa anggurnya. "Biarkan menantu kita bernapas. Kau mau dia menggelinding sampai ke dalam pesawat?"Jordan hanya menggelengkan kepala samar melihat tingkah kedua orang tuanya. Pria itu bangkit dari kursi, merapi
"Bersamaku, Sayang. Keluarkan semuanya untukku," geram Jordan dengan suara serak yang berat. Pria itu memberikan tiga hujaman pamungkas terdalam yang terasa menghentak hingga ke ulu hati. Semburan benih hangat Jordan mengalir deras, memenuhi rahim istrinya.Pelepasan hebat itu meninggalkan keduanya dalam keadaan linglung dan kehabisan napas. Chloe terkulai lemas di atas dada bidang Jordan, jantungnya berdetak liar berpacu dengan detakan jantung suaminya. Keduanya saling memeluk erat dalam keheningan yang intim, membiarkan riak air perlahan kembali tenang.Namun, di tengah sisa-sisa debaran jantung yang mulai normal, mata bulat Chloe justru mengerjap pelan menatap uap air di udara. Kening wanita itu berkerut dalam, seolah sedang memikirkan masalah krusial hingga membuat jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dada Jordan.Jordan yang menyadari perubahan raut wajah istrinya, mengangkat sebelah alis. Ibu jarinya mengusap dahi Chloe yang basah oleh keringat. "Kamu sedang memikirkan apa, hm?" t
Uap hangat yang menguar dari bathtub berukuran raksasa itu membuat kaca kamar mandi mengembun, menciptakan suasana intim yang menenangkan. Di tepi bathtub, Jordan dan Chloe duduk berhadapan dalam keadaan telanjang bulat, belum membiarkan tubuh mereka menyentuh air.Tangan mungil Chloe bergerak dengan sangat lembut dan hati-hati, mengoleskan salep pereda nyeri pada perut tegap suaminya yang tercetak jejak memar keunguan sebesar kepalan tangan bayi. Meski terselamatkan oleh rompi anti peluru, benturan dari proyektil kaliber besar itu tetap menyisakan luka dalam yang berdenyut ngilu. Namun, rasa sakit itu seakan menguap setiap kali jemari lembut istrinya menyentuh kulitnya."Sakit nggak, Dad?" cicit Chloe pelan, meniup-niup memar yang baru saja diolesi salep itu seolah-olah tiupannya adalah sihir penyembuh.Jordan tersenyum tipis, menatap wajah cantik istrinya yang terlihat begitu fokus. Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut Chloe ke belakang telinga. "Tidak sama sekali. Sent
BRAAAKKK!Jeep Rubicon hitam itu menghantam tanah berbatu dengan brutal setelah menabrak pembatas lalu melompati gundukan hutan. Pegas suspensi mobil Rubicon itu menjerit, memantulkan badan mobil seberat dua ton itu ke udara sebelum bannya kembali mencengkeram bumi.Brak!"Awww! Hei! Kamu gila?!"
Sinar mentari pagi menembus jendela besar ruang makan Mansion Arsenio, meja panjang yang penuh dengan hidangan mewah. Namun, Chloe yang berdiri di samping kursi kosong Tuan Rumah justru menatap hamparan makanan itu dengan horor.Tubuh Chloe yang ringkih masih terasa linu di sana-sini. Semalam adala
"KIKO! KIKO! Ke mana anak sialan itu?!" Suara bariton Ryu menggelegar memecah ketegangan di lorong vila. Ia baru saja keluar dari ruangan Jordan dengan napas memburu dan wajah menahan emosi. "Hais, merepotkan sekali si Jordan ini. Seharusnya aku tidak peduli. Lagian, dia pria dewasa yang sudah je
"Jangan pedulikan lukaku!" bentak pria bertopeng Oni itu dari balik alat pengubah suara yang terdengar berat dan mekanis."Bagaimana aku tidak peduli? Darahmu mengalir deras sekali! Kamu bisa kehabisan darah sebelum kita sampai ke jalan raya!" bantah Chloe, menarik lengannya."Dengar, Nona! Untuk s







