Compartir

Pertemuan Konyol

Autor: Kuldesak
last update Última actualización: 2025-11-26 00:42:02

"Claudia! Mogi! Kiko! Apa kalian benar-benar ingin menggali kuburan kalian sendiri, hah?! Cepat ke sini!"

Suara itu terdengar dalam, serak, dan maskulin. Getarannya merambat lewat lantai, menembus sepatu kets Chloe, membuat bulu kuduknya meremang.

'Apa suami ibuku memang se-tantrum ini?' Chloe reflek meremas amplop di tangannya erat-erat.

"Itu... suara Tuan Jordan?" tanya Chloe memastikan, matanya masih terkunci pada pintu hitam di seberang sana.

Bi Sumi mengangguk takut-takut. Wajah wanita itu pucat pasi. "Iya, Non. Sebaiknya Nona istirahat. Jangan masuk ke sana malam ini. Segera, Nona!"

Bi Sumi buru-buru pergi, meninggalkan Chloe sendirian di koridor itu seolah sedang melarikan diri dari hantu.

Melihat ketakutan Bi Sumi, rasa penasaran Chloe justru terpancing. Logikanya berkata ia harus masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan menghitung uang yang baru saja ia terima dari ibunya. Tapi kakinya tidak setuju. Kaki itu justru melangkah pelan mendekati pintu hitam itu, didorong oleh insting investigatifnya.

"Ahh ... Aku penasaran dengan wajah suami ibuku. Seperti bentuknya sampai hati Ibu meninggalkan Papa."

Di balik pintu, suara napas berat terdengar jelas. Napas seseorang yang sedang menahan sakit—atau marah.

"Siapa di luar?"

Suara Jordan terdengar tiba-tiba. Tajam. Mengancam. Seolah pria itu memiliki radar untuk mendeteksi keberadaan manusia lain.

Deg!

Chloe membeku. Tangannya masih menggantung di gagang pintu.

"Aku tahu ada orang di sana," desis Jordan, suaranya semakin rendah seperti geraman harimau yang terpojok. "Masuk, Sialan!"

Chloe menelan ludah. Dengan tangan sedikit gemetar karena gugup—Chloe menekan gagang pintu ke bawah.

Krek!

Pintu terbuka.

Aroma maskulin yang kuat langsung menyergap hidung Chloe. Campuran wangi musk mahal, kayu cendana, obat-obatan, dan... sedikit bau minyak angin?

Di tengah ruangan yang temaram, di atas karpet Persia tebal, seorang pria dengan tubuh bagian atas yang terpahat sempurna sedang tergeletak menyedihkan.

Jordan Arsenio. Pria yang digambarkan sebagai monster kejam, kini sedang mencoba menyeret tubuhnya sendiri seperti bayi yang baru belajar merangkak.

"Siapa kamu?!" bentak Jordan saat melihat Chloe berdiri di ambang pintu. "Kamu... Jangan cuma melongo seperti orang yang terkena hipnotis! Panggil Mogi! AKU MAU KE TOILET!"

Chloe terpaku sejenak.

Pria ini... tampan. Sangat tampan, di luar dugaan Chloe. Ia pikir selera ibunya adalah pria buncit tua, kepala botak dengan napas bau cerutu. Tapi Jordan Arsenio memiliki rahang tegas dan sorot mata tajam yang mengintimidasi. Meski sedang dalam posisi tidak elit, aura dominasinya tetap terasa.

Keringat membasahi pelipis Jordan, turun ke lehernya yang tegang.

"HEH! KAMU TULI, HAH?!" Teriakan Jordan membuyarkan lamunan Chloe.

Chloe tersadar, lalu melangkah masuk dengan sikap tenang yang ia paksakan. Ia tidak boleh terlihat takut.

"Saya Eva. Perawat baru," jawab Chloe memperkenalkan diri dengan nama palsunya. "Mogi tidak ada. Kalau Tuan menunggu Mogi, mungkin Tuan akan meledak di karpet. Sini saya bantu." Tangan Chloe terulur.

"JANGAN SENTUH AKU!" Jordan menepis tangan Chloe kasar. "Kamu bocah ingusan! Badanmu kecil begitu mana kuat angkat aku! Panggil satpam!"

"Tuan," Chloe berkacak pinggang, menatap pria angkuh di kakinya dengan tatapan logis. "Pilih mana: Harga diri hancur karena diangkat bocah, atau Tuan kedapatan buang air besar di sini, hum?!"

Jordan terdiam. Dia ingin membalas, tapi...

Kukuruyuk!

Bunyi perut Jordan yang setara dengan gempa tektonik skala kecil menjawab lebih dulu. Wajah Jordan berubah dari merah padam karena marah menjadi pucat pasi karena menahan mules.

"Sialan..." desis Jordan, harga dirinya runtuh seketika. "Cepat! Angkat aku!"

Chloe menyeringai tipis. "Nah, begitu dong. Kalau minta tolong tuh yang manis."

Chloe berlutut di samping Jordan. Ia merasa canggung. Ini pertama kalinya ia harus bersentuhan fisik sedekat ini dengan pria asing. Jantungnya berdebar karena gugup, takut salah langkah atau malah menjatuhkan bos barunya ini.

"Pegang bahu saya, Tuan. Lingkarkan tangan Tuan ke leher saya."

Dengan enggan dan penuh dendam, Jordan melingkarkan lengan kekarnya ke leher Chloe. Lengan itu berat dan padat.

"Satu... dua... tiga!"

Chloe mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki—hasil kerja paruh waktu mengangkat stok susu kaleng di kafe—untuk menarik tubuh bongsor Jordan.

Grep!

Tubuh mereka bertabrakan.

Dada bidang Jordan menempel di bahu Chloe. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas hangat Jordan yang memburu menyapu pipi Chloe, membuat gadis itu menahan napas.

Chloe merasa wajahnya memanas. Bukan karena pikiran kotor, tapi karena rasa canggung yang luar biasa. Ia bisa merasakan detak jantung Jordan yang cepat—atau mungkin itu detak jantungnya sendiri?

"Berat banget, Tuan," keluh Chloe, berusaha menutupi kegugupannya dengan candaan. "Tuan makan batu kali ya? Atau dosa Tuan yang keberatan?"

"Jangan banyak protes. Segera angkat aku!" geram Jordan tepat di telinga Chloe. Suara baritone berat itu membuat Chloe refleks memalingkan wajah. "Jangan banyak bicara! Pindahkan pantatku ke kursi roda itu! Cepat!"

"Iya, iya! Sabar! Ini lagi usaha!"

Chloe menyeret tubuh Jordan dengan susah payah menuju kursi roda yang terparkir dua meter dari situ. Keringat mulai membasahi kening Chloe. Ini lebih berat dari ujian praktik olahraga.

"Sedikit lagi... hap!"

Dengan sisa tenaga terakhir, Chloe berhasil menghempaskan pantat Jordan ke kursi roda.

Bruk!

Jordan terduduk dengan napas tersengal. Piyamanya berantakan. Chloe buru-buru memalingkan muka, mencoba bersikap sopan.

"Jalan! Ke toilet!" perintah Jordan, menunjuk pintu kamar mandi dengan jari gemetar. "Kalau sampai keluar di sini, kamu bakal tahu akibatnya!"

"Ah... Si Bos marah-marah terus. Ini, aku dorong!"

Chloe mendorong kursi roda itu setengah berlari menuju kamar mandi. Sesampainya di depan kloset duduk, Chloe berhenti. Dia menatap Jordan yang tampak kewalahan.

"Tuan butuh bantuan... um, buka celana?" tanya Chloe ragu-ragu. Ia hanya berusaha profesional, tapi pertanyaannya terdengar canggung setengah mati. "Siapa tahu tangannya juga lemas?"

Mata Jordan melotot horor. Wajahnya merah padam karena malu.

"KELUAR!!! TUNGGU DI DEPAN PINTU! JANGAN MENGINTIP, TIDAK ADA ETIKA KAMU!"

BRAK!

Pintu kamar mandi dibanting tepat di depan hidung Chloe, hampir menjepit bulu matanya.

Chloe mundur selangkah, bersandar di dinding koridor sambil menghela napas panjang. Jantungnya masih berdetak kencang. Gila. Hari pertama kerja sudah menguras tenaga sebesar ini.

"Galak sekali," gumam Chloe. "Padahal cuma nawarin bantuan."

Tiba-tiba...

DUAR! BROT! PREEEET!

Suara ledakan dahsyat dari dalam kamar mandi membuyarkan ketegangan Chloe seketika.

Chloe membekap mulutnya, menahan tawa yang mau meledak. Ia tidak menyangka suara bom itu bisa senyaring knalpot motor.

"Wow," gumam Chloe pelan, tak kuasa menahan geli. "Tuan? Itu perut apa knalpot Mobil Supra? Nyaring sekali!"

"DIAM KAMU SIALAN! AKU DENGAR ITU!" teriak Jordan dari dalam kamar mandi, suaranya bercampur rasa malu yang akut.

Tak lama kemudian, terdengar suara siraman air, diikuti desahan panjang yang sangat lega.

"Aaaa..."

Suara desahan lega Jordan itu berat dan dalam. Suara dari kelegaan manusia yang terbebas dari siksaan perut.

Chloe menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. Ternyata orang kaya kalau sakit perut sama saja bunyinya.

"Dasar aneh," rutuk Chloe pelan, menyeka keringat di dahinya. "Baru lima menit menjadi Eva Mendes, aku sudah hampir tuli gara-gara suara orang buang air."

Tiba-tiba...

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Ayah Tiri Lumpuh   Bergerak

    Tanpa memedulikan penampilannya yang kacau balau, Jordan berlari kesetanan keluar dari kamarnya. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya. Dengan hanya mengenakan setelan piyama hitam yang sedikit terkoyak, bertelanjang kaki, dan wajah memar, pria itu melesat menuruni tangga. Ryu dan Jerry yang mengejarnya dari belakang sama sekali tak dihiraukan."Jordan! Tunggu! Biar aku yang menyetir!" teriak Ryu.Jordan tak peduli. Pria itu melompat masuk ke dalam mobil sport Koenigsegg hitamnya. Mesin menderu buas seperti auman singa terluka, sebelum akhirnya ban mobil berdecit keras, melesat membelah hutan pinus.Di balik kemudi, dada Jordan terasa seperti dihantam godam berduri berkali-kali. Udara di dalam mobil terasa mencekik. Pandangannya mengabur oleh air mata penyesalan yang tak terbendung. "Dia tidak ada niat sekalipun untuk membunuhmu. Justru dialah yang selama ini berusaha menyelamatkanmu..."Kata-kata Ryu terus bergaung di telinga, menampar kewarasan Jordan tanpa ampun. "Brengsek... baj

  • Jerat Obsesi Ayah Tiri Lumpuh   Sesal Yang Sia-sia

    "Heh?! Siapa kamu?! Aku... di mana ini?" tanya Chloe, tubuhnya langsung menegang waspada. Tangannya yang bebas menarik selimut hingga menutupi dada.Wanita muda berparas ayu itu hanya tersenyum simpul. Dengan gerakan anggun namun terlatih, ia meletakkan nampan berisi sup dan segelas susu hangat di atas nakas, tepat di samping lampu tidur."Nona tenang saja. Nona berada di tempat yang aman," jawab wanita itu lembut dan sopan. "Sekarang, lebih baik Nona makan dulu. Tubuh Nona sudah saya obati dan beri salep di beberapa area keunguan. Pokoknya, Nona jangan berpikiran macam-macam dulu ya. Istirahat saja."Mendengar ucapan itu, mata Chloe membelalak tak percaya."Hah?! Tempat aman katamu?!" sungut Chloe, suaranya naik dua oktaf. "Aman dari mananya, Mbak?! Mbak-nya sehat? Waras? Coba lihat ini tangan saya digimanain! Dirantai kayak anjing rabies begini dibilang aman?!"Chloe menunjuk-nunjuk rantai besinya dengan wajah berang. "Saya ini habis diculik, dibekap kloroform, dilempar ke mobil van

  • Jerat Obsesi Ayah Tiri Lumpuh   Emosi Tak Terkendali

    DOR!Suara letupan peluru memecah ketegangan, menggema memekakkan telinga di dalam ruangan yang berantakan itu."AAAKHH! AMPUN!"Jerry berteriak histeris. Pria paruh baya itu langsung jatuh terduduk di atas lantai, menutupi telinganya dengan kedua tangan. Tubuh Jerry bergetar hebat, nyaris kejang karena teror yang tiba-tiba menyerang mentalnya yang belum sepenuhnya pulih.Tembakan itu ternyata tidak bersarang di kepala siapa pun. Peluru panas itu menembus lantai, hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung sepatu Dokter Ryu. Asap tipis mengepul dari lubang bekas tembakan.Ryu mematung. Jantung dokter itu seakan baru saja anjlok ke dasar perut. Langkahnya terhenti seketika."Selangkah lagi kamu maju, kamu akan mati," desis Jordan dengan suara yang luar biasa dingin, sedingin bongkahan es di kutub utara. Moncong pistolnya kini masih berasap, terarah lurus ke dada sahabatnya itu. "Aku tidak segan-segan menarik pelatuk ini untuk kedua kalinya, Ryu. Pergi. Tinggalkan aku sendiri."Glek!

  • Jerat Obsesi Ayah Tiri Lumpuh   Bunir

    "Halo?! Chloe?! Sayang!! Hei, siapa kalian?! JANGAN SENTUH ANAKKU! CHLOE!! PANGGIL PAPA JIKA KAMU MASIH MENDENGAR!" Jeritan histeris Jerry menggelegar memenuhi ruang tengah rumah Dokter Ryu. Pria paruh baya itu menatap nanar layar ponsel pemberian Ryu di tangan yang panggilannya baru saja terputus secara sepihak. "Tidak... tidak! Chloe!" Jerry meremas kepalanya dengan kedua tangan, kakinya yang pincang nyaris ambruk ke lantai jika Ryu tidak segera berlari keluar dari ruang kerjanya dan menangkap tubuh pria itu."Astaga! Pak Jerry! Ada apa ini?! Kenapa Bapak berteriak-teriak? Apa kaki Bapak sakit?!" seru Ryu panik, memapah Jerry kembali ke sofa. "Dokter Ryu! Tolong saya, Dok! Tolong anak saya!" tangis Jerry pecah, ia mencengkeram jas putih Ryu dengan tangan bergetar hebat. "Chloe diculik, Dok! Ada orang jahat yang menyergapnya! Saya dengar sendiri dia berteriak minta tolong dan suara laki-laki kasar menyeretnya!"Alis Ryu menukik tajam. "Hah? Diculik? Tunggu, tunggu, Pak. Bapak tena

  • Jerat Obsesi Ayah Tiri Lumpuh   Papa, tolong...

    Dor! Dor! Dor!Suara rentetan tembakan senapan mesin tiba-tiba meledak memecah keheningan kamar hotel VIP yang berantakan.Di atas ranjang king size yang seprainya sudah kusut masai, Kiko tertidur pulas tanpa busana. Mulut asisten pribadi itu masih asyik mengenyot salah satu dada dari wanita sewaannya, persis seperti bayi besar yang kelaparan. Semalaman penuh Kiko baru menyelesaikan 'ritual pembasuh pedang' hingga tenaganya terkuras habis.Dor! Dor! Dor!"Duh! Siapa sih yang menelepon pagi-pagi buta begini?!" gerutu Kiko dengan mata masih terpejam.Kiko melepaskan mulutnya dari putik dada wanita yang masih terlelap itu. Nada dering ponsel Kiko memang sengaja ia setel dengan suara tembakan bar-bar.Tujuan Kiko hanya satu: agar ketika ia sedang di alam mimpi sekalipun, insting bertahan hidupnya langsung menyala dan memaksanya siaga satu.Dengan mata setengah terbuka dan nyawa yang belum sepenuhnya berkumpul, Kiko mengelap air liur yang menetes di sudut bibirnya menggunakan punggung tan

  • Jerat Obsesi Ayah Tiri Lumpuh   Konspirasi

    BAM!Pintu ditutup rapat, suara daun pintu berdebum terdengar bagaikan ketukan palu vonis yang menghakimi seluruh kewarasan Jordan.Pria itu terdiam mematung di tengah kamarnya yang berantakan. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Dadanya yang bidang naik-turun dengan beringas. Keheningan fajar yang tadinya terasa bagai kepingan surga, tiba-tiba berubah menjadi udara beracun yang mencekik paru-paru Jordan. Aroma manis khas tubuh Chloe masih tertinggal di udara, di seprai yang robek, dan di kulitnya sendiri. Hal itu membuat Jordan nyaris gila."Arrrrgghh!!" Jeritan putus asa Jordan menggelegar membelah kesunyian villa. Ia bukan lagi seorang boss, saat ini Jordan hanyalah seorang pria yang baru saja dicabik jantungnya.Pria itu berlari ke arah cermin setinggi tubuhnya yang menempel di sudut ruangan, lalu melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh. "SIAL!" PRANG!!Cermin tebal itu pecah seribu. Kepingan-kepingan tajamnya berterbangan ke segala arah, memantulkan sinar ment

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status