Beranda / Romansa / Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan / Bab 1: Awal yang Menegangkan

Share

Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan
Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan
Penulis: Salwa Maulidya

Bab 1: Awal yang Menegangkan

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 11:58:04

“Aku tidak bisa kembali,” bisiknya pada diri sendiri. “Lebih baik mati di jalanan ini daripada harus menikahi rentenir tua itu.”

Di trotoar yang basah dan licin, Viona menyeret langkahnya yang semakin berat. Gaun selutut berwarna cream yang membalut tubuh rampingnya kini tak lagi berbentuk; basah kuyup, kotor oleh cipratan lumpur, dan menempel dingin di kulitnya yang memucat.

Wanita berusia 25 tahun itu berhenti sejenak di bawah naungan halte bus yang lampunya berkedip sekarat. Dia menatap pantulan dirinya di kaca buram halte. Menyedihkan.

Rambut panjangnya lepek, bibirnya membiru, dan kakinya—oh, kakinya adalah sumber siksaan utama saat ini.

Sepatu hak tingginya telah lama dia tanggalkan dan kini tergenggam erat di tangan kanan, sementara telapak kaki telanjangnya penuh dengan luka gores akibat kerikil tajam trotoar.

Bayangan wajah ayahnya yang memelas dan ibunya yang menangis saat memaksanya menerima lamaran demi melunasi utang keluarga kembali menghantui.

Viona menggeleng kuat-kuat untuk mengusir memori itu. Ia merogoh saku gaunnya, jari-jarinya yang gemetar menyentuh dua keping logam dingin.

Hanya itu sisa hartanya. Tidak cukup untuk membeli roti, apalagi menyewa kamar motel termurah di kota asing ini.

Sebuah cahaya lampu sorot yang menyilaukan tiba-tiba memecah kegelapan, memaksa Viona menyipitkan mata.

Di seberang jalan, sebuah gerbang besi hitam setinggi lima meter menjulang angkuh. Cameron Estate. Tulisan emas di pilar marmer itu berkilau tertimpa lampu jalan. Itu adalah kawasan paling elit di Vernonia, benteng kemewahan yang tak tersentuh oleh rakyat jelata.

Sebuah truk boks logistik sedang berhenti di depan gerbang, mesinnya menderu kasar seolah tidak sabar. Viona melihat seorang supir berteriak kepada penjaga gerbang dari jendela truk yang terbuka separuh. Instingnya menyuruhnya mendekat, berharap ada keajaiban.

“Buka gerbangnya, Viktor! Demi Tuhan, ini sudah terlambat!” teriak sang supir yang terdengar jelas meski beradu dengan suara hujan.

Viktor, sang kepala keamanan yang bertubuh raksasa dengan seragam hitam ketat, tidak bergeming. Ia berdiri di balik pos penjagaan dengan wajah masam.

“Prosedur tetap prosedur, Yanto. Tunjukkan surat jalanmu. Tuan Besar sedang dalam perjalanan menuju kemari!”

“Ah, sial! Kau tahu, di dalam truk ini ada pesanan katering tambahan yang diminta langsung oleh Nyonya Martha!” Supir itu memukul kemudi dengan frustrasi.

“Kau tahu kan, tiga pelayan dapur baru saja dipecat satu jam yang lalu karena menumpahkan sup ke celana Tuan Julian? Mereka kekurangan orang di dalam! Kepala Pelayan sedang murka.”

Viona yang bersembunyi di balik pilar jembatan layang tersentak. Kekurangan orang. Pelayan dipecat.

Kata-kata itu berdenging di telinganya seperti lonceng keselamatan. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi karena adrenalin yang memuncak. Ini satu-satunya kesempatan.

Tanpa berpikir panjang, Viona menyeberang jalan dengan langkah tertatih. Rasa perih di kakinya ia abaikan. Ia harus terlihat layak, setidaknya ia harus mencoba.

Truk logistik itu baru saja menderu masuk ketika Viktor hendak menekan tombol penutup gerbang. Langkah kaki Viona yang menyeret air menarik perhatian pria besar itu. Viktor berbalik, wajah garangnya seketika mengerut jijik.

“HEI! BERHENTI!” Hardik Viktor dan tangannya dengan sigap memegang pentungan di pinggang. “Ini bukan panti sosial! Enyah kau dari sini!”

“Saya ... saya bukan pengemis, Pak,” ucap Viona dengan suara gemetar karena kedinginan.

Viktor tertawa sarkas. “Oh ya? Mataku masih normal, Nona. Kau terlihat seperti tikus got yang baru lolos dari banjir. Pergi dari sini sebelum aku panggil polisi patroli untuk menyeretmu!”

Viona menelan ludahnya sembari menahan air mata yang hendak tumpah.

Dia lalu melangkah maju satu langkah dengan nekat. “Tunggu! Saya mendengar pembicaraan Bapak dengan supir tadi. Kalian butuh tenaga tambahan. Saya mau melamar jadi pelayan di rumah ini.”

Viktor tertegun sejenak, lalu matanya menyipit tajam. “Kau menguping? Lancang sekali. Dan apa yang membuatmu berpikir Cameron Estate akan mempekerjakan gembel sepertimu? Kami butuh yang profesional, bukan wanita yang bahkan tidak punya alas kaki.”

Viona terdiam sembari memegang erat gaun lusuhnya itu. Pria itu melangkah maju dengan postur tubuh yang mengintimidasi.

Bayangan tubuh besarnya menelan Viona. “Sekarang pergi, atau kulempar kau ke parit!”

“Saya akan bekerja apa saja!” Viona berteriak putus asa saat Viktor mulai mendorong bahunya dengan kasar. “Cuci piring, angkat barang, membersihkan lantai. Saya hanya butuh tempat berteduh dan makanan malam ini. Saya mohon!”

“Cukup!” Viktor kehilangan kesabaran. Ia mencengkeram lengan Viona kuat-kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan. “Aku sudah berbaik hati memberimu peringatan lisan!”

Viona meronta, namun tenaga Viktor terlalu kuat. Ia didorong kasar ke belakang hingga hampir terjungkal ke aspal yang keras. “Lepaskan! Anda menyakiti saya!”

“Maka enyahlah! Tempat ini bukan untuk orang sepertimu!” Viktor mengangkat tangannya, siap mendorong Viona keluar area gerbang sepenuhnya.

Namun, sebelum tangan kasar itu menyentuh Viona lagi, sebuah sorot lampu LED yang tajam dan kebiruan membelah kegelapan dari arah jalan raya, menyilaukan mata mereka berdua.

Suara mesin mobil yang halus namun bertenaga terdengar mendekat, bagaikan auman binatang buas yang tertahan.

Viktor membeku. Wajah garangnya seketika berubah pucat pasi. Ia segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Viona dan berdiri tegak dengan sikap sempurna, seolah patung lilin.

Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam matte, jenis yang harganya bisa membeli satu blok perumahan di pinggiran kota berhenti tepat di depan gerbang, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempat Viona berdiri mematung.

Jantung Viona serasa berhenti berdetak. Ia terjebak di antara penjaga yang kasar dan monster besi yang baru datang ini. Perlahan, kaca jendela mobil di sisi penumpang turun dengan desingan halus elektronis.

Aroma cologne maskulin yang mahal menyeruak keluar, melawan bau hujan dan tanah basah. Di dalam sana, duduk seorang pria muda. Wajahnya terpahat sempurna dengan rahang tegas dan mata setajam elang.

Davian Cameron. Pria itu menatap lurus ke depan sejenak, sebelum perlahan menolehkan kepalanya ke arah keributan.

“Ada alasan khusus mengapa ada keributan di gerbang utamaku saat aku lelah setelah rapat panjang?”

Viktor membungkuk dalam-dalam, keringat dingin bercampur air hujan di dahinya.

“Maafkan saya, Tuan Muda! Wanita gila ini, dia memaksa masuk. Dia mengganggu ketertiban. Saya sedang berusaha mengusirnya agar tidak menghalangi jalan Anda.”

Davian tidak menatap Viktor. Matanya yang dingin terkunci lurus pada Viona. Ia menyapu pandangannya dari kaki Viona yang berdarah, naik ke gaunnya yang koyak, hingga ke wajahnya yang pucat dan basah oleh air mata.

Davian mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat ke jendela yang terbuka. Tatapannya menusuk Viona, menilai, menimbang. “Kau ... yang berdiri di sana dengan gemetar. Kau membutuhkan pekerjaan?”

Viona mengangguk pelan. “Be-benar, Tuan.”

Davian menatap datar wajah Viona dari atas hingga ke bawah.

“Masuklah,” perintah Davian santai. Sementara Davian masuk kembali ke mobilnya dan melaju menuju garasi rumah.

Sementara Viona berlari dengan sisa tenaganya mengejar Davian yang sudah turun dari mobil mewahnya.

Davian melirik sekilas dengan ekspresi datarnya. “Kau diterima sebagai pelayan di sini. Selamat datang di neraka barumu,” gumam Davian dingin. “Berdoalah kau tidak menyesali keputusanmu malam ini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
lahh kok anehh c davian menyebut rumahnya neraka. ada apa d dalamnya ??!
goodnovel comment avatar
Permata
mantap lgs di Terima
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 114: Ruangan Seketika jadi Panas

    Suhu di dalam ruang galeri pribadi itu mendadak naik, mengalahkan sejuknya pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit.Davian tidak lagi bisa menahan diri. Sentuhan lembut Viona tadi seolah menjadi pemantik api yang membakar seluruh pengendalian diri pria itu. Matanya menggelap, dipenuhi kabut gairah yang menuntut penuntasan.Davian tampak tergesa-gesa saat jemarinya yang gemetar karena hasrat mulai membuka mini dress yang dikenakan oleh Viona.Dia tidak sabar, tarikannya begitu kuat hingga beberapa kancing kecil di bagian belakang gaun itu terlepas.Bersamaan dengan itu, Davian menghujani wajah dan leher Viona dengan ciuman panas membara yang membuat Viona mendesah pelan.Viona bisa merasakan betapa liarnya Davian sore ini, seolah pria itu sedang menuangkan seluruh rasa takut kehilangan dan cintanya yang meluap ke dalam setiap sentuhan.Dalam sekejap, gaun itu jatuh ke lantai, meninggalkan tubuh Viona telanjang sepenuhnya di bawah sorotan lampu galeri yang remang. Kulitn

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 113: Meremehkan Cara Melukis Viona

    Waktu sudah menunjuk angka lima sore. Viona sedang berdiri di depan kanvas besarnya, memegang palet dengan gerakan yang sangat presisi.Dia baru saja akan menyapukan warna biru kobalt saat sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.Davian menyandarkan dagunya di bahu Viona, menghirup aroma cat dan parfum mawar yang selalu melekat pada tubuh istrinya.“Sepertinya melukis itu mudah, Viona. Kau hanya menggerakkan tanganmu dan tiba-tiba ada wajah manusia di sana,” bisik Davian dengan pelan.Viona terkekeh, namun dia tetap fokus pada kanvasnya. “Mudah katamu? Aku butuh waktu sepuluh tahun untuk membuat gerakan ini terlihat mudah di matamu, Davian.”“Boleh aku mencoba?” tanya Davian tiba-tiba.Viona menoleh, menatap suaminya dengan ragu. Davian yang biasanya memegang pulpen mahal untuk menandatangani kontrak jutaan dolar, kini ingin memegang kuas?“Kau serius? Jasmu bisa terkena noda cat, dan aku tidak mau mendengar keluhanmu soal harga setelan itu nanti.”“Buka saja jasn

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 112: Alasan Davian Membenci Vincent

    Pagi itu, langit di atas pemakaman mewah keluarga Cameron tampak kelabu, seolah-olah awan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan hujan.Davian berdiri tegak di depan sebuah nisan marmer hitam yang kokoh, tempat mendiang ayahnya beristirahat.Dia mengenakan setelan hitam formal yang membuat auranya terasa semakin dingin.Di sampingnya, Viona berdiri dengan gaun senada, jemarinya menggenggam sebuket bunga lili putih, bukan anggrek yang kemarin sempat memicu badai di rumah mereka.Davian meletakkan tangannya di atas nisan itu, mengusap debu imajiner dengan gerakan yang tidak menunjukkan kerinduan, melainkan beban.“Papa pergi saat aku baru saja menyelesaikan kuliah di luar negeri,” ujar Davian memecah kesunyian.“Dia meninggalkan kekaisaran yang tampak megah dari luar, tapi sebenarnya sedang digerogoti utang dan skandal internal. Aku harus menghadapi semuanya sendirian, Viona.”Viona menoleh lalu menatap profil samping suaminya yang tampak keras. “Kau tidak punya pilihan lain saat

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 111: Aku akan Memberikannya

    Viona duduk diam di sofa ruang tengah yang luas, menumpu dagu dengan sebelah tangannya sementara matanya tak lepas dari rangkaian bunga anggrek putih yang diletakkan Vincent di atas meja kaca.Kelopak bunga itu tampak segar, namun entah mengapa, kehadirannya justru terasa mengintimidasi.“Apakah anggrek ini juga bunga kesukaan Alicia?” gumam Viona pelan pada dirinya sendiri.Dia mulai meragukan niat baik siapa pun yang datang ke rumah ini. Apakah Vincent sengaja membawa anggrek ini hanya untuk memancing amarah Davian?Atau ada pesan tersembunyi yang jauh lebih gelap di balik pilihan bunga yang tampak elegan ini?Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa curiga yang mulai meracuni pikirannya, lalu dia menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk.Elian muncul dengan wajah yang tampak lelah namun bersih. Dia baru saja menyelesaikan jadwal koasnya hari ini.Elian melepas jas dokternya, namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menan

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 110: Bukan hanya Sekadar Ego

    Lantai teratas gedung Cameron Corp yang biasanya tenang oleh kedisiplinan tinggi, siang itu terasa mencekam.Davian duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, matanya terpaku pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.Konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki yang sangat dia kenali bergema di lantai marmer.Vincent melangkah masuk dengan gaya santai yang meremehkan. Dia berdiri di depan meja Davian, kemudian menarik napas seolah menikmati aroma kekuasaan di ruangan itu.“Marsha masih mencoba menghubungimu, hm? Atau mungkin kau yang sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka?” tanya Vincent dengan senyum miring yang provokatif.Davian tidak sedikit pun mendongakkan kepalanya. Dia terus mengetik, mengabaikan kehadiran adiknya seolah-olah Vincent hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.Suasana hening sejenak, hanya menyisakan bunyi klik dari mouse dan deru pendingin ruangan yang halus.Vincent mendengus, me

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 109: Senang Sekali Jadi Provokator

    Aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruang lukis pribadi Viona yang luas. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna melalui jendela-jendela besar, menyinari kanvas yang kini sedang dia kerjakan.Hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Kejadian semalam, keintiman yang jujur dengan Davian, seolah menghapus lapisan debu yang selama ini menutupi keceriaannya.Viona sedang fokus melukis wajah seorang wanita muda tampak dari samping. Sapuan kuasnya terasa lebih luwes, menangkap lekuk rahang dan sorot mata figur dalam lukisan itu dengan detail yang tajam. Dia tidak lagi melukis dengan amarah; dia melukis dengan harapan.Suara langkah kaki yang santai terdengar mendekat, disusul ketukan pelan di bingkai pintu yang terbuka.“Kau terlihat sangat serius, Viona,” sapa sebuah suara yang familiar.Viona menoleh dan mendapati Vincent, adik kedua Davian, berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Viona meletakkan paletnya sejenak dan tersenyum.“Oh, kau rupanya, Vincent.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status