Share

Bab 2: Diterima

last update Last Updated: 2026-01-12 12:16:34

“Masuk,” perintah Davian singkat.

Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.

Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah Julian dan Elian.

Julian sedang melempar-lemparkan sebuah koin emas ke udara dengan bosan, sementara Elian tampak sedang membolak-balik halaman buku tebal tanpa benar-benar membacanya.

Kedatangan Davian membuat aktivitas kedua adiknya terhenti.

“Kakak Tertua,” sapa Julian dan seringai tipis muncul di bibirnya saat dia menangkap koin yang jatuh. “Kau pulang lebih awal. Dan kau membawa ... oleh-oleh?”

Mata Julian dan Elian serentak tertuju pada sosok mungil di belakang Davian. Viona yang sadar sedang diperhatikan, semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi rok gaunnya yang kotor dan robek di bagian ujung.

“Dia butuh pekerjaan. Urus dia,” ucap Davian datar. Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Davian memutar tubuhnya. “Aku lelah. Jangan ganggu aku kecuali rumah ini terbakar.”

“Lelah? Mengurus pernikahanmu itu?” tanya Julian kemudian.

Namun, Davian hanya diam dan mengabaikan pertanyaan adiknya itu. Dengan langkah panjang dan tegas, Davian meninggalkan ruangan itu, menaiki tangga utama menuju kamarnya, meninggalkan Viona yang kini berdiri kaku seperti patung di hadapan dua tuan muda yang asing baginya.

Kepergian Davian meninggalkan keheningan yang canggung. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama karena Julian segera bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengelilingi Viona seolah sedang menginspeksi barang antik yang baru dibeli.

Elian menutup bukunya dengan keras dan ikut bangkit, wajahnya menyiratkan ketertarikan yang murni karena kebosanan mereka akhirnya terobati.

Viona menahan napas. Dia tidak melihat adanya kepala pelayan atau pengurus rumah tangga yang seharusnya mewawancarainya.

Nasibnya kini berada di tangan dua pemuda yang menatapnya dengan pandangan menilai yang tajam namun jenaka.

“Lihatlah ini, Elian,” jari Julian menunjuk sekilas ke arah Viona tanpa menyentuhnya.

“Pakaian kotor, rambut berantakan, wajah pucat pasi. Tapi ....” Julian memiringkan kepalanya, menatap wajah Viona lebih dekat. “Strukturnya halus. Terlalu halus.”

Elian terkekeh, lalu duduk di sandaran lengan sofa sembari melipat tangannya di dada. “Kakak benar. Ini bukan tipe gadis yang biasa melamar jadi pelayan dapur yang kasar.”

Julian kembali duduk, kali ini dengan postur yang lebih otoritatif namun tetap santai. Ia menatap manik mata Viona yang gemetar.

“Katakan padaku, Nona,” mulai Julian, suaranya terdengar ramah namun menyimpan ketajaman pisau bedah.

“Kenapa gadis secantik dan sehalus kau mau jadi babu di tempat menyeramkan seperti ini? Tanganmu itu ... itu bukan tangan yang biasa memegang sikat lantai.”

Pertanyaan itu menohok Viona tepat di jantung pertahanannya. Dia menunduk semakin dalam seraya menatap ujung sepatunya yang penuh lumpur kering.

Pikirannya berpacu. Dia tidak mungkin mengatakan kebenaran bahwa dia adalah putri seorang bangsawan bangkrut yang melarikan diri dari perjodohan paksa dengan seorang rentenir tua.

Jika dia mengatakan itu, mereka mungkin akan mengembalikannya demi imbalan, atau lebih buruk, menganggapnya sebagai masalah yang harus dihindari.

Viona meremas roknya yang kotor dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mengatur napasnya yang tercekat.

“Saya ....” Viona memulai, suaranya bergetar hebat, mencerminkan ketakutan yang nyata. “Saya kabur dari rumah, Tuan.”

Hanya itu. Sebuah kejujuran yang dipangkas habis-habisan.

Julian mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan. “Lalu?”

“Saya tidak punya tujuan lain,” lanjut Viona dan kali ini dengan nada yang terdengar putus asa.

“Saya tidak memiliki uang, tidak memiliki kerabat yang bisa dihubungi, dan ... saya bersedia melakukan apa saja asalkan memiliki tempat untuk berteduh.”

Hening sejenak. Viona memejamkan mata, takut mendengar penolakan atau tawa hinaan.

Namun, yang terdengar justru gelak tawa renyah dari Elian yang kemudian disusul oleh tawa Julian. Tawa mereka bukan tawa jahat, melainkan tawa geli seolah baru saja mendengar lelucon yang menggelitik.

“Kabur dari rumah, ya?” Elian turun dari sandaran sofa dan berjalan mendekat. “Kau mengingatkanku pada anak kucing yang tersesat di tengah badai, basah kuyup dan menyedihkan.”

Julian mengangguk setuju, matanya menyipit jenaka. “Benar. Lihatlah dia. Tubuhnya gemetar seperti daun kering. Davian pasti memungutnya di pinggir jalan seperti memungut kucing liar.”

"Siapa namamu?" tanya Julian datar. 

"Viona, Tuan." 

Julian terdiam mendengar nama itu, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Viona lekat-lekat. Dalam benaknya, dia sedang melakukan kalkulasi cepat. Keluarga Cameron memiliki banyak musuh. Menerima orang asing adalah risiko besar.

Biasanya, pelayan baru harus melalui pemeriksaan latar belakang yang ketat oleh kepala keamanan. Namun, melihat Viona yang tampak begitu rapuh seakan tiupan angin kencang saja bisa mematahkannya, kecurigaan Julian menguap.

“Elian, menurutmu dia mata-mata?” tanya Julian santai.

Elian mendengus. “Mata-mata? Dengan wajah sepolos itu? Jika dia mata-mata, dia adalah mata-mata terburuk dalam sejarah. Dia bahkan tidak berani menatap matamu, Kak.”

“Poin yang bagus,” sahut Julian. “Dia terlihat terlalu lemah untuk menjadi ancaman. Jangankan membunuh kita, mengangkat nampan perak berisi teh pun aku ragu dia sanggup tanpa menjatuhkannya.”

Mereka kembali tertawa dan membuat wajah Viona memerah karena malu bercampur lega. Setidaknya, mereka tidak mengusirnya. Ketegangan di bahu Viona sedikit mengendur.

Julian kemudian berdeham, mengubah ekspresinya menjadi sedikit lebih serius, meskipun kilatan jahil masih menari di matanya. Ia menyadari bahwa gadis ini bisa menjadi hiburan baru di rumah yang seringkali terlalu sunyi dan kaku ini.

“Baiklah, Nona Kucing Hilang,” ucap Julian, memberikan keputusan finalnya. “Kami sedang bosan, dan kehadiranmu cukup menarik. Kepala pelayan sedang libur hari ini, jadi anggaplah kami yang berkuasa.”

Viona mengangkat wajahnya sedikit, memberanikan diri menatap Julian. “A-apa maksudnya, Tuan?”

“Maksudnya, kau diterima,” sela Elian sambil tersenyum lebar. “Selamat datang di kediaman Cameron, tempat di mana kewarasan adalah hal yang opsional.”

Julian mengangkat satu jarinya, menginterupsi kegembiraan Elian. Wajahnya berubah, kali ini benar-benar serius. Nada suaranya merendah, memberikan peringatan yang membuat bulu kuduk Viona meremang.

“Kau boleh bekerja di sini. Tapi ingat satu hal yang paling krusial,” ujar Julian dan tataapan matanya yang tajam menatap ke dalam mata Viona, memastikan gadis itu mendengarkan setiap suku katanya. “Jangan pernah terlihat oleh Kakak Tertua saat mood-nya sedang buruk.”

Viona menelan ludah. “Tuan Davian?”

“Ya, Davian,” lanjut Julian dan seringai misterius kembali muncul, setengah bercanda namun setengahnya lagi adalah peringatan nyata tentang temperamen kakaknya.

“Dia bukan orang yang penyabar seperti kami. Jika kau melakukan kesalahan saat suasana hatinya sedang gelap, dia bisa memakanmu hidup-hidup.”

Elian mengangguk di belakang Julian dan membuat gerakan tangan seolah-olah lehernya ditebas.

“Secara metafora, tentu saja. Atau mungkin harfiah? Siapa yang tahu? Kami tidak pernah berani mencobanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 7: Simpan Tenagamu dan Tidurlah

    “Tunggu dulu ... lelucon macam apa ini, Kak?”Mata Julian membelalak tak percaya saat membandingkan foto wanita anggun di dalam map dengan sosok pelayan kusam yang kini gemetar di hadapannya.Dia lalu bangkit dari kursi dengan gerakan kasar hingga kakinya menyenggol meja dan membuat botol kristal bergetar.“Viona Estella? Putri tunggal Mike yang bangkrut itu?” Julian menatap Viona dengan pandangan baru, bercampur di antara rasa takjub dan ngeri. “Jadi, maid kecil yang baru saja kugoda untuk minum bersama ini adalah calon kakak iparku?”Elian yang duduk di sebelahnya tersedak minumannya sendiri. Dia lalu meletakkan gelas itu dengan keras. “Sialan. Pantas saja kau bilang dia punya struktur wajah bangsawan. Kita baru saja mencoba menggoda tunangan Davian Cameron?”Davian tidak memedulikan keterkejutan adik-adiknya. Pandangannya terpaku pada Viona, dengan tatapan tajam dan mematikan seperti mata pisau yang baru diasah.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 6: Terperangkap di Sangkar Emas

    Viona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya.”“Aku harus keluar,” isaknya tanpa suara.Air mata membasahi pipinya, namun dia segera menyekanya dengan kasar. Jika dia tertangkap sekarang, dia bukan lagi hanya seorang pelayan yang melarikan diri, tapi buronan yang masuk ke jebakan secara sukarela.Viona sampai di pintu baja berat menuju area belakang rumah, akses yang biasanya digunakan oleh kurir logistik dan tukang kebun.Dia tahu gerbang depan dijaga ketat oleh Viktor yang raksasa, maka satu-satunya harapan adalah memanjat pagar rendah di dekat area rumah kaca belakang.Dengan tangan gemetar, dia menekan tuas pintu tersebut. Dia sudah bersiap mendengar suara alarm yang memekakkan telinga, namun yang terdengar hanyalah des

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 5: Aku harus Pergi!

    “Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 4: Temukan Dia!

    Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada fin

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 3: Menjadi Pelayan Pribadi Davian

    Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.Di lorong sayap barat yang sunyi, Viona sedang berlutut, berusaha menyeka noda pada lantai marmer dengan kain pel yang terasa kasar di kulitnya.Napasnya terengah-engah. Ia menatap kedua tangannya; kulit yang tadinya sehalus sutra kini memerah, lecet, dan di beberapa bagian kulit arinya terkelupas akibat gesekan dengan sabun keras dan gagang sapu.“Aduh ...,” desis Viona pelan saat sabun pel itu menyengat luka kecil di ibu jarinya.Ia menjatuhkan kain itu kembali ke dalam ember dengan suara kecipak air yang terdengar terlalu keras di lorong yang hening.Tiba-tiba, suara pintu yang dibanting dengan keras di ujung koridor membuat Viona tersentak hebat. Ia segera bangkit dan merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha me

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 2: Diterima

    “Masuk,” perintah Davian singkat.Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah Julian dan Elian.Julian sedang melempar-lemparkan sebuah koin emas ke udara dengan bosan, sementara Elian tampak sedang membolak-balik halaman buku tebal tanpa benar-benar membacanya.Kedatangan Davian membuat aktivitas kedua adiknya terhenti.“Kakak Tertua,” sapa Julian dan seringai tipis muncul di bibirnya saat dia menangkap koin yang jatuh. “Kau pulang lebih awal. Dan kau membawa ... oleh-oleh?”Mata Julian dan Elian serentak tertuju pada sosok mungil di belakang Davian. Viona yang sadar sedang diperhatikan, semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi rok gaunnya yang kotor dan robek di bagian ujung.“Dia butuh pekerjaan. Urus dia,” ucap Davian datar. Tanpa memberikan penjelasan lebih l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status