เข้าสู่ระบบ“Masuk,” perintah Davian singkat.
Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.
Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah Julian dan Elian.
Julian sedang melempar-lemparkan sebuah koin emas ke udara dengan bosan, sementara Elian tampak sedang membolak-balik halaman buku tebal tanpa benar-benar membacanya.
Kedatangan Davian membuat aktivitas kedua adiknya terhenti.
“Kakak Tertua,” sapa Julian dan seringai tipis muncul di bibirnya saat dia menangkap koin yang jatuh. “Kau pulang lebih awal. Dan kau membawa ... oleh-oleh?”
Mata Julian dan Elian serentak tertuju pada sosok mungil di belakang Davian. Viona yang sadar sedang diperhatikan, semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi rok gaunnya yang kotor dan robek di bagian ujung.
“Dia butuh pekerjaan. Urus dia,” ucap Davian datar. Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Davian memutar tubuhnya. “Aku lelah. Jangan ganggu aku kecuali rumah ini terbakar.”
“Lelah? Mengurus pernikahanmu itu?” tanya Julian kemudian.
Namun, Davian hanya diam dan mengabaikan pertanyaan adiknya itu. Dengan langkah panjang dan tegas, Davian meninggalkan ruangan itu, menaiki tangga utama menuju kamarnya, meninggalkan Viona yang kini berdiri kaku seperti patung di hadapan dua tuan muda yang asing baginya.
Kepergian Davian meninggalkan keheningan yang canggung. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama karena Julian segera bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengelilingi Viona seolah sedang menginspeksi barang antik yang baru dibeli.
Elian menutup bukunya dengan keras dan ikut bangkit, wajahnya menyiratkan ketertarikan yang murni karena kebosanan mereka akhirnya terobati.
Viona menahan napas. Dia tidak melihat adanya kepala pelayan atau pengurus rumah tangga yang seharusnya mewawancarainya.
Nasibnya kini berada di tangan dua pemuda yang menatapnya dengan pandangan menilai yang tajam namun jenaka.
“Lihatlah ini, Elian,” jari Julian menunjuk sekilas ke arah Viona tanpa menyentuhnya.
“Pakaian kotor, rambut berantakan, wajah pucat pasi. Tapi ....” Julian memiringkan kepalanya, menatap wajah Viona lebih dekat. “Strukturnya halus. Terlalu halus.”
Elian terkekeh, lalu duduk di sandaran lengan sofa sembari melipat tangannya di dada. “Kakak benar. Ini bukan tipe gadis yang biasa melamar jadi pelayan dapur yang kasar.”
Julian kembali duduk, kali ini dengan postur yang lebih otoritatif namun tetap santai. Ia menatap manik mata Viona yang gemetar.
“Katakan padaku, Nona,” mulai Julian, suaranya terdengar ramah namun menyimpan ketajaman pisau bedah.
“Kenapa gadis secantik dan sehalus kau mau jadi babu di tempat menyeramkan seperti ini? Tanganmu itu ... itu bukan tangan yang biasa memegang sikat lantai.”
Pertanyaan itu menohok Viona tepat di jantung pertahanannya. Dia menunduk semakin dalam seraya menatap ujung sepatunya yang penuh lumpur kering.
Pikirannya berpacu. Dia tidak mungkin mengatakan kebenaran bahwa dia adalah putri seorang bangsawan bangkrut yang melarikan diri dari perjodohan paksa dengan seorang rentenir tua.
Jika dia mengatakan itu, mereka mungkin akan mengembalikannya demi imbalan, atau lebih buruk, menganggapnya sebagai masalah yang harus dihindari.
Viona meremas roknya yang kotor dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mengatur napasnya yang tercekat.
“Saya ....” Viona memulai, suaranya bergetar hebat, mencerminkan ketakutan yang nyata. “Saya kabur dari rumah, Tuan.”
Hanya itu. Sebuah kejujuran yang dipangkas habis-habisan.
Julian mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan. “Lalu?”
“Saya tidak punya tujuan lain,” lanjut Viona dan kali ini dengan nada yang terdengar putus asa.
“Saya tidak memiliki uang, tidak memiliki kerabat yang bisa dihubungi, dan ... saya bersedia melakukan apa saja asalkan memiliki tempat untuk berteduh.”
Hening sejenak. Viona memejamkan mata, takut mendengar penolakan atau tawa hinaan.
Namun, yang terdengar justru gelak tawa renyah dari Elian yang kemudian disusul oleh tawa Julian. Tawa mereka bukan tawa jahat, melainkan tawa geli seolah baru saja mendengar lelucon yang menggelitik.
“Kabur dari rumah, ya?” Elian turun dari sandaran sofa dan berjalan mendekat. “Kau mengingatkanku pada anak kucing yang tersesat di tengah badai, basah kuyup dan menyedihkan.”
Julian mengangguk setuju, matanya menyipit jenaka. “Benar. Lihatlah dia. Tubuhnya gemetar seperti daun kering. Davian pasti memungutnya di pinggir jalan seperti memungut kucing liar.”
"Siapa namamu?" tanya Julian datar.
"Viona, Tuan."
Julian terdiam mendengar nama itu, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Viona lekat-lekat. Dalam benaknya, dia sedang melakukan kalkulasi cepat. Keluarga Cameron memiliki banyak musuh. Menerima orang asing adalah risiko besar.
Biasanya, pelayan baru harus melalui pemeriksaan latar belakang yang ketat oleh kepala keamanan. Namun, melihat Viona yang tampak begitu rapuh seakan tiupan angin kencang saja bisa mematahkannya, kecurigaan Julian menguap.
“Elian, menurutmu dia mata-mata?” tanya Julian santai.
Elian mendengus. “Mata-mata? Dengan wajah sepolos itu? Jika dia mata-mata, dia adalah mata-mata terburuk dalam sejarah. Dia bahkan tidak berani menatap matamu, Kak.”
“Poin yang bagus,” sahut Julian. “Dia terlihat terlalu lemah untuk menjadi ancaman. Jangankan membunuh kita, mengangkat nampan perak berisi teh pun aku ragu dia sanggup tanpa menjatuhkannya.”
Mereka kembali tertawa dan membuat wajah Viona memerah karena malu bercampur lega. Setidaknya, mereka tidak mengusirnya. Ketegangan di bahu Viona sedikit mengendur.
Julian kemudian berdeham, mengubah ekspresinya menjadi sedikit lebih serius, meskipun kilatan jahil masih menari di matanya. Ia menyadari bahwa gadis ini bisa menjadi hiburan baru di rumah yang seringkali terlalu sunyi dan kaku ini.
“Baiklah, Nona Kucing Hilang,” ucap Julian, memberikan keputusan finalnya. “Kami sedang bosan, dan kehadiranmu cukup menarik. Kepala pelayan sedang libur hari ini, jadi anggaplah kami yang berkuasa.”
Viona mengangkat wajahnya sedikit, memberanikan diri menatap Julian. “A-apa maksudnya, Tuan?”
“Maksudnya, kau diterima,” sela Elian sambil tersenyum lebar. “Selamat datang di kediaman Cameron, tempat di mana kewarasan adalah hal yang opsional.”
Julian mengangkat satu jarinya, menginterupsi kegembiraan Elian. Wajahnya berubah, kali ini benar-benar serius. Nada suaranya merendah, memberikan peringatan yang membuat bulu kuduk Viona meremang.
“Kau boleh bekerja di sini. Tapi ingat satu hal yang paling krusial,” ujar Julian dan tataapan matanya yang tajam menatap ke dalam mata Viona, memastikan gadis itu mendengarkan setiap suku katanya. “Jangan pernah terlihat oleh Kakak Tertua saat mood-nya sedang buruk.”
Viona menelan ludah. “Tuan Davian?”
“Ya, Davian,” lanjut Julian dan seringai misterius kembali muncul, setengah bercanda namun setengahnya lagi adalah peringatan nyata tentang temperamen kakaknya.
“Dia bukan orang yang penyabar seperti kami. Jika kau melakukan kesalahan saat suasana hatinya sedang gelap, dia bisa memakanmu hidup-hidup.”
Elian mengangguk di belakang Julian dan membuat gerakan tangan seolah-olah lehernya ditebas.
“Secara metafora, tentu saja. Atau mungkin harfiah? Siapa yang tahu? Kami tidak pernah berani mencobanya."
Viona duduk diam di sofa ruang tengah yang luas, menumpu dagu dengan sebelah tangannya sementara matanya tak lepas dari rangkaian bunga anggrek putih yang diletakkan Vincent di atas meja kaca.Kelopak bunga itu tampak segar, namun entah mengapa, kehadirannya justru terasa mengintimidasi.“Apakah anggrek ini juga bunga kesukaan Alicia?” gumam Viona pelan pada dirinya sendiri.Dia mulai meragukan niat baik siapa pun yang datang ke rumah ini. Apakah Vincent sengaja membawa anggrek ini hanya untuk memancing amarah Davian?Atau ada pesan tersembunyi yang jauh lebih gelap di balik pilihan bunga yang tampak elegan ini?Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa curiga yang mulai meracuni pikirannya, lalu dia menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk.Elian muncul dengan wajah yang tampak lelah namun bersih. Dia baru saja menyelesaikan jadwal koasnya hari ini.Elian melepas jas dokternya, namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menan
Lantai teratas gedung Cameron Corp yang biasanya tenang oleh kedisiplinan tinggi, siang itu terasa mencekam.Davian duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, matanya terpaku pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.Konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki yang sangat dia kenali bergema di lantai marmer.Vincent melangkah masuk dengan gaya santai yang meremehkan. Dia berdiri di depan meja Davian, kemudian menarik napas seolah menikmati aroma kekuasaan di ruangan itu.“Marsha masih mencoba menghubungimu, hm? Atau mungkin kau yang sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka?” tanya Vincent dengan senyum miring yang provokatif.Davian tidak sedikit pun mendongakkan kepalanya. Dia terus mengetik, mengabaikan kehadiran adiknya seolah-olah Vincent hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.Suasana hening sejenak, hanya menyisakan bunyi klik dari mouse dan deru pendingin ruangan yang halus.Vincent mendengus, me
Aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruang lukis pribadi Viona yang luas. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna melalui jendela-jendela besar, menyinari kanvas yang kini sedang dia kerjakan.Hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Kejadian semalam, keintiman yang jujur dengan Davian, seolah menghapus lapisan debu yang selama ini menutupi keceriaannya.Viona sedang fokus melukis wajah seorang wanita muda tampak dari samping. Sapuan kuasnya terasa lebih luwes, menangkap lekuk rahang dan sorot mata figur dalam lukisan itu dengan detail yang tajam. Dia tidak lagi melukis dengan amarah; dia melukis dengan harapan.Suara langkah kaki yang santai terdengar mendekat, disusul ketukan pelan di bingkai pintu yang terbuka.“Kau terlihat sangat serius, Viona,” sapa sebuah suara yang familiar.Viona menoleh dan mendapati Vincent, adik kedua Davian, berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Viona meletakkan paletnya sejenak dan tersenyum.“Oh, kau rupanya, Vincent.
Malam itu, perbukitan Royal Sapphire diselimuti kabut tipis, namun di dalam kamar utama kediaman Cameron, suhu udara terasa jauh lebih tinggi.Davian melangkah masuk dengan sisa kelelahan dari kantor yang masih menggelayut di pundaknya.Dia melonggarkan dasi abu-abunya, namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat melihat pemandangan di atas tempat tidur King Size mereka.Viona duduk bersandar di kepala ranjang yang megah. Dia hanya mengenakan lingerie sutra hitam yang sangat tipis, membiarkan kulit bahunya yang mulus terpapar cahaya lampu tidur yang temaram.Sebuah senyum tenang, namun penuh arti, tersungging di bibirnya saat dia menatap kedatangan suaminya.Davian terpaku sejenak, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya yang tampak begitu kontras di atas sprei putih bersih. “Viona? Kau belum tidur?”“Aku menunggumu, Davian,” jawab Viona lembut. Suaranya terdengar seperti bisikan yang mengundang.Davian meletakkan tas kantornya di kursi santai, lalu berjalan mendekat.
Viona melepaskan jemari Davian dari wajahnya perlahan, meskipun dia tidak menjauh. Dia menatap mata suaminya dengan sorot yang lebih jernih, mencoba mencari pijakan di tengah badai emosi yang baru saja mereka lalui.“Aku ingin fokus pada lukisanku, Davian,” ucap Viona pelan namun tegas.“Bulan depan adalah bulan penentu bagiku. Pameran tunggal itu akan menentukan apakah aku memang pelukis yang berbakat atau hanya sekadar istri pengusaha kaya yang sedang mencari hobi. Aku sudah mempertaruhkan segalanya untuk ini.”Davian terdiam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir istrinya.“Aku tidak ingin fokusku terpecah dengan urusan masa lalumu yang belum sepenuhnya hilang dalam hubungan rumah tangga kita ini. Marsha, Alicia, atau apa pun itu ... aku mohon, selesaikan sendiri tanpa melibatkan ketenanganku,” lanjut Viona.Davian mengangguk pelan. Dia bisa merasakan beban dalam suara Viona. “Aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan hal itu mengganggumu lagi. Fokuslah pada pameranmu. Aku
“Kenapa Marsha masih suka sekali menghubungimu, Davian?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Viona, dingin dan tajam, memecah kesunyian lobi rumah yang megah.Dia berdiri mematung di depan meja konsol, matanya masih terpaku pada layar ponsel yang terus berkedip menampilkan nama perempuan dari masa lalu itu.Davian, yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan tas kantor di tangan, langkahnya terhenti. Dia melihat istrinya berdiri di sana dengan raut wajah yang sulit ditebak.Tanpa kata, Davian mendekat dan menyambar ponselnya dari atas meja. Dia melihat notifikasi itu sekilas, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah beban seluruh dunia baru saja jatuh ke bahunya.“Aku juga tidak tahu, Viona. Dia tidak berhenti mengirim pesan sejak minggu lalu,” jawab Davian suara rendah, mencoba meredam ketegangan yang mulai merayap naik.“Dia menyebut soal peninggalan kakaknya. Alicia,” Viona menekankan nama itu. “Sepertinya dia tahu persis tombol mana yang harus d







