Mag-log inViona duduk diam di sofa ruang tengah yang luas, menumpu dagu dengan sebelah tangannya sementara matanya tak lepas dari rangkaian bunga anggrek putih yang diletakkan Vincent di atas meja kaca.Kelopak bunga itu tampak segar, namun entah mengapa, kehadirannya justru terasa mengintimidasi.“Apakah anggrek ini juga bunga kesukaan Alicia?” gumam Viona pelan pada dirinya sendiri.Dia mulai meragukan niat baik siapa pun yang datang ke rumah ini. Apakah Vincent sengaja membawa anggrek ini hanya untuk memancing amarah Davian?Atau ada pesan tersembunyi yang jauh lebih gelap di balik pilihan bunga yang tampak elegan ini?Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa curiga yang mulai meracuni pikirannya, lalu dia menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk.Elian muncul dengan wajah yang tampak lelah namun bersih. Dia baru saja menyelesaikan jadwal koasnya hari ini.Elian melepas jas dokternya, namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menan
Lantai teratas gedung Cameron Corp yang biasanya tenang oleh kedisiplinan tinggi, siang itu terasa mencekam.Davian duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, matanya terpaku pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.Konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki yang sangat dia kenali bergema di lantai marmer.Vincent melangkah masuk dengan gaya santai yang meremehkan. Dia berdiri di depan meja Davian, kemudian menarik napas seolah menikmati aroma kekuasaan di ruangan itu.“Marsha masih mencoba menghubungimu, hm? Atau mungkin kau yang sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka?” tanya Vincent dengan senyum miring yang provokatif.Davian tidak sedikit pun mendongakkan kepalanya. Dia terus mengetik, mengabaikan kehadiran adiknya seolah-olah Vincent hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.Suasana hening sejenak, hanya menyisakan bunyi klik dari mouse dan deru pendingin ruangan yang halus.Vincent mendengus, me
Aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruang lukis pribadi Viona yang luas. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna melalui jendela-jendela besar, menyinari kanvas yang kini sedang dia kerjakan.Hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Kejadian semalam, keintiman yang jujur dengan Davian, seolah menghapus lapisan debu yang selama ini menutupi keceriaannya.Viona sedang fokus melukis wajah seorang wanita muda tampak dari samping. Sapuan kuasnya terasa lebih luwes, menangkap lekuk rahang dan sorot mata figur dalam lukisan itu dengan detail yang tajam. Dia tidak lagi melukis dengan amarah; dia melukis dengan harapan.Suara langkah kaki yang santai terdengar mendekat, disusul ketukan pelan di bingkai pintu yang terbuka.“Kau terlihat sangat serius, Viona,” sapa sebuah suara yang familiar.Viona menoleh dan mendapati Vincent, adik kedua Davian, berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Viona meletakkan paletnya sejenak dan tersenyum.“Oh, kau rupanya, Vincent.
Malam itu, perbukitan Royal Sapphire diselimuti kabut tipis, namun di dalam kamar utama kediaman Cameron, suhu udara terasa jauh lebih tinggi.Davian melangkah masuk dengan sisa kelelahan dari kantor yang masih menggelayut di pundaknya.Dia melonggarkan dasi abu-abunya, namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat melihat pemandangan di atas tempat tidur King Size mereka.Viona duduk bersandar di kepala ranjang yang megah. Dia hanya mengenakan lingerie sutra hitam yang sangat tipis, membiarkan kulit bahunya yang mulus terpapar cahaya lampu tidur yang temaram.Sebuah senyum tenang, namun penuh arti, tersungging di bibirnya saat dia menatap kedatangan suaminya.Davian terpaku sejenak, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya yang tampak begitu kontras di atas sprei putih bersih. “Viona? Kau belum tidur?”“Aku menunggumu, Davian,” jawab Viona lembut. Suaranya terdengar seperti bisikan yang mengundang.Davian meletakkan tas kantornya di kursi santai, lalu berjalan mendekat.
Viona melepaskan jemari Davian dari wajahnya perlahan, meskipun dia tidak menjauh. Dia menatap mata suaminya dengan sorot yang lebih jernih, mencoba mencari pijakan di tengah badai emosi yang baru saja mereka lalui.“Aku ingin fokus pada lukisanku, Davian,” ucap Viona pelan namun tegas.“Bulan depan adalah bulan penentu bagiku. Pameran tunggal itu akan menentukan apakah aku memang pelukis yang berbakat atau hanya sekadar istri pengusaha kaya yang sedang mencari hobi. Aku sudah mempertaruhkan segalanya untuk ini.”Davian terdiam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir istrinya.“Aku tidak ingin fokusku terpecah dengan urusan masa lalumu yang belum sepenuhnya hilang dalam hubungan rumah tangga kita ini. Marsha, Alicia, atau apa pun itu ... aku mohon, selesaikan sendiri tanpa melibatkan ketenanganku,” lanjut Viona.Davian mengangguk pelan. Dia bisa merasakan beban dalam suara Viona. “Aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan hal itu mengganggumu lagi. Fokuslah pada pameranmu. Aku
“Kenapa Marsha masih suka sekali menghubungimu, Davian?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Viona, dingin dan tajam, memecah kesunyian lobi rumah yang megah.Dia berdiri mematung di depan meja konsol, matanya masih terpaku pada layar ponsel yang terus berkedip menampilkan nama perempuan dari masa lalu itu.Davian, yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan tas kantor di tangan, langkahnya terhenti. Dia melihat istrinya berdiri di sana dengan raut wajah yang sulit ditebak.Tanpa kata, Davian mendekat dan menyambar ponselnya dari atas meja. Dia melihat notifikasi itu sekilas, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah beban seluruh dunia baru saja jatuh ke bahunya.“Aku juga tidak tahu, Viona. Dia tidak berhenti mengirim pesan sejak minggu lalu,” jawab Davian suara rendah, mencoba meredam ketegangan yang mulai merayap naik.“Dia menyebut soal peninggalan kakaknya. Alicia,” Viona menekankan nama itu. “Sepertinya dia tahu persis tombol mana yang harus d







