Compartir

BAB 24 : PERAYAAN MALAM

Autor: Neptula
last update Fecha de publicación: 2026-07-24 22:08:00
“Apa… kamu mau merayakannya denganku?” tanyaku sedikit ragu, menatap Arka dengan binar mata yang masih menyala penuh kegembiraan.

Arka menyunggingkan senyum tipis seraya melipat kedua tangannya di dada. “Merayakannya di mana? Kafe di luar sudah banyak yang tutup jam segini.”

“Bagaimana kalau di unitku? Aku bisa menyeduh teh atau membuat kudapan kecil,” usulku antusias.

Arka mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan. “Ke unitku saja,” potongnya tenang, namun tatapannya menatapku hangat. “Hitung
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jerat Obsesi : Tuan, Maaf Saya Salah Tarik!   BAB 133 : PANGKUAN HANGAT

    “Jangan-jangan kamu memang mau melihat tubuhku tanpa busana?”Suasana seketika hening. Rahang bawahku jatuh dan kedua alisku bertaut dalam-dalam. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh pria itu.Ma-maksudnya apa?!Arka menghela napas pendek, lalu jari telunjuknya terarah bergantian ke beberapa sudut ruangan. “Walk-in closet. Lemari.” Ia lalu menggerakkan kedua tangannya naik-turun menunjuk tubuhnya sendiri. “Aku baru saja selesai mandi, Lyra.”Mendengar penuturannya, aku baru sadar dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku… mengekorinya sampai ke dalam area privatnya?!“O-oh, maaf,” balasku gugup setengah mati sambil menunduk dalam-dalam karena malu.“Tunggu di luar,” ucap Arka cepat dengan nada memerintah yang tenang.Aku mengangguk cepat, buru-buru memutar tubuhku dan melangkah cepat menjauhinya.“Jangan berkeliaran, dan jangan coba-coba mengintip,” sambung Arka tepat sebelum aku melewati ambang pintu penyekat.Mengintip? Apa dia sedang meledekku

  • Jerat Obsesi : Tuan, Maaf Saya Salah Tarik!   BAB 132 : CIUMAN MANIS

    “AAA!!”Aku berteriak sangat keras saat sesuatu tiba-tiba menepuk bahuku.“Sssttt… Lyra, ini aku,”Suara itu... sepertinya aku sangat kenal.Aku buru-buru berbalik ke belakang. Sosok gelap yang besar, tinggi, dan tegap seolah berdiri siap menerkamku saat itu juga.Takut setengah mati, aku langsung menempelkan kedua telapak tangan di depan dada sambil memejamkan mata rapat-rapat. “Hantu… tolong jangan makan aku…”“Hantu?”Klik!Seketika ruangan kamar yang tadinya gelap mendadak terang.Aku mendongak dan membuka mataku perlahan-lahan. “Arka.”“Memang kamu pikir siapa lagi?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat.“Bikin jantungku mau copot saja!” Aku memegangi dadaku dengan kedua tangan, ngos-ngosan. “Kenapa sih harus gelap-gelapan segala?”“Terserah aku. Ini kan kamarku,” jawabnya santai lalu berbalik memunggungi.Aku menghela napas pendek sebal, tapi sedetik kemudian mataku justru disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa. Tanpa sehelai baju pun di atas, dan hanya mengenakan sehelai

  • Jerat Obsesi : Tuan, Maaf Saya Salah Tarik!   BAB 131 : PERANG TERBUKA

    Kami menikmati suasana hangat ini bersama. Bzzzttt… Bzzzttt…Ponselku bergetar dalam saku gaunku. Aku membuka layar dan membaca pesan dari Elena soal permintaanku padanya, lalu kembali mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku. “Ada apa?” tanya Arka dengan wajah penasaran.“Tidak ada,” jawabku singkat. Tanpa sadar aku tersenyum tipis dan Arka masih memperhatikanku.“Kenapa?” tanyaku pura-pura bingung.Saat Arka hendak membuka mulutnya untuk menjawab. Ponselnya berdering, dengan segera dia merogoh saku jasnya dan mengusap layar pada benda pipih itu.“Halo,” sapa Arka membuka percakapan. Dia terdiam, lalu melirikku sebentar, lalu kembali mendengarkan panggilan itu. “Baik, aku mengerti. Kerja bagus Tony.” Lalu dia menutup panggilan itu.Tak lama kemudian, jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Tidak lama kemudian ayah dan ibu menghampiri kami.“Ada apa?” tanya ayah dengan penasaran. “Iya. Ibu lihat kalian berdua berubah menjadi sangat serius,” timpa ibu.Aku meli

  • Jerat Obsesi : Tuan, Maaf Saya Salah Tarik!   BAB 130 : JEJAK HANGAT

    Kami kembali menikmati sarapan kami dengan tenang. Namun di sela-sela itu, aku merogoh saku di gaunku. Mencari nama Elena dan mengirim pesan singkat padanya.[Aku: Elena, arahkan tim media internal kita untuk bersiap. Dokumentasikan seluruh proses penangkapan dan penggiringan menteri-menteri itu begitu jaringan Arka bergerak. Tayangkan secara live di jaringan siaran nasional dalam hitungan menit.]Tak selang berapa lama, sebuah balasan dari Elena muncul.[Elena: Baik, Nona.]Aku tersenyum tipis. Ada rasa kepuasan tersendiri bagiku membayangkan muka-muka mereka terekspos publik. Mereka lebih memilih menyengsarakan rakyat Elysium, sekarang kita lihat bagaimana raut muka mereka saat dijatuhi vonis.Aku mematikan layar ponsel lalu memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku. Saat aku hendak menyeka mulutku dengan serbet, aku menangkap Arka sedang memandangiku.“Apa?” tanyaku spontan.“Tidak apa-apa,” jawab Arka seraya menggeleng pelan, lalu ikut menyeka mulutnya dengan serbet.Setela

  • Jerat Obsesi : Tuan, Maaf Saya Salah Tarik!   BAB 129 : JERAT GODA

    Aku berjalan dengan hentakan kaki yang sengaja kubuat kuat agar Arka tahu aku sedang kesal saat menaiki anak tangga. Sisa-sisa rona hangat di pipiku akibat godaannya di mobil tadi belum sepenuhnya surut. Tanpa jeda lama, Arka berhasil menyusulku dengan langkah kaki lebarnya. Dengan senyum penuh goda Arka membungkukkan tubuhnya agar melihat ekspresi kesalku dengan jelas. “Kenapa marah?” Aku meliriknya tajam dan terus berjalan. “Oke-oke aku minta maaf,” ucap Arka kembali menegakkan tubuhnya. “Sebagai permintaan maafku…” Arka menggantung kalimatnya. Dengan sekali gerakan cepat dia menyusupkan satu lengannya di lutut dan satu lainnya di pinggangku. Dia mengangkat dan menggendongku. Aku terkejut dan refleks memegangi bahunya yang lebar itu. “Ih, apa-apaan sih? Kenapa main gendong?!” pekikku.Arka menatapku. “Kasih kompensasi karena buat kamu marah,” ucapnya lalu kembali berjalan menaiki tangga.Aku menyeringai kesal. “Kalau mau gendong bilang-bilang dulu. Main seenaknya aja,” timpalku

  • Jerat Obsesi : Tuan, Maaf Saya Salah Tarik!   BAB 128 : BAYANG ASMARA

    Pertanyaan Arka sontak membuat gerakanku terhenti, mengikatku secara tidak langsung untuk tetap di dalam mobil bersamanya lebih lama. Tatapan matanya yang hitam pekat mengunci netraku, seolah tidak memberi ruang padaku untuk melarikan diri atau sekadar bersikap acuh. Begitu dalam, begitu intens. Sampai jantungku kembali berdetak lebih liar. Suasana hening yang hangat merayap muncul ketika itu juga, seolah sedang menambahkan bumbu keintiman saat kami saling memandang.“A-apa?” tanyaku terkejut. “Kenapa bertanya seperti itu?” Aku tertawa kecil sambil mengalihkan pandanganku ke arah berlawanan, berusaha keras menetralkan irama jantungku agar kembali normal. “Bukannya memang begitu?” ujar Arka dengan nada dan ekspresi penuh goda. “Kamu memikirkanku sampai tidak fokus pada penjelasan Elena. Pesonaku memang tidak bisa terbantahkan.”“Ihh, percaya diri sekali kamu,” cibirku tidak mau mengakui kalau dugaannya memang benar. Aku kembali berbalik dan memegang tuas pintu, dan sekali lagi Arka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status