Chapter: BAB 132 : CIUMAN MANIS“AAA!!”Aku berteriak sangat keras saat sesuatu tiba-tiba menepuk bahuku.“Sssttt… Lyra, ini aku,”Suara itu... sepertinya aku sangat kenal.Aku buru-buru berbalik ke belakang. Sosok gelap yang besar, tinggi, dan tegap seolah berdiri siap menerkamku saat itu juga.Takut setengah mati, aku langsung menempelkan kedua telapak tangan di depan dada sambil memejamkan mata rapat-rapat. “Hantu… tolong jangan makan aku…”“Hantu?”Klik!Seketika ruangan kamar yang tadinya gelap mendadak terang.Aku mendongak dan membuka mataku perlahan-lahan. “Arka.”“Memang kamu pikir siapa lagi?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat.“Bikin jantungku mau copot saja!” Aku memegangi dadaku dengan kedua tangan, ngos-ngosan. “Kenapa sih harus gelap-gelapan segala?”“Terserah aku. Ini kan kamarku,” jawabnya santai lalu berbalik memunggungi.Aku menghela napas pendek sebal, tapi sedetik kemudian mataku justru disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa. Tanpa sehelai baju pun di atas, dan hanya mengenakan sehelai
Zuletzt aktualisiert: 2026-10-26
Chapter: BAB 131 : PERANG TERBUKAKami menikmati suasana hangat ini bersama. Bzzzttt… Bzzzttt…Ponselku bergetar dalam saku gaunku. Aku membuka layar dan membaca pesan dari Elena soal permintaanku padanya, lalu kembali mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku. “Ada apa?” tanya Arka dengan wajah penasaran.“Tidak ada,” jawabku singkat. Tanpa sadar aku tersenyum tipis dan Arka masih memperhatikanku.“Kenapa?” tanyaku pura-pura bingung.Saat Arka hendak membuka mulutnya untuk menjawab. Ponselnya berdering, dengan segera dia merogoh saku jasnya dan mengusap layar pada benda pipih itu.“Halo,” sapa Arka membuka percakapan. Dia terdiam, lalu melirikku sebentar, lalu kembali mendengarkan panggilan itu. “Baik, aku mengerti. Kerja bagus Tony.” Lalu dia menutup panggilan itu.Tak lama kemudian, jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Tidak lama kemudian ayah dan ibu menghampiri kami.“Ada apa?” tanya ayah dengan penasaran. “Iya. Ibu lihat kalian berdua berubah menjadi sangat serius,” timpa ibu.Aku meli
Zuletzt aktualisiert: 2026-10-25
Chapter: BAB 130 : JEJAK HANGATKami kembali menikmati sarapan kami dengan tenang. Namun di sela-sela itu, aku merogoh saku di gaunku. Mencari nama Elena dan mengirim pesan singkat padanya.[Aku: Elena, arahkan tim media internal kita untuk bersiap. Dokumentasikan seluruh proses penangkapan dan penggiringan menteri-menteri itu begitu jaringan Arka bergerak. Tayangkan secara live di jaringan siaran nasional dalam hitungan menit.]Tak selang berapa lama, sebuah balasan dari Elena muncul.[Elena: Baik, Nona.]Aku tersenyum tipis. Ada rasa kepuasan tersendiri bagiku membayangkan muka-muka mereka terekspos publik. Mereka lebih memilih menyengsarakan rakyat Elysium, sekarang kita lihat bagaimana raut muka mereka saat dijatuhi vonis.Aku mematikan layar ponsel lalu memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku. Saat aku hendak menyeka mulutku dengan serbet, aku menangkap Arka sedang memandangiku.“Apa?” tanyaku spontan.“Tidak apa-apa,” jawab Arka seraya menggeleng pelan, lalu ikut menyeka mulutnya dengan serbet.Setela
Zuletzt aktualisiert: 2026-10-24
Chapter: BAB 129 : JERAT GODAAku berjalan dengan hentakan kaki yang sengaja kubuat kuat agar Arka tahu aku sedang kesal saat menaiki anak tangga. Sisa-sisa rona hangat di pipiku akibat godaannya di mobil tadi belum sepenuhnya surut. Tanpa jeda lama, Arka berhasil menyusulku dengan langkah kaki lebarnya. Dengan senyum penuh goda Arka membungkukkan tubuhnya agar melihat ekspresi kesalku dengan jelas. “Kenapa marah?” Aku meliriknya tajam dan terus berjalan. “Oke-oke aku minta maaf,” ucap Arka kembali menegakkan tubuhnya. “Sebagai permintaan maafku…” Arka menggantung kalimatnya. Dengan sekali gerakan cepat dia menyusupkan satu lengannya di lutut dan satu lainnya di pinggangku. Dia mengangkat dan menggendongku. Aku terkejut dan refleks memegangi bahunya yang lebar itu. “Ih, apa-apaan sih? Kenapa main gendong?!” pekikku.Arka menatapku. “Kasih kompensasi karena buat kamu marah,” ucapnya lalu kembali berjalan menaiki tangga.Aku menyeringai kesal. “Kalau mau gendong bilang-bilang dulu. Main seenaknya aja,” timpalku
Zuletzt aktualisiert: 2026-10-24
Chapter: BAB 128 : BAYANG ASMARAPertanyaan Arka sontak membuat gerakanku terhenti, mengikatku secara tidak langsung untuk tetap di dalam mobil bersamanya lebih lama. Tatapan matanya yang hitam pekat mengunci netraku, seolah tidak memberi ruang padaku untuk melarikan diri atau sekadar bersikap acuh. Begitu dalam, begitu intens. Sampai jantungku kembali berdetak lebih liar. Suasana hening yang hangat merayap muncul ketika itu juga, seolah sedang menambahkan bumbu keintiman saat kami saling memandang.“A-apa?” tanyaku terkejut. “Kenapa bertanya seperti itu?” Aku tertawa kecil sambil mengalihkan pandanganku ke arah berlawanan, berusaha keras menetralkan irama jantungku agar kembali normal. “Bukannya memang begitu?” ujar Arka dengan nada dan ekspresi penuh goda. “Kamu memikirkanku sampai tidak fokus pada penjelasan Elena. Pesonaku memang tidak bisa terbantahkan.”“Ihh, percaya diri sekali kamu,” cibirku tidak mau mengakui kalau dugaannya memang benar. Aku kembali berbalik dan memegang tuas pintu, dan sekali lagi Arka
Zuletzt aktualisiert: 2026-10-22
Chapter: BAB 127 : PERISAI HANGATAku menatap Arka. Auranya kini berubah menjadi sesuatu yang lebih pekat dan kelam, seolah sedang menunjukkan sisinya yang sejati sebagai seorang penguasa.Langkah kaki Arka berbunyi mantap di atas lantai beton gudang yang dingin. Senyum tipis yang tadi menghiasi wajahnya berangsur meluntur, berganti menjadi tatapan dingin dan dominan.“Berapa banyak penadah yang masih bermain dua kaki?” tanya Arka pada Elena, suaranya terdengar datar namun menekan.Elena melirik dokumen di tangannya sejenak sebelum menjawab tegas. “Ada empat nama utama, Tuan Arka. Mereka menguasai pintu keluar barang di pelabuhan kecil wilayah Selatan. Mereka sengaja menahan distribusi barang Nona Lyra untuk memicu kelangkaan palsu di pasar.”Arka merogoh saku celananya, mengeluar
Zuletzt aktualisiert: 2026-10-21