INICIAR SESIÓNPELEDAK KEDALAMAN DAN PELARIAN OKSIGENGetaran hebat pertama menghantam dinding baja bunker Adhitama dengan bunyi dentuman logam yang meredam, bumm!, membuat lampu-lampu neon biru di langit-langit laboratorium berkedip liar sebelum akhirnya meledak. Cairan amnion di dalam tabung-tabung inkubasi berguncang hebat, menciptakan riak-riak keruh yang menyembunyikan embrio-embrio gagal di dalamnya. Ragnar tersentak dari puncak penyatuannya dengan Valencia, otot-otot punggungnya yang bersimbah keringat menegang kaku saat ia merasakan frekuensi ledakan dari arah pintu dekompresi luar."Ragnar... hhh... apa itu? Jangan lepaskan I... I takut..."Valencia merintih manja dengan suara yang parau, tangannya masih melingkar erat di leher Ragnar, mencari perlindungan di tengah kekacauan yang tiba-tiba melanda. Tu
BAB 50: RAHIM LABORATORIUM DAN SUARA MASA LALULantai besi bunker dekompresi itu terasa dingin dan bergetar halus akibat tekanan jutaan liter air laut China Selatan yang menghimpit dinding baja di sekeliling mereka. Valencia masih terbatuk, mengeluarkan sisa air asin yang memerihkan tenggorokannya, sementara tubuhnya yang mungil menggigil hebat di atas dada Ragnar yang bidang. Gaun sutra hitamnya kini tak lebih dari sehelai kain basah yang melekat transparan di kulitnya, menonjolkan setiap lekuk tubuh porselennya yang gemetar karena trauma sensorik yang baru saja mereka lalui.Ragnar menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen murni dari sistem sirkulasi bunker mengisi paru-parunya yang tadi nyaris meledak demi memberikan napas pada Valencia. Ia bangkit perlahan, menggendong Valencia dengan posisi koala yang protektif, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya yang ber
PALUNG KEGELAPAN DAN NAPAS TERAKHIRSuara sirine militer Macau yang melengking tinggi mulai bersahutan dari arah utara dan selatan jembatan menciptakan kepungan frekuensi yang menyiksa telinga Valencia. Cahaya lampu strobo merah dan biru memantul di atas aspal yang basah oleh darah Unit Chimera yang mulai mendingin. Ragnar tidak memiliki waktu untuk merayakan kemenangan kecilnya atas Vektor karena ia tahu protokol isolasi Elena Vane berarti pemusnahan total tanpa sisa.Ragnar menyambar tas taktis dari kursi belakang Maserati yang sudah berasap akibat arus pendek listrik tadi. Ia merangkul pinggang Valencia dengan lengan kirinya yang kokoh sementara tangan kanannya menggenggam belati nelayan yang masih meneteskan darah. Mereka tidak bisa lagi menggunakan jalur darat karena blokade truk kontainer di depan dan pasukan taktis di belakang telah mengunci posisi mereka secara permanen.
RESONANSI NYAWA DI ATAS SAI VANUdara di atas Jembatan Sai Van mendadak membeku bukan karena suhu fajar Macau yang lembap melainkan karena kehadiran maut yang kini berdiri tegak di antara deretan kendaraan yang melintang. Ragnar keluar dari Maserati perak itu dengan gerakan yang sangat lambat namun penuh dengan presisi seorang predator yang sudah mencium aroma darah. Jas tuksedonya yang kini terkoyak di bagian bahu memperlihatkan tato sirkuitnya yang mulai menghitam akibat bereaksi terhadap medan elektromagnetik dari peralatan Unit Chimera di sekeliling mereka.Di hadapannya dua puluh personel elit Unit Chimera melompat turun dari truk kontainer dengan sinkronisasi yang mengerikan. Mereka mengenakan zirah taktis berwarna abu-abu baja dengan helm sensorik yang menutupi seluruh wajah tanpa menyisakan sedikit pun celah kemanusiaan. Tidak ada teriakan perintah atau peringatan yang keluar dari mu
JEMBATAN KACA DAN HUJAN AMUNISIMaserati perak itu melesat seperti peluru perak di atas aspal Jembatan Sai Van yang masih diselimuti kabut tipis. Di belakang mereka, tiga mobil SUV hitam milik Unit Chimera mengejar dengan raungan mesin yang memekakkan telinga, menciptakan formasi predator yang mencoba mengunci mangsanya di tengah jembatan yang terbuka. Ragnar mencengkeram setir dengan urat-urat tangan yang menonjol kaku, matanya tidak berkedip menatap spion yang bergetar hebat."Ragnar... mereka semakin dekat! I bisa merasakan panas dari mesin mereka di punggung I," pekik Valencia.Ia meringkuk di kursi penumpang, tubuhnya yang mungil gemetar saat ia mencoba menyatukan kesadarannya dengan sistem navigasi mobil. Tato tribal di lehernya berpendar ungu kebiruan yang tajam, menandakan bahwa ia sedang berjuang melawan interferensi sinyal dari helikopter tempur yang kini muncul dari balik awan kelabu di atas jembatan. Suara baling-baling helikopter itu, wung-wung-wung terdengar seperti tawa
FREKUENSI PENGKHIANATANLift darurat itu meluncur naik dengan kecepatan yang membuat perut Valencia terasa mual, namun rasa mual itu bukan hanya karena tekanan gravitasi yang menghimpit tubuhnya. Di dalam kepalanya, sebuah suara bisikan digital yang dingin dan monoton mulai beradu dengan suara napas berat Ragnar yang memburu di samping telinganya. Setiap inci kulitnya yang bersentuhan dengan kain kasar jas tuksedo Ragnar yang bernoda darah terasa seperti sengatan listrik statis yang menuntut perlindungan mutlak. Valencia merasa seolah-olah realitas di sekitarnya sedang retak, terbelah antara beton dingin lift dan jaringan data yang mencoba merasuki saraf pusatnya."Ragnar... hhh... I mendengar suara kakek. Dia... dia ada di dalam sistem lift ini. I bisa merasakan jemari elektroniknya merayap di bawah kulit I," rintih Valencia manja.Ia mencengkeram lengan kekar Ragnar hingga kuku-kukunya yang cantik sedikit menusuk kain jas mahal yang sudah kotor itu. Wajahnya yang pucat bersandar di







