Share

Bab 100 Hari Pertama

Author: Shu Li
last update Last Updated: 2026-02-14 19:19:36

Sebelumnya, saat hendak makan siang.

“Nara-” panggil Dikta.

Seketika Nara menoleh dan semua pandangan beralih padanya. Bagaimana bisa seorang CEO mengenal karyawan biasa dengan baik.

“Nara, bos kenal kamu?” tanyanya setengah berbisik.

Nara menggeleng ragu dengan muka kikuk. “Mau makan siang?” tanya Dikta.

“I-iya pak.” jawabnya terdengar kikuk sekali.

“Pak?” Dikta bertanya kurang yakin. Tatapan Nara seolah mengisyaratkan,”Please bersikaplah seperti bos pada umumnya, pura-puralah tak mengen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 113 Sabtu Nara

    Wajah Nara berubah kecewa, muncullah Irene dari dalam rumah menyapa ramah Nara seperti biasanya. “Nara kenapa tidak masuk saja, ayo tante bikin makanan enak banget-” “Maaf tante, Nara hanya mampir mau menanyakan tentang Aland tapi kata om Roy Aland sudah berangkat ke luar negeri kemarin, kenapa begitu mendadak tante?” Nara tak sungkan bertanya lebih jelas pada nyonya rumah itu. Irene hendak menjawab, langkah gusar suaminya mengalihkannya sejenak. Orang itu bahkan masuk ke dalam tanpa pamit. Sebagai istrinya ia juga sengit melihatnya. “Maaf Nara, sebenarnya kabar ini sangat mendadak. Aland sebulan yang lalu diam-diam mencari informasi kuliah di luar negeri dan ia mendapat jawaban pun juga mendadak. Segera ia persiapkan dan ingin memberitahumu tapi kemarin kamu susah sekali dihubungin. Maaf ya sayang, pasti kamu terkejut dengan cara om Roy memberi tahu.” Irene bisa menduga seperti apa cara suaminya memberi tahu. “Baiklah tante, Nara nggak papa kok hanya berita ini cukup mengejutkan

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 112 Tentang Seseorang

    Aland baru saja sampai di Negara lain. Ia melihat ponselnya, tak ada tanda-tanda pesan balasan dari Nara. Nomornya tak aktif, membuat Aland berpikir macam-macam. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Aland menghubungi mamanya, namun tidak diangkat. Antara sudah tidur atau sedang sibuk yang lain. Ia memutuskan menghubungi nanti lagi setelah sampai di apartemen. Sepanjang perjalanan Aland hanya memikirkan Nara, mengulas lagi bagaimana mereka kembali berbaikan setelah beberapa tahun tak menjalin komunikasi. Nafasnya berhembus teratur dan senyumnya kembali menyungging. Aland tiba di sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya. Begitu masuk ruangan itu lebih bagus dari yang ia pikirkan. Dari gedung yang tinggi ia bisa melihat pemandangan kota dengan jelas. Lampu-lampu gemerlap menyilaukan mata. Membayangkan Nara mengetahuinya pasti ia akan sangat senang dan tiada henti terpukau. Sama seperti Dikta, ia melihat Nara lain saat wajah cerah dan semringah itu memandang gemerlap l

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 111 Sial Berakhir Mujur

    "Yuk!" Dikta membiarkan Nara mendahuluinya, ia mempersilahkan Nara memilih tempat. Hujan reda, sisa-sisa mendung masih terlihat. Namun sebentar lagi gelap, lampu-lampu kota akan menyala menggantikan mendung.Nara dan Dikta duduk di bangku paling sudut, sengaja Nara yang memilihnya agar bisa memotret pemandangan dari sudut dan mendapatkan lebih luas. Ckrek!"Wah, boleh juga nih hp! cantik nggak?" tanyanya girang.Netra Dikta berhenti pada wajah Nara, lalu menjawab, "Cantik. cantik banget!""Tuh, ya kan! coba kamera jarak jauhnya-" Nara sibuk mengeksplor ponsel barunya. Ia terlihat sangat senang dengan ponsel barunya. Tapi sayang, nomor lamanya tak bisa dibuka tandanya pencuri itu sudah mengotak-atik ponselnya.Sial sekali Nara, terlebih semua nomor-nomor temannya disana juga nomor penting lainnya. Nara mengambil nomor Mamanya dari ponsel Dikta, menyimpannya lal menelponnya. "Halo Ma-" dari balik telepon Laudya sedang mengungkapkan kekhawatirannya. Panjang lebar omelan itu dan Nara h

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 110 Perhatian yang Berlebihan

    “Nara!” Merasa ada yang memanggilnya ia menoleh, awalnya ia masih mencari-cari suara itu karena lalu lalang keramaian di stasiun. Nara berdiri ketika melihat Dikta. Dikta mempercepat langkah untuk sampai pada posisi Nara, wajahnya terlihat khawatir. “Nara- kamu nggak pa-pa?” tanyanya sembari mengusap rambut samping Nara. Nara menggeleng, ia melihat Dikta yang sekhawatir itu padanya. “Aku baik-baik saja kak, hanya ketinggalan kereta dan ponselku hilang.” Dikta menunjukkan muka yang sedikit lega karena Nara terlihat baik-baik saja, “ayo ke mobil.” “Pak-”Nara menggeleng cepat, memperbaiki sebutannya.”Kak- kamu naik mobil sendiri kesini?” Dikta mengangguk,”Ha?” wajah Nara menatap heran. Namun sebelum mengatakan sesuatu lagi Dikta sudah menarik tangannya. Ia membawanya ke luar stasiun, Dikta memarkir mobilnya di luar stasiun karena tempatnya yang penuh. Mereka masuk ke mobil, sesampainya di dalam Dikta mengambil handuk kecil di dasbor. “Pakailah-” katanya mengingatkan Nara pada sebu

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 109 Benarkah Perpisahan adalah Kesialan?

    “Bukankah dia yang menemani tante Laudya di rumah sakit?” ingatnya pada hari itu.”Ya, dia kan anak dari atasannya Tante Laudya, mereka sengaja di dekatkan atau -ah! sial!”hatinya panas, tapi bagaimanapun saat itu fokus Nara ingin pada Mamanya juga pekerjaan. Pada dasarnya Aland belum rela jika hubungan mereka berakhir. Hatinya juga kesal dengan Nara, dia merasa hanya sebagai pelarian dari keadaannya. Keluarganya selama ini selalu bersikap baik, terlepas kenyataan adanya masalah antara orang tua mereka.Tapi di sisi lain Aland juga masih marah dengan Papanya. Andai saja Papanya tidak memperingatkan Nara juga Mamanya mungkin ada celah untuk berjuang. Namun pikiran Aland hanya andai, andai dan andaikan.Terlepas dari kenyataan yang ada Nara berusaha tegas untuk memilah hati yang mendukung keadaannya.Jarum jam terus berputar tanpa henti, dan Aland masih belum bisa memejamkan mata meski sejenak. Ia kembali berdiri di depan jendela kamarnya. Langkahnya maju mundur mau membuka Jendela yang

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 108 Perayaan

    “Wah! Parah kamu Na, jahat banget! Coba kalian waktu itu kenalan, pasti udah jadi-” kalimat Wina terpotong karena Lusi membungkamnya, ia berontak berusaha melepaskan cengkeraman Lusi. Mata Lusi ,melotot ke arah Wina agar tidak sembrono berbicara lalu melepasnya. “Maksudnya jadi teman, gitu kan ya kak?” Wina mencari dukungan sementara Dikta tersenyum melirik Nara yang tetap tenang. Mereka sampai di sebuah restoran mewah. “Wah... aku merasa nggak menyesal deh mengikuti kalian, gas yok!” Wina terlalu bersemangat. Dia suka sekali di ajak ke tempat mewah. Tari mengumumkan jika ia yang akan mentraktir semuanya makan, sebagai acara pelepasan Laudya karena sudah mengabdi di kantornya selama 15 tahun ditambah acara kelulusan Nara dengan pencapaian sebagai mahasiswi terbaik. “Tari, nggak perlu repot aku sanggup mentraktir kalian makan disini-” “Patuh saja, bagiku kamu adalah teman spesial jadi sebagai tanda penghargaanku padamu patuh saja oke!” Tari tidak mau kalah, ia kekeuh pada keingina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status