LOGINTanpa menjawab pertanyaan Ibu Kartika, Adrian justru menggeser posisinya semakin dekat ke arahku. Jarak yang sejak tadi sudah terasa sempit kini nyaris benar-benar lenyap. Aku bahkan belum sempat memahami maksud tatapannya.
Dengan gerakan yang begitu alami hingga sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya, ia menggeser lengannya dan merangkul pinggangku dari samping dengan erat. Tubuhku langsung ditarik mendekat hingga nyaris tidak menyisakan jarak di antara kami. Seluruh tubuhku mendadak membeku, sementara napasku tertahan begitu saja. Rasanya seperti seluruh aliran darahku berhenti mengalir. Pasokan oksigen di paru-paruku seolah menghilang begitu saja saat tubuhku bersandar tepat di dadanya. Aroma parfum bernuansa kayu dan amber kembali memenuhi indra penciumanku hingga membuat kepalaku semakin sulit berpikir. "Tentu saja dengan Rania." Suara Adrian terdengar tenang, bahkan tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya tetap tertuju pada Ibu Kartika, seolah apa yang baru saja dilakukannya merupakan hal yang paling wajar di dunia. "Rania adalah kekasih saya." Kalimat itu menggema memenuhi ruangan yang tertutup rapat. Deg. Aku menatap Adrian dengan mata membulat. Kepalaku terasa kosong, sementara pikiranku seperti berhenti bekerja. "Hah? Kekasih? Aku? Yang benar saja... apa dia sedang sakit?" "Aku hanyalah seorang desainer grafis yang bahkan hampir tidak pernah diajak berbicara olehnya." "Lalu sekarang... tiba-tiba aku menjadi kekasihnya?" "Hah?" "Aku benar-benar akan meledak dalam diam." Dadaku berdegup begitu keras. Jauh lebih berisik daripada mesin cetak yang setiap hari bekerja di ruang divisi kreatif. Detik itu juga aku sadar bahwa kehidupan kantor yang damai dan tenang, yang selama ini kubangun dengan susah payah, baru saja hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan beberapa detik. Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Bahkan embusan pendingin ruangan kini terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Dingin hingga rasanya mampu membekukan tubuhku seperti semen yang baru mengering. Sementara itu, Ibu Kartika mulai mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata yang tajam, seolah sedang menilai setiap inci penampilanku. "Rania?" Suara Ibu Kartika akhirnya memecah keheningan. Kedua tangannya masih bersilang di depan dada, sementara tatapan sinisnya belum sedikit pun memudar. "Desainer grafis Divisi Kreatif yang baru masuk tahun lalu." Aku membuka mulut, tetapi tidak satu pun kata berhasil keluar. Paru-paruku terasa penuh, sementara lidahku kelu karena masih berusaha mencerna semua yang baru saja terjadi. "Iya, Tante... eh, maksud saya, Ibu Kartika." Suara Adrian kembali mendahuluiku. Nada bicaranya terdengar begitu meyakinkan hingga membuatku sendiri nyaris mempercayai kebohongan yang sedang ia ciptakan. Begitu mantap hingga, seandainya aku tidak sedang berdiri di dalam pelukannya saat ini, mungkin aku sendiri akan ikut mempercayai kebohongan yang baru saja keluar dari mulutnya. "Kami memang sengaja menjaga hubungan ini tetap privat." Adrian tersenyum tipis. Senyum itu tampak tenang di permukaan, meski entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang dipaksakannya di balik raut wajah tersebut. "Profesionalisme di kantor tetap menjadi prioritas utama bagi kami berdua." Lalu ia terkekeh pelan. "Hehe..." Aku hanya mampu berdiri membeku. Tangannya yang masih melingkar di pinggangku membuatku sama sekali tidak berani bergerak, sementara jantungku terus berdetak tidak karuan. Senyuman itu masih tampak dipaksakan. Namun, ia tetap mempertahankannya seolah benar-benar yakin Ibu Kartika akan mempercayai setiap kata yang baru saja diucapkannya. "Privat, atau baru saja dikarang mendadak, Adrian?" Ibu Kartika mendengus pelan sebelum mengembuskan napas panjang. Sorot matanya bergantian mengarah kepada Adrian dan kepadaku, seolah berusaha mencari celah dari sandiwara yang sedang kami mainkan. "Dengar, ibumu sangat mengharapkanmu segera berkeluarga dengan orang yang terpandang dan sepadan. Bukan hubungan main-main tanpa rencana seperti ini. Ingat, kau bukan lagi duduk di bangku sekolah." "Ini sudah sangat terencana, Bu. Kami sudah merencanakannya sejak jauh hari." Jawaban Adrian meluncur begitu cepat hingga nyaris tidak memberiku kesempatan untuk bereaksi. Pelukannya di pinggangku sama sekali belum mengendur, bahkan telapak tangannya masih terasa hangat menempel di sana. "Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa melihat sendiri bagaimana kami menjalaninya. Sekarang, jika Ibu sudah tidak memiliki urusan operasional lagi dan tidak keberatan, mungkin Ibu bisa meninggalkan kami berdua. Saya harus mendiskusikan revisi proposal ini dengan kekasih tercinta saya yang manis." Kalimat terakhir itu membuat bulu kudukku berdiri seketika. Rasa merinding menjalar tanpa bisa kutahan, sementara aku hanya mampu memasang senyum kaku agar tidak merusak kebohongan yang sedang ia bangun. Ibu Kartika kembali menatap kami secara bergantian. Tatapannya begitu tajam hingga rasanya sanggup menembus semua kepura-puraan yang ada di ruangan ini. "Baiklah kalau begitu... mari kita lihat seberapa jauh sandiwara kalian..." Beliau berhenti sejenak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, tetapi entah kenapa senyum itu justru membuat tengkukku terasa dingin. "Ehm... maksud saya, hubungan privat ini bisa bertahan di bawah pengawasan saya." Perlahan beliau mengeluarkan kipas berwarna merah muda yang mencolok dari dalam tasnya. Kipas itu digerakkan santai sambil melangkah menuju pintu, tanpa sekalipun melepaskan tatapan dari kami. Pintu kaca berdentang pelan saat tertutup rapat. Ruangan mendadak sunyi. Aku masih terpaku di tempat, sementara lengan Adrian belum juga beranjak dari pinggangku. Dan untuk pertama kalinya sejak semua kegilaan ini dimulai... Aku benar-benar sadar. Kini hanya ada aku dan Adrian di dalam ruangan itu.Langkah taktis Leo Wiratama yang berhasil membekukan rekening cangkang Vance-Sterling Consortium di Jenewa memicu amarah besar dari sisa-sisa pengikut klan sosiopat tersebut. Menyadari bahwa ketajaman analisis pemuda berusia delapan belas tahun itu terlalu tangguh untuk dilumpuhkan melalui pertarungan siber maupun manipulasi hukum, musuh mengalihkan strategi pada aksi terorisme fisik secara brutal. Pukul dua dini hari waktu Swis, hujan salju tipis menyelimuti pelataran Grand Hotel des Bergues di tepi Danau Jenewa. Di dalam suite privat lantai teratas tempat delegasi Wiratama menginap, alarm darurat perimeter internal mendadak menyala temaram. Bzzzzzt! KREK! Sistem transmisi sinyal satelit diputus secara paksa dari luar. Enam komando elit tentara bayaran berpakaian hitam taktis dengan senjata peledak mikro menembus pintu kaca balkon melalui akses helipad, mengisolasi seluruh lantai privat dari pengawalan hotel. Mas Bimo memegangi kepalanya seray
Empat belas tahun telah berlalu sejak badai konspirasi The Obsidian Syndicate diratakan hingga ke akar-akarnya. Kekaisaran bisnis Wiratama Group kini tumbuh menjadi konglomerasi multinasional raksasa yang tidak hanya mendominasi sektor energi hijau dan manufaktur canggih, tetapi juga memegang kendali atas jaringan diplomasi budaya global melalui Studio Rania. Kedamaian yang dibangun di atas fondasi keberanian dan kejeniusan itu kini memasuki era baru. Di lantai teratas Menara Wiratama Utama di Jakarta, suasana pagi itu tampak anggun dan tenang. Pendar matahari menerobos masuk menembus dinding kaca panorama, memantulkan kilau kemewahan interior berunsur kayu jati dan motif tenun ikat Sikka kustom. Adrian Wiratama berdiri tegap di tepi jendela utama. Pria alfa pimpinan tertinggi Wiratama Group itu kini tampil semakin matang, tampan, dan mengintimidasi. Wibawa penguasa sejati terpancar jelas dari postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahu bidangnya yang kokoh, serta aura domin
Dua tahun berlalu sejak runtuhnya The Obsidian Syndicate dan pembersihan total jaringan kejahatan internasional yang pernah mengancam keselamatan bangsa. Pagi itu, pendar emas mentari menerobos masuk melalui jendela ukir kayu di Kompleks Akademi Tenun dan Pusat Kebudayaan Nusantara di Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Suasana pesisir pantai Flores begitu tenang dan damai, hanya diwarnai oleh deru ombak laut yang lembut serta alunan instrumen tradisional Gong Waning yang mengalun syahdu dari kejauhan. Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke arah Laut Flores yang membiru jernih, berdiri sebuah pendopo kayu ukir megah yang menjadi simbol penyatuan teknologi, investasi hijau, dan pelestarian warisan budaya bangsa. Tempat ini kini tidak hanya menjadi pusat pelatihan perajin lokal, melainkan kiblat baru bagi perancang busana dan peneliti kebudayaan dari seluruh penjuru dunia. Rania melangkah keluar menuju balkon pendopo. Angin laut berembus lembut, mengibar
Pendar hangat mentari pagi menyinari lanskap megah Kompleks Kantor Pusat Wiratama Group di Jakarta. Suasana hari itu begitu berbeda; tidak ada lagi sirine darurat yang meraung, tidak ada laporan sabotase biokimia, dan tidak ada ancaman serangan siber dari balik kegelapan. Kemenangan mutlak atas Lady Valerya Vance dan pembubaran total The Obsidian Syndicate di Pengadilan Khusus Internasional telah mengakhiri seluruh badai konspirasi yang selama bertahun-tahun menguji ketangguhan kekaisaran Wiratama. Di lantai teratas Wiratama Tower, dalam ruang kerja bernuansa interior kayu jati dan kaca panorama yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Adrian Wiratama berdiri tegap di tepi jendela. Pria alfa pimpinan tertinggi Wiratama Group itu tampil amat perkasa, tampan, dan mengintimidasi dalam balutan kemeja kustom biru gelap dengan lengan tergulung rapi. Postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahu lebarnya yang kokoh, serta dada bidangnya yang keras memancarkan aura wibawa pengua
Penangkapan fisik Lady Valerya Vance di koridor privat penthouse Wiratama Tower menandai runtuhnya puncak kepemimpinan The Obsidian Syndicate. Namun, sebagaimana gurita hitam yang kehilangan kepalanya, tentakel-tentakel sel tidur (sleeper cells) jaringan rahasia tersebut masih tersebar aktif di beberapa pusat finansial dan pelabuhan strategis dunia. Memasuki babak ketujuh dari delapan rantai konspirasi pemungkas, Adrian dan Rania tidak membiarkan sedikit pun celah bagi musuh untuk bernapas. Ini adalah babak pembersihan total dan konsolidasi hukum secara mutlak. Pukul delapan pagi, ruang komando siber Wiratama Group di Jakarta berubah menjadi pusat kendali operasi global. Berkas digital terenkripsi yang berhasil direbut Rania dari serangan siber sebelumnya kini diekstraksi secara menyeluruh. Layar pemantau raksasa menampilkan peta dunia dengan belasan titik merah berkedip—menandakan lokasi rekening cangkang pencucian uang dan basis operasi sel tidur Obsidian yang ter
Kekalahan beruntun Lady Valerya Vance dari Selat Malaka, kilang minyak, satelit navigasi, bursa saham Singapura, hingga kompleks manufaktur Cilegon akhirnya mengikis habis sisa-sisa rasionalitas wanita sosiopat tersebut. Memasuki babak keenam dari delapan rantai konspirasi pemungkas The Obsidian Syndicate, Valerya tak lagi mengejar keuntungan finansial maupun penguasaan teknologi. Puncak obsesinya kini bergeser menjadi aksi terorisme personal yang membabi buta: melumpuhkan pertahanan utama penthouse Wiratama Tower di Jakarta dan menyandera inti dari kehidupan Adrian serta Rania. Pukul tiga dini hari, ketika kota Jakarta diselimuti hujan lokal yang dingin, sistem keamanan terpadu lantai lima puluh empat Wiratama Tower mendadak mengalami gangguan sinyal misterius. Valerya Vance bersama enam komando taktis elit tersisa—yang dibayar dengan sisa dana terakhir syndicate—menyusup melalui celah saluran perawatan helipad atas menggunakan peralatan panjat siluman berteknologi tingg







