LOGINJantungku yang sejak tadi berdegup liar akhirnya benar-benar meledak saat pintu kaca di belakang Ibu Kartika berdentang pelan.
Brak! Aku langsung menepis pelan tangan Adrian dari pinggangku, lalu mundur dua langkah besar hingga tercipta jarak aman di antara kami. Dadaku naik turun menahan napas yang terasa sesak, sementara wajahku memanas karena campuran malu, panik, dan kesal. "Pak Adrian, apa-apaan tadi itu?" Suaraku melengking nyaris setengah berteriak. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di perusahaan ini, aku sama sekali tidak memedulikan perbedaan jabatan di antara kami. "Dan juga... kekasih? Sejak kapan saya jadi pacar Bapak? Saya bahkan tidak selera sama Bapak. Lagi pula, selama sebulan ini kita baru berbicara kurang dari lima kali." Semua protes itu meluncur begitu saja tanpa sempat kusaring. Sedari tadi aku menahannya mati-matian di depan Ibu Kartika, tetapi kini seluruh kekesalan itu tumpah sekaligus. Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya mengikuti setiap gerakanku selama beberapa detik, lalu ia berbalik dan berjalan kembali menuju kursinya dengan langkah tenang. Ia duduk perlahan, mengembuskan napas panjang seolah beban berat baru saja terlepas dari pundaknya. Jemarinya terangkat melepas kacamata berbingkai tipis yang dikenakannya, kemudian memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan mata sejenak. "Saya minta maaf, Rania." Suara Adrian terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya. Nada dingin yang selama ini selalu ia gunakan di ruang rapat menghilang begitu saja, menyisakan suara yang terdengar lelah dan jauh lebih manusiawi. "Itu keputusan yang sangat mendadak. Ibu Kartika sudah memaksa saya menerima perjodohan selama tiga bulan terakhir dengan anaknya. Dalam situasi tadi... saya benar-benar terpojok." Aku terdiam. Untuk sesaat, kemarahanku sedikit mereda ketika melihat raut lelah yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya kepada siapa pun. Namun, pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di kepalaku masih belum mendapatkan jawaban. Dadaku masih terasa sesak. Meski permintaan maaf Adrian terdengar tulus, kepalaku tetap dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi setelah ini. Apa pun alasannya, satu kebohongan barusan sudah cukup untuk menghancurkan kehidupan kantorku yang selama ini tenang. "Tapi kenapa harus saya, Pak?" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Jemariku masih sedikit gemetar, sementara tatapanku tak lepas dari wajah Adrian yang kini kembali menatapku dengan tenang. "Bapak sendiri tahu, kan, akibatnya kalau orang-orang kantor sampai tahu? Saya pasti habis." Nada suaraku terdengar memelas tanpa bisa kutahan. Bayangan rekan-rekan sekantor yang gemar bergosip langsung berkelebat di kepalaku, membuat perutku semakin mulas. "Gosip di lantai dua itu menyebarnya lebih cepat daripada virus komputer. Aduh... bagaimana ini?" Kedua tanganku spontan meremas rambut sendiri pelan karena panik. Kehidupan damai yang selama ini kubangun dengan susah payah terasa runtuh hanya dalam hitungan menit. Aku memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Tidak boleh panik, Rania, pikirku, berusaha menenangkan diri. Orang cantik dan imut sepertiku tidak boleh stres hanya karena satu direktur yang tiba-tiba kehilangan akal sehat. Saat kembali membuka mata, Adrian sudah mengenakan lagi kacamata berbingkai tipisnya. Jemarinya bertaut di atas meja, sementara sorot matanya menatapku lurus seolah telah mengambil sebuah keputusan besar. "Ada satu cara untuk memperbaiki semua kekacauan ini...." Kalimat itu menggantung di udara. Entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa usulan berikutnya tidak akan membuat hidupku menjadi lebih mudah. Sorot mata Adrian berubah. Sekilas, ada binar penuh harapan yang memantul di balik lensa kacamatanya. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat tatapan seorang pebisnis yang seolah baru saja menemukan peluang emas tepat di depan matanya. "Karena kamu adalah orang yang paling tepat." Nada bicaranya kembali tenang seperti biasanya. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja, lalu menatapku tanpa berkedip, seolah setiap kata yang akan diucapkannya telah dipikirkan dengan matang. "Saya memilihmu bukan tanpa alasan." Aku mengernyit pelan. Kemarahanku memang belum sepenuhnya reda, tetapi rasa penasaranku perlahan mulai mengalahkan emosi yang sejak tadi memenuhi kepala. "Saya tahu beberapa hal tentang dirimu." Ia mengangkat satu jari telunjuk sebagai penekanan. "Kamu tidak suka bergosip." "Kamu tidak memiliki kubu di kantor." "Dan yang paling penting..." Adrian berhenti sejenak. Tatapannya tetap terkunci padaku, membuat ruangan kembali dipenuhi keheningan yang terasa menekan. "Kamu sepertinya membutuhkan sesuatu yang hanya saya yang bisa memberikannya." Aku berkedip beberapa kali. Kalimat itu justru membuat dahiku semakin berkerut karena tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Ya... saya memang hanya ingin menjalani kehidupan yang tenang tanpa melibatkan diri dalam hal-hal seperti itu." Aku menarik napas pelan sebelum kembali menatapnya. "Dan juga... apa maksud Bapak dengan sesuatu yang hanya Bapak yang bisa berikan kepada saya?" Nada penasaranku tak mampu lagi kusembunyikan. Adrian tersenyum tipis. Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju rak dokumen di sudut ruangan dengan langkah santai. Tangannya mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen Montblanc berwarna hitam. Setelah itu, ia kembali berdiri di hadapanku sambil menyodorkan kedua benda tersebut ke atas meja di antara kami. "Saya tahu proposal desain pribadimu untuk maskot baru perusahaan selalu dijegal oleh Divisi Pemasaran dengan alasan anggaran, bukan?" Nada suaranya sengaja diperlambat, seolah ingin memastikan setiap katanya benar-benar kudengar. Kalimat itu membuatku terpaku. Bagaimana mungkin dia mengetahui proyek impianku? Padahal desain itu selama ini kukerjakan diam-diam setiap malam sepulang kerja. Jangan-jangan... selama ini dia benar-benar memperhatikanku? Pikiran itu sontak membuat tengkukku meremang. "Bantu saya meyakinkan Ibu Kartika dan keluarga saya selama tiga bulan ke depan." Ia mendorong perlahan kertas dan pulpen itu ke arahku. Tatapannya tetap tenang, tetapi ada kesungguhan yang tidak bisa kusangkal dari sorot matanya. "Sebagai gantinya, saya akan menyetujui anggaran proyek maskotmu secara penuh, memberikan kebebasan kreatif tanpa campur tangan Divisi Pemasaran sedikit pun, sekaligus menjamin posisi kerjamu tetap aman dari pengurangan staf bulan depan." Aku menelan ludah. Proyek impianku. Posisi kerjaku. Dua hal yang selama ini paling kuinginkan... ...baru saja diletakkan Adrian di hadapanku dalam satu tawaran yang terdengar nyaris mustahil untuk kutolak.Langkah taktis Leo Wiratama yang berhasil membekukan rekening cangkang Vance-Sterling Consortium di Jenewa memicu amarah besar dari sisa-sisa pengikut klan sosiopat tersebut. Menyadari bahwa ketajaman analisis pemuda berusia delapan belas tahun itu terlalu tangguh untuk dilumpuhkan melalui pertarungan siber maupun manipulasi hukum, musuh mengalihkan strategi pada aksi terorisme fisik secara brutal. Pukul dua dini hari waktu Swis, hujan salju tipis menyelimuti pelataran Grand Hotel des Bergues di tepi Danau Jenewa. Di dalam suite privat lantai teratas tempat delegasi Wiratama menginap, alarm darurat perimeter internal mendadak menyala temaram. Bzzzzzt! KREK! Sistem transmisi sinyal satelit diputus secara paksa dari luar. Enam komando elit tentara bayaran berpakaian hitam taktis dengan senjata peledak mikro menembus pintu kaca balkon melalui akses helipad, mengisolasi seluruh lantai privat dari pengawalan hotel. Mas Bimo memegangi kepalanya seray
Empat belas tahun telah berlalu sejak badai konspirasi The Obsidian Syndicate diratakan hingga ke akar-akarnya. Kekaisaran bisnis Wiratama Group kini tumbuh menjadi konglomerasi multinasional raksasa yang tidak hanya mendominasi sektor energi hijau dan manufaktur canggih, tetapi juga memegang kendali atas jaringan diplomasi budaya global melalui Studio Rania. Kedamaian yang dibangun di atas fondasi keberanian dan kejeniusan itu kini memasuki era baru. Di lantai teratas Menara Wiratama Utama di Jakarta, suasana pagi itu tampak anggun dan tenang. Pendar matahari menerobos masuk menembus dinding kaca panorama, memantulkan kilau kemewahan interior berunsur kayu jati dan motif tenun ikat Sikka kustom. Adrian Wiratama berdiri tegap di tepi jendela utama. Pria alfa pimpinan tertinggi Wiratama Group itu kini tampil semakin matang, tampan, dan mengintimidasi. Wibawa penguasa sejati terpancar jelas dari postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahu bidangnya yang kokoh, serta aura domin
Dua tahun berlalu sejak runtuhnya The Obsidian Syndicate dan pembersihan total jaringan kejahatan internasional yang pernah mengancam keselamatan bangsa. Pagi itu, pendar emas mentari menerobos masuk melalui jendela ukir kayu di Kompleks Akademi Tenun dan Pusat Kebudayaan Nusantara di Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Suasana pesisir pantai Flores begitu tenang dan damai, hanya diwarnai oleh deru ombak laut yang lembut serta alunan instrumen tradisional Gong Waning yang mengalun syahdu dari kejauhan. Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke arah Laut Flores yang membiru jernih, berdiri sebuah pendopo kayu ukir megah yang menjadi simbol penyatuan teknologi, investasi hijau, dan pelestarian warisan budaya bangsa. Tempat ini kini tidak hanya menjadi pusat pelatihan perajin lokal, melainkan kiblat baru bagi perancang busana dan peneliti kebudayaan dari seluruh penjuru dunia. Rania melangkah keluar menuju balkon pendopo. Angin laut berembus lembut, mengibar
Pendar hangat mentari pagi menyinari lanskap megah Kompleks Kantor Pusat Wiratama Group di Jakarta. Suasana hari itu begitu berbeda; tidak ada lagi sirine darurat yang meraung, tidak ada laporan sabotase biokimia, dan tidak ada ancaman serangan siber dari balik kegelapan. Kemenangan mutlak atas Lady Valerya Vance dan pembubaran total The Obsidian Syndicate di Pengadilan Khusus Internasional telah mengakhiri seluruh badai konspirasi yang selama bertahun-tahun menguji ketangguhan kekaisaran Wiratama. Di lantai teratas Wiratama Tower, dalam ruang kerja bernuansa interior kayu jati dan kaca panorama yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Adrian Wiratama berdiri tegap di tepi jendela. Pria alfa pimpinan tertinggi Wiratama Group itu tampil amat perkasa, tampan, dan mengintimidasi dalam balutan kemeja kustom biru gelap dengan lengan tergulung rapi. Postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahu lebarnya yang kokoh, serta dada bidangnya yang keras memancarkan aura wibawa pengua
Penangkapan fisik Lady Valerya Vance di koridor privat penthouse Wiratama Tower menandai runtuhnya puncak kepemimpinan The Obsidian Syndicate. Namun, sebagaimana gurita hitam yang kehilangan kepalanya, tentakel-tentakel sel tidur (sleeper cells) jaringan rahasia tersebut masih tersebar aktif di beberapa pusat finansial dan pelabuhan strategis dunia. Memasuki babak ketujuh dari delapan rantai konspirasi pemungkas, Adrian dan Rania tidak membiarkan sedikit pun celah bagi musuh untuk bernapas. Ini adalah babak pembersihan total dan konsolidasi hukum secara mutlak. Pukul delapan pagi, ruang komando siber Wiratama Group di Jakarta berubah menjadi pusat kendali operasi global. Berkas digital terenkripsi yang berhasil direbut Rania dari serangan siber sebelumnya kini diekstraksi secara menyeluruh. Layar pemantau raksasa menampilkan peta dunia dengan belasan titik merah berkedip—menandakan lokasi rekening cangkang pencucian uang dan basis operasi sel tidur Obsidian yang ter
Kekalahan beruntun Lady Valerya Vance dari Selat Malaka, kilang minyak, satelit navigasi, bursa saham Singapura, hingga kompleks manufaktur Cilegon akhirnya mengikis habis sisa-sisa rasionalitas wanita sosiopat tersebut. Memasuki babak keenam dari delapan rantai konspirasi pemungkas The Obsidian Syndicate, Valerya tak lagi mengejar keuntungan finansial maupun penguasaan teknologi. Puncak obsesinya kini bergeser menjadi aksi terorisme personal yang membabi buta: melumpuhkan pertahanan utama penthouse Wiratama Tower di Jakarta dan menyandera inti dari kehidupan Adrian serta Rania. Pukul tiga dini hari, ketika kota Jakarta diselimuti hujan lokal yang dingin, sistem keamanan terpadu lantai lima puluh empat Wiratama Tower mendadak mengalami gangguan sinyal misterius. Valerya Vance bersama enam komando taktis elit tersisa—yang dibayar dengan sisa dana terakhir syndicate—menyusup melalui celah saluran perawatan helipad atas menggunakan peralatan panjat siluman berteknologi tingg







