ログインReno sudah membuka mulutnya hendak bicara, namun dering ponsel mengurungkan niatnya. Pria itu merogoh saku jasnya. Begitu tahu Laura memanggilnya, ia langsung mengangkat panggilan itu. "Ya," ucapnya pelan.Erika mencebikkan bibir. Gaun dan riasan yang sudah ia siapkan sampai berjam-jam tidak membuahkan hasil. Hatinya berkata, Reno tidak tertarik padanya. Ia lantas berbalik kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.Reno yang masih bicara dengan Laura, menoleh. Pintu sudah ditutup, ia pun berlalu keluar sambil bicara, "Kau tunggu di luar, aku ke sana sekarang."Di dalam kamar, Erika melepas gaunnya dan berganti dengan baju biasa. Kaos oblong dan celana jeans pendek. Saat ia menghapus riasan dengan cairan pembersih, gadis itu terdiam menatap cermin. "Apa aku bisa melawan Laura? Kalau begini caranya akan sulit," gumamnya resah. "Ya Tuhan, tolong aku ... bantu aku agar bisa keluar, atau setidaknya beri aku kekuatan untuk melawan mereka."Laura sudah menunggu di basement
"Bawa dia keluar!"Sebuah perintah mutlak yang harus segera dipatuhi. Tapi masalahnya di sini, mata Reno terarah pada Erika. Jantung gadis itu berpacu. Benarkah? Dirinya diusir? Akankah hari ini menjadi hari terakhirnya di rumah neraka ini?Tatapan dingin yang sebelumnya terarah pada Erika, kini berpindah pada Laura. "Bawa Laura keluar dari sini!"Erika ternganga, apalagi Laura. Wanita itu merasa seolah disambar petir. "Apa maksudmu, Reno?"Kedua pria kekar mendekati Laura. Erika hanya mampu menjadi patung. Sulit dipercaya, apa yang sebenarnya terjadi?Laura diseret pergi. "Hey, lepaskan aku!" Cicitnya, lalu menatap Reno. "Apa yang kau rencanakan, Reno?"Erika menatap suaminya yang terdiam dengan wajah datar. "Aku sedang lelah, bawa dia keluar!"Laura diseret keluar dengan bibir yang terus berteriak, "Aku akan ke kantormu besok, aku butuh penjelasan darimu!"Erika menatap pintu yang tertutup dengan mulut yang masih menganga. Ternyata bukan dirinya yang diusir, melainkan Luara. Kenapa?
Erika berlari ke arah pintu, napasnya masih tersengal. Begitu gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, tubuhnya seketika membeku.Dua pria berdiri di ambang pintu. Bertubuh tinggi, bahu lebar, rahang mereka mengeras tanpa ekspresi. Penampilan mereka persis seperti di film, ada jas rapi membungkus tubuh kekar dan tatapan dingin yang membuat tengkuk Erika meremang."Siapa—""Minggir!"Suara berat dan datar yang didengar Erika seolah perintah yang tak perlu ditawar.Gadia itu bahkan belum sempat bereaksi ketika tiba-tiba sebuah dorongan keras datang dari belakang kedua pria itu. Reno muncul, langkahnya cepat dan kasar. Bahunya menghantam pintu, lalu tubuh Erika ikut tersenggol.Ia terhuyung beberapa langkah ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan."Astaga..." gumamnya pelan, lebih karena kaget daripada sakit. Bibirnya mencebik, tinjunya ia arahkan ke punggung pria itu, namun hanya mengambang di udara.Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia lantas menoleh ke arah dua pria asing d
Reno memilih menjauh dari sejenak dari rekan-rekannya. Memilih atap gedung untuk sekedar mencari udara segar. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa begitu pengap dan membosankan. Ketik ia menikmati angin ditemani sebatang rokok, asistenya datang. Pria itu seolah ragu untuk bicara, namun dari wajahnya seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia tutupi. Reno menyesap asap Rokok, kemudian mengeluarkannya. "Ada apa, Nico?" tanya pria itu. Nico menyodorkan ponsel padanya dengan tenang. "Pak Wiharja datang ke rumah anda, Pak," lapornya singkat. Kemudian suaranya kembali datar. Reno terdiam. Putung rokok yang masih menyala di ujung jarinya jatuh ke lantai, lalu ia injak perlahan hingga bara merahnya padam, meninggalkan jejak abu dan kepulan asap tipis. Hening sejenak, sebelum akhirnya ia mengangkat kepala dan berdiri tegak. Rahangnya mengeras, matanya berubah dingin dan serius. “Jangan sampai dia keluar dari tempat itu.” Perintah itu meluncur rendah, namun sarat ancaman. Nico mengangg
Reno mendekati Erika perlahan. Tatapan mata tajam dan dingin tanpa ekspresi itu layaknya hewan buas yang siap menelan mangsanya hidup-hidup. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Pria itu semakin dekat, refleks Erika mundur. Namun gagal karena Reno telah berhasil menyentak tubuh ringkihnya hingga tidak lagi berjarak. "Apa ... yang kau lakukan di kamarku." Suaranya samar namun penuh penekanan.Erika menelan ludah. Membasahi kerongkongan yang terasa amat kering. Tatapan keduanya bertabrakan hingga hembusan napas Reno terasa menyapu wajahnya. Entah Laura yang telah memfitnahnya atau memang itu siasat yang disengaja oleh Reno agar dirinya kembali terperangkap. "Aku tidak mengambil uangmu," jawab Erika dengan cepat.Reno berdecih. Kembali menekan pinggang Erika hingga napas gadis itu tertahan. Tentu ia sangat bahagia melihat ekspresi panik Erika saat ini. "Ada apa, hmm? Jangan terlalu tegang, aku tidak akan menyakitimu."Erika berusaha melepas kedua tangan Reno yang mengi
“Sekarang … puaskan aku,” bisik Reno tanpa rasa bersalah dan sarat akan paksaan. Erika terpaku. Dadanya bergemuruh tak karuan. Luapan emosi, kekesalan dan ketidakberdayaan menyergap sekaligus. Ketika pria itu meraih pinggangnya, dengan cepat ia menarik tangan Reno dan menggigitnya sekuat tenaga. Gigitan yang mengoyak kulit tangan suaminya.Reno terlonjak. Kedua bola matanya membulat sempurna. “Aaakkhh!” pekikan keras kesakitan pria itu memecah keheningan. Tindakan spontanitas Erika yang begitu tiba-tiba, membuatnya tak percaya. Mangsa yang ia anggap lemah tak berdaya, ternyata seperti ular berbisa. Reno menarik tangannya. Bercak darah sedikit keluar dari luka bekas gigitan Erika. Dengan napas memburu, Reno menatap gadis itu bengis. “Kau … beraninya kau.” Erika membalas tatapan Reno yang selalu mengintimidasinya. “Sudah cukup, apa kau tidak lelah menyakiti orang lain, hah? Setidaknya, jadilah sosok manusia malaikat yang selalu kau pamerkan di setiap deadline berita.” Tanpa menung







