Inicio / Romansa / Jeratan 4 Tuan Muda / Bab 3 Permainan Pikiran

Compartir

Bab 3 Permainan Pikiran

last update Fecha de publicación: 2026-11-02 10:05:14

Udara sore di SMA Elite Asteria selalu dibungkus oleh kemewahan yang tenang, namun bagi orang-orang yang tahu cara membaca situasi, sekolah ini tak ubahnya papan catur berlapis emas.

Setelah insiden di perpustakaan lantai tiga siang itu, rumor mengenai perubahan drastis Aurelia Celine menyebar seperti api menyambar semak kering. Para siswa kelas atas yang biasanya menganggap Aurelia tak lebih dari boneka porselen mahal yang tidak memiliki suara, kini berbisik-bisik setiap kali aku melintas di koridor.

"Kau lihat bagaimana dia mengabaikan Gabriel tadi?"

"Bukan cuma Gabriel... kudengar Dante dan Julian berada di perpustakaan dengannya selama hampir setengah jam!"

"Aurelia yang itu? Yang biasanya selalu menunduk kalau disapa?"

Aku berjalan santai melewati koridor kaca yang menghubungkan gedung akademik dengan ruang klub eksklusif. Langkah kakiku teratur, memancarkan keanggunan alami yang dipadu dengan aura dingin yang sulit didekati. Di tangan kananku, aku menggenggam cangkir porselen berisi chamomile tea hangat yang aromanya menenangkan.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.

Di ujung lorong dekat taman dalam gedung, berdiri Maya. Gadis pindahan yang seharusnya menjadi bintang utama dalam cerita ini tampak gelisah. Pakaian seragamnya yang sengaja disesuaikan agar pas di tubuh sensualnya tampak sedikit kusut. Ketika ia melihatku mendekat, matanya membelalak sebelum akhirnya ia memberanikan diri melangkah menyeberangi lorong untuk menghadang jalanku.

"Aurelia!" panggil Maya dengan nada suara yang sengaja dibuat ceria, namun ada getaran ketidaknyamanan yang gagal ia sembunyikan.

Aku menghentikan langkah, memiringkan kepala sedikit, lalu menatapnya dengan pandangan netral tanpa emosi.

"Ada apa, Maya?"

"Anu... soal kejadian di perpustakaan tadi," Maya meremas jemarinya sendiri, mencoba menampilkan gestur canggung yang biasanya sanggup memancing rasa kasihan pria mana pun.

"Aku hanya ingin minta maaf kalau kehadiranku mengganggu kalian. Aku tidak tahu kalau kamu sedang... sibuk dengan Tuan Muda Dante dan yang lainnya."

Aku memperhatikan gerak-gerik Maya secara mendalam. Di dunia asliku, aku telah menghadapi ratusan orang dengan berbagai topeng psikologis. Maya adalah tipe manipulatif amatir-ia mengandalkan kepolosan palsu dan daya tarik fisik yang provokatif untuk menarik empati.

Aku mengulas senyum tipis yang sangat halus di bibirku.

"Mengganggu?" suaraku mengalun tenang, memotong kecanggungannya.

"Tidak ada yang terganggu, Maya. Kami hanya sedang mendiskusikan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi penuh. Hal-hal yang... mungkin kurang sesuai jika dicampuri oleh siswa baru yang belum memahami aturan main di tempat ini."

Wajah Maya mendadak memucat. Kalimatku tidak diucapkan dengan nada kasar, namun tersusun begitu rapi hingga menyengat harga dirinya.

"A-aturan main?" ulang Maya ragu.

"Asteria memiliki hierarki yang sangat jelas," bisikku pelan sambil melangkah satu tapak mendekatinya, membiarkan aura dominanku menekan keberadaannya.

"Lain kali, sebelum melangkah masuk ke ruangan di mana para penguasa sekolah ini berkumpul, pastikan kau diundang. Jika tidak... kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."

Tanpa menunggu tanggapannya, aku melangkah melewatinya. Bau aroma teh hangatku tertinggal di udara, sementara Maya hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, menahan kepalan tangan dengan napas tertahan.

Tokoh utama wanita yang seharusnya dicintai semua orang itu kini mulai menyadari bahwa panggung utamanya telah direbut secara paksa.

Pukul empat sore. Gedung Student Council & Executive Lounge Asteria.

Ruangan ini hanya diperuntukkan bagi empat keluarga pendiri yayasan-tempat di mana keputusan-keputusan besar mengenai bisnis dan politik anak muda dibuat. Dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap dengan pencahayaan hangat dari lampu gantung kristal. Di tengah ruangan, terdapat meja biliar dari kayu oak hitam dengan laken merah marun yang mewah.

Aku masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu, membawa berkas analisis finansial yang sengaja kusiapkan untuk memancing salah satu dari mereka.

Di dalam ruangan, suasana terasa pekat oleh Tensi gantung.

Dante Alister sedang duduk di sofa kulit hitam, memegang segelas whisky tanpa es meski usianya baru delapan belas tahun-kekuasaan keluarganya membuat aturan sekolah tak berkutik padanya. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan otot otentik di lengannya.

Gabriel Vance berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke lapangan bola, mengocok kartu bridge di tangannya dengan kecepatan dan kepresisian seorang pesulap profesional.

Julian Sterling bersandar pada meja biliar, memegang stik kayu berukir sambil memutar bola angka delapan di tangannya. Tatonya yang menembus kerah kemeja tampak mencolok di bawah lampu gantung.

Sementara Adrian Wilford duduk di sudut meja kerja dengan laptop terbuka, menyunggingkan senyum lembut saat menyadari kehabisan napas pendek dari para penjaga di luar yang tak sanggup menghentikanku.

"Kau berani datang ke sini sendirian, Aurelia?" suara Dante memecah keheningan. Suaranya berat, bergema di ruangan yang luas itu. Matanya yang gelap mengunci sosokku sejak detik pertama aku melangkah melewati ambang pintu.

"Kenapa tidak?" sahutku santai sambil menutup pintu di belakangku dengan tumit sepatuku.

Klek.

Suara kunci otomatis yang mengunci ruangan dari dalam memunculkan getaran ketegangan baru. "Aku mendengar kalian sedang mencari analisis dampak akuisisi Vance Logistics terhadap saham Alister Corp. Aku membawa jawabannya."

Gabriel menghentikan gerak jemarinya. Kartu-kartu di tangannya jatuh membentuk tumpukan yang rapi dalam sekejap. Ia memutar tubuhnya, menatapku dari balik kacamata bingkai tipisnya dengan binar minat yang berbahaya.

"Kau tahu tentang rencana akuisisi rahasia itu?" tanya Gabriel dengan suara dingin namun penuh intensitas. "Proyek itu bahkan belum diumumkan ke dewan komisaris."

"Rahasia hanya menjadi rahasia jika disimpan oleh orang yang tepat, Gabriel," jawabku sambil melangkah mendekati meja biliar. Aku meletakkan berkas dokumen di atas permukaan laken merah marun, tepat di samping stik biliar Julian.

"Keluarga Celine memiliki sepuluh persen saham di rantai pasokannya. Jika kalian mengeksekusi akuisisi ini secara kasar, kalian akan kehilangan tiga puluh persen margin keuntungan di kuartal pertama."

Julian menyeringai lebar. Ia memindahkan pandangannya dari bola biliar ke wajahku, menyusuri garis bibirku yang terpoles warna merah muda alami hingga turun ke leher jenjangku yang terbuka di balik kerah blazer.

"Otak yang seksi..." gumam Julian dengan suara serak yang penuh godaan. Ia melangkah melingkari meja biliar, hingga posisinya kini persis berada di belakang tubuhku. Ia menunduk, membiarkan dadanya yang kokoh hampir menyentuh punggungku.

"Tapi aku lebih tertarik pada bagaimana seorang gadis pendiam seperti Aurelia bisa tahu begitu banyak hal tentang dunia dewasa. Kau main-main dengan api, Sweetheart."

Aku tidak bergerak menjauh. Sebaliknya, aku bersandar sedikit ke belakang, membiarkan bahuku bersentuhan dengan dada bidang Julian, memancing insting binatangnya untuk makin liar.

"Api hanya membakar orang yang tidak tahu cara mengendalikannya, Julian," bisikku sambil memutar kepala sedikit, menatap mata liarnya dari jarak yang sangat dekat. "Dan kau... kelihatan seperti pria yang sangat mudah terbakar."

Napas Julian tertahan. Seringai nakalnya mendadak kaku saat matanya terkunci pada tatapan dingin dan manipulatif di mataku. Sentuhan kecil dari tubuhku dan kata-kataku yang penuh tantangan mengirimkan gelombang gairah yang membakar langsung ke dalam darahnya. Jemarinya yang memegang stik biliar mencengkeram kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Bangsat..." umpat Julian pelan, matanya menggelap oleh gairah dan rasa ingin memiliki yang meluap secara mendadak.

"Cukup, Julian," potong Gabriel. Ia melangkah mendekati meja biliar, menarik berkas dokumen yang kubawa, lalu membukanya dengan cermat. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris angka dan grafik yang kubuat. Semakin ia membaca, semakin membesar pupil matanya.

Sebagai seorang sosiopat yang mengagumi kecerdasan di atas segalanya, dokumen di tangannya bukan sekadar kertas-itu adalah bukti bahwa wanita di hadapannya memiliki tingkat intelektual yang sanggup meruntuhkan dominasinya.

"Ini... sempurna," gumam Gabriel tanpa sadar. Suaranya yang biasanya teratur kini mengandung getaran kekaguman yang teramat dalam. Ia menatapku kembali, namun kali ini ada gairah tersembunyi yang membakar dari balik kaca matanya. "Kau yang menyusun variabel keuangan ini sendiri?"

"Tentu saja," jawabku pelan. "Aku menawarkan kerja sama. Tiga puluh persen efisiensi biaya untuk kalian, dan akses penuh ke jaringan distribusi Asteria untuk keluarga Celine."

Dante meletakkan gelas whisky-nya di meja dengan bunyi thud yang berat. Ia berdiri dari sofa kulitnya, melangkah maju dengan postur tubuhnya yang tinggi besar dan intimidatif. Setiap langkah kakinya menebarkan tekanan psikologis yang berat. Ia berhenti tepat di hadapanku, mendorong Julian sedikit ke samping tanpa memutarkan pandangannya dariku.

Dante mengulurkan tangannya, jemarinya yang kasar dan hangat memegang daguku secara halus namun posesif, memaksa wajahku mendongak menatap mata elangnya yang pekat.

"Kau datang ke sini membawa bisnis..." bisik Dante, suaranya rendah dan sarat akan dominasi yang pekat. "Tapi kau menggunakan mata dan tubuhmu untuk mengacaukan konsentrasi kami. Katakan padaku, Aurelia... apa tujuanmu sebenarnya?"

Aku merasakan ibu jari Dante mengusap bibir bawahku dengan lembut namun menuntut-sebuah gestur keintiman yang terlarang di dalam ruangan tertutup ini. Sensasi fisik itu begitu intens hingga udara di antara kami seolah-olah bergeser menjadi makin panas.

Aku tidak menepis tangannya. Aku justru tersenyum manis-sebuah senyuman yang tampak begitu murni di luar, namun beracun di dalam.

"Tujuanku?" bisikku pelan, membiarkan jemariku terangkat dan menyentuh pergelangan tangan Dante yang memegang daguku. "Aku hanya ingin memastikan... bahwa di sekolah ini, kalian berempat tidak akan pernah bisa mengganggu dan mendikteku"

Adrian yang sejak tadi diam di sudut ruangan, tiba-tiba berdiri. Senyum hangat di wajah pangerannya telah menghilang sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi obsesif yang gelap. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi lain meja biliar sambil menatapku dengan mata yang sarat akan rasa ingin mengurungku dari dunia luar.

"Kau sangat berbahaya, Aurelia," ujar Adrian dengan suara lembut yang terdengar menyeramkan. "Sangat indah, sangat cerdas... dan sangat berbahaya. Kau tahu apa yang terjadi pada benda berbahaya di tempat ini?"

"Apa?" tantangku pelan.

"Kami akan mengurungnya..." balas Adrian sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh kegilaan tersembunyi. "Agar tidak ada orang lain yang bisa menyentuhnya selain kami berempat."

Dante memperketat pegangannya di daguku, sementara Gabriel menatapku dengan pemujaan intelektual yang liar, Julian mengepalkan tangannya menahan gairah posesif, dan Adrian menatapku seolah aku adalah satu-satunya objek obsesi di dunia ini.

"Mengurungku.. hm coba saja" jawabku sambil tersenyum tipis

Keempat tuan muda paling berkuasa di Asteria kini sepenuhnya terjerat dalam permainan pikiran dan daya tarik sensual yang kutebarkan. Mereka pikir merekalah yang sedang mengelilingi mangsanya.

Padahal... aku baru saja mengunci pintu sangkar dari dalam.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 13 Pantang Menyerah

    Keesokan harinya, atmosfer SMA Elite Asteria diliputi aura dingin yang membekukan.Maya berdiri di depan cermin toilet lantai dasar, memoles lipstik berwarna merah muda pucat yang memberi kesan rapuh dan menggiurkan.Jemarinya bergetar pelan, namun matanya memancarkan ketegatan yang nekat.Maya menolak untuk menyerah. Ia tahu betul ingatan masa lalunya: di kehidupan pertamanya, keempat tuan muda F4 juga tidak langsung jatuh cinta padanya.Di awal, mereka dingin, acuh, bahkan cenderung kasar. Namun, Maya berhasil menjaring mereka satu per satu dengan satu senjata pamungkas-pemanfaatan sensasi fisik dan daya tarik tubuhnya.Di kehidupan lalu, meski Maya mempertah

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 12 Maya Sang Protagonis

    Kepanikan adalah racun terbaik untuk membuat seseorang mengambil keputusan yang dungu.Maya membuktikannya hari ini. Ketakutannya yang memuncak setelah melihat perubahan total di Asteria memaksanya untuk bertindak cepat. Bagi Maya, alur cerita kehidupan pertamanya adalah kitab suci yang mutlak.Dalam ingatannya yang lalu, ia berhasil memikat hati F4 dengan satu formula sederhana: menjadi gadis polos, malang, pekerja keras, dan selalu hadir sebagai "pahlawan lembut" di saat keempat tuan muda itu membutuhkan kenyamanan emosional.Maka, ketika jam istirahat siang tiba di taman privat Asteria High, Maya memutuskan untuk menjalankan kembali taktik-taktik agresi "kepolosan"-nya secara serentak.Aku duduk

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 11 Memupuk Obsesi

    Suasana kelas unggulan Grade 12-A pagi itu terasa begitu tebal oleh ketegangan terselubung. Di ruangan bernuansa Dark Academia dengan meja-meja mahoni berukir dan jendela pualam tinggi, para pewaris tahta elit Asteria duduk di tempat mereka masing-masing.​Di barisan paling belakang, Dante Alister duduk kaku.​Pria tegap itu sama sekali tidak menyentuh buku atau penanya. Mata elangnya yang tajam—dipenuhi warna merah tipis dari malam tanpa tidur dan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya—mengunci satu-satunya objek di dalam ruangan itu: Aurelia Celine.​Setiap helaan napasku, setiap jemariku yang memutar pena sutra, hingga pergerakan leher jenjangku tak luput dari pengawasan Dante.Pria

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 10 Sergapan di Toilet

    Sinar matahari pagi menyorot koridor lantai dua SMA Elite Asteria, memantulkan kilau kemewahan dinding pualam dan ukiran kayu mahoni. Lorong sekolah yang biasanya dipenuhi bisikan segan para siswa mendadak terasa makin mencekam pagi ini.Dante Alister melangkah dengan postur kaku. Pria berotot tegap itu mengenakan seragam resmi Asteria, namun dua kancing teratas kemeja hitamnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan ketegangan di leher kokohnya. Lingkaran hitam tipis terukir di bawah mata elangnya—jejak nyata dari malam panjang tanpa tidur akibat mimpi liar jam dua pagi yang membakar otaknya.Sejak melangkah masuk ke gerbang sekolah, Dante berusaha keras bersikap acuh tak acuh.Dante sengaja memasang wajah dingin, tidak menyapa siapa pun, dan berusaha menghindar

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 9 Telp Tengah Malam

    Malam telah melarut di kawasan elit Asteria. Jam dinding Neoklasik di kamar utamaku menunjukkan pukul 01.45 dini hari.​Suasana kamar begitu hening dan damai. Lampu utama telah padam, hanya menyisakan pendar redup lampu tidur temaram di sudut ruangan. Aku tertidur lelap di atas ranjang king-size berseprai sutra hitam, terbungkus piyama sutra tipis berwarna krem yang lembut. Muka polosku tanpa riasan beristirahat tenang di atas bantal empuk, menikmati tidur nyenyak setelah seharian mengendalikan papan catur politik Asteria.​Drrr... Drrr... Drrr...​Getaran keras dari ponsel pribadiku di atas meja nakas mendadak memecah kesunyian malam.Drrr... Drrr... Drrr

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 8 Ring Tinju

    Suara benturan keras dari pukulan tangan berbalut handwrap yang menghantam sandsack kulit raksasa bergema memekakkan telinga di dalam Private Combat Gym Asteria High.Brak! Brak! Brak!Lantai kayu mahoni tua yang dilapisi matras hitam bergetar di setiap sabetan pukulan. Ruangan privat di ruang bawah tanah sekolah ini terisolasi total, beraroma minyak kayu cedar, kulit mahal, dan hawa panas yang membakar.Dante Alister berdiri di tengah ring tinju tanpa mengenakan atasan. Tubuh tegapnya yang dipenuhi otot padat memancar mengilap oleh lapisan keringat tipis. Dada bidangnya naik-turun memburu saat ia meluncurkan kombinasi pukulan hook dan uppercut dengan kecepatan serta kekuatan monster.Namun, gerakan tangannya tidak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status