Home / Romansa / Jeratan 4 Tuan Muda / Bab 2 Awal Obsesi

Share

Bab 2 Awal Obsesi

last update publish date: 2026-11-01 10:05:13

Suasana di lorong perpustakaan lantai tiga gedung barat mendadak berganti menjadi arena pertempuran tanpa suara. Udara yang menggenang di antara rak-rak kayu jati tua itu terasa begitu tebal, sarat akan Tensi yang membakar dan keintiman yang berbahaya.

Cengkeraman tangan Dante Alister di pinggangku terikat sangat kuat, menyalurkan kehangatan tubuhnya yang panas dan dominan tembus melewati kain blazetku. Dada bidangnya yang kokoh naik-turun secara teratur, mengurungku sepenuhnya tanpa celah. Namun, bukannya menunjukkan rasa takut atau panik sebagaimana yang dilakukan Aurelia Celine yang lama, aku justru mendongakkan kepala dengan sangat tenang.

Napas Dante yang berat berhembus menyapu permukaan bibirku yang terpoles lip gloss tipis. Mata elangnya yang pekat membara oleh perpaduan antara rasa tidak percaya, kejengkelan, dan ketertarikan liar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada wanita mana pun.

"Lepaskan tanganmu darinya, Dante," ulang Gabriel Vance. Suaranya terdengar datar dari sudut lorong, namun langkah kakinya yang mengikis jarak menebarkan aura ancaman yang kentara. Ia membetulkan letak kacamata bingkai tipisnya, lalu memandang jemari Dante yang tertanam di pinggangku dengan mata yang dingin dan menusuk. "Kau bertindak tidak rasional. Dan tindakan tidak rasional adalah awal dari kehancuran."

"Tutup mulutmu, Gabriel," geram Dante tanpa mengalihkan pandangannya dari mataku. Suaranya rendah dan serak, memancarkan intonasi kepemilikan yang tak terbantahkan. "Aku yang pertama kali menemukannya di sini."

Julian Sterling tertawa kecil—sebuah tawa renyah namun penuh bahaya. Pembalap liar berpunggung tegap itu melangkah maju, membiarkan jaket kulit hitamnya terdorong ke belakang sehingga tato di lehernya terpampang jelas. Matanya yang tajam menatap ke arah pinggangku, lalu naik ke rahangku yang halus.

"Sejak kapan Aurelia Celine jadi barang milikmu, Dante?" sindir Julian. Tangannya meluncur santai ke dalam saku celananya, tetapi langkah kakinya secara strategis menutup jalur keluar di sisi kiriku. "Gadis ini bahkan tidak pernah memandangmu lebih dari tiga detik selama dua tahun terakhir. Tapi hari ini... lihat cara dia menatap kita. Ini bukan mata seekor mangsa yang ketakutan. Ini menarik sekali, bangsat."

Di sisi lain rak buku, Adrian Wilford melangkah mendekat secara perlahan. Pangeran berwajah malaikat itu menyunggingkan senyum hangat yang biasanya sanggup meluluhkan semua siswi Asteria. Namun, di bawah pencahayaan remang lampu perpustakaan, senyum itu tampak sangat janggal—dingin, penuh dominasi, dan menyimpan obsesi yang gelap.

"Sensasi yang luar biasa, bukan?" gumam Adrian lembut. Tangannya terangkat, mengusap helai rambut hitamku yang terurai di bahu dengan gestur yang teramat halus, namun jari-jemarinya yang dingin sengaja menyenggol kulit leherku. "Kucing kecil kita yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang... ternyata menyimpan kuku yang sangat tajam. Katakan padaku, Aurelia... permainan apa yang sedang kau rencanakan?"

Keempat pria paling berpengaruh dan ditakuti di Asteria kini berdiri memutarku. Masing-masing memancarkan aura dominasi yang sanggup meruntuhkan mental gadis mana pun. Mereka mengira aku terjebak. Mereka pikir ini adalah intimidasi di mana mereka memegang kendali penuh atas nasibku.

Mereka tidak tahu... aku adalah dalang yang sengaja memancing mereka ke dalam ruangan terisolasi ini.

Aku menarik napas perlahan, menikmati aroma parfum maskulin mereka yang saling berbenturan di udara—aroma kayu maskulin milik Dante, wangi mint dingin milik Gabriel, aroma tembakau lembut dan kulit milik Julian, serta wangi bunga lily yang menyesatkan dari Adrian.

Bukannya menepis tangan Dante di pinggangku atau menghindari sentuhan jari Adrian di leherku, aku justru mengulas senyuman samar. Senyuman yang anggun, misterius, dan memancarkan kepandaian manipulatif yang beracun.

"Permainan?" suaraku mengalun pelan, bagaikan beludru hitam yang membelai pendengaran mereka. "Kalian terlalu berlebihan, Tuan-Tuan. Aku hanya sedang mencari sebuah buku analisis ekonomi. Bukankah kalian yang tiba-tiba mengepungku seperti sekelompok serigala yang sedang kelaparan?"

Dante memperketat cengkeramannya di pinggangku, menarik tubuhku hingga pinggul kami saling bersentuhan tanpa jarak. Sensasi fisik yang intens itu mengirimkan dorongan gairah yang terlarang di antara kami.

"Jangan berbohong, Aurelia," bisik Dante di dekat telingaku. "Tatapan matamu di kelas tadi pagi... kata-katamu pada Gabriel... itu bukan cara bicara gadis pemalu yang biasa menangis di pojokan. Siapa kau sebenarnya?"

Aku memiringkan kepala, membiarkan napasku berhembus di leher kokoh Dante. "Aku adalah Aurelia yang sama. Hanya saja... aku baru menyadari betapa membosankannya bersikap baik di depan kalian."

Gabriel melangkah hingga berdiri di sisi kananku, hanya berjarak beberapa sentimeter. Ia menunduk, menatap buku STRATEGI EKONOMI MODERN yang masih dipegang Dante.

"Bab empat... analisis alokasi sumber daya dan manipulasi pasar," ujar Gabriel pelan. Kacamatanya memantulkan cahaya lampu meja. "Itu bahan kuliah tingkat akhir. Kau membacanya hanya untuk pamer, atau kau benar-benar memahaminya?"

"Coba uji aku, Gabriel," tantangku pelan, menatap langsung ke dalam manik matanya dari balik kacamata itu. "Tapi ingat... jika pertanyaannya terlalu mudah, aku akan sangat kecewa pada reputasimu sebagai jenius Asteria."

Mata Gabriel berkilat. Sebuah dorongan gairah intelektual yang belum pernah ia rasakan mendadak membakar dadanya. Bagi seorang sosiopat yang menganggap semua orang di sekitarnya bodoh dan mudah ditebak, tantangan dingin dariku adalah racun paling manis yang memikat jiwanya.

"Menarik..." gumam Gabriel, senyum tipisnya berubah menjadi ekspresi predator yang haus akan mangsa sejajar.

Julian menyeringai lebar. Ia melangkah makin dekat, merobohkan jarak pribadi hingga ia berada di belakang punggungku. Tangannya terangkat, dengan berani menyapu pinggulku sebelum bertengger di bahuku, memanjakan insting posesifnya yang liar.

"Aku tidak peduli tentang isi bukumu, Aurelia," bisik Julian dengan nada serak yang nakal di belakang telingaku. Tangannya yang hangat sengaja meremas bahuku secara halus, menyentuhkan aura sensual yang membakar. "Tapi bau tubuhmu... dan cara kau bernapas saat Dante memelukmu... kau menyukai perhatian ini, kan? Kau sengaja memancing kami ke sini."

Aku berbalik sedikit, menatap Julian dari samping. Tanganku yang bebas bergerak pelan, meletakkan ujung jari-jariku yang lentik tepat di atas dada bidang Julian—di atas kerah kemejanya yang terbuka, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang dan tidak beraturan.

Julian membeku. Tatapan matanya yang liar mendadak terkunci total pada sentuhan jariku di dadanya.

"Mata yang liar selalu mudah ditebak, Julian," bisikku lembut dengan tatapan yang sangat dalam. "Kau berpikir kau yang sedang memburuku... padahal kau sendiri yang melompat masuk ke dalam jaringku."

Julian menelan ludah secara kasar. Jakunnya naik-turun. Keberanian dan sentuhan yang tidak terduga dariku membuat darahnya berdesir hebat. Rasa ingin memiliki gadis ini meledak begitu saja di dalam dadanya, menghancurkan batas kesabarannya.

Sementara itu, Adrian yang menyaksikan keintiman singkat antara aku dan Julian, merasakan sesuatu yang bergejolak gelap di dalam dadanya. Senyum ramahnya lenyap sepenuhnya. Mata lembutnya berubah menjadi begitu dingin dan mengancam. Tangannya yang tadinya membelai rambutku kini bergerak turun, mencengkeram pergelangan tanganku dengan cukup kuat—sebuah indikasi dari sifat posesifnya yang tersembunyi.

"Cukup, Julian," potong Adrian dengan suara yang teramat dingin, kontras dengan citra pangeran hangatnya selama ini. "Lepaskan tanganmu darinya."

"Kenapa? Kau cemburu, Adrian?" tantang Julian sambil menyeringai, namun ia tidak menarik tangannya dari bahuku.

"Dia bukan mainan yang bisa kalian bagi," ujar Dante tegas, menyela perdebatan mereka. Dante memutar tubuhku sepenuhnya hingga aku berhadapan dada dengannya, menutupi pandangan ketiga pria lainnya. Wajah tampannya yang dominan sangat dekat dengan wajahku. "Mulai hari ini, Aurelia... kau tidak boleh menatap pria lain dengan cara seperti tadi. Kau mengerti?"

Aku menatap Dante dengan tatapan yang tidak gentar sedikit pun. Aku justru tertawa kecil—suara tawa yang teramat renyah, cantik, namun penuh ejekan yang elegan.

"Perintah yang sangat mengesankan, Dante," ucapku pelan, sambil meletakkan telapak tanganku di dada bidangnya, menyerap kehangatan tubuhnya. "Tapi sayangnya... kau belum memiliki hak untuk mengaturnya."

Sebelum Dante sempat membalas atau meluapkan rasa frustrasinya, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari ujung lorong perpustakaan.

"Siapa disana? Permisi?"

Suara itu milik Maya.

Gadis pindahan itu melangkah masuk ke lorong rak buku dengan wajah penasaran, memegang beberapa lembar formulir pendaftaran siswa baru. Di novel aslinya, Maya seharusnya menjadi pusat perhatian karena kepolosannya yang menarik empati keempat pria ini.

Namun saat Maya berbelok di sudut rak, langkah kakinya terhenti seketika. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di hadapannya.

Di lorong perpustakaan yang remang dan sempit itu, empat tuan muda paling berkuasa di sekolah sedang berdiri mengurung satu gadis yang sama. Dante memeluk pinggangku rapat-rapat, Gabriel berdiri sangat dekat di sisiku, Julian memegang bahuku dari belakang, dan Adrian mencengkeram pergelangan tanganku dengan tatapan posesif.

Keterkejutan dan rasa terasing terpancar jelas di wajah Maya. Senyum cerianya mendadak layu. Keempat pria itu bahkan tidak berbalik sepenuhnya untuk menyapa atau memandangnya. Tatapan Dante, Gabriel, Julian, dan Adrian tetap terkunci padaku—seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap dan hanya menyisakan keberadaanku di tengah-tengah mereka.

"M-maaf... aku tidak bermaksud mengganggu," gagap Maya dengan suara pelan, merasa aura intimidasi di lorong itu sangat menekan jiwanya.

"Pergilah, anak baru," sahut Gabriel tanpa menoleh sedikit pun, suaranya terdengar sangat dingin dan tidak peduli.

Maya menelan ludah, mundur beberapa langkah dengan rasa kebingungan yang mendalam sebelum akhirnya berbalik dan berlari keluar dari perpustakaan.

Aku mengulas senyum puas di dalam hati. Eksperimen pertama berhasil. Alur novel asli telah hancur sepenuhnya. Tokoh utama wanita tidak lagi memiliki panggung di antara keempat pria ini.

Aku mengalihkan pandanganku kembali ke Dante, merenggangkan pelukannya secara halus namun tegas. Aku melangkah mundur satu tapak, membebaskan diriku dari jangkauan mereka berempat, lalu merapikan blazer seragamku dengan anggun.

"Terima kasih atas bukunya, Tuan Muda," bisikku sambil memeluk buku STRATEGI EKONOMI MODERN di dadaku. "Sampai jumpa di kelas."

Aku berbalik dan berjalan melangkah meninggalkan mereka. Langkah kakiku berbunyi teratur di atas lantai kayu, memancarkan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran pertama.

Dante, Gabriel, Julian, dan Adrian hanya berdiri terpaku di tempatnya masing-masing. Tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha menghentikanku. Namun dari balik punggungku, aku bisa merasakan empat pasang mata itu menatap setiap gerak-gerikku dengan gairah, rasa penasaran, dan obsesi gila yang kini telah menyala sepenuhnya di dalam jiwa mereka.

Mereka telah terjerat. Dan ini barulah permulaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 13 Pantang Menyerah

    Keesokan harinya, atmosfer SMA Elite Asteria diliputi aura dingin yang membekukan.Maya berdiri di depan cermin toilet lantai dasar, memoles lipstik berwarna merah muda pucat yang memberi kesan rapuh dan menggiurkan.Jemarinya bergetar pelan, namun matanya memancarkan ketegatan yang nekat.Maya menolak untuk menyerah. Ia tahu betul ingatan masa lalunya: di kehidupan pertamanya, keempat tuan muda F4 juga tidak langsung jatuh cinta padanya.Di awal, mereka dingin, acuh, bahkan cenderung kasar. Namun, Maya berhasil menjaring mereka satu per satu dengan satu senjata pamungkas-pemanfaatan sensasi fisik dan daya tarik tubuhnya.Di kehidupan lalu, meski Maya mempertah

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 12 Maya Sang Protagonis

    Kepanikan adalah racun terbaik untuk membuat seseorang mengambil keputusan yang dungu.Maya membuktikannya hari ini. Ketakutannya yang memuncak setelah melihat perubahan total di Asteria memaksanya untuk bertindak cepat. Bagi Maya, alur cerita kehidupan pertamanya adalah kitab suci yang mutlak.Dalam ingatannya yang lalu, ia berhasil memikat hati F4 dengan satu formula sederhana: menjadi gadis polos, malang, pekerja keras, dan selalu hadir sebagai "pahlawan lembut" di saat keempat tuan muda itu membutuhkan kenyamanan emosional.Maka, ketika jam istirahat siang tiba di taman privat Asteria High, Maya memutuskan untuk menjalankan kembali taktik-taktik agresi "kepolosan"-nya secara serentak.Aku duduk

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 11 Memupuk Obsesi

    Suasana kelas unggulan Grade 12-A pagi itu terasa begitu tebal oleh ketegangan terselubung. Di ruangan bernuansa Dark Academia dengan meja-meja mahoni berukir dan jendela pualam tinggi, para pewaris tahta elit Asteria duduk di tempat mereka masing-masing.​Di barisan paling belakang, Dante Alister duduk kaku.​Pria tegap itu sama sekali tidak menyentuh buku atau penanya. Mata elangnya yang tajam—dipenuhi warna merah tipis dari malam tanpa tidur dan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya—mengunci satu-satunya objek di dalam ruangan itu: Aurelia Celine.​Setiap helaan napasku, setiap jemariku yang memutar pena sutra, hingga pergerakan leher jenjangku tak luput dari pengawasan Dante.Pria

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 10 Sergapan di Toilet

    Sinar matahari pagi menyorot koridor lantai dua SMA Elite Asteria, memantulkan kilau kemewahan dinding pualam dan ukiran kayu mahoni. Lorong sekolah yang biasanya dipenuhi bisikan segan para siswa mendadak terasa makin mencekam pagi ini.Dante Alister melangkah dengan postur kaku. Pria berotot tegap itu mengenakan seragam resmi Asteria, namun dua kancing teratas kemeja hitamnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan ketegangan di leher kokohnya. Lingkaran hitam tipis terukir di bawah mata elangnya—jejak nyata dari malam panjang tanpa tidur akibat mimpi liar jam dua pagi yang membakar otaknya.Sejak melangkah masuk ke gerbang sekolah, Dante berusaha keras bersikap acuh tak acuh.Dante sengaja memasang wajah dingin, tidak menyapa siapa pun, dan berusaha menghindar

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 9 Telp Tengah Malam

    Malam telah melarut di kawasan elit Asteria. Jam dinding Neoklasik di kamar utamaku menunjukkan pukul 01.45 dini hari.​Suasana kamar begitu hening dan damai. Lampu utama telah padam, hanya menyisakan pendar redup lampu tidur temaram di sudut ruangan. Aku tertidur lelap di atas ranjang king-size berseprai sutra hitam, terbungkus piyama sutra tipis berwarna krem yang lembut. Muka polosku tanpa riasan beristirahat tenang di atas bantal empuk, menikmati tidur nyenyak setelah seharian mengendalikan papan catur politik Asteria.​Drrr... Drrr... Drrr...​Getaran keras dari ponsel pribadiku di atas meja nakas mendadak memecah kesunyian malam.Drrr... Drrr... Drrr

  • Jeratan 4 Tuan Muda   Bab 8 Ring Tinju

    Suara benturan keras dari pukulan tangan berbalut handwrap yang menghantam sandsack kulit raksasa bergema memekakkan telinga di dalam Private Combat Gym Asteria High.Brak! Brak! Brak!Lantai kayu mahoni tua yang dilapisi matras hitam bergetar di setiap sabetan pukulan. Ruangan privat di ruang bawah tanah sekolah ini terisolasi total, beraroma minyak kayu cedar, kulit mahal, dan hawa panas yang membakar.Dante Alister berdiri di tengah ring tinju tanpa mengenakan atasan. Tubuh tegapnya yang dipenuhi otot padat memancar mengilap oleh lapisan keringat tipis. Dada bidangnya naik-turun memburu saat ia meluncurkan kombinasi pukulan hook dan uppercut dengan kecepatan serta kekuatan monster.Namun, gerakan tangannya tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status