INICIAR SESIÓNAroma kayu cendana dan kertas-kertas tua menyergap indra penciumanku begitu pintu kayu berukir di lantai tiga gedung Student Council tertutup rapat.
Ruang arsip rahasia Asteria. Tempat ini terisolasi dari riuk pikuk koridor sekolah yang riuh oleh bisikan para siswa. Di sini, ribuan dokumen legal, sertifikat tanah yayasan, serta berkas-berkas pelanggaran siswa kelas atas disimpan di balik le
Keesokan harinya, atmosfer SMA Elite Asteria diliputi aura dingin yang membekukan.Maya berdiri di depan cermin toilet lantai dasar, memoles lipstik berwarna merah muda pucat yang memberi kesan rapuh dan menggiurkan.Jemarinya bergetar pelan, namun matanya memancarkan ketegatan yang nekat.Maya menolak untuk menyerah. Ia tahu betul ingatan masa lalunya: di kehidupan pertamanya, keempat tuan muda F4 juga tidak langsung jatuh cinta padanya.Di awal, mereka dingin, acuh, bahkan cenderung kasar. Namun, Maya berhasil menjaring mereka satu per satu dengan satu senjata pamungkas-pemanfaatan sensasi fisik dan daya tarik tubuhnya.Di kehidupan lalu, meski Maya mempertah
Kepanikan adalah racun terbaik untuk membuat seseorang mengambil keputusan yang dungu.Maya membuktikannya hari ini. Ketakutannya yang memuncak setelah melihat perubahan total di Asteria memaksanya untuk bertindak cepat. Bagi Maya, alur cerita kehidupan pertamanya adalah kitab suci yang mutlak.Dalam ingatannya yang lalu, ia berhasil memikat hati F4 dengan satu formula sederhana: menjadi gadis polos, malang, pekerja keras, dan selalu hadir sebagai "pahlawan lembut" di saat keempat tuan muda itu membutuhkan kenyamanan emosional.Maka, ketika jam istirahat siang tiba di taman privat Asteria High, Maya memutuskan untuk menjalankan kembali taktik-taktik agresi "kepolosan"-nya secara serentak.Aku duduk
Suasana kelas unggulan Grade 12-A pagi itu terasa begitu tebal oleh ketegangan terselubung. Di ruangan bernuansa Dark Academia dengan meja-meja mahoni berukir dan jendela pualam tinggi, para pewaris tahta elit Asteria duduk di tempat mereka masing-masing.Di barisan paling belakang, Dante Alister duduk kaku.Pria tegap itu sama sekali tidak menyentuh buku atau penanya. Mata elangnya yang tajam—dipenuhi warna merah tipis dari malam tanpa tidur dan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya—mengunci satu-satunya objek di dalam ruangan itu: Aurelia Celine.Setiap helaan napasku, setiap jemariku yang memutar pena sutra, hingga pergerakan leher jenjangku tak luput dari pengawasan Dante.Pria
Sinar matahari pagi menyorot koridor lantai dua SMA Elite Asteria, memantulkan kilau kemewahan dinding pualam dan ukiran kayu mahoni. Lorong sekolah yang biasanya dipenuhi bisikan segan para siswa mendadak terasa makin mencekam pagi ini.Dante Alister melangkah dengan postur kaku. Pria berotot tegap itu mengenakan seragam resmi Asteria, namun dua kancing teratas kemeja hitamnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan ketegangan di leher kokohnya. Lingkaran hitam tipis terukir di bawah mata elangnya—jejak nyata dari malam panjang tanpa tidur akibat mimpi liar jam dua pagi yang membakar otaknya.Sejak melangkah masuk ke gerbang sekolah, Dante berusaha keras bersikap acuh tak acuh.Dante sengaja memasang wajah dingin, tidak menyapa siapa pun, dan berusaha menghindar
Malam telah melarut di kawasan elit Asteria. Jam dinding Neoklasik di kamar utamaku menunjukkan pukul 01.45 dini hari.Suasana kamar begitu hening dan damai. Lampu utama telah padam, hanya menyisakan pendar redup lampu tidur temaram di sudut ruangan. Aku tertidur lelap di atas ranjang king-size berseprai sutra hitam, terbungkus piyama sutra tipis berwarna krem yang lembut. Muka polosku tanpa riasan beristirahat tenang di atas bantal empuk, menikmati tidur nyenyak setelah seharian mengendalikan papan catur politik Asteria.Drrr... Drrr... Drrr...Getaran keras dari ponsel pribadiku di atas meja nakas mendadak memecah kesunyian malam.Drrr... Drrr... Drrr
Suara benturan keras dari pukulan tangan berbalut handwrap yang menghantam sandsack kulit raksasa bergema memekakkan telinga di dalam Private Combat Gym Asteria High.Brak! Brak! Brak!Lantai kayu mahoni tua yang dilapisi matras hitam bergetar di setiap sabetan pukulan. Ruangan privat di ruang bawah tanah sekolah ini terisolasi total, beraroma minyak kayu cedar, kulit mahal, dan hawa panas yang membakar.Dante Alister berdiri di tengah ring tinju tanpa mengenakan atasan. Tubuh tegapnya yang dipenuhi otot padat memancar mengilap oleh lapisan keringat tipis. Dada bidangnya naik-turun memburu saat ia meluncurkan kombinasi pukulan hook dan uppercut dengan kecepatan serta kekuatan monster.Namun, gerakan tangannya tidak







