MasukJericho Astor, the youngest Astor brother and by far the sweetest of the three is a genius when it comes to anything technology—and when it comes to Odette Gibson. Odette Gibson, a cop who just happens to be Jericho's best friend probably knows Jericho better than he knows himself. It's what makes their friendship so strong, it's what keeps them bonded. But, there's a thin line between friendship and something a little more than that and Jericho has been straddling that line for years, until one day he found himself in the deep end drowning in feelings for her that she would never return. Or maybe she will if the hands of fate have anything to do with it... _____________________________ Read book 1: Gunnar, and book 2: Ace. If you don't read the first two books, the third won't make sense.
Lihat lebih banyakLeyvira sekarang sedang melangkahkan kakinya dengan cukup santai di Taman ini. Leyvira terus mengedarkan matanya untuk melihat berbagai pemandangan indah lainnya yang ada di Taman ini.
Leyvira menyipitkan matanya saat melihat sesuatu yang cukup menarik fokus matanya. Leyvira akhirnya memilih untuk berjalan ke arah di mana cowok itu berada.
Semula pemandangan yang sudah menarik fokus matanya adalah pemandangan seorang cowok dengan sebuah botol kaca di tangannya. Cowok itu beberapa kali menenggak cairan yang ada di dalam botol itu.
Leyvira terus melangkahkan kakinya untuk menghampiri cowok itu. Alasan yang membuat Leyvira ingin menghampiri cowok itu adalah untuk mengetahui apakah cowok sedang mabuk atau tidak.
Saat sudah sampai di sana, ternyata cowok itu memang sedang mabuk. Leyvira terus memperhatikan cowok itu dengan cukup serius. Cowok itu sekarang sedang duduk di salah satu bangku panjang yang masih ada di area Taman ini.
“Lo mabok di siang hari?” tanya Leyvira dengan cukup serius.
Cowok itu terdiam sambil mengerjap-ngerjap matanya yang sudah terasa berat dan kepalanya juga sudah terasa begitu pusing sekarang. Leyvira terus memperhatikan cowok itu dengan cukup serius.
“Lo mabok di siang hari, apa gak panas?” tanya Leyvira lagi.
Leyvira kali ini memperpanjang kalimat tanyanya. Semula Leyvira menanyakan apakah dia sedang mabuk atau tidak, tapi cowok itu tidak menjawab dan Leyvira semakin yakin kalau cowok itu memang sedang mabuk.
“Lo tanya sama gue?” tanya cowok itu sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
Leyvira dengan seketika langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak sama kucing yang lewat,” jawab Leyvira dengan nada yang sedikit kesal.
Cowok itu menganggukkan kepalanya ke arah samping kiri dan kanan yang. Anggukkan cowok itu bercampur antara mengiyakan apa yang sudah Leyvira ucapkan dengan kepalanya yang semakin lama sudah semakin terasa pusing.
Leyvira memutar bola matanya malas. “Ya jelas sama lo lah. Lo mabok di tengah hari gini apa gak panas?” tanya Leyvira lagi. Pertanyaan Leyvira tetap di sana.
Cowok itu menatap Leyvira, dia memperhatikan Leyvira dengan tatapan yang terlihat cukup sayu. “Lo pernah mabok?” tanya cowok itu. Cowok itu malah bertanya balik pada Leyvira.
“Kenapa lo malah tanya kayak gitu?” tanya Leyvira lagi.
Leyvira malah merasakan yang namanya kesal saat dirinya bertanya, tapi orang yang dia tanya malah bertanya balik pada dirinya, padahal seharusnya cowok itu menjawab.
“Karena lo bisa tahu bagaimana sifat alkohol dan tidak mungkin kalau lo tidak pernah mengonsumsinya,” jelas cowok itu. Suara cowok itu terdengar begitu serak.
Leyvira terdiam sejenak sambil memikirkan penjelasan yang sudah cowok itu uapkan. “Gue anak IPA. Gue tahu bagaimana sifat Alkohol tanpa perlu gue cicipi terlebih dahulu alkohol itu,” jelas Leyvira.
“Oh.”
Cowok itu menjawab dengan cukup singkat, dia malas bertanya lebih panjang lagi, karena sebenarnya dia juga tidak ingin tahu banyak hal tentang alasan kenapa Leyvira bisa mengetahui kalau sifat alkohol itu panas.
“Ya.” Leyvira juga menjawab dengan jawaban yang sama singkatnya dengan jawaban yang sudah cowok itu ucapkan.
Leyvira sudah mulai malas berdialog dengan orang ini, karena dia tidak menyangka kalau ternyata pembahasan orang ini cukup membuatnya berpikir. Semula Leyvira tidak pernah mengira bahwa orang yang sedang mabuk seperti dia bisa berpikir dengan cukup logis.
“Kalau gitu gue pengen ini,” ucap cowok itu yang tak lama kemudian mencicipi ice cream vanilla yang berada di tangan Leyvira.
“Eh—
“Dingin.” Sungguh perasaan yang normal. Saat seseorang mencicipi ice cream, maka cukup normal jika orang itu merasakan sensasi dingin.
“Itu bekas gue,” ujar Leyvira.
“Apa lo bilang?” tanya cowok itu sambil membelalakkan matanya.
“Ice cream itu sudah gue cicipi beberapa jilatan,” jelas Leyvira. Sebelumnya Leyvira memang sedang menikmati ice cream tersebut.
Cowok itu dengan seketika terdiam sambil memikirkan kalimat yang sudah Leyvira katakan. Dia terus merasakan rasa dari ice cream yang sampai saat ini masih dapat dia rasakan di lidah dan juga dinding mulutnya.
“Gue kembalikan,” ujar cowok itu dengan nada yang cukup datar.
“Untuk yang sudah lo cicipi bagaimana mengembalikannya?” tanya Leyvira.
Leyvira sengaja bertanya seperti ini, karena dia ingin tahu apa yang akan cowok itu katakan, apakah cowok itu masih bisa berpikir dengan cukup normal untuk seorang cowok yang sudah dalam keadaan yang mabuk?
Cowok itu dengan seketika menarik Leyvira mendekat ke arahnya dan kemudian menarik pelan tengkuk Leyvira yang membuat wajah Leyvira dan juga wajahnya berdekatan.
Cowok itu dengan seketika langsung menempelkan benda merah miliknya dengan benda berwarna merah merona milik Leyvira yang kemudian mengembalikan sedikit cairan ice cream milik Leyvira yang semula sudah dia cicipi.
Leyvira membelalakkan matanya saat dia merasakan sebuah rasa yang sama dengan ice cream-nya, yaitu rasa vanilla kembali masuk ke dalam mulutnya tanpa dia mencicipi ice cream. Rasanya sedikit terasa sama, bedanya untuk vanilla yang ini, tidak ada sensasi dingin yang dirasakan.
“Lo gila!” teriak Leyvira saat dirinya sudah mendorong dada cowok itu yang membuat mereka kembali berjarak.
Leyvira menatap cowok itu dengan tatapan yang penuh dengan kekesalan. Leyvira sangat kesal terhadap perbuatan yang baru saja cowok itu lakukan, meski sebenarnya bisa dikatakan sebagai perbuatan yang sudah mereka lakukan.
“Katanya suruh untuk dikembalikan?” Cowok itu bertanya dengan nada yang terdengar cukup enteng.
“Kenapa lo harus mencium gue?” tanya Leyvira. Leyvira tidak pernah menyangka kalau cara yang cowok itu pilih untuk mengembalikan ice cream-nya adalah dengan cara mencium dirinya.
“Karena dengan itu lo bisa merasakan apa yang sudah gue rasakan bukan?” Apa yang sudah cowok itu ungkapkan memang benar.
Dengan dia melakukan hal yang seperti tadi dengan Leyvira, maka Leyvira bisa merasakan apa yang sudah dia rasakan. Dengan kata lain cowok itu mengembalikan ice cream milik Leyvira yang sudah dia cicipi.
Cowok ini cukup pandai berbicara, apalagi dengan kondisinya yang sekarang sudah tidak sepenuhnya sadar, tapi sudah setengah mabuk atau mungkin memang sudah mabuk.
********
Uoo
Leyvira sedikit kaget saat mengetahui kalau cowok itu mual, bahkan hendak muntah. Leyvira masih memperhatikan cowok itu. Leyvira melihat kalau cowok itu memang semakin lama semakin tidak berada dalam kesadarannya.
“Lo habis berapa botol sih?” tanya Leyvira saat melihat kalau cowok itu yang mana matanya semakin lama semakin terlihat merah. Leyvira tidak yakin kalau cowok itu hanya mengonsumsi alkohol ini dalam porsi yang sedikit.
“Dua.” Cowok itu dengan enteng mengatakan berapa botol yang sudah dia habiskan. Leyvira membelalakkan matanya.
Uo
“Jangan muntah depan gue!” larang Leyvira yang bersamaan dengan dirinya yang melangkah mundur.
“Kenapa?” Cowok itu bertanya dengan begitu enteng.
Leyvira menggelengkan kepalanya. “Gak mau. Jijik,” jawab Leyvira dengan penuh kejujuran.
“Lo bisa bawa mobil?” Cowok itu bertanya dengan cukup serius.
Leyvira menganggukkan kepalanya. “Bisa,” jawab Leyvira.
“Antar gue pulang.”
Leyvira terdiam sejenak. Leyvira tidak kenal siapa cowok itu, tapi Leyvira merasa enggan untuk menolak permintaan cowok itu. Leyvira memikirkan risiko yang akan terjadi kalau sekarang dirinya menolak permintaan cowok itu.
“Ok, gue anterin lo pulang.” Leyvira akhirnya memilih untuk menyetui permintaan cowok itu untuk mengantarkannya, karena Leyvira tidak mau ada sesuatu yang terjadi dengan cowok itu kalau dirinya tidak mengantar cowok itu pulang.
Leyvira takut kalau nanti cowok itu pulang sendiri dengan kata lain mengemudikan mobilnya sendiri dalam keadaan cowok itu yang sedang mabuk. Leyvira tahu kalau mengemudikan mobil dalam keadaan sedang mabuk itu mempunyai risiko yang cukup besar.
“Bangun sendiri bisa gak?” tanya Leyvira.
Cowok itu akhirnya berusaha untuk bangkit. Leyvira merasa lega saat tahu kalau cowok itu masih mampu bangun. Leyvira tidak perlu cape-cape membuat cowok itu bangkit dari tempat duduknya.
“E-eeh!”
Leyvira dengan seketika langsung menahan cowok itu yang semua berjalan dengan jalan yang sudah sempoyongan. Leyvira mengalungkan tangan cowok itu di lehernya. Leyvira membantu cowok itu berjalan ke arah mobilnya.
“Ish! Lo berat.” Leyvira berucap setelah cowok itu duduk di kursi mobil. Leyvira kemudian berjalan dan melangkah masuk kemudian duduk di balik kemudi.
Leyvira melirik ke arah cowok yang sekarang sudah memejamkan matanya. Leyvira tahu kalau cowok ini sekarang sedang merasakan yang namanya pusing. Leyvira kemudian melajukan mobil ini.
ODETTE One week. For one week I refused to leave Jericho's beside unless I had to. I couldn't keep food down but I forced myself to try because, I knew when he finally woke up, he wouldn't be pleased with seeing how much weight I had lost in just a handful of days. He would wake up, though. He had to.I needed him. It sounded strange to place so much importance on any single individual. To love someone was to give them a part of your heart knowing it would be a part you could never get back. They would take that piece of you into the afterlife if they departed, allowing you to wither away as a result of their loss. Because, without them, you were incomplete. Jericho was the sun in my solar system. He was the anchor. Bursts of warmth and mirth only existed when I orbited him. Without him, I was cold and desolate, aimlessly floating around space with no tether. He was my best friend. He was every word. He was every sentence. He was every line. He was everything. To love someone so
JERICHO Time had no essence. It slipped and spilled. It ticked and rolled. From one moment into the next torturous moment. My will to live dwindled and the thread of life I grasped now sat at the edge of my fingertips. I wasn't sure how much time passed but once the torturing started, I stopped caring. The pain had me retreating into the darkest corners of my mind and yet, solace and silence still evaded me. I shifted in and out of lucidity as gruesome, unspeakable acts were performed on my body. The fowl, metallic stench of blood permeated the air, and my screams and pleas caused a dull ringing in my ears. Hatred danced across my tongue with bile as its partner and my heart playing a hazardous rhythm. Echoes of agony rattled my bones. I sat, chained to this chair with no means to fight back. My kneecaps had been shattered, fingers broken, hair pulled out, nearly drowned, flesh carved from my body, and when I lost consciousness, they brought me back to repeat it all over again. I ha
ODETTE"What do you mean?" Anger flashed like a hot, searing beam of light against my vision, causing tears too well to ease the burn, "I haven't been gone for more than seventy-two hours and something bad has already happened?"Gunnar's hard voice drifted into the receiver of the encrypted burner phone Ace had prohibited me from using. Shuffling sounded in the background before a string of muffled curses followed, "I'm at his apartment. He called me and I told him I'd meet him when I landed. He never answered any of my phone calls after that. I came straight here after I landed. Everything in his apartment is thoroughly destroyed."My irritation fizzled and popped in my eardrums, like the pressure experienced at high altitude, while my blood thrummed and heart pounded like a war drum against my ribcage, "How long ago did you last speak to him?" My tone may have seeped out of me leveled and cool but my hands quivered as they wiped away my silent tears. The scars caught and held my at
JERICHOI awoke chained to a chair. The warmth of a low-hung light bulb had sweat beading over my forehead, rolling down until it burned my eyes. I was dragged from my bed and knocked unconscious. Those were the last memories I had. Now, I was God only knew where with no one to find me. The heated steel ring on my index finger burned. If Gunnar figured out I was missing, he could track the ring. I just needed to buy myself time. There was no point in him plotting my rescue if I was no longer alive. He would just end up walking into a trap. Maybe that was the point. Maybe Eddie wanted Gunnar to find me, and walk into this trap so he could eliminate us both. The thought had a wave of adrenaline surging through my veins. I struggled against the chains which bound my wrists, tugged until they rubbed my flesh raw and a shot of pain zapped through my tense muscles like a bolt of lightning. The hiss that fled through my clenched molars echoed off the concrete walls. A chill passed in the
ODETTE"Do you need anything else?" Ace asked as he stood in the center of my loft-style apartment. I gave the small place a once over. It had been ages since I had been here. Everything had collected a thick layer of dust. A double bed sat at the furthest end of the room with green—the color of Jeri
ODETTEJericho set me down and gestured to our clothes sprawled over the floor, "Put something on," he said as he shrugged on his boxers and grabbed a hair tie from the pedestal to prop his hair into a top knot. A grimace twisted his handsome features when he noted the coffee which had spilled when h
ODETTEThere was a bounce in my step and a glow in my face which was not there yesterday. It was surprising how one action, one night, could change so much about a person. The smile marking my face was unflinching and, although my muscles pained from being set in the same position for so long, I foun
ODETTEA warm body pressing against mine was what had me stirring from my sleep. Jericho had left me earlier in the night to meet with his brothers. They were meant to meet with Eddie tonight and, as much as I wanted to be there, I knew this was something the three brothers needed to take care of. So












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak