Share

Bab 31

Penulis: Major_Canis
"Perlukah aku mengucapkan selamat tinggal?" tanya Anisa sambil tertawa pahit.

Ketika Anisa turun dari mobil, pandangannya tertuju pada rumah yang telah dia tempati selama setahun terakhir ini. Rumah itu memang tidak memberinya banyak kenangan manis, tetapi tetap saja dia pernah menjadi bagian darinya.

Oleh karena itu, ada bagian dari diri Anisa yang merasa bersyukur. Dia bersyukur karena pernah mendapat kesempatan berada di sisi seseorang yang sebaik dan setulus neneknya Dimas, Evelin.

Anisa ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 50

    "Kadang aku lupa betapa menenangkannya keheningan seperti ini," kata Kelvin pelan.Anisa menimpali sambil mengangguk, "Setelah bertahun-tahun hidup dalam kekacauan dan kebisingan, inilah jenis ketenangan yang paling aku syukuri."Kelvin menoleh ke arahnya. Tatapannya mantap ketika berujar, "Aku harap semua kekacauan itu nggak pernah membuatmu merasa dirimu nggak berharga."Anisa menundukkan pandangan untuk menyeruput kopinya. Kemudian, dia berucap, "Itulah alasan aku sangat menghargai hidup yang aku jalani sekarang. Terutama dengan Jevan di sisiku. Aku benar-benar bersyukur.""Apakah rasa syukur itu juga berlaku untukku?" tanya Kelvin lembut,. Sepasang matanya terkunci pada mata Anisa.Anisa menanggapi, "Tentu saja aku juga bersyukur karena ada kamu, Pak Kel ....""Kamu sudah berjanji nggak memanggilku begitu di luar sekolah, apalagi saat kita nggak lagi bareng Jevan," potong Kelvin sambil memasang ekspresi seolah kesal, tetapi jelas bercanda.Anisa terkekeh-kekeh. Dia berujar, "Kamu s

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 49

    "Enak banget, Bu!" seru Jevan sambil menyuapkan satu garpu besar makaroni panggang ke mulutnya. Wajah kecilnya langsung bersinar kegirangan, lalu dia mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke arah Anisa sebagai tanda puas."Aku setuju, Jagoan Kecil," tambah Kelvin sambil mengangguk. Nada suaranya penuh apresiasi ketika melanjutkan, "Bu Anisa, sejujurnya aku jadi penasaran apa kamu pernah ikut kelas memasak? Soalnya masakanmu itu bikin ketagihan. Bisa-bisa aku mulai mengidamkannya setiap hari lho."Anisa tersenyum ke arah Kelvin. Dia berusaha menyembunyikan rasa hangat yang naik ke pipinya. Wanita itu cepat-cepat mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri dengan menuangkan air ke gelas Jevan.Anisa membalas, "Kalian makan yang banyak saja. Terutama kamu, Jev. Jangan bicara sambil mengunyah, nanti tersedak lho.""Ya, Bu," jawab Jevan ceria. Dia masih tersenyum lebar.Meski sesekali diingatkan, Jevan tetap sulit menahan antusiasmenya. Kebahagiaan di wajahnya terlihat begitu jelas. Makan malam

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 48

    "Bu, boleh nggak Paman Kelvin datang makan malam di rumah?" tanya Jevan dengan mata berbinar penuh harap sambil menarik lengan baju Anisa saat mereka keluar dari kafe.Anisa menunduk untuk menatapnya. Dia membalas, "Um, Ibu bahkan belum bertanya apakah dia mau ikut makan malam bersama kita."Kelvin dan Lydia sudah lebih dulu keluar dan menunggu di dekat mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk kafe. Pria itu menyahut sambil tersenyum santai, "Aku mau kok.""Hore!" seru Jevan kegirangan. Dia langsung mengangkat kedua tangannya untuk minta tos dan segera dibalas Kelvin dengan penuh semangat. Melihat itu, Anisa hanya bisa menghela napas pasrah."Jagoan, jadi nanti malam kita makan apa?" tanya Kelvin sambil menggenggam tangan Jevan."Ibu bilang makaroni panggang. Keju ekstra buat aku!" balas Jevan.Kelvin mengangkat alisnya ketika berucap, "Makaroni panggang buatan Bu Anisa? Sulit untuk menolaknya."Mereka berjalan menyusuri trotoar. Cahaya senja keemasan melunakkan sisa-sisa hari.

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 47

    "Berapa lama lagi kamu akan terus menolaknya?" Pertanyaan itu datang dari Lydia yang duduk di seberang Anisa sambil menyeruput espreso. Dia menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam. Anisa menghela napas pelan, lalu meletakkan garpunya di samping sepotong kue red velvet yang nyaris tidak tersentuh."Lydia, aku bukan menolaknya. Aku cuma ... butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya," balas Anisa.Mereka duduk di salah satu sofa empuk yang menghadap area bermain. Keduanya menyeruput teh hangat sambil sesekali melirik pemandangan yang berada tidak jauh dari mereka.Kafe itu cukup ramai, tetapi tidak bising. Sinar matahari sore berwarna keemasan masuk melalui jendela-jendela besar, lalu menyelimuti lantai kayu dengan cahaya hangat. Interiornya dirancang ramah keluarga dengan nuansa pastel lembut. Ada sudut bermain yang nyaman dengan karpet tebal, serta rak-rak berisi mainan edukatif, puzzle, dan buku bergambar.Di sana, tepat di tengah semuanya, ada Jevan. Pipi bocah tujuh tahun itu mem

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 46

    "Selamat pagi, semuanya," sapa Anisa dengan ramah saat dia memasuki ruang guru."Pagi, Anisa," jawab beberapa orang bersamaan. Beberapa yang lain memberinya senyum sopan."Kamu bawa sarapan lagi? Pas banget, kopiku baru saja selesai diseduh," tanya Timo si guru olahraga yang selalu penuh energi sambil bangkit dari duduknya."Apa kamu nggak bisa mampir ke toko roti saja dalam perjalanan ke sini?" gumam Metta yang merupakan guru matematika di sekolah itu. Dia jelas tidak terlalu terkesan dengan antusiasme Timo.Timo tertawa kecil sebelum membalas, "Apa salahnya mengharapkan keajaiban?""Aku memang bawa sedikit. Jevan suka, jadi aku buat agak lebih banyak," jawab Anisa sambil tersenyum lembut. Anisa mengeluarkan sebuah kantong kertas berisi roti kismis panggang berwarna keemasan. Aroma manis dan mentega langsung memenuhi ruangan. Itu menarik perhatian beberapa guru yang terlihat lapar."Silakan ambil," ucap Anisa hangat sambil menawarkannya pada semua orang."Wah, kamu memang jago urusan

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 45

    Tujuh tahun kemudian."Jev, jangan singkirkan brokolinya," ucap seorang wanita sambil tetap sibuk memasak di depan kompor. Tanpa perlu menoleh, dia tahu bahwa anak laki-lakinya pasti sedang menghindari sayuran di piringnya."Bu, aku nggak suka," gumam bocah bermata biru itu perlahan. Bibir kecilnya mengerucut kesal ketika melanjutkan, "Apa aku boleh makan yang lain saja tanpa brokoli?"Anisa menghela napas sabar. Dia melepaskan celemeknya dan mematikan kompor, lalu berjalan ke meja makan, tempat putranya duduk membungkuk di depan sarapan yang baru setengah habis."Jevan Kumala," ucap Anisa tegas. Suaranya tenang, tetapi sama sekali tidak bisa diabaikan."Ya, Bu," jawab Jevan sambil perlahan mengangkat kepala.Anisa bertanya, "Kamu tahu nggak betapa bagusnya brokoli untuk tubuhmu?" Mendengar itu, Jevan cemberut. Tentu saja dia tahu, tetapi tetap saja dia tidak suka."Makan sedikit saja. Jangan sisakan terlalu banyak di piring. Bukannya Bu Aulia bilang, terlalu pilih-pilih makanan itu co

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status