Share

Bab 3

Penulis: Rain
“Kamu masak sup ayam?”

“Kamu jangan minum dulu. Kondisi Luna lagi lemah, kebetulan bisa minum sup ayam untuk memulihkan tubuhnya.”

Tanganku yang sedang memegang mangkuk sup langsung terhenti. Aku menatapnya dengan linglung.

“Ini sup yang khusus dimasakkan Kak Vena untukku.”

Marvel seolah tidak mendengar ucapanku, dia malah asik sendiri mencari kotak makan dari dalam lemari.

“Aku tahu kondisi tubuhmu, minum atau nggak minum sup ayam itu sama saja.”

“Kasih untuk Luna saja kali ini. Lain kali aku bakal ajak kamu makan di kantin markas.”

Kata-kata yang sudah sangat familiar itu membuatku teringat kembali ke masa lalu.

“Delvy, kupon kain kali ini aku kasih ke Luna dulu. Nanti kalau tunjangan bulan depan cair, aku baru buatkan baju untukmu.”

“Delvy, kamu nggak perlu datang ke acara malam nanti, kasih kursinya ke Luna saja. Lain kali kalau ada pertunjukan seni lagi, aku bakal ajak kamu.”

“Delvy, Luna mau kenalan dengan teman-temanku, jadi acara perkumpulan rekan kerja kali ini kamu nggak perlu ikut, ya. Aku akan mengajakmu lain kali.”

“Delvy….”

Begitu banyak lain kali, sangking banyaknya, aku bahkan sampai tak bisa menghitungnya lagi.

Memanfaatkan momen saat aku melamun, Marvel memasukkan sup ayam itu ke dalam kotak makan, lalu memberikan perhatian basa-basi padaku,

“Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik di rumah.”

Usai bicara, dia pun berbalik pergi. Sialnya, ujung bajunya tak sengaja menyenggol mangkuk sup di atas meja.

“Prangg!”

Mangkuk sup itu jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping bersama hatiku.

“Marvel.”

Aku memanggilnya, lalu mengeluarkan botol kaca berisi sembilan puluh sembilan butir kacang kedelai dari sakuku.

“Sembilan puluh sembilan butir kacang kedelai, coba dihitung.”

Langkah Marvel terhenti, dia berbalik dan menatapku dengan wajah terkejut.

“Sudah genap?”

Aku menjawab,

“Sudah.”

Marvel meletakkan barang di tangannya, raut wajahnya tampak serba salah.

Aku tidak berbicara, hanya ingin mendengar jawabannya.

Dan seperti yang sudah kuduga.

Marvel hanya ragu sejenak, lalu berkata,

“Delvy, Luna nggak bisa ditinggal sendirian sekarang….”

Ada gurat rasa bersalah di matanya, tapi dia tetap melanjutkan,

“Janji kita… dibatalkan saja.”

Aku menundukkan kepala dan menghela napas.

“Baiklah.”

Marvel membeku, dia seolah tidak percaya aku akan menyetujuinya semudah itu.

Dia langsung memelukku dengan emosional.

“Delvy, kamu baik sekali.”

“Tenang saja, kalau kondisi Luna sudah stabil, aku pasti akan benar-benar menemanimu.”

Aku hanya bergumam mengiyakan, lalu mengajukan satu permintaan.

“Anak kita akan segera lahir, aku mau sebuah liontin untuk dia.”

Begitu mengungkit soal anak, raut wajah Marvel menjadi jauh lebih lembut.

“Iya, tunggu aku pulang. Nanti aku akan menemanimu cek kehamilan, lalu kita beli liontin yang paling bagus dan cantik untuk anak kita.”

Tatapanku agak berkaca-kaca, rasa sakit karena kehilangan anak itu kembali menyerang.

“Iya.”

Sayangnya, anakku tidak akan pernah bisa melihatnya.

Setelah dia pergi, aku berdiri dan membuka laci, lalu mengeluarkan tumpukan rekam medis yang selama ini kusimpan dengan rapi.

Pertama kali terkonfirmasi hamil.

Pertama kali cek kehamilan.

Pertama kali mengambil obat penguat kandungan.

Setiap kali saat Marvel tidak pulang, aku selalu mengeluarkan berkas-berkas itu dan membacanya berulang kali.

Itu adalah simbol harapan dan antusiasku sebagai calon ibu pertama kali, sekaligus harapan indahku sebagai seorang istri terhadap keluarga ini.

Namun sekarang….

Aku mengeluarkan laporan keguguran dari saku, lalu dengan tangan gemetar meletakkannya bersama tumpukan surat lainnya.

Air mata menetes membasahi kertas-kertas itu, seolah sedang mengucapkan selamat tinggal.

Aku menarik napas dalam-dalam, baru saja hendak menutup laci, tiba-tiba terdengar suara Marvel dari belakang.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku panik dan langsung menutup laci, sambil buru-buru menghapus air mata di sudut mataku.

Marvel mendekat, pandangannya tertuju pada laci tersebut.

“Kok kamu balik lagi?”

Aku bersandar erat pada laci, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan kaku.

Marvel melangkah maju dan mengangkat tangannya.

Tangannya mendarat di sudut mataku.

“Kamu menangis?”

Dia menatap ujung jarinya yang basah dengan bingung, seolah tidak tahu harus berbuat apa.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 9

    Luna tetap bersikeras tak mau minta maaf, bahkan sampai membuat keributan besar di rumah sakit, hingga akhirnya dirinya dibawa ke kantor polisi.Saat tiba di kantor polisi, ternyata perasaan Marvel sangat datar.Sejak dia membaca surat dariku kemarin, dia mulai mengintrospeksi diri. Dia banyak merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan Luna dan juga tentangku.Semakin dipikirkan, dia semakin panik.Semakin dipikirkan, dirinya pun semakin muak pada Luna.Namun, setiap kali dirinya ingat bahwa Luna adalah seorang pasien, Marvel terpaksa menekan rasa muak itu jauh-jauh di dalam hatinya dan hal itu membuatnya sangat tersiksa.Dia masih ingin mencariku, ingin kembali bersamaku.Dia ingin menebus segala kesalahannya.Namun, aku sudah bilang tak ingin melihatnya lagi selamanya.Dulu, dia mengira bahwa saat Luna mencoba mengakhiri hidupnya, dirinya merasa paling sakit hati.Namun, sekarang dia sadar.Hal yang paling membuatnya menderita adalah kepergianku.Namun, semuanya sudah terlambat.Kepa

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 8

    Sayangnya, semua ini tak ada hubungannya lagi denganku.Di sisi lain, Marvel tiba di rumah.“Delvy! Delvy!”“Aku sudah tahu salah, Delvy! Maafkan aku!”“Liontin yang kamu minta sudah kubelikan! Delvy!”Namun, sekeras apapun Marvel berteriak, tidak ada seorang pun yang menjawab.Seketika, rasa panik menyelimuti hatinya.Ruang tamu, dapur, kamar tidur….Tidak ada orang.Semuanya kosong.Teringat sesuatu, Marvel segera membuka lemari pakaian.Pakaian di dalamnya sudah berkurang separuh.Semua barang milikku sudah tidak ada, hanya tersisa sebuah gaun merah terang.Gaun itu dibelikan Marvel saat kami menikah dulu.Saat itu, usiaku sembilan belas tahun.Aku bilang, “Kak Marvel, saat kita menikah nanti, bisakah kamu belikan gaun merah untukku?”“Ibuku bilang saat menikah, pengantin wanita harus memakai warna merah, biar kehidupan setelah menikah bisa bahagia dan harmonis.”Marvel menyetujuinya.Dan aku pun berhasil mengenakan gaun merah yang cantik itu di hari pernikahan kami, sesuai impiank

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 7

    Luna langsung berjongkok, berusaha menutupi tali merah di pergelangan kakinya.“Nggak… nggak ada….”Wajah Marvel memuram, tatapannya menjadi tajam.“Mana liontin yang kusuruh kamu simpan? Keluarkan.”Luna menunduk karena merasa bersalah, dia tak berani menatap mata Marvel.“Marvel, hanya sebuah liontin saja, aku….”“Aku bilang sekali lagi, keluarkan.”Marvel menatap Luna, seolah ada badai yang siap meledak di matanya.Akhirnya Luna panik.Dia berdiri dan mundur dengan gelisah.Itu justru memperlihatkan liontin di pergelangan kakinya.Motif awan dan tulisan bahagia, persis seperti yang dibeli Marvel.Marvel langsung maju dan merenggut paksa liontin itu dari kaki Luna. Ujung jarinya sampai memutih karena mengepal terlalu kuat.“Bu perawat, tadi kamu bilang… Delvy datang ke sini?”Rina mengerutkan kening.“Delvy yang mana? Saudari Delvy? Dia datang tadi.”“Aku melihatnya keluar dari ruang rawat ini di koridor, makanya aku teringat untuk mencari kalian.Luna melototi Rina, lalu mencoba mer

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 6

    Sedikit saja melesat, pasti sudah melukai matanya.“Rina, apa yang terjadi?”Kepala perawat bertanya dengan nada khawatir, sambil menyeka luka itu hati-hati dengan kapas alkohol.Rina baru saja diterima bekerja di rumah sakit tahun ini. Usianya baru sembilan belas tahun dan belum menikah.Sekarang wajahnya malah terluka, kalau sampai berbekas, itu bisa memengaruhi kepercayaan dirinya saat mencari pasangan nanti.Rina menyadari hal itu. Begitu melihat kepala perawat, matanya langsung berkaca-kaca dan berkata, “Bu, dia yang melempar barang ke arahku.”Dia menunjuk ke arah Luna dengan wajah yang tampak terluka.Tatapan kepala perawat langsung menjadi dingin.“Bu, bisa jelaskan ini?”“Hidup di zaman ini, melukai orang tanpa alasan itu ada konsekuensi hukumnya.”Luna mulai tenang, tapi mendengar kata-kata itu, kilatan panik muncul di matanya. Secara reflek, dia menatap Marvel, berharap pria itu akan membelanya.Melihat tatapan itu, Marvel pun secara otomatis hendak membela.“Luna bukan sen

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 5

    “Prang!”Kotak makan itu jatuh ke lantai, menimbulkan suara dentingan yang nyaring.Makanan tumpah berserakan di mana-mana, tapi tak ada satu pun yang peduli.Marvel tiba-tiba berdiri, bertanya dengan nada tidak percaya, “Apa… apa kamu bilang?”Perawat itu tersentak kaget, menatapnya dengan heran.“Kamu keluarga dari saudari Delvy?”“Saudari Delvy beberapa hari yang lalu dirawat karena keguguran dan dia lupa mengambil obatnya.”“Tadi aku baru saja melihat dia keluar dari ruang rawat ini, makanya aku mampir untuk bertanya.”“Siapa di antara kalian yang merupakan keluarganya?”Marvel membuka mulutnya, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat muram.“Aku… aku suaminya.”Mendengar hal itu, sikap perawat yang tadinya ramah langsung berubah drastis.Dia memerhatikan Marvel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis.“Jadi kamu suami nggak bertanggung jawab yang dimaksud saudari Delvy?”“Istrimu keguguran dan dirawat di rumah sakit ini begitu lama, tapi kamu nggak menjenguknya

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 4

    Aku tersenyum, lalu menjelaskan asal, “Namanya juga ibu hamil, emosinya memang nggak stabil. Sebentar lagi juga baikan.”Marvel menghela napas lega.“Baguslah kalau begitu. Aku lupa tanya tadi, kamu suka liontin model apa?”“Bagaimana kalau motif awan ditambah tulisan bahagia? Sekarang pengawasan sedang ketat, lebih baik motifnya yang sederhana saja.”Aku terdiam sejenak. Tak menyangka dia begitu perhatian soal ini.Seandainya saja dari dulu dia sepeduli ini.“Boleh, kamu saja yang memutuskan.”Marvel mengangguk, lalu pergi setelah memastikan pilihannya.Namun, sebelum menutup pintu, dia kembali memastikan, “Kamu benaran nggak apa-apa?”Aku sempat membuka mulut, tiba-tiba ada secercah harapan muncul di hatiku.“Kalau aku ada masalah, kamu bisa menemaniku?”Marvel terdiam sesaat, lalu malah tertawa, “Delvy, jangan bercanda. Luna masih menungguku di rumah sakit.”“Tidurlah lebih awal, aku pergi dulu.”Begitu pintu tertutup, aku tak bisa lagi menahan tangis. Aku menangis sesenggukan.M

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status