Short
Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal

Suamiku Merasa Jijik Saat Aku Hamil, Setelah Bercerai Dia Menyesal

By:  FlashbackCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat hamil tujuh bulan, suamiku, Ben Harsono, menganggap aku kotor. “Jangan sentuh aku!” Di depan pintu masuk, ia mendorongku dengan jijik. “Bau minyak dapur, menjijikkan.” Mertuaku keluar dari kamar setelah mendengar keributan. Ia pun menyerahkan semangkuk sup sarang burung yang baru direbus kepada Ben. “Sandra, kamu tidak tahu kalau Ben punya germofobia? Sudah hamil begini masih tidak bisa menjaga kebersihan?” “Ben sudah lelah bekerja, tidak bisakah kamu membuatnya lebih tenang?” Aku memandang ibu dan anak itu dengan perut yang terasa mual dan bergejolak. Saat aku berbalik, layar ponselku menyala. Sebuah foto terpampang jelas. Itu adalah asisten baru Ben, Lina. Di foto, wanita itu bersandar mesra di bahu Ben, tersenyum cerah. Latar tempatnya ... kamar tidurku.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Ben, apa maksudmu?”

Pertanyaanku lirih, tetapi cukup membuat ibu dan anak yang duduk di ruang tamu itu berhenti bergerak bersamaan.

Ben melempar tisu basah yang baru dipakainya dengan tepat ke tempat sampah.

“Kamu tidak mengerti bahasa manusia?”

“Aku bilang jangan sentuh aku.”

Nada suaranya penuh dengan rasa jengkel tanpa ditutupi sedikit pun. Setiap katanya seperti jarum es yang menusuk kulitku.

Mertuaku pun segera ikut menyahut, “Waktu aku hamil dulu, aku tetap mengurus semua pekerjaan rumah untuk suamiku. Bahkan sandal suamiku pun aku cuci sendiri.”

“Kalau kamu? Jadi ibu rumah tangga saja tidak becus. Berantakan seharian, pantas saja Ben tidak menyukaimu.”

Melihat ibu dan anak itu kompak menyerangku, aku justru tersenyum.

Celemek yang kupakai itu terciprat noda minyak saat memasak untuk Ben.

Gaun katun longgarku juga kupakai untuk menutupi perutku yang sedang mengandung anak Ben.

Dan sandal terbuka agar kakiku yang bengkak karena hamil mudah keluar-masuk.

Itulah yang ia sebut berantakan.

“Mengenai Ben punya germofobia, aku lebih tahu dari siapa pun.

Karena itu setiap hari aku mengepel lantai tiga kali dengan disinfektan. Piring dan sumpit selalu aku masukkan ke lemari sterilisasi. Bahkan tidak ada setitik debu pun di sudut rumah.”

“Apa Ibu tidak bisa melihatnya?”

Mertuaku terdiam sesaat karena tak mampu membalas, lalu wajahnya memerah marah.

“Kamu menjemur baju bayi di balkon, tahu tidak berapa banyak debu dan bakteri yang menempel?”

Ia menunjuk ke arah balkon.

Di sana tergantung pakaian bayi yang baru saja aku cuci dan keringkan hari ini.

Setiap helainya aku cuci sendiri, menggunakan detergen khusus bayi yang paling mahal.

Sekarang, di mulut mereka, itu pun berubah menjadi bukti kalau aku tidak bersih.

“Cuci ulang pakaian itu.” Ben berkata dingin.

“Siram dengan air mendidih, lalu masukkan ke pengering. Jangan pernah jemur di luar lagi.”

“Menjijikkan.”

Rasa jijik yang tak ditutup-tutupi itu membuat jantungku terasa diremas.

Aku hanya berdiri di tempat, tak bergerak.

“Ben, pakaian itu bersih.”

“Sebenarnya apa yang kamu ributkan?”

Ia akhirnya mengangkat kepala dan menatapku. Wajah yang dulu membuatku jatuh hati itu kini hanya menyisakan ekspresi dingin dan rasa jijik.

“Aku ribut?”

“Sandra, kamu yang makin lama makin tidak masuk akal.”

“Aku hanya menuntut sedikit soal kualitas hidup. Apa itu salah?”

“Kamu boleh saja tidak peduli, tapi jangan seret anakku untuk hidup bersamamu di tumpukan sampah.”

Tumpukan sampah ....

Rumah yang aku anggap harta paling berharga, yang setiap hari aku rawat dengan sepenuh hati, di mulut Ben berubah menjadi tumpukan sampah.

Tubuhku gemetar karena marah.

“Di matamu, bersih itu apa?”

“Apa jika aku menghilang, rumah ini baru bisa dianggap benar-benar bersih?”

Pertanyaanku membuat Ben murka.

“Kamu menggila karena apa lagi sekarang?!”

“Benar-benar tidak masuk akal!”

Ia tiba-tiba berdiri. Karena gerakannya terlalu kasar, sebuah pot tanaman di sampingnya tersenggol hingga jatuh.

Pot itu pecah. Tanah dan serpihannya pun berserakan di lantai.

Ben segera melompat menjauh, lalu menunjuk kekacauan itu sambil berteriak padaku, “Kenapa hanya berdiri? Cepat bersihkan!”

“Melihat saja sudah bikin kesal!”

Mertuaku ikut menimpali, “Benar. Tidak peka sama sekali! Keluarga kami benar-benar sial menikahimu!”

Aku memandang lantai yang berantakan, lalu melihat wajah ibu dan anak itu yang sama-sama sinis dan penuh kepahitan.

Tanpa berkata apa-apa, aku berjalan ke dapur dan menuang empat lauk dan satu sup yang baru saja kumasak ke dalam tempat sampah.

Ben mendengar suaranya dan bergegas ke depan pintu dapur.

“Apa yang kamu lakukan?!”

“Aku belum makan!”

Aku berbalik dan menatapnya dengan tenang.

“Terlalu kotor.”

“Aku takut perut Anda yang terhormat, sakit kalau memakannya.”

Setelah berkata demikian, aku melepas celemek dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu aku masuk ke kamar tidur, menutup pintu, dan menguncinya dari dalam.

“Kamu!”

Ben yang murka hendak mengejar, tetapi terhalang pintu.

Aku bersandar pada daun pintu, tubuhku perlahan meluncur turun hingga terduduk di lantai.

Di layar ponselku, wajah menantang milik Lina masih menyala terang.

Aku mengangkat ponsel, pesan itu tidak aku hapus, tidak pula kubalas.

Aku hanya menyimpan foto itu, bersama kalimat jahat yang menyertainya.

Lalu, aku membuka ruang percakapan yang lain.

[Sudah tidur? Tolong bantu aku selidiki seseorang.]

[Aku mau bercerai.]
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status