Share

Bab 4

Author: Rain
Aku tersenyum, lalu menjelaskan asal,

“Namanya juga ibu hamil, emosinya memang nggak stabil. Sebentar lagi juga baikan.”

Marvel menghela napas lega.

“Baguslah kalau begitu. Aku lupa tanya tadi, kamu suka liontin model apa?”

“Bagaimana kalau motif awan ditambah tulisan bahagia? Sekarang pengawasan sedang ketat, lebih baik motifnya yang sederhana saja.”

Aku terdiam sejenak. Tak menyangka dia begitu perhatian soal ini.

Seandainya saja dari dulu dia sepeduli ini.

“Boleh, kamu saja yang memutuskan.”

Marvel mengangguk, lalu pergi setelah memastikan pilihannya.

Namun, sebelum menutup pintu, dia kembali memastikan,

“Kamu benaran nggak apa-apa?”

Aku sempat membuka mulut, tiba-tiba ada secercah harapan muncul di hatiku.

“Kalau aku ada masalah, kamu bisa menemaniku?”

Marvel terdiam sesaat, lalu malah tertawa,

“Delvy, jangan bercanda. Luna masih menungguku di rumah sakit.”

“Tidurlah lebih awal, aku pergi dulu.”

Begitu pintu tertutup, aku tak bisa lagi menahan tangis. Aku menangis sesenggukan.

Menangisi diriku yang buta karena mau menikah dengan Marvel.

Menangisi diriku yang masih saja terus-menerus menaruh harapan padanya.

Padahal, aku sudah tahu bagaimana akhirnya sejak awal, ‘kan?

Malam itu, aku merapikan semua barang bawaanku.

Permohonan cerai memang belum disetujui.

Namun, aku benar-benar sudah kehabisan tenaga.

Sebelum tidur, aku mengeluarkan botol berisi kacang kedelai itu dan merendamnya semalaman.

Keesokan harinya, sambil memakan bubur kacang kedelai yang sudah lunak, aku menerima pesan dari Marvel.

Dia menyuruh orang untuk memberitahuku bahwa liontinnya sudah dibeli.

Dia memintaku datang ke rumah sakit untuk mengambilnya.

Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju ruang rawat Luna.

Marvel tidak ada di sana, sepertinya sedang pergi membeli makanan.

Luna bertanya padaku sambil tersenyum,

“Kak Delvy, ada urusan apa mencari Marvel?”

Aku tersenyum paksa, tapi nadaku tetap tenang,

“Aku ke sini untuk ambil liontin, kamu tahu Marvel letak di mana?”

Luna berlagak kaget sambil mengeluarkan kakinya dari balik selimut.

Di pergelangan kakinya melingkar seutas tali merah dan di sana menggantung sebuah liontin yang cantik.

Motif awan dan tulisan bahagia, persis seperti yang dijanjikan Marvel padaku.

“Maksudmu yang ini? Kak Marvel memberikannya padaku untuk dijadikan gelang kaki, bagus nggak?”

Luna tersenyum bangga, sementara aku hampir kehilangan akal sehat.

Anakku sudah tiada, suamiku tak mencintaiku.

Aku hanya menginginkan sebuah liontin saja.

Aku hanya ingin… agar anak yang tak sempat lahir itu….

Bisa membawa doa ayahnya di alam sana… hanya itu saja….

Entah bagaimana caranya aku meninggalkan rumah sakit.

Yang aku tahu, saat sampai di rumah, suaraku sudah habis karena menangis, tak bisa mengeluarkan suara lagi.

Di rumah, aku mengambil kertas surat dan mencatat hal-hal yang belum sempat kuselesaikan.

Berharap setelah aku pergi nanti, Marvel akan mengingat kenangan hubungan suami istri kami, bisa membantuku menyelesaikannya.

Setelah memastikan tidak ada yang terlewat, aku membawa koperku dan meninggalkan komplek militer.

Seorang petugas penjaga yang baru saja berganti shift dengan ramah menawarkan bantuan untuk membawakan koperku, tapi aku menolaknya.

Jalan ke depannya….

Aku hanya ingin melangkah sendiri.

Di sisi lain, Marvel yang baru kembali setelah membeli makanan meletakkan kotak makannya.

“Luna, tadi sewaktu aku nggak ada, Delvy ada datang ke sini?”

Luna tersenyum, lalu menyembunyikan kakinya kembali ke balik selimut.

“Nggak ada, nggak ada yang datang dari tadi.”

Marvel mengangguk, lalu membuka kotak makan.

“Kamu makan dulu. Liontinku sudah kamu simpan dengan baik?”

“Sore ini aku mau pulang sebentar untuk memberikannya pada Delvy.”

Luna bergumam mengiyakan, sambil menerima kotak makan itu.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu.

Seorang perawat masuk dan bertanya,

“Siapa di sini keluarga dari Delvy? Dia lupa ambil obat pasca kegugurannya.”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 9

    Luna tetap bersikeras tak mau minta maaf, bahkan sampai membuat keributan besar di rumah sakit, hingga akhirnya dirinya dibawa ke kantor polisi.Saat tiba di kantor polisi, ternyata perasaan Marvel sangat datar.Sejak dia membaca surat dariku kemarin, dia mulai mengintrospeksi diri. Dia banyak merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan Luna dan juga tentangku.Semakin dipikirkan, dia semakin panik.Semakin dipikirkan, dirinya pun semakin muak pada Luna.Namun, setiap kali dirinya ingat bahwa Luna adalah seorang pasien, Marvel terpaksa menekan rasa muak itu jauh-jauh di dalam hatinya dan hal itu membuatnya sangat tersiksa.Dia masih ingin mencariku, ingin kembali bersamaku.Dia ingin menebus segala kesalahannya.Namun, aku sudah bilang tak ingin melihatnya lagi selamanya.Dulu, dia mengira bahwa saat Luna mencoba mengakhiri hidupnya, dirinya merasa paling sakit hati.Namun, sekarang dia sadar.Hal yang paling membuatnya menderita adalah kepergianku.Namun, semuanya sudah terlambat.Kepa

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 8

    Sayangnya, semua ini tak ada hubungannya lagi denganku.Di sisi lain, Marvel tiba di rumah.“Delvy! Delvy!”“Aku sudah tahu salah, Delvy! Maafkan aku!”“Liontin yang kamu minta sudah kubelikan! Delvy!”Namun, sekeras apapun Marvel berteriak, tidak ada seorang pun yang menjawab.Seketika, rasa panik menyelimuti hatinya.Ruang tamu, dapur, kamar tidur….Tidak ada orang.Semuanya kosong.Teringat sesuatu, Marvel segera membuka lemari pakaian.Pakaian di dalamnya sudah berkurang separuh.Semua barang milikku sudah tidak ada, hanya tersisa sebuah gaun merah terang.Gaun itu dibelikan Marvel saat kami menikah dulu.Saat itu, usiaku sembilan belas tahun.Aku bilang, “Kak Marvel, saat kita menikah nanti, bisakah kamu belikan gaun merah untukku?”“Ibuku bilang saat menikah, pengantin wanita harus memakai warna merah, biar kehidupan setelah menikah bisa bahagia dan harmonis.”Marvel menyetujuinya.Dan aku pun berhasil mengenakan gaun merah yang cantik itu di hari pernikahan kami, sesuai impiank

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 7

    Luna langsung berjongkok, berusaha menutupi tali merah di pergelangan kakinya.“Nggak… nggak ada….”Wajah Marvel memuram, tatapannya menjadi tajam.“Mana liontin yang kusuruh kamu simpan? Keluarkan.”Luna menunduk karena merasa bersalah, dia tak berani menatap mata Marvel.“Marvel, hanya sebuah liontin saja, aku….”“Aku bilang sekali lagi, keluarkan.”Marvel menatap Luna, seolah ada badai yang siap meledak di matanya.Akhirnya Luna panik.Dia berdiri dan mundur dengan gelisah.Itu justru memperlihatkan liontin di pergelangan kakinya.Motif awan dan tulisan bahagia, persis seperti yang dibeli Marvel.Marvel langsung maju dan merenggut paksa liontin itu dari kaki Luna. Ujung jarinya sampai memutih karena mengepal terlalu kuat.“Bu perawat, tadi kamu bilang… Delvy datang ke sini?”Rina mengerutkan kening.“Delvy yang mana? Saudari Delvy? Dia datang tadi.”“Aku melihatnya keluar dari ruang rawat ini di koridor, makanya aku teringat untuk mencari kalian.Luna melototi Rina, lalu mencoba mer

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 6

    Sedikit saja melesat, pasti sudah melukai matanya.“Rina, apa yang terjadi?”Kepala perawat bertanya dengan nada khawatir, sambil menyeka luka itu hati-hati dengan kapas alkohol.Rina baru saja diterima bekerja di rumah sakit tahun ini. Usianya baru sembilan belas tahun dan belum menikah.Sekarang wajahnya malah terluka, kalau sampai berbekas, itu bisa memengaruhi kepercayaan dirinya saat mencari pasangan nanti.Rina menyadari hal itu. Begitu melihat kepala perawat, matanya langsung berkaca-kaca dan berkata, “Bu, dia yang melempar barang ke arahku.”Dia menunjuk ke arah Luna dengan wajah yang tampak terluka.Tatapan kepala perawat langsung menjadi dingin.“Bu, bisa jelaskan ini?”“Hidup di zaman ini, melukai orang tanpa alasan itu ada konsekuensi hukumnya.”Luna mulai tenang, tapi mendengar kata-kata itu, kilatan panik muncul di matanya. Secara reflek, dia menatap Marvel, berharap pria itu akan membelanya.Melihat tatapan itu, Marvel pun secara otomatis hendak membela.“Luna bukan sen

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 5

    “Prang!”Kotak makan itu jatuh ke lantai, menimbulkan suara dentingan yang nyaring.Makanan tumpah berserakan di mana-mana, tapi tak ada satu pun yang peduli.Marvel tiba-tiba berdiri, bertanya dengan nada tidak percaya, “Apa… apa kamu bilang?”Perawat itu tersentak kaget, menatapnya dengan heran.“Kamu keluarga dari saudari Delvy?”“Saudari Delvy beberapa hari yang lalu dirawat karena keguguran dan dia lupa mengambil obatnya.”“Tadi aku baru saja melihat dia keluar dari ruang rawat ini, makanya aku mampir untuk bertanya.”“Siapa di antara kalian yang merupakan keluarganya?”Marvel membuka mulutnya, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat muram.“Aku… aku suaminya.”Mendengar hal itu, sikap perawat yang tadinya ramah langsung berubah drastis.Dia memerhatikan Marvel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis.“Jadi kamu suami nggak bertanggung jawab yang dimaksud saudari Delvy?”“Istrimu keguguran dan dirawat di rumah sakit ini begitu lama, tapi kamu nggak menjenguknya

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 4

    Aku tersenyum, lalu menjelaskan asal, “Namanya juga ibu hamil, emosinya memang nggak stabil. Sebentar lagi juga baikan.”Marvel menghela napas lega.“Baguslah kalau begitu. Aku lupa tanya tadi, kamu suka liontin model apa?”“Bagaimana kalau motif awan ditambah tulisan bahagia? Sekarang pengawasan sedang ketat, lebih baik motifnya yang sederhana saja.”Aku terdiam sejenak. Tak menyangka dia begitu perhatian soal ini.Seandainya saja dari dulu dia sepeduli ini.“Boleh, kamu saja yang memutuskan.”Marvel mengangguk, lalu pergi setelah memastikan pilihannya.Namun, sebelum menutup pintu, dia kembali memastikan, “Kamu benaran nggak apa-apa?”Aku sempat membuka mulut, tiba-tiba ada secercah harapan muncul di hatiku.“Kalau aku ada masalah, kamu bisa menemaniku?”Marvel terdiam sesaat, lalu malah tertawa, “Delvy, jangan bercanda. Luna masih menungguku di rumah sakit.”“Tidurlah lebih awal, aku pergi dulu.”Begitu pintu tertutup, aku tak bisa lagi menahan tangis. Aku menangis sesenggukan.M

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status