Compartilhar

Bab 2

Autor: Rain
“Delvy, jelas-jelas kamu tahu kalau Luna itu depresi, kok kamu masih saja memancing emosinya?!”

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Luna, aku nggak akan pernah memaafkanmu!”

“Anggap saja ini hukuman untukmu. Mulai sekarang, jauh-jauh dari Luna.”

Setelah membentakku, dia langsung menggendong Luna masuk ke mobil Jeep.

Pada akhirnya, malah orang asing yang baik hati yang tidak tega melihatku, membawaku ke rumah sakit.

Dokter memberitahu bahwa aku keguguran.

Saat terbaring di ranjang rumah sakit, bayangan saat Marvel meninggalkanku terus berputar di kepala, hingga air mata mengaburkan pandanganku.

Marvel, aku janji padamu.

Mulai sekarang, aku tidak akan pernah lagi mendekati kalian.

Kamu… sudah bebas.

….

Kenangan itu pun terputus.

Marvel seolah tidak menyadari betapa pucatnya wajahku. Dia malah mengingatkanku dengan datar,

“Kalau nggak ada urusan lagi, pulang saja. Bagaimanapun kamu itu keluarga tentara, sadar dirilah sedikit, jangan menyia-nyiakan fasilitas medis.”

Aku mengangguk.

“Iya,” jawabku.

Marvel melanjutkan,

“Beberapa hari ke depan aku harus menemani Luna, jadi kalau nggak ada urusan, jangan cari aku.”

Aku mengangguk lagi.

“Iya,” jawabku lagi.

Mungkin karena reaksiku yang terlalu tenang, Marvel malah sempat terdiam.

Dia melepaskan tangannya yang sedang melindungi Luna, lalu maju dua langkah mendekatiku.

“Kondisimu… baik-baik saja, ‘kan?”

“Tunggu setelah emosi Luna agak stabil, aku akan menemanimu cek kehamilan.”

Aku hanya mengiyakan, pura-pura tidak melihat tatapan benci dan dengki dari Luna.

Saat kami berpapasan, aku mencium aroma parfum dari tubuh Marvel.

Aroma bunga mawar yang samar.

Itu adalah aroma minyak rambut yang biasa dipakai Luna.

Selama hari-hari di rumah sakit ini, Marvel pasti sering memeluk Luna.

Jika tidak, mana mungkin aromanya sampai meresap ke bajunya seperti ini?

Sesampainya di rumah, Kak Vena, tetangga sebelah kebetulan sedang keluar rumah.

Melihat wajahku yang pucat, dia kaget bukan main.

“Aduh Delvy, kok wajahmu pucat sekali?”

“Apa yang terjadi?”

Aku tersenyum tipis, tapi mataku tak bisa menahan rasa perih hingga berkaca-kaca.

Ternyata, wajahku memang sepucat itu.

Ternyata orang lain pun bisa menyadari bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Namun, kenapa Marvel tak bisa menyadarinya?

Sudah tujuh hari, bahkan satu kalimat perhatian saja… tidak ada.

Melihatku terdiam, Kak Vena tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya memapahku masuk ke rumah dan menyuruhku duduk dengan hati-hati.

Malam harinya, Kak Vena membawakan semangkuk besar sup ayam untukku.

“Delvy, badanmu memang lemah, apalagi sekarang sedang hamil, cepat makan ini untuk memulihkan tenaga.”

Suami Kak Vena juga seorang tentara, tapi mereka punya banyak anak, jadi uang tunjangan mereka tak pernah cukup.

Setiap bulan mereka harus mengandalkan telur ayam untuk ditukar dengan kebutuhan sehari-hari demi meringankan beban keluarga.

Setelah berterima kasih pada Kak Vena, aku duduk di meja makan dan melamun cukup lama.

Aku tak mengerti.

Kenapa tetangga saja bisa begitu peduli padaku, tapi suamiku sendiri malah berkali-kali mencampakkanku dan tak peduli?

Pernikahan ini benar-benar terasa konyol.

Aku menghela napas, lalu dengan perlahan mengangkat mangkuk sup itu ke mulutku.

Baru saja hendak meminumnya, tiba-tiba pintu di halaman terbuka.

“Delvy, aku sudah pulang.”

Marvel berjalan masuk sambil membawa beberapa pakaian ganti.

Aku menatapnya dengan heran.

“Kok pulang? Nggak perlu menemani Luna?”

Marvel menaruh pakaiannya dan menjawab santai,

“Kata dokter penyakit Luna nggak berat, tapi aku masih nggak tenang, jadi membiarkan dia dirawat beberapa hari lagi.”

“Makanya aku pulang sebentar untuk mengambil perlengkapan sehari-hari.”

Aku bergumam menjawabnya, tapi hatiku terus memikirkan kata-katanya tadi siang.

“Kalau nggak ada urusan lagi, pulang saja. Jangan menyia-nyiakan fasilitas medis.”

Ternyata kalau demi Luna….

Semuanya jadi berbeda.

Mungkin karena hatiku sudah benar-benar mati, aku bahkan tak punya tenaga lagi untuk berdebat.

Aku menundukkan pandangan dan bersiap lanjut meminum supku, tapi Marvel yang sudah selesai membereskan barang-barangnya tiba-tiba berbicara.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 9

    Luna tetap bersikeras tak mau minta maaf, bahkan sampai membuat keributan besar di rumah sakit, hingga akhirnya dirinya dibawa ke kantor polisi.Saat tiba di kantor polisi, ternyata perasaan Marvel sangat datar.Sejak dia membaca surat dariku kemarin, dia mulai mengintrospeksi diri. Dia banyak merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan Luna dan juga tentangku.Semakin dipikirkan, dia semakin panik.Semakin dipikirkan, dirinya pun semakin muak pada Luna.Namun, setiap kali dirinya ingat bahwa Luna adalah seorang pasien, Marvel terpaksa menekan rasa muak itu jauh-jauh di dalam hatinya dan hal itu membuatnya sangat tersiksa.Dia masih ingin mencariku, ingin kembali bersamaku.Dia ingin menebus segala kesalahannya.Namun, aku sudah bilang tak ingin melihatnya lagi selamanya.Dulu, dia mengira bahwa saat Luna mencoba mengakhiri hidupnya, dirinya merasa paling sakit hati.Namun, sekarang dia sadar.Hal yang paling membuatnya menderita adalah kepergianku.Namun, semuanya sudah terlambat.Kepa

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 8

    Sayangnya, semua ini tak ada hubungannya lagi denganku.Di sisi lain, Marvel tiba di rumah.“Delvy! Delvy!”“Aku sudah tahu salah, Delvy! Maafkan aku!”“Liontin yang kamu minta sudah kubelikan! Delvy!”Namun, sekeras apapun Marvel berteriak, tidak ada seorang pun yang menjawab.Seketika, rasa panik menyelimuti hatinya.Ruang tamu, dapur, kamar tidur….Tidak ada orang.Semuanya kosong.Teringat sesuatu, Marvel segera membuka lemari pakaian.Pakaian di dalamnya sudah berkurang separuh.Semua barang milikku sudah tidak ada, hanya tersisa sebuah gaun merah terang.Gaun itu dibelikan Marvel saat kami menikah dulu.Saat itu, usiaku sembilan belas tahun.Aku bilang, “Kak Marvel, saat kita menikah nanti, bisakah kamu belikan gaun merah untukku?”“Ibuku bilang saat menikah, pengantin wanita harus memakai warna merah, biar kehidupan setelah menikah bisa bahagia dan harmonis.”Marvel menyetujuinya.Dan aku pun berhasil mengenakan gaun merah yang cantik itu di hari pernikahan kami, sesuai impiank

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 7

    Luna langsung berjongkok, berusaha menutupi tali merah di pergelangan kakinya.“Nggak… nggak ada….”Wajah Marvel memuram, tatapannya menjadi tajam.“Mana liontin yang kusuruh kamu simpan? Keluarkan.”Luna menunduk karena merasa bersalah, dia tak berani menatap mata Marvel.“Marvel, hanya sebuah liontin saja, aku….”“Aku bilang sekali lagi, keluarkan.”Marvel menatap Luna, seolah ada badai yang siap meledak di matanya.Akhirnya Luna panik.Dia berdiri dan mundur dengan gelisah.Itu justru memperlihatkan liontin di pergelangan kakinya.Motif awan dan tulisan bahagia, persis seperti yang dibeli Marvel.Marvel langsung maju dan merenggut paksa liontin itu dari kaki Luna. Ujung jarinya sampai memutih karena mengepal terlalu kuat.“Bu perawat, tadi kamu bilang… Delvy datang ke sini?”Rina mengerutkan kening.“Delvy yang mana? Saudari Delvy? Dia datang tadi.”“Aku melihatnya keluar dari ruang rawat ini di koridor, makanya aku teringat untuk mencari kalian.Luna melototi Rina, lalu mencoba mer

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 6

    Sedikit saja melesat, pasti sudah melukai matanya.“Rina, apa yang terjadi?”Kepala perawat bertanya dengan nada khawatir, sambil menyeka luka itu hati-hati dengan kapas alkohol.Rina baru saja diterima bekerja di rumah sakit tahun ini. Usianya baru sembilan belas tahun dan belum menikah.Sekarang wajahnya malah terluka, kalau sampai berbekas, itu bisa memengaruhi kepercayaan dirinya saat mencari pasangan nanti.Rina menyadari hal itu. Begitu melihat kepala perawat, matanya langsung berkaca-kaca dan berkata, “Bu, dia yang melempar barang ke arahku.”Dia menunjuk ke arah Luna dengan wajah yang tampak terluka.Tatapan kepala perawat langsung menjadi dingin.“Bu, bisa jelaskan ini?”“Hidup di zaman ini, melukai orang tanpa alasan itu ada konsekuensi hukumnya.”Luna mulai tenang, tapi mendengar kata-kata itu, kilatan panik muncul di matanya. Secara reflek, dia menatap Marvel, berharap pria itu akan membelanya.Melihat tatapan itu, Marvel pun secara otomatis hendak membela.“Luna bukan sen

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 5

    “Prang!”Kotak makan itu jatuh ke lantai, menimbulkan suara dentingan yang nyaring.Makanan tumpah berserakan di mana-mana, tapi tak ada satu pun yang peduli.Marvel tiba-tiba berdiri, bertanya dengan nada tidak percaya, “Apa… apa kamu bilang?”Perawat itu tersentak kaget, menatapnya dengan heran.“Kamu keluarga dari saudari Delvy?”“Saudari Delvy beberapa hari yang lalu dirawat karena keguguran dan dia lupa mengambil obatnya.”“Tadi aku baru saja melihat dia keluar dari ruang rawat ini, makanya aku mampir untuk bertanya.”“Siapa di antara kalian yang merupakan keluarganya?”Marvel membuka mulutnya, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat muram.“Aku… aku suaminya.”Mendengar hal itu, sikap perawat yang tadinya ramah langsung berubah drastis.Dia memerhatikan Marvel dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis.“Jadi kamu suami nggak bertanggung jawab yang dimaksud saudari Delvy?”“Istrimu keguguran dan dirawat di rumah sakit ini begitu lama, tapi kamu nggak menjenguknya

  • Jika Tak Bisa Dipertahankan   Bab 4

    Aku tersenyum, lalu menjelaskan asal, “Namanya juga ibu hamil, emosinya memang nggak stabil. Sebentar lagi juga baikan.”Marvel menghela napas lega.“Baguslah kalau begitu. Aku lupa tanya tadi, kamu suka liontin model apa?”“Bagaimana kalau motif awan ditambah tulisan bahagia? Sekarang pengawasan sedang ketat, lebih baik motifnya yang sederhana saja.”Aku terdiam sejenak. Tak menyangka dia begitu perhatian soal ini.Seandainya saja dari dulu dia sepeduli ini.“Boleh, kamu saja yang memutuskan.”Marvel mengangguk, lalu pergi setelah memastikan pilihannya.Namun, sebelum menutup pintu, dia kembali memastikan, “Kamu benaran nggak apa-apa?”Aku sempat membuka mulut, tiba-tiba ada secercah harapan muncul di hatiku.“Kalau aku ada masalah, kamu bisa menemaniku?”Marvel terdiam sesaat, lalu malah tertawa, “Delvy, jangan bercanda. Luna masih menungguku di rumah sakit.”“Tidurlah lebih awal, aku pergi dulu.”Begitu pintu tertutup, aku tak bisa lagi menahan tangis. Aku menangis sesenggukan.M

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status