Aku tersenyum, lalu menjelaskan asal, “Namanya juga ibu hamil, emosinya memang nggak stabil. Sebentar lagi juga baikan.”Marvel menghela napas lega.“Baguslah kalau begitu. Aku lupa tanya tadi, kamu suka liontin model apa?”“Bagaimana kalau motif awan ditambah tulisan bahagia? Sekarang pengawasan sedang ketat, lebih baik motifnya yang sederhana saja.”Aku terdiam sejenak. Tak menyangka dia begitu perhatian soal ini.Seandainya saja dari dulu dia sepeduli ini.“Boleh, kamu saja yang memutuskan.”Marvel mengangguk, lalu pergi setelah memastikan pilihannya.Namun, sebelum menutup pintu, dia kembali memastikan, “Kamu benaran nggak apa-apa?”Aku sempat membuka mulut, tiba-tiba ada secercah harapan muncul di hatiku.“Kalau aku ada masalah, kamu bisa menemaniku?”Marvel terdiam sesaat, lalu malah tertawa, “Delvy, jangan bercanda. Luna masih menungguku di rumah sakit.”“Tidurlah lebih awal, aku pergi dulu.”Begitu pintu tertutup, aku tak bisa lagi menahan tangis. Aku menangis sesenggukan.M
Read more