LOGINSuamiku, sang komandan berjanji padaku bahwa dia hanya akan menemani cinta pertamanya yang depresi sebanyak sembilan puluh sembilan kali. Namun, tepat saat aku selesai mencatat kali kesembilan puluh sembilan itu, aku malah melihatnya sedang memeluk cinta pertamanya erat-erat. Setelah itu, aku tak lagi menangis atau menahannya setiap kali dia ingin pergi menemui cinta pertamanya itu. Aku hanya meminta sebuah liontin kalung darinya, sebagai hadiah untuk anak kami yang akan segera lahir. Begitu membahas soal anak, ekspresi suamiku langsung melembut, “Tunggu aku pulang, ya. Aku akan menemanimu untuk cek kehamilan di rumah sakit.” Aku hanya menjawab dengan patuh. Aku tak memberitahunya bahwa sepuluh hari yang lalu, aku sudah mengajukan permohonan cerai. Sekarang, sebenarnya status kami sudah resmi bercerai.
View MoreLuna tetap bersikeras tak mau minta maaf, bahkan sampai membuat keributan besar di rumah sakit, hingga akhirnya dirinya dibawa ke kantor polisi.Saat tiba di kantor polisi, ternyata perasaan Marvel sangat datar.Sejak dia membaca surat dariku kemarin, dia mulai mengintrospeksi diri. Dia banyak merenungkan hal-hal yang berkaitan dengan Luna dan juga tentangku.Semakin dipikirkan, dia semakin panik.Semakin dipikirkan, dirinya pun semakin muak pada Luna.Namun, setiap kali dirinya ingat bahwa Luna adalah seorang pasien, Marvel terpaksa menekan rasa muak itu jauh-jauh di dalam hatinya dan hal itu membuatnya sangat tersiksa.Dia masih ingin mencariku, ingin kembali bersamaku.Dia ingin menebus segala kesalahannya.Namun, aku sudah bilang tak ingin melihatnya lagi selamanya.Dulu, dia mengira bahwa saat Luna mencoba mengakhiri hidupnya, dirinya merasa paling sakit hati.Namun, sekarang dia sadar.Hal yang paling membuatnya menderita adalah kepergianku.Namun, semuanya sudah terlambat.Kepa
Sayangnya, semua ini tak ada hubungannya lagi denganku.Di sisi lain, Marvel tiba di rumah.“Delvy! Delvy!”“Aku sudah tahu salah, Delvy! Maafkan aku!”“Liontin yang kamu minta sudah kubelikan! Delvy!”Namun, sekeras apapun Marvel berteriak, tidak ada seorang pun yang menjawab.Seketika, rasa panik menyelimuti hatinya.Ruang tamu, dapur, kamar tidur….Tidak ada orang.Semuanya kosong.Teringat sesuatu, Marvel segera membuka lemari pakaian.Pakaian di dalamnya sudah berkurang separuh.Semua barang milikku sudah tidak ada, hanya tersisa sebuah gaun merah terang.Gaun itu dibelikan Marvel saat kami menikah dulu.Saat itu, usiaku sembilan belas tahun.Aku bilang, “Kak Marvel, saat kita menikah nanti, bisakah kamu belikan gaun merah untukku?”“Ibuku bilang saat menikah, pengantin wanita harus memakai warna merah, biar kehidupan setelah menikah bisa bahagia dan harmonis.”Marvel menyetujuinya.Dan aku pun berhasil mengenakan gaun merah yang cantik itu di hari pernikahan kami, sesuai impiank
Luna langsung berjongkok, berusaha menutupi tali merah di pergelangan kakinya.“Nggak… nggak ada….”Wajah Marvel memuram, tatapannya menjadi tajam.“Mana liontin yang kusuruh kamu simpan? Keluarkan.”Luna menunduk karena merasa bersalah, dia tak berani menatap mata Marvel.“Marvel, hanya sebuah liontin saja, aku….”“Aku bilang sekali lagi, keluarkan.”Marvel menatap Luna, seolah ada badai yang siap meledak di matanya.Akhirnya Luna panik.Dia berdiri dan mundur dengan gelisah.Itu justru memperlihatkan liontin di pergelangan kakinya.Motif awan dan tulisan bahagia, persis seperti yang dibeli Marvel.Marvel langsung maju dan merenggut paksa liontin itu dari kaki Luna. Ujung jarinya sampai memutih karena mengepal terlalu kuat.“Bu perawat, tadi kamu bilang… Delvy datang ke sini?”Rina mengerutkan kening.“Delvy yang mana? Saudari Delvy? Dia datang tadi.”“Aku melihatnya keluar dari ruang rawat ini di koridor, makanya aku teringat untuk mencari kalian.Luna melototi Rina, lalu mencoba mer
Sedikit saja melesat, pasti sudah melukai matanya.“Rina, apa yang terjadi?”Kepala perawat bertanya dengan nada khawatir, sambil menyeka luka itu hati-hati dengan kapas alkohol.Rina baru saja diterima bekerja di rumah sakit tahun ini. Usianya baru sembilan belas tahun dan belum menikah.Sekarang wajahnya malah terluka, kalau sampai berbekas, itu bisa memengaruhi kepercayaan dirinya saat mencari pasangan nanti.Rina menyadari hal itu. Begitu melihat kepala perawat, matanya langsung berkaca-kaca dan berkata, “Bu, dia yang melempar barang ke arahku.”Dia menunjuk ke arah Luna dengan wajah yang tampak terluka.Tatapan kepala perawat langsung menjadi dingin.“Bu, bisa jelaskan ini?”“Hidup di zaman ini, melukai orang tanpa alasan itu ada konsekuensi hukumnya.”Luna mulai tenang, tapi mendengar kata-kata itu, kilatan panik muncul di matanya. Secara reflek, dia menatap Marvel, berharap pria itu akan membelanya.Melihat tatapan itu, Marvel pun secara otomatis hendak membela.“Luna bukan sen
Aku tersenyum, lalu menjelaskan asal, “Namanya juga ibu hamil, emosinya memang nggak stabil. Sebentar lagi juga baikan.”Marvel menghela napas lega.“Baguslah kalau begitu. Aku lupa tanya tadi, kamu suka liontin model apa?”“Bagaimana kalau motif awan ditambah tulisan bahagia? Sekarang pengawasan s
“Kamu masak sup ayam?”“Kamu jangan minum dulu. Kondisi Luna lagi lemah, kebetulan bisa minum sup ayam untuk memulihkan tubuhnya.”Tanganku yang sedang memegang mangkuk sup langsung terhenti. Aku menatapnya dengan linglung.“Ini sup yang khusus dimasakkan Kak Vena untukku.”Marvel seolah tidak mende
“Delvy, jelas-jelas kamu tahu kalau Luna itu depresi, kok kamu masih saja memancing emosinya?!”“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Luna, aku nggak akan pernah memaafkanmu!”“Anggap saja ini hukuman untukmu. Mulai sekarang, jauh-jauh dari Luna.”Setelah membentakku, dia langsung menggendong Luna masu
Hari kesepuluh setelah aku mengajukan permohonan cerai, aku tak sengaja bertemu Marvel di koridor rumah sakit.Dia sedang memapah Luna dengan sangat hati-hati, seolah sedang menjaga sebuah permata yang sangat berharga.Namun, begitu melihatku, kening Marvel langsung berkerut.“Kamu apain di sini? Ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews