Home / Romansa / Jiwa Yang Terluka / 3. Sebuah Pengakuan

Share

3. Sebuah Pengakuan

Author: Oryza_Sativa
last update publish date: 2021-06-01 15:57:54

"Aku diperkosa."

Entah kenapa Ellea bisa mengatakan itu kepada Ale, sementara selama ini dia hanya diam saja ketika keluarganya menanyainya perihal ini. Tapi dengan Ale, Ellea seperti ringan sekali membagi beban hidup pada Ale, satu-satunya teman yang masih mau menganggapnya ada.

"Kenapa loncerita ini ke gue?"

"Hanya ingin," jawab Ellea singkat.

Ellea lantas menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada Ale, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Anehnya Ellea tidak menceritakan kejadian tragis yang dialaminya itu seperti tanpa beban, tidak ada raut sedih dan terluka yang terpampang di wajah ayunya.

"Termasuk yang ini juga?" tunjuk Ale sedikit menyingkap rok yang dikenakan Ellea.

Sontak Ellea merapatkan kedua kakinya karena ulah Ale yang tiba-tiba, "Kak Al," cegahnya menggelengkan pelan kepalanya.

"Sudah terlambat jika lo ingin menutupinya, El. Gue sudah terlanjur lihat. Sumpah gue paling nggak terima jika itu ulah dari monster yang mengatas namakan keluarga."

Ale, mengatakan itu dengan napas yang memburu, "Gue sudah pernah ngalamin El, jadi saranku pergi! tinggalkan neraka itu."

Ellea hanya diam, tidak mengatakan apapun, pergi! dia sangat ingin tapi tidak bisa dilakukannya, mengingat dia masih butuh tempat tinggal, dan juga biaya untuk sekolahnya, beruntung sang ayah masih berbaik hati mengijinkannya untuk meneruskan pendidikan.

Semenjak kejadian Ale yang menolong Ellea waktu itu, mereka terlihat sering bertemu, bukan, tepatnya Ale yang dengan sengaja mencari-cari keberadaan Ellea dengan berbagai alasan konyol yang dibuatnya.

Seperti minggu lalu, Ale mencari keberadaan Ellea di kelas dengan alasan ingin meminjam buku paket fisika, padahal sudah jelas jika dirinya berada dijurusan IPS. Bukan tanpa alasan Ale berbuat seperti itu, semata-mata hanya ingin memastikan keadaan Ellea baik-baik saja.

Apalagi setelah mengetahui fakta tentang memar disekujur tubuh Ellea, yang pelakunya tak lain adalah keluarganya sendiri, Ale, semakin murka. Ale seperti melihat dirinya sendiri di masa kecil yang bernasib sama dengan Ellea. Maka dari itu sebisa mungkin Ale ingin memastika jika Ellea tetap aman selama berada di sekolah dan memastikan jika tidak ada seorangpun yang bisa melukai Ellea baik secara fisik ataupun lewat perkataan. Teman-temannya pun sudah mulai jarang terlihat membully Ellea lagi, semua karena ancaman yang dilakukan oleh Ale, tanpa sepengetahuan Ellea.

"Jika lo mau, gue bisa bawa lo pergi dari sana, El" tawar Ale.

"Gimana caranya? Sementara Kak Al tau sendiri, selama ini aku selalu diawasin sama mereka."

Memang sejak kejadian itu, Ellea tidak bisa bebas seperti dulu, ada seorang yang ditugaskan untuk mengantar jemput Ellea tepat waktu, jika terlambat sebentar saja maka pukulan dari sang ayah sudah tidak terelakkan lagi.

"Apa lo bersedia bersabar dulu, El? Sembari gue pikirin gimana caranya lo bisa bebas dari sana?"

Ellea ingin, tapi dia tidak yakin, Ale bisa melakukannya. Maka yang dilakukannya hanya mengangguk ragu, sekedar untuk menghargai usaha Ale.

Entah kenapa melihat Ellea, Ale merasa biasa saja, tidak seperti biasanya yang risih dan ingin segera menjauh jika berhadapan langsung dengan manusia yang berjenis kelamin perempuan.

Apalagi setelah mengetahui jika Ellea mengalami kejadian yang begitu tragis, hampir sama dengan yang dialaminya dulu. Ale seperti ingin menjadi pelindung bagi Ellea sebagai sosok Kakak 

"Kak, kenapa baik sama aku?"

"Melihat lo seperti ini, mengingatkan gue dulu, El. Bedanya hanya fisik gue yang disiksa."

"Aku takut, Kak Al kena imbasnya, seperti di sekolah Kakak juga ikutan di bully sama mereka, kan?"

"Apa lo nggak tahu?"

"Apa?"

"Jadi, beneran lo nggak tahu?"

Ellea menatap Ale bingung, "Gue tidak bisa deket-deket sama perempuan."

"Maksudnya?" tanya Ellea bingung.

"Ck, lo beneran ya El, nggak tahu apa pura-pura nggak tahu? Selama ini gosip tentang gue sudah menyebar seantero sekolah, nggak mungkin lo nggak tahu tentang itu."

"Tapi, aku emang gak tahu kak Ali."

"Ale! panggil gue itu, sudah berapa kali gue bilang."

"Ma ...."

"Nggak usah minta maaf, bosen gue denger kata itu terus yang keluar dari mulut lo!"

"Gue nggak suka sama perempuan Ellea, dan semua orang ngira kalau gue ini punya kelainan seksual, paham kan maksud gue?"

"Aku perempuan, Kak!"

"Dan yang bilang lo cowok juga siapa?"

"Kak, aku serius."

Ale terkekeh geli.

"Hidup jangan dibawa serius melulu, El."

Keduanya tak lagi berdebat, Ellea dangan wajah datarnya entah apa yang tengah dipikirkannya, sedangkan Ale, sudah disibukkan kembali dengan benda persegi yang selalu dibawanya kemana-mana.

"Ellea!"

Panggilan dari seseorang membuat keduanya mendongak, Ale mengernyitkan dahi menatap sosok yang berdiri menjulang dihadapan mereka.

"Mau apa lo ke sini?" Bukan Ellea yang menjawab, melainkan Ale.

"Ck, yang gue panggil Ellea, bukan Alea!"

"Urusan Ellea berarti utusan gue, jadi katakan ada perlu apa sama dia."

Esta, tidak menanggapi ocehan dari teman sekelasnya itu, fokusnya hanya tertuju kepada Ellea.

"El, bisa bicara sebentar?"

"Nggak bisa! sudah gue bilang urusan Ellea juga urusan gue, jadi bicarakan saja di sini."

"Lo, lama-lama ngeselin ya Li, sumpah pengen banget gue sumpel mulut lo itu."

"Pakek bibir lo, kan? Dengan senang hati."

Umpatan dan makian Esta tak terelakkan lagi untuk membuat Ale diam dan menutup mulutnya, dirinya sudah terbiasa dengan sikap temannya yang satu ini, tapi entah kenapa masih saja membuat emosinya terpancing ketika sedang berdebat dengannya.

"El, apa nggak bisa dipertimbangkan lagi?" tanya Esta kepada Ellea, mengabaikan ocehan dari Ale yang tidak lagi ditanggapinya.

"Maaf Kak, itu sudah keputusanku."

Esta menghela napas kasar, "Nggak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di sana, El."

"Tapi, jika sudah seperti ini, apa boleh buat," sambung Esta.

Ellea memilih untuk keluar dari kegiatan pramuka yang diikutinya, keputusanya itu membuat Esta, sang ketua merasa kehilangan, selama ini hanya Ellea lah yang bisa diandalkan untuk membantunya.

****

Tiba waktu yang ditunggu Ellea datang, Ale menepati janjinya untuk membantu Ellea pergi.

Ale memberi pilihan kepada Ellea terkait rencana yang dibuatnya, sedangkan Ellea menurut saja, karena jujur dirinya masih tidak menyangka jika Ale akan seserius ini untuk membantunya.

Antara senang dan haru yang mungkin dirasakan oleh Ellea, akhirnya keinginannya untuk pergi akan segera terwujud. Dia bisa secepatnya bebas dari belenggu keluarganya. Ellea sudah tidak tahan lagi hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak lagi menganggap dirinya ada. Maka pilihan Ellea adalah pergi sejauh mungkin, agar tidak ada lagi yang bisa menyakiti fisik maupun batinnya, yang hampir lebih dari setahun ini diterimanya.

"Kenapa? Jangan bilang kalau lo ingin mundur, El."

Melihat Ellea hanya menatap dirinya dengan diam, Ale merasa jika Ellea mulai ragu untuk mengikuti rencana yang sudah disusunnya.

"Bukan," Ellea mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Ale, "Hanya itu yang kupunya kak, tapi aku janji akan mengganti semuanya, suatu saat nanti," sambungnya.

"Jadi hanya karena uang, El?"

Ale menatap tajam Ellea, "Selama ini kebaikan gue, lo artikan dengan sejumlah uang?" sambung Ale.

"Aku nggak tahu harus balas kebaikan kakak dengan apa."

"Lo ingin balas semua kebaikan gue?"

Ellea mengangguk mantap, tidak ada keraguan darinya, "Cukup lo hidup dengan baik dan bahagia, lakuin itu sebagai balas budi kebaikan gue ke elo," pinta Ale.

Hari ini Ellea akan mengakhiri semuanya, penderitaan yang dialaminya selama ini akan segera berhenti, sesuai dengan rencana yang sudah disiapkan Ale.

Ellea hanya perlu menyiapkan dirinya saja, karena dia tidak akan membawa apapun dari rumah sang ayah yang sudah 16 tahun menjadi tempat tinggalnya.

Ellea juga sudah menyiapkan sepucuk surat yang isinya ungkapan terimakasih atas belas kasih yang didapatkan dari ayah, ibu, serta kakaknya. Ditaruhnya surat itu di atas tempat tidur, berharap jika suatu hari nanti ada yang menyadari ketidak beradaan dirinya di rumah ini.

Walau Ellea sudah dapat memastikan jika tidak akan ada yang perduli terhadapnya, ada atau tidaknya Ellea tidak akan  merubah apapun dalam keluarga itu.

Malah menurut pengamatan Ellea, keluarganya itu akan merasa senang, karena sumber masalahnya sudah tak bisa lagi mereka lihat wujudnya.

Selama ini Ellea sudah seperti hama yang harus segera dibasmi keberadaannya, Elang, sosok kakak yang begitu dirindukannya tak mau lagi menoleh kearahnya, kenangan-kenangan masa lampau menyeruak kembali diingatan Ellea.

"Kak, jika suatu saat nanti El, ada bikin kesalahan besar, apa Kak Elang masih mau membela El, seperti ini?" tanya Ellea kepada Elang.

"Apapun kesalahan yang El buat, itu juga kesalahan kakak, jadi El nggak usah khawatir kakak akan selalu melindungi adik kakak yang cantik ini."

Saat itu Ellea tidak sengaja memecahkan kaca jendela rumah tetangga karena lemparan bola yang sedang dimainkanya.

Elang merasa tidak terima melihat sang adik dimarahi oleh tetangganya itu, padahal Ellea sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Elang yang tidak tega melihat Ellea menangis segera pasang badan untuk melindungi adiknya yang sudah sangat ketakutan.

Akhirnya terucaplah janji dari Elang untuk Ellea.

"Sebesar apapun kesalahan Ellea, kakak akan selalu melindungi dan membela Ellea, ingat baik-baik janji kakak ini."

Janji tinggallah ucapan semata, nyatanya sang pemilik janji telah ingkar dan tidak lagi bisa menepatinya. Elang Pradipta Tanjung, seakan tidak ingat apapun lagi tentang janjinya dulu kepada sang adik semata wayangnya, Ellea Pramadisti Tanjung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jiwa Yang Terluka   Menyerah

    Pagi hari di Arashiyama, di dalam ruangan kerjanya Abraham Smith duduk termangu di balik meja. Pria berdarah dingin yang selama puluhan tahun tak pernah tunduk pada siapapun itu kini tampak begitu merana.Cangkir kopi di tangannya dibiarkan dingin. Pikirannya buntu. Memikirkan keselamatan Hana yang mungkin mulai terancam. Ellea, gadis yang dia anggap lugu ternyata adalah monster cilik dengan segala keberanian yang dimiliki. Kali ini dia merasa telah salah memilih wanita, tidak seperti para wanitanya yang lain.Serangan balik Ellea yang menyasar rahasia keberadaan Hana adalah kartu mati yang mengunci napasnya. Hana adalah satu-satunya belahan jiwa dan kesucian yang tersisa dalam hidupnya. Jika sampai putri tunggalnya itu diketahui keberadaanya oleh dunia luar maka para musuh akan mengincar Hana untuk dijadikan senjata dalam melawannya. Sekarang Abraham baru sadar bahwa gadis cilik itu benar-benar mahluk paling berbahaya yang pernah masuk dalam hidupnya. Batin Abraham sambil memijat p

  • Jiwa Yang Terluka   Anak Angkat

    "Anak angkat?"Hana memiringkan kepalanya, binar matanya berkedip bingung menatap Abraham dan Ellea secara bergantian. Keheningan mendadak menggantung di atas Jembatan Togetsukyo, beradu dengan desir angin sore yang menyapu riak Sungai Katsura."Kenapa Papa enggak pernah cerita kalau punya anak angkat?" lanjut Hana dengan nada heran. "Apalagi seumuran aku begini."Abraham menelan ludahnya dengan susah payah. Pria tua penguasa bisnis berdarah dingin itu mendadak tampak gagap di hadapan putri tunggalnya. Tangannya yang mengepal di dalam saku mantel terasa dingin dan basah oleh keringat."Itu... urusan pekerjaan lama, Honey," jawab Abraham kaku, memaksakan seulas senyum yang terlihat amat kram. "Papa membiayai kehidupannya sejak dulu, jadi bisa dibilang dia sudah seperti anak angkat Papa."Tawa renyah justru lolos dari bibir Ellea. Suara tawa yang halus, namun terdengar bagai gesekan pisau tajam di telinga Abraham. Ellea menarik kembali tangannya yang sempat terulur kaku, lalu bersedekap

  • Jiwa Yang Terluka   Bertemu Hana

    Senja mulai merambat turun di sudut Arashiyama, melukis langit Kyoto dengan semburat jingga kemerahan yang dingin. Ellea melangkah santai menyusuri trotoar, dibalut coat tebal berwarna krem yang membungkus rapat tubuh rampingnya. "Nona, hari sudah mau gelap. Sebaiknya kita segera kembali, Tuan berpesan jangan lama-lama mainnya." Ellea kendengkus sebal, entah sudah berapa kali dia diperingatkan oleh dua pengawal yang mengikutinya sejak tadi. Dia adalah wanita dewasa, bukan gadis kecil yang selalu diawasi kalau sedang bermain. Tapi mereka selalu memperlakuiannya seperti anak kecil. "Ck, bilang sama tuanmu itu kalau aku ini calon istri bukan anak tiri." Dua pengawal itu hanya bisa saling pandang, menelan saliva dengan canggung tanpa berani membalas ucapan Ellea. Mereka tahu betul, wanita di hadapan mereka ini bukan cuma sekadar wanita biasa yang bisa digertak. Salahi sedikit saja, akibatnya bisa fatal bagi pekerjaan mereka. ​Ellea mengabaikan kedua pria berbadan tegap itu dan te

  • Jiwa Yang Terluka   Amarah Ale

    Tiga hari kemudian. Ellea duduk di teras kayu seraya menatap cangkir teh hijaunya. Saat mendengar derap langkah Abraham yang mendekat, Ellea menyunggingkan senyum tipis. "Kapan kau mengenalkanku pada putrimu, Pak Tua? Bukankah calon ibu tiri harus akrab dengan anak sambungnya?" tanya Ellea tanpa basa-basi. Langkah Abraham terhenti seketika. Raut wajah pria tua itu mengeras drastis, menyisakan tatapan mata yang amat tajam dan mematikan. Dinding keangkuhan dan kewaspadaannya melesat naik dalam sekejap. "Jangan pernah melewati batasanmu, Ellea!" desis Abraham dengan suara berat yang penuh ancaman. "Saya menoleransi banyak hal dari kelakuan nakalmu, tapi tidak untuk putriku. Sekali lagi kamu menyeret namanya atau mencoba bertatap muka dengannya, saya tidak akan segan membawamu tinggal di tempat yang jauh lebih mengerikan dari neraka keluargamu!" Ellea baru hendak membalas ancaman itu dengan kekehan sinisnya, saat tiba-tiba pintu gerbang utama vila terbuka paksa. Suara keributan dan k

  • Jiwa Yang Terluka   Mari kita Menikah

    Ruangan mendadak hening seketika. Hawa dingin Kyoto yang menerobos masuk seolah tak sanggup mendinginkan tensi hawa panas yang menjalar ke seluruh penjuru.Ale mematung. Tatapan matanya yang semula dipenuhi amarah bercampur kelegaan mendadak berganti dengan pancaran luka yang mendalam. Langkah kakinya mendekati Ellea terhenti kaku di tengah jalan."El... kamu bicara apa?" suara Ale terdengar parau, seakan tenggorokannya disumbat batu besar. "Aku datang buat bawa kamu pulang. Semua udah selesai, El! Karin, Alano, bahkan orang tua dan semua keluargamu... mereka semua udah hancur. Kebenaran udah terbuka. Kamu enggak perlu berkorban lagi!"Ellea memutar tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan Ale. Wajah gadis itu amat datar, tanpa ada lagi binar kehangatan yang dulu selalu menyambut Ale."Siapa yang minta Kakak buat bongkar semuanya?" tanya Ellea dingin. "Siapa yang suruh Kakak buat jadi pahlawan dan mengumbar masa laluku di depan ratusan pasang mata?""El, mereka harus bayar apa ya

  • Jiwa Yang Terluka   Ellea, Ayo Kita Pergi

    "Kau bangun terlalu pagi, Gadis Nakal."Suara berat Abraham memecah keheningan. Pria tua itu melangkah mendekat dengan mantel hitam panjang terpasang rapi di tubuhnya. Tatapannya masih dingin, tetapi ada guratan kelelahan yang sangat jelas di balik matanya.Ellea memutar tubuh, menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Bukankah aku harus menyambut hari baru di sangkar emasmu ini, Pak Tua? Oh, atau harus kupanggil kau sebagai 'Ayah' agar terasa lebih kekeluargaan?"Langkah Abraham terhenti. Manik matanya menyipit tajam, memperlihatkan kilat keheranan sekaligus kewaspadaan yang mendalam. "Apa maksudmu?"Ellea meletakkan cangkir keramiknya ke meja kecil di sampingnya. Dia melangkah pelan menghampiri Abraham, mengabaikan sedikit rasa tidak nyaman pada tumitnya. "Hana Smith. Nama yang sangat cantik untuk seorang putri yang kau sembunyikan selama puluhan tahun dari dunia luar."Raut wajah Abraham mengeras seketika. Atmosfer di ruangan itu mendadak membeku, jauh lebih dingin daripada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status