Accueil / Fantasi / Jiwa yang Berbeda / Labirin Masa Lalu

Share

Labirin Masa Lalu

Auteur: Meymei
last update Date de publication: 2026-03-14 07:30:49

Selesai acara peletakan batu pertama yang menguras emosi dan tenaga, Yasmina langsung pulang ke apartemen. Ia mematuhi pesan Adrian tanpa banyak tanya, menyadari bahwa setiap instruksi suaminya kini memiliki bobot perlindungan yang serius. Di balik cadar dan kacamatanya, ia merasa seperti sedang menjalani peran dalam sebuah drama spionase, namun getaran di perutnya; gerakan halus dari janin kembarnya, mengingatkannya bahwa ini adalah realitas yang mempertaruhkan nyawa.

Setelah memastikan Yasmin
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Jiwa yang Berbeda   Roda Takdir dan Permata yang Tersembunyi

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang jauh lebih menenangkan. Kebekuan yang sempat mengkristal di hati Nafisa perlahan mencair, memberikan ruang bagi harapan-harapan baru untuk tumbuh. Meskipun belum sepenuhnya kembali seperti kemesraan mereka di masa lalu, interaksi di antara mereka kini berjalan ke arah yang positif. Adrian merasa seolah sedang menyusun kembali kepingan puzzle yang sempat ia hancurkan sendiri dengan egonya."Sayang, hari ini aku hanya akan ke kantor sebentar untuk memantau sisa laporan," kata Adrian di meja makan, suaranya kini penuh kelembutan yang tulus."Tunggu aku kembali, ya? Siang nanti, kita akan ke rumah sakit bersama untuk bertemu dokter tumbuh kembang Dion. Aku tidak mau melewatkan satu pun sesi terapinya lagi."Adrian menatap hidangan di depannya. Di mata seorang Adrian yang terbiasa dengan kuliner modern atau masakan barat di dunianya dulu, sarapan yang disiapkan Nafisa tampak unik. Ada tumpukan sayuran hijau rebus yang disiram saus kacang kenta

  • Jiwa yang Berbeda   Gema Istigfar di Sepertiga Malam

    Sudah satu minggu berlalu sejak badai meluluhlantakkan kedamaian di rumah Emran dan Nafisa. Satu minggu pula Nafisa membangun tembok tinggi bernama kebisuan. Interaksi yang ia lakukan dengan Adrian hanya sebatas formalitas yang kaku; saat Dion ada di antara mereka sebagai penengah, atau saat tamu berkunjung dan menuntut sandiwara keharmonisan.Selebihnya, Nafisa hanya melakukan tugasnya sebagai istri secara mekanis; menyiapkan pakaian, memasak, dan merapikan rumah, namun tanpa ruh, tanpa senyum, dan tanpa tatapan mata.Malam itu, di kamar Dion yang bernuansa biru langit, Nafisa sedang membacakan kisah-kisah nabi dengan suara lembut yang sedikit parau."Mama..." panggil Dion kecil, memotong narasi tentang kapal Nabi Nuh."Iya, Sayang?" Nafisa mengusap rambut putranya dengan kasih sayang yang meluap."Dion bisa tidur sendiri sekarang. Dion sudah jadi anak hebat, kan?" ucap Dion polos.Matanya yang jernih menatap Nafisa, seolah bocah itu memiliki radar yang mampu menangkap frekuensi kete

  • Jiwa yang Berbeda   Dermaga Maaf

    Cahaya pagi yang merembes melalui celah gorden satin di kamar utama seharusnya membawa kesegaran, namun bagi dua jiwa yang saling diam itu, mentari seolah kehilangan taringnya.Sinar yang mengandung vitamin D itu jatuh di atas karpet bulu, namun tidak mampu mencairkan kebekuan yang mengkristal di antara Adrian dan Nafisa. Dingin yang merayap di sana bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari sisa-sisa badai emosi yang baru saja meluluhlantakkan dinding kesabaran.Nafisa duduk bersandar di kepala tempat tidur, jemarinya meremas pinggiran selimut dengan ritme yang tak beraturan. Ia memejamkan mata, mencoba menata kepingan hatinya yang berserakan dengan merapalkan dzikir yang tak putus dalam batin. Di sisi lain, Adrian, dalam raga Emran tidak lagi menunjukkan otoritas seorang pemimpin perusahaan. Ia duduk bersimpuh di lantai, tepat di bawah kaki Nafisa, sebuah posisi yang menunjukkan kehancuran ego dan permohonan ampun yang paling dalam.Waktu seolah membeku. Hanya deting jarum

  • Jiwa yang Berbeda   Prahara di Balik Tabir Rahasia

    Fajar menyingsing di ufuk timur Yogyakarta, menyemburatkan warna jingga kemerahan yang menembus sela-sela gorden rumah keluarga Hartanto. Di dalam kamar yang tenang, Erna dan Hartanto baru saja melipat sajadah setelah menunaikan shalat Subuh.Keheningan pagi itu tiba-tiba pecah oleh dering ponsel yang nyaring. Nama "Emran" berkedip di layar, memicu kerutan heran di dahi Erna. Tidak biasanya putra mereka menghubungi di jam yang masih dianggap buta bagi seorang pengusaha muda. Dengan perasaan penasaran yang bercampur cemas, Erna menggeser ikon hijau."Halo, Assalamualaikum, Emran?""Waalaikumsalam, Bu," suara Adrian di seberang terdengar parau, ada nada memohon yang sangat kental di sana."Bu... apakah Ibu dan Ayah bisa menjemput Dion pagi ini? Segera setelah matahari terbit?" Jantung Erna berdesir."Kenapa, Nak? Apa Nafisa sakit? Apa terjadi sesuatu yang buruk di rumah?""Tidak, Bu. Nafisa sehat secara fisik.""Lalu kenapa suaramu terdengar seperti orang putus asa begitu?"Adrian mengh

  • Jiwa yang Berbeda   Nalar dan Perasaan

    Kamar utama itu seakan menjadi saksi bisu atas sebuah anomali semesta yang melampaui logika manusia. Keheningan yang menggantung di udara terasa begitu padat, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi dua jiwa yang sedang bertaruh dengan nalar.Adrian, dengan jantung yang berdegup kencang di balik raga Emran, mencoba menyelaraskan realitas yang tumpang tindih. Di satu sisi, ia adalah Adrian yang merindukan Yasmina sampai ke tulang, namun di sisi lain, ia terjebak dalam raga pria yang memiliki sejarah kelam dengan wanita di pelukannya.Nafisa tetap bergeming, membiarkan kehangatan tubuhnya menjadi jawaban bisu atas kegundahan laki-laki itu."Nafisa, apakah kalimat itu sangat umum diucapkan di sini? Maksudku, apakah itu ungkapan yang jamak digunakan untuk menyatakan cinta?" tanya Adrian di puncak kebingungannya.Suaranya serak, mencerminkan keraguan yang menggerogoti jiwanya.Hanya itu pertanyaan yang sanggup dirumuskan oleh otaknya yang sedang mengalami malfungsi si

  • Jiwa yang Berbeda   Rekontruksi Takdir

    Pagi itu, mentari merambat naik menyinari fasad kaca gedung tingkat dua milik Banyu Grafika. Dari luar, segalanya tampak normal, namun di dalam bangunan yang dingin itu, ketegangan merayap seperti arus listrik yang siap meledak kapan saja. Kabar kembalinya Abiyu Emran; sang pewaris tunggal dari Bina Group, yang merupakan pendiri Banyu Grafika setelah koma panjang telah menyebar ke setiap kubikel. Namun, desas-desus yang mengikuti jauh lebih liar: sang tuan muda kehilangan ingatannya.Bagi sebagian orang, amnesia Emran adalah peluang. Bagi yang lain, itu adalah ancaman.Pintu lobi terbuka otomatis. Adrian melangkah masuk dengan dagu terangkat. Ia mengenakan kemeja putih slim-fit dan celana bahan warna charcoal grey yang melekat sempurna di tubuhnya yang kini tampak lebih tegap dan berisi, hasil dari disiplin fisik yang ia bawa dari kehidupannya yang dulu. Tidak ada lagi gurat kecemasan, pandangan kosong, atau sisa-sisa gaya hidup hura-hura yang biasanya menggelayuti wajah Emran. Sorot

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status