MasukViolet, pembuat game VR Beast Dominion, masuk ke dalam game sebagai tester untuk uji coba terakhir sebelum peluncuran. Namun sebuah error fatal terjadi—menu logout menghilang, dan sistem justru menandainya sebagai unit langka: Living Pheromone. Di dunia beastmen, aroma manusia murni mampu menenangkan para jantan yang kehilangan kendali. Keberadaan Violet segera memicu ketegangan antar wilayah, hingga dibentuklah Dewan Perlindungan. Terdiri dari 4 jantan terkuat dari berbagai spesies yang semuanya resmi menjadi suaminya demi menjaga perdamaian. Terjebak dalam dunia yang seharusnya hanya permainan, Violet harus bertahan hidup di tengah insting liar empat suaminya. Akankah Violet berhasil keluar dari dunia game, atau ada rahasia lain di balik terjebaknya di dunia itu?
Lihat lebih banyak"Jenderal Leo Reign, jangan mendekat," ucap Violet dengan suara bergetar. Dia mencoba mendorong tubuh besar dan kekar pria Beastmen singa di atasnya.
Tapi kekuatan Leo terlalu besar untuk dilawan bagi Violet yang hanya manusia biasa. 'Sial sekali. Kenapa aku harus bertemu dengannya saat dia dalam masa birahi?'
Leo mengabaikan apa pun yang dikatakan Violet. Atau mungkin mendengar tapi tidak bisa mengendalikan dirinya. Tubuh besarnya mengungkung dan menutupi seluruh tubuh mungil Violet.
"Aku tidak bisa menahannya lagi. Kamu sangat harum," gumam Leo dengan suara serak.
Violet menyadari bahaya pada Beastmen itu. Beastmen yang mengalami musim kawin akan sulit dikendalikan dan hampir sama liarnya dengan binatang buas.
"Kamu sangat mungil, tapi aromamu sangat manis," Leo terus meracau, menikmati aroma wangi serta menenangkan dari tubuh Violet.
Violet masih berusaha meloloskan diri, suaranya kali ini lebih tegas. "Leo, hentikan..."
Tapi tangan Leo yang lain mulai menjelajah, menyusup ke bagian bawah tubuh Violet di balik rok pendek. Sentuhan jari-jarinya membuat Violet tersentak dan menahan napas.
"Ah!" Violet tak kuasa menahan desahan yang lolos dari bibirnya.
Leo semakin bergairah mendengar suara itu. Napasnya semakin berat, gerakannya semakin liar.
"Kamu mengenalku. Kamu pasti betina yang dikirimkan Ayah untukku," bisik Leo di telinganya.
Violet menggeleng, sedikit geli. Tenaganya hampir habis karena melawan manusia setengah singa itu. "Tidak. Aku bukan betina, aku manusi—"
Belum selesai bicara, Leo menciumnya lagi, kali ini lebih dalam. Ciuman yang panjang dan dalam, seolah ingin menelan seluruh keberadaan Violet.
"Hm!" Violet tak bisa bernapas. Desakan bibir Leo membuat kepalanya terasa kosong.
Lama kelamaan, Violet mulai kehabisan napas dan langsung memukul pundak Leo. Untung saja, Leo melepas ciumannya.
Leo menjauh, terlihat untaian saliva dari penyatuan bibir mereka. Dia menatap Violet dengan mata terhalang kabut gairah.
"Bunga," panggilnya penuh gairah yang anehnya terdengar manis di telinga Violet. "Kamu terasa manis dan harum seperti bunga. Mulai sekarang kamu milikku."
Violet tak menjawab. Napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas tak berdaya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang besar dan keras menyentuh bagian bawahnya.
Tatapan Violet turun pada tubuh telanjang Leo. Dan di antara selangkangan pria setengah binatang itu, sebuah kejantanan besar telah berdiri tegak.
Violet langsung bergidik ngeri sambil menelan ludah. 'Astaga, ini gila. Kok bisa miliknya sebesar itu?'
Tanpa aba-aba, Leo tiba-tiba merobek rok dan kemeja Violet dalam satu tarikan kuat. Tubuh sintal, pinggang ramping serta dada yang padat terpampang jelas di depan Leo.
"Apa yang kamu lakukan?!" protes Violet, refleks menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Hanya tersisa pakaian dalamnya saja, dan tubuh bagian bawah yang sudah basah karena sentuhan jari Leo.
Leo semakin bergairah. Dia mencengkram kedua tangan Violet dengan satu tangan, dan meletakkannya di atas kepala Violet. Sementara tangan yang lain melepas pakaian dalam Violet yang mengganggu.
"Benda merepotkan," katanya dengan nada jengkel.
Leo mendekatkan tubuh kekarnya perlahan. Miliknya menekan-nekan mencari jalan masuk.
Violet tersentak hebat, tubuhnya menegang. Matanya menunduk dan seketika menelan ludah.
"Tunggu. Itu tidak akan masuk, Leo!"
Leo tidak mendengarkan. Ia dikendalikan oleh nafsu yang membara, tak mampu lagi menahan diri.
Dengan sekali hentakan, Leo memasukkan seluruh miliknya ke dalam Violet.
"Akh!"
Violet mendesah keras. Tubuhnya menegang merasakan invasi yang begitu besar dan dalam. Matanya berkaca-kaca.
Tapi di saat yang sama, sensasi aneh menjalar di seluruh tubuh Violet, sakit bercampur kenikmatan yang membingungkan.
"Leo, ini sakit," Violet merintih di sela-sela gerakan Leo yang semakin cepat. Rasa sakit bercampur sensasi aneh, membuatnya sulit berpikir jernih.
Leo menciumnya lagi, kali ini lebih lembut dari sebelumnya. "Bunga, aku akan membuatmu merasa lebih baik. Nikmati saja."
Bisikan Leo membuat Violet berdebar tak karuan.
"Aah... Leo..."
Violet hanya bisa mendengar desahannya sendiri bercampur erangan Leo. Bau khas campuran keringat dan aroma bunga Violet memenuhi udara.
Leo terus bergerak tanpa henti. Kadang cepat, kadang lambat. Tapi selalu dalam dan keras seolah melampiaskan hasrat yang tertahan selama ini.
Beberapa jam berlalu, setelah kegiatan panas mereka, Violet membuka mata perlahan. Dan yang pertama kali ia lihat adalah seorang pria Beastmen berambut pirang terlelap di samping sambil memeluknya.
Pria itu terlihat tampan dengan rahang tegas, alis tebal, dan bulu mata panjang. Tubuhnya kekar, penuh otot, dan ekor singa masih bergerak-gerak kecil dalam tidur. Melihat hal itu, semua yang terjadi kembali lagi di kepala Violet.
'Astaga. Aku benar-benar melakukan itu dengan seorang Beastmen?' batinnya masih tak percaya. 'Kenapa aku bisa terjebak di dunia seperti ini?'
Violet duduk di kursi ruang tengah, masih membisu sejak mendengar kabar tentang kelompok Anti Manusia Murni. Para suaminya bergantian menatapnya, tidak ada yang berani bicara lebih dulu."Sudah berapa lama kabar tentang mereka muncul? Aku baru mendengarnya," tanya Violet.Dylan segera menjawab. "Mungkin beberapa minggu yang lalu."Violet menarik napas sambil memijat pangkal hidungnya. Padahal dia baru ingin beristirahat setelah berhasil mengangkat kutukan Dylan."Aku akan menemui mereka," kata Violet memutuskan.Ignis mengerutkan kening. "Siapa?""Kelompok itu. Aku akan jelaskan kesalahpahaman ini," jelas Violet.Zero melangkah maju dan langsung membantah. "Tidak.""Tapi Zero—""Tidak," ulang Zero. "Kamu tidak akan pergi ke mana pun."Dylan ikut angkat bicara. "Dia benar, permata. Kelompok itu tidak akan mau mendengarkan penjelasanmu. Mereka sudah punya pendapat sendiri tentangmu.""Tapi jika aku tidak melakukan apa pun, mereka akan terus menebar kebencian," balas Violet, sedikit bers
"Kamu bilang apa, ikan?" Ignis mendesis geram.Dylan mengangkat bahu dengan santai. "Itu memang fakta, benar kan permata?"Dylan menatap Violet dalam pelukannya untuk mendapat jawaban. Tapi Violet hanya menunduk malu dengan perkataan Dylan.Zero melangkah maju, dengan energi es di tangannya yang mulai muncul, seolah siap menyerang Dylan kapan saja."Dasar tak tahu terima kasih. Seharusnya aku membiarkanmu mati saja."Dylan membalas. "Apa hubungannya dengan itu? Aku hanya melayani istriku."Mereka saling menatap, seperti dua kubu yang hendak berperang. Tapi dengan cepat Violet melerai."Kalian bertiga," katanya, suaranya tidak keras tapi tegas. "Aku lelah setelah perjalanan kemari. Jika kalian bertengkar, aku tidak akan bicara dengan kalian selama sebulan."Ignis terdiam. Zero tidak bergerak. Dylan hanya tersenyum tipis."Kalian mengerti?" tanya Violet."Iya," jawab mereka bertiga bersamaan.Violet mengangguk puas. Ia menoleh ke sekitar ruangan."Leo di mana?"Ignis menunjuk ke atas. "
"Jangan katakan hal yang memalukan seperti itu," gerutu Violet, tak menyangka Dylan akan berbicara senakal itu.Sudut bibir Dylan terangkat membentuk seringai lebar."Kalau begitu, kamu yang memulai," kata Dylan menatap penuh hasrat. Tangannya dengan nakal bergerak terus menyentuh area sensitif Violet yang mulai basah.Violet menelan ludah menatap milik suaminya yang besar dan panjang sudah berdiri tegak menyentuh perutnya."Baiklah..." gumam Violet akhirnya setuju. Ia pun sudah merasa gelisah karena sentuhan Dylan membuat airnya naik.Violet duduk tegak, rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian punggung. Dengan napas yang mulai memburu, ia mulai menggerakkan pinggulnya turun.Benda tumpul itu menerobos masuk, membuat Violet tanpa sadar mendesah pelan."Ahh..."Alis Dylan mengernyit. Tangannya memegang pinggang Violet, tidak memaksa, hanya membantu Violet sampai memasukkannya semuanya."Pelan-pelan saja, permata."Violet menarik napas. Menunduk dan mencengkram pundak Dylan sambil
"Lakukan saja."Tiba-tiba, terdengar suara seekor koala gendut muncul di hadapan Violet.Bobo menyunggingkan seringai nakal dan berkata. "Kalian suami istri, bukan pengantin baru lagi, untuk apa ragu? Lagi pula hanya itu satu-satunya cara. Kamu harus membalas kebaikan Dylan yang sering menolongmu dari kejauhan."Wajah Violet memerah. Dia menunduk dan bersembunyi di balik tubuh kekar Dylan yang memeluknya.'Dia hanya muncul saat seperti ini saja. Di mana dia saat aku kesulitan dan dalam bahaya? Dasar sistem bodoh!' geramnya dalam hati.Namun perkataan Bobo memang benar. Berkali-kali nyawa Violet yang terancam berhasil diselamatkan berkat kalung kerang pelindung dari Dylan.Violet menghela napas panjang dan perlahan melepas pelukan."Dylan..."Dylan yang terlihat kembali sehat dan bugar, menatap Violet dengan mata berbinar."Iya, permata?" sahutnya dengan nada lembut.Violet menelan ludah, dan akhirnya berbicara."Ada satu kutukan lagi yang masih bersarang di tubuhmu. Dan, satu-satunya
Kabar tentang kebangkitan Phoenix menyebar cepat. Di berbagai pelosok benua, para Beastmen membicarakan kebangkitan Phoenix.Tidak hanya itu, tapi juga tentang klan Ular yang berani menculik Nona Violet—wanita yang dijaga oleh empat Beastmen terkuat.Namun yang paling heboh terjadi di wilayah klan
Violet memejamkan mata. Ia merasakan tubuhnya jatuh bebas, semakin dekat dengan kawah lava yang menganga di bawahnya. Bunga Lotus Api masih tergenggam erat di tangannya.'Aku tidak mau mati. Ignis masih membutuhkanku,' batinnya bersikeras.Tapi ternyata, tubuhnya tak jatuh. Violet merasakan sesuatu
Keesokan harinya, sinar matahari mulai masuk melalui celah tirai, menerangi ruangan yang sunyi.Violet terbangun perlahan. Matanya masih sayu, tubuhnya terasa segar setelah tidur panjang semalaman. Tapi begitu kesadarannya kembali, ia langsung membeku.'Z-zero? Kenapa dia di sini?!' pikirnya sediki
Ignis tak menunggu lebih lama. Api di sekujur tubuhnya membara, sayapnya terbentang lebar. Dalam sekejap, ia melesat dari balkon mansion, meninggalkan jejak cahaya merah di langit senja.Violet menatap kepergiannya dengan hati gelisah. Ia berpikir cepat sampai akhirnya menemukan solusi, dia segera

![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak