MasukViolet, pembuat game VR Beast Dominion, masuk ke dalam game sebagai tester untuk uji coba terakhir sebelum peluncuran. Namun sebuah error fatal terjadi—menu logout menghilang, dan sistem justru menandainya sebagai unit langka: Living Pheromone. Di dunia beastmen, aroma manusia murni mampu menenangkan para jantan yang kehilangan kendali. Keberadaan Violet segera memicu ketegangan antar wilayah, hingga dibentuklah Dewan Perlindungan. Terdiri dari 4 jantan terkuat dari berbagai spesies yang semuanya resmi menjadi suaminya demi menjaga perdamaian. Terjebak dalam dunia yang seharusnya hanya permainan, Violet harus bertahan hidup di tengah insting liar empat suaminya. Akankah Violet berhasil keluar dari dunia game, atau ada rahasia lain di balik terjebaknya di dunia itu?
Lihat lebih banyakViolet berjalan di samping Zero meninggalkan taman istana. Perkataan Mona masih terngiang di telinganya.Violet baru teringat dengan sosok Mona saking diamnya ia selama ini.Mona hanya menjadi pemimpin klan naga biru seperti bayangan di bawah instruksi Zero. Tapi dia tidak akan bertindak tanpa alasan. Jika dia sampai turun tangan, itu berarti sesuatu yang sangat besar akan terjadi."Zero," panggil Violet. "Mona pasti melihat sesuatu dalam kekuatan forcENya."Zero tetap diam. Ia terus melangkah hingga meninggalkan istana."Mempercayai ramalan keluarga Faithly hanya berakhir tragis," Zero bergumam pelan, tatapannya lurus datar ke depan.Violet hanya bisa mengerutkan alis, heran sekaligus bingung.'Keluarga Faithly itu nama belakang Mona, keluarga turun-temurun memimpin klan naga biru. Kenapa dia beranggapan seperti itu?' batinnya.Namun seakan Zero paham maksud dari ekspresi Violet, dia buru-buru merangkul dan membuka sayapnya."Sudah," katanya dengan tegas. "Jangan dipikirkan. Dia hany
Dylan masih terdiam mendengar ucapan Ignis. Matanya beralih dari bola kristal di tangan Ignis ke wajah Alan yang polos, lalu kembali ke Ignis."Apa kau yakin?" tanyanya memastikan.Ignis mendengus. "Untuk apa aku berbohong? Vio juga melihatnya sendiri."Dylan kembali terdiam, masih tak percaya. Dari belakang Ignis, muncul sosok bocah bersayap elang yang sebelumnya mendengar obrolan mereka."Raja, boleh kulihat bola itu?" tanya Vian.Mereka menoleh. Dylan sedikit lega, memang dia berniat menemui Vian sebelumnya.Ignis menyodorkan bola di tangannya pada Vian. "Periksa benda ini."Vian mengerjap. Ia mengambil bola itu, membolak-balikkannya, lalu mengeluarkan kaca pembesar yang selalu ia bawa dari sakunya. Matanya menyipit."Ada sesuatu di dalamnya.""Apa?" tanya Dylan penasaran.Vian menoleh dan menatap Ignis. "Sepertinya saya butuh tongkat Unory. Ratu menyimpannya, apa saya bisa pinjam sebentar?"Tanpa membuang waktu, Ignis mengangguk dan melesat pergi ke lantai dua.Tak lama kemudian,
Violet merasakan tatapan para tetua berubah. Bukan lagi curiga biasa. Kini ada kebencian di sana. Kebencian yang tumbuh subur dari tuduhan Sylvia yang terus disiram oleh amarah dan dendam.Beberapa dari mereka yang tadinya diam, kini mulai bergumam setuju dengan Gory. Beberapa yang lain hanya menunduk, tidak ingin terlibat, tapi tidak juga membela Violet."Kita harus menyelidiki ini lebih lanjut," kata Gory, suaranya masih tegas. "Raja tidak bisa mati begitu saja tanpa keadilan."Zero hendak melangkah maju, tapi Violet menarik tangannya."Zero," bisik Violet. "Ayo kita pergi. Tidak ada gunanya."Zero menatap Violet. Matanya masih menyala, tapi ia mengangguk.Mereka berbalik hendak melangkah keluar."Tunggu."Gory melangkah ke depan, menghadang jalan. Wajahnya tidak ramah. "Tuan Zero, maksudku tadi serius. Kita harus menyelidiki ini. Raja tidak bisa—""Kau menghadangku?" potong Zero. Suaranya rendah, tapi dinginnya menusuk tulang.Gory menelan ludah. Tangannya gemetar. Tapi ia tetap be
"Kenapa jadi membahas soal Zero?" desis Violet mulai jengkel dengan tuduhan Sylvia.Sylvia menggeram pelan, dia tertawa hambar."Lalu alasan apa lagi? kau pasti dendam padaku karena hal itu, kan?" Satu tangan Sylvia menunjuk pada Violet dan Zero. "Saat aku terluka di retakan dimensi, kau juga sama sekali tak mau menolongku!"Ruangan yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh rendah. Para tetua mulai berbisik-bisik. Beberapa mengerutkan kening, beberapa menggeleng tidak percaya, tapi tidak sedikit pula yang mulai menatap Violet dengan curiga.Sedangkan Zero mulai kehabisan kesabaran berada di situasi ini. Padahal dia tak ingin ada keributan tak perlu di ritual pemakaman raja naga."Aku sudah memperingatkan sejak awal," kata Gory, tetua tertua dari klan naga hitam. Suaranya menggema di ruangan itu, memotong bisik-bisik yang mulai memanas."Manusia ini tidak bisa dipercaya. Dari saat pertama dia datang ke istana, aku sudah merasa ada yang tidak beres."Gory melangkah maju, lebih percaya diri
"Saat di sana kamu ternyata bisa tersenyum selebar itu." Kalimat Violet terdengar seperti sindiran bagi Zero. Walau sebenarnya Violet tidak bermaksud seperti itu. Tatapan Zero perlahan turun. Dia akhirnya bersuara. "Maaf. Aku masih belum bisa melupakannya." Violet menghela napas panjang. "Aku ti
"Tidak suka anak-anak?" Ignis menyipitkan mata, tak puas mendengar jawaban Zero. "Lalu bagaimana dengan masa depan klan naga? Kamu tidak butuh penerus?" "Aku butuh atau tidak, itu urusanku. Bukan urusanmu," balas Zero dingin tanpa menatapnya. Ignis mendengus. "Hei, naga tua. Suami mana pun pasti m
Cakar monster itu hampir mengenai wajah Violet. Tepat di detik terakhir, Zero melangkah maju dan menangkis serangan itu dengan tangannya yang membeku.Brak!Monster itu terpental, tubuh hitamnya bergetar hebat. Ignis tidak membuang waktu. Api biru pekat menyala di kedua telapak tangannya, lalu ia me
Violet masih di sana menatap Zero yang tertawa bahagia bersama Fate. Dadanya terasa sesak, tapi ia tidak mundur. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat."Zero."Zero tidak menoleh, masih fokus pada wanita berambut biru di depannya.Violet berjalan lebih dekat. "Zero." Suaranya lebih kera












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak