LOGINAcara test food itu ternyata jauh lebih meriah dari yang Nadine bayangkan. Di tengah ruang makan, meja panjang dari kayu jati sudah ditata dengan belasan piring kecil, masing-masing disertai kartu nama hidangan dan sebuah nomor. Para koki berdiri berjajar di belakang meja dengan celemek bersih dan wajah tegang, seperti peserta lomba yang menunggu juri. Beberapa tamu lain, para manajer dan perwakilan hotel yang sepertinya dikenal baik oleh kakak kelas Damar, sudah lebih dulu berkeliling sambil berbincang pelan dan mencatat. Dari dapur terbuka tercium aroma bawang, rempah, dan asap bakaran yang membuat perut siapa pun ikut bersuara.Nadine biasanya makan sedikit dan cepat, lebih karena kebiasaan daripada selera. Ia bukan orang yang betah duduk berlama-lama di depan makanan. Tapi di sini keadaannya berbeda. Ia diminta menilai, dan menilai berarti harus mencicipi semuanya, satu per satu, tanpa boleh melewatkan satu piring pun. Tidak ada yang akan menganggapnya rakus, tidak ada yang akan m
Mobil Damar meninggalkan tol menjelang pukul sepuluh pagi, lalu menyusuri jalan kecil yang diapit pohon kelapa dan hamparan tambak. Nadine duduk di kursi penumpang dengan map gambar di pangkuan, memeriksa lagi catatan yang dibuatnya semalam. Damar hanya bilang ada klien yang ingin merenovasi resort, dan ia butuh pendapat Nadine soal pembagian zona bangunan baru. Alasannya masuk akal. Nadine tidak menaruh curiga sedikit pun."Resortnya di tepi pantai?" tanyanya sambil membalik halaman."Menghadap laut langsung," jawab Damar, matanya tetap pada jalan. "Rencananya kami tambah bangunan di dua sayap. Aku butuh orang yang paham sirkulasi dan efisiensi ruang. Kamu kan jago soal itu.""Maksud kamu …." Nadine melirik Damar dengan alis terangkat. "Kamu konsultan, tapi aku yang dipanggil jadi konsultan buat kamu?""Konsultan buat konsultan." Damar tersenyum, matanya tetap di jalan. "Tapi ada bayarannya. Makan siang. Aku sudah pastikan tempatnya enak."Tidak sampai ke luar kota terlalu jauh, reso
Sore itu, Rania datang bersama Roman. Mereka disambut Tuti di ruang tamu, dan tak lama kemudian Sheza keluar dari kamar dengan langkah pelan, dibantu Satria."Kak Sheza, aku pamit ya," ucap Rania, menyalami Sheza dengan hangat. "Malam ini aku pulang ke Kebumen.""Naik apa, Ran? Roman nyetir?""Tadinya mau, Kak." Rania melirik Roman sambil menahan senyum. "Tapi Kebumen jauh. Mas Roman bisa capek nyetir sendirian pulang-pergi.”"Tapi aku tetap mau nganter," sahut Roman cepat. "Sampai stasiun.""Iya, sampai stasiun Kebumen saja."Sheza tertawa kecil. "Ya sudah. Hati-hati ya. Titip salam buat ibu kamu."Sebelum pamit, Rania meminta izin menggendong Sofia. Lastri menyerahkan bayi itu dengan hati-hati, dan Rania langsung tahu cara menopang kepalanya, gerakan yang terbiasa dari kuliah kebidanan. Sofia menggeliat sedikit, bibirnya bergerak-gerak, lalu kembali tenang dalam dekapannya."Cantik sekali," bisik Rania.Tak lama kemudian Sheza merasa perlu ke toilet, dan Satria membantunya. Lastri p
Lewat tengah malam, Satria terbangun tanpa alarm. Lampu tidur masih menyala redup. Sheza tidur miring dengan napas dalam dan teratur.Dengan sangat pelan ia menyibak selimut dan memeriksa dada istrinya. Payudara itu terasa penuh dan hangat, kencang dibanding tadi. Ia memeriksa kembali putingnya, tak ada yang lecet karena pompa ASI ataupun Sofia yang kadang belum menempel sempurna saat menyusu. Ia lalu memasang corong ke payudara Sheza dengan hati-hati."Hmm ... Mas?" gumam Sheza, matanya nyaris tak terbuka."Tidur lagi, Zee. Aku yang urus.”Sheza menghela napas dan terlelap lagi. Pompa berdengung lirih. Satria duduk menunggu sambil sesekali memijat pelan sisi dada istrinya, sampai botol terisi hampir penuh. Ia mematikan mesin dan melepas corong dengan hati-hati.Kain kecil yang sudah dibasahi air hangat sudah ia siapkan di meja samping. Dengan gerakan ringan, ia membersihkan puting Sheza satu per satu, menepuk pelan tanpa menggosok, lalu mengeringkannya dengan tisu lembut. Ia memeriks
Bab 368. Papa Empat AnakBu Rena tiba selepas Maghrib dengan tas besar berisi minyak urut dan kain jarik. Satria masih berada di kamar saat wanita paruh baya itu masuk dan menyapa dengan senyum ramah. Sofia sudah dibawa babysitter ke kamar bayi, jadi kamar utama terasa lebih tenang dari seharian ini."Bu Sheza sudah siap?" tanya Bu Rena sambil meletakkan tasnya di sofa beberapa langkah dari ranjang. Ia bisa memandang punggung Sheza dari tempatnya. "Sebentar ya, Bu." Sheza duduk di tepi kasur, bergerak pelan karena tubuhnya masih terasa pegal. Satria sudah lebih dulu berlutut di sampingnya, membantu melepaskan pakaiannya satu per satu dengan hati-hati, sampai hanya celana dalam postpartum yang tersisa.Tanpa jeda, seperti sesuatu yang sudah sering ia lakukan, Satria menyelipkan telapak tangannya ke bagian bawah dan menekan pembalut itu sekilas untuk memeriksa seberapa penuh darah nifasnya. Gerakannya ringan dan santai, tanpa canggung sedikit pun, sementara Sheza hanya diam membiarkann
"Iya," jawab Nadine. "Itu Satria."Langkahnya tidak melambat, tapi ia melirik Damar sekilas. "Kok Mas Damar bisa langsung tau? Kita kan belum pernah ketemu dia, dan aku nggak ada ngasi tau.""Mirip Nayla." Damar terkekeh kecil. "Matanya, terutama. Dan caranya berdiri, tenang tapi kelihatan sedang memperhatikan semuanya. Pas dia lihat ke arah kita tadi, aku langsung kepikiran, oh, ini ayahnya Nayla."Nadine mengangkat alis di balik kacamata hitamnya. "Selama ini orang bilang Nayla lebih mirip aku.""Mungkin bagian pinter ngomongnya Nayla dari kamu." Damar tersenyum. "Tapi sisanya jelas dari papanya.”Nadine mengangguk, sudut bibirnya naik tipis. Ia menatap lurus ke depan, ke arah mobil yang terparkir di ujung jalan. Tidak ada tawa, tapi bahunya sudah tidak setegang tadi pagi."Dia orang baik," ucapnya setelah beberapa langkah. "Bukan suami yang tepat buatku dulu, tapi dia ayah yang baik buat Nayla. Itu cukup bikin aku tenang.""Aku percaya." Damar membukakan pintu mobil untuknya. "Dan







