Mag-log inDamar tiba di kediaman Kertasoedibyo pukul sepuluh pagi, di hari kerja. Pak Salim sengaja memilih waktu itu, dan Damar mengerti alasannya: Nadine sedang di kantor, Nayla di sekolah, dan rumah itu cukup tenang untuk bicara.Ia membawa sekeranjang buah dan sekotak kue dari toko langganan keluarga Nadine, yang ia tanyakan lewat pesan tadi malam. Di mobil, sebelum turun, ia sempat membetulkan kerah kemejanya sekali. Hanya sekali. Ia sudah terbiasa berdiri di depan ruangan penuh orang dan bicara berjam-jam tanpa catatan, jadi gugup yang ia rasakan tidak sebesar yang bisa dibayangkan siapa pun. Tapi ini lain. Ini bukan ruang kuliah.Seorang asisten rumah tangga mengantarnya masuk. Rumah itu hangat, rapi, dan tenang. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu terbuka dan Pak Salim berdiri menyambutnya."Pak Damar. Silakan masuk.""Terima kasih, Pak Salim. Maaf merepotkan.""Tidak merepotkan sama sekali."Ruang kerjanya dipenuhi rak buku tinggi bergaya klasik. Meja kayu besar, dan seperangkat kursi t
Damar sampai di Kopi Sandar lima belas menit lebih awal, dan Satria sudah ada di sana.Ia duduk di meja sudut dekat jendela, lantai dua, jauh dari keramaian. Kemeja lengan panjang, jam tangan di pergelangan, satu gelas air putih di depannya yang baru diminum sedikit. Begitu melihat Damar, ia berdiri dan mengulurkan tangan. Jabat tangannya mantap, tidak lama."Pak Damar.""Pak Satria. Maaf, saya kira saya yang lebih dulu.""Saya kebetulan dekat." Satria duduk kembali. "Mejanya saya yang pilih. Kalau tidak cocok, bisa pindah.""Ini pas, Pak."Satu hal yang Damar perhatikan di menit pertama: Satria sudah memilih meja sebelum ia datang. Kursinya menghadap arah masuk, dan jaraknya cukup jauh dari meja lain, jadi mereka bisa bicara tanpa perlu merendahkan suara. Orang yang hanya kebetulan lewat tidak akan memikirkan hal sedetail itu. Satria jelas datang lebih awal untuk menyiapkan pertemuan ini.Mereka memesan makan siang. Percakapan awal berjalan ringan, soal lalu lintas, soal kopi, soal c
Mobil Damar berhenti di halaman, tepat di depan teras kediaman Kertasoedibyo. Mesin ia biarkan menyala pelan, dan lampu dasbor memantulkan cahaya kehijauan di wajah Nadine yang duduk di sampingnya. Hampir pukul sebelas malam. Jalan di luar pagar sudah sepi, hanya sesekali terdengar bunyi jangkrik dari taman.Tadi ia menjemput Nadine sepulang kerja dan mengajaknya makan. Obrolan mereka berjalan santai, tapi pertanyaan yang sejak sore mengganjal akhirnya ia lepaskan ketika pesanan penutup datang."Kamu sudah sempat bicara ke Satria soal pertemuan kami? Dia bersedia?"Nadine mengaduk sendok kecilnya di mangkuk, lalu mengangkat wajah. "Aku udah selesai ngobrol sama dia, Mas.""Jadi?""Mas Damar bisa mengirim pesan ke papanya Nayla. Dia mau kok ketemu." Senyumnya muncul pelan, lebih ringan dari beberapa hari terakhir. "Kami udah ngobrol dan … cukup santai. Mungkin tadi siang adalah obrolan paling santai yang pernah kami lakukan." Ia kemudian tertawa kecil.Jawaban itu membuat dada Damar lo
Beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dadanya. ASI kembali menetes dan membasahi dada Satria di bawah pipinya. Satria membuka mata. Ia menunduk, melihat noda basah di dadanya sendiri, lalu tangannya yang bebas terangkat dan menyentuh puncak payudara Sheza yang masih menegak."Udah penuh lagi," katanya pelan, setengah geli. "Kita harus keluar, Zee. Kamu harus pompa.""Stok Sofia udah sekulkas kecil, Mas," jawab Sheza, wajahnya bersandar di bahu Satria. "Nggak akan habis."Satria tertawa, suara rendah yang terasa sampai ke tulang rusuk Sheza. "Anak-anak kita beruntung. Minuman semahal itu, dan mereka dapat berlimpah."Ia mengangkat lengannya perlahan dari bawah kepala Sheza, lalu berguling. Kini ia berada di atas Sheza, setengah menindihnya, bertumpu pada satu siku. Ia menunduk dan melumat bibir Sheza, lama dan lembut, tanpa tergesa. Sheza membalasnya dengan mata terpejam, jemarinya naik menyentuh pipi Satria."Terima kasih untuk sore yang luar biasa ini,
Satu kali mencapai titik kepuasan seharusnya sudah cukup. Satria tahu itu. Tubuhnya baru saja melepaskan semua yang ia tahan selama empat bulan, napasnya belum teratur, dan jantungnya masih berdebar cepat di balik tulang dada, jauh dari tenang. Tapi bagian tubuhnya yang lain tidak mau menurut. Bahkan setelah ia menumpahkan kehangatan dan membantu memijat dirinya sendiri untuk mengeluarkan semua sisanya, bagian tubuhnya itu masih penuh, dan masih sanggup masuk lagi ke tubuh istrinya seakan tadi hanyalah pemanasan.Ia tidak mengerti dari mana datangnya tenaga itu. Mungkin dari Sheza yang masih bergelayut di bahunya dengan napas basah di lehernya. Mungkin dari tubuh perempuan itu yang masih mengungkungnya hangat, tak mau melepaskan. Yang ia tahu, ia belum selesai.Satu tangannya terulur ke sandaran sofa dan menarik selimut tipis yang tersampir di sana. Ia melemparkannya ke atas karpet tanpa terlalu peduli, agak asal, lipatannya berantakan, tapi cukup lebar untuk menambah lapisan empuk di
Tapi tubuhnya mengatakan hal lain. Pinggulnya bergerak sedikit di sofa, menekan ke depan, mencari sesuatu yang belum ia dapat. Satria merasakannya, dan tangannya yang bebas turun dan menekan lembut di pinggul perempuan itu, menahannya tetap di tempat, seolah berjanji bahwa semuanya akan datang pada waktunya.Ia terus meminum, hangat, dalam, dan lama, sampai napas Sheza menjadi satu-satunya suara selain denting piano dari pengeras suara. Di sela-sela itu, di antara kedua matanya yang terpejam, Satria berpikir bahwa tidak ada yang pernah memberinya seperti ini. Tanpa meminta, tanpa menghitung, tanpa mengeluh. Dan ia sedang menerima semuanya sebagai sesuatu yang tidak pantas ia terima, tapi ingin sekali ia jaga.Satria terus minum sampai payudara Sheza tak lagi setegang tadi dan tetesannya melambat. Ia bergantian menyesap puncak yang menonjol itu dengan lidahnya, hidup dan hangat di antara bibirnya, memenuhi mulutnya sepenuhnya. Dada yang tak pernah membuatnya merasa cukup, tak peduli be







