بيت / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 137. Hal yang Tidak Perlu Dijelaskan

مشاركة

Bab 137. Hal yang Tidak Perlu Dijelaskan

مؤلف: juskelapa
last update تاريخ النشر: 2026-03-05 03:56:17
Wajah Sheza tetap tenang, tapi matanya sedikit menyipit.

“Orang-orang kantor suka sekali menyimpulkan sesuatu yang tidak mereka lihat sendiri,” katanya pelan.

Teguh mengangguk kecil. Ia seperti sudah memperkirakan jawaban itu.

“Betul,” katanya. “Makanya saya tanya langsung ke kamu.”

Sheza masih duduk di tempatnya.

“Kalau mereka bilang begitu, berarti mereka juga bilang macam-macam yang lain, ya?” tanyanya.

Teguh tidak mengelak.

“Beberapa orang menganggap kamu menikah karena … situasi.” Ia berhen
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (32)
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
udah feeling ya satria
goodnovel comment avatar
Usnani
pesona mu Mas satria, bikin orang klepek2
goodnovel comment avatar
Moelyanach
langsung mingkem teguh didatengin satria langsung,...
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • KAMAR KEDUA   Bab 198. Kebusukan Terorganisir 

    Mendengar itu Satria tak bergerak. Ia mengulangi kata-kata itu dalam kepala.“Pak Salim tahu. Tapi seperti biasa Pak Salim diam.”Detak jantungnya semakin cepat. Tangannya pasti sudah sedingin es.Artinya … Pak Salim punya kesempatan besar untuk mencegah hal itu terjadi.“Jangan marah, Sat,” ucap Pak Hendra. “Kan sudah saya bilang kalau Prabu masih hidup, kamu nggak akan memiliki yang kamu inginkan.” Ia kembali tertawa pendek. Seakan sedang menertawakan cucunya.“Prabu nggak akan sepicik itu mengelola perusahaannya. Kadang kucing memang suka mempermainkan tikus meski tidak benar-benar tertarik memakannya.” Ucapan Satria membuat senyum di wajah Pak Hendra menghilang.Pak Hendra berjalan pelan kembali ke meja. “Awalnya transaksi kecil,” lanjutnya. “Satu invoice. Dua invoice. Semuanya legal di atas kertas.”“Lalu lama-lama Prabu sadar uang yang muter terlalu besar?” tebak Satria.Pak Hendra menatapnya sambil mengangguk tipis.“Prabu bukan orang bodoh,” kata Satria. “Kalian pasti membuatn

  • KAMAR KEDUA   Bab 197. Kenyataan Penting dan Pahit

    Pak Hendra mencondongkan tubuhnya pelan. Tangannya mengambil botol air mineral kaca di atas meja kecil, lalu menuangkan isinya ke gelas kertas kosong di depannya.Gerakannya tenang. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang mengobrol bisnis biasa di tengah malam.“Kenapa?” tanya Satria akhirnya.Suaranya rendah seperti bisikan.Tapi cukup berat untuk membawa semua hal yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Satu pertanyaan untuk semuanya.Untuk Prabu. Untuk kecelakaan itu. Untuk darah di jalan. Untuk alasan kenapa sahabatnya harus mati.“Kalau semua masih bisa dibicarakan…” rahang Satria mengeras, “…dia nggak harus mati, kan?”Ia bahkan tidak mau menyebut nama Prabu di depan pria itu. Entah kenapa rasanya kotor. Pak Hendra seharusnya berada di rumah. Duduk santai menonton televisi bersama cucu-cucunya. Bukan berdiri di tengah gudang gelap seperti ini. Kontras itu justru membuat bulu kuduk Satria terasa dingin.Pak Hendra tersenyum kecil sambil mendorong gelas air ke arah Satria. “Kita se

  • KAMAR KEDUA   Bab 196. Gudang Nomor Tujuh Belas

    Satria meninggalkan rumah sakit dengan langkah cepat.Lorong persalinan masih terang saat ia berjalan menjauh. Suara monitor detak jantung bayi dan langkah perawat masih samar terdengar di belakangnya. Tapi kepalanya sudah penuh oleh hal lain.Sheza.Gudang nomor 17.Lalu ….Obrolan bersama Arga dan Julian.“Seluruh berkas di gudang nomor 17 untuk barang bukti dan memusnahkan berkas Prabu.”“Harus punya sesuatu untuk dibarter biar mereka bisa diam.”Rahang Satria mengeras. Rambutnya yang tadi rapi sekarang sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyugar rambutnya.“Yang dibarter itu pasti harus besar dan berharga buat si tua itu,” Satria berbisik.Pintu lift tertutup di depannya. Pantulan wajahnya muncul samar di dinding stainless. Tegang. Letih. Lalu ponselnya kembali bergetar. Kali ini pendek-pendek. Satria membuka pesan masuk.‘Saya hanya ingin memastikan semuanya tetap tenang.’‘Saya rasa kita sama-sama tidak ingin keluarga kita terganggu, bukan?’Tatapan Satria meredup.Pak De

  • KAMAR KEDUA   Bab 195. Sesuatu yang Perlu Penyelesaian

    Mobil berhenti di depan pintu IGD. Satria keluar lebih dulu. Seorang satpam langsung membantu membuka pintu penumpang.“Saya minta kursi roda buat istri saya,” kata Satria pada satpam. Tak lama satpam itu kembali dengan sebuah kursi roda. Satria membantu Sheza turun dan tangannya sigap menopang tubuh Sheza. “Pelan,” katanya.Sheza memelankan gerakannya. Napasnya sedikit lebih berat, tapi masih terkendali. Seorang perawat lalu mendekat dan mengambil alih kursi roda sementara Satria meletakkan mobil ke sisi lain halaman. “Saya kontraksi ringan,” kata Sheza pada perawat.“Baik. Kita langsung ke bagian persalinan ya, Bu.”Tak lama Satria bergabung dan tiba di sebelah Sheza. Sementara Bu Pur terlihat melambatkan langkah di belakang. Hening memperhatikan perlakuan Satria pada putrinya.Sheza didorong masuk melewati lorong rumah sakit yang terang dan dingin. Suara roda kursi menyusuri lantai mengisi keheningan di malam yang sudah larut.Beberapa saat berjalan dengan keheningan dan pikiran m

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 64. Hari yang Berat

    Sabtu pagi, Satria sudah duduk di ruang kerjanya sejak matahari belum tinggi. Pakaian rumahnya rapi. Kemeja lengan pendek putih dengan bagian kerah terbuka seperti piyama, jeans biru dan rambut sedikit basah. Di meja kerja, kopi yang dibuatnya subuh tadi sudah habis. Ia bahkan belum sarapan. Belum

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 62. Yang Harus Ditahan

    Tekanan pada Satria itu tidak datang tiba-tiba. Bukan seperti telepon Nadine di Jumat pagi yang memaksanya berhenti sejenak dan menatap layar ponsel terlalu lama. Tekanan itu datang pelan-pelan. Bertahap. Disamarkan sebagai urusan kerja yang tampak normal.Beberapa hari terakhir sebelum Jumat, rapat

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 61. Pria yang Tidak Mengancam

    Kafe itu tidak terlalu ramai. Kebetulan hari itu malah terlihat agak sepi dari hari biasanya. Tapi suasana di sana cukup aman untuk percakapan yang tidak ingin terdengar seperti wawancara resmi, tapi juga tidak terlalu personal.Sheza mengangguk pada Teguh yang menunggunya di depan cafe.“Kita dudu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 60. Ada Jarak Tak Kasat Mata

    Setelah sedikit kemanisan sikap Satria yang dirasakan Sheza usai demamnya, hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang tidak pernah benar-benar tenang. Sheza memperhatikan perubahan itu pelan-pelan. Satria lebih banyak diam. Pulang lebih larut. Duduk lebih lama dengan ponsel atau tablet di tanga

    last updateآخر تحديث : 2026-03-24
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status