LOGINHarap maklum ya agak slow banget. Saya masih di Malaysia. Lanjutannya sesaat lagi.
Masih dari kejadian beberapa hari lalu.Malam setelah mendapatkan kiriman rekaman CCTV, Satria menenggelamkan dirinya di balik ruang kerja.Dengan lampu yang hanya menyala satu, ia duduk menatap layar laptop. Rekaman CCTV itu sudah ia putar berulang kali. Bukan dua atau tiga. Lebih dari itu. Sampai suara napasnya sendiri terdengar asing di telinganya.Sampai kopi yang dibuatkan Sheza tadi sudah surut, matanya masih mengamati tiap orang yang melintas di lorong apartemen Alina.Satu per satu aktivitas lewat seperti biasa di layar CCTV. Seorang penghuni yang paling dekat dengan kamera cctv masuk ke unitnya, tapping kartu. Lalu seorang kurir berdiri sebentar di depan pintudua orang berbincang singkat lalu pergi.Tidak ada yang aneh.Satria tidak berkedip.Lalu … frame berikutnya.Seorang satpam. Seragamnya rapi dengan topi terpasang. Tidak ada yang mencolok. Ia berjalan dari arah yang tidak terlihat kamera sebelumnya. Bukan dari pintu depan. Dan bukan dari lift yang biasa digunakan tamu.
“…Mau ikut jadi pembunuh buat balesin dendam Prabu?”Kalimat Arga menggantung di udara seperti sesuatu yang terlalu tajam untuk langsung dijawab.Satria tidak langsung membuka mulut.Tatapannya masih lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras. Ada jeda … bukan karena ia tidak punya jawaban, tapi seperti sedang memilih mana yang masih boleh diucapkan, dan mana yang sebaiknya tetap tinggal di dalam kepalanya.Sejurus kemudian pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar, matanya langsung mencari.“Siapa yang membawa pasien atas nama Alina?”Arga refleks melangkah maju. “Kami, Dok.” Satria mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara.“Silakan masuk sebentar. Saya perlu keterangan tambahan.”Pertanyaan Arga barusan terpotong begitu saja. Berganti dengan rasa penasaran soal apa yang terjadi pada Alina. Ruangan yang mereka masuki sangat dingin. Saat masuk ke sana mereka sudah tidak melihat Alina. Hanya bau antiseptik dan beberapa berkas yang sudah terbuka di atas meja. Satria dan Arga mene
Arga yang melangkah masuk lebih dulu ke unit Alina, langsung menoleh ke atas. Suara pendingin udara yang kasar dan butuh perawatan menampakkan unit itu memang jarang ditempati. Saat melewati pintu, tangan Arga sudah terangkat menahan langkah yang di belakangnya. Saat tiba di depan pintu kamar yang terbuka, ia memandang Satria yang berdiri di belakangnya.“Memang ada. Bersuara. Minta keamanan telepon polisi,” pinta Arga setengah berbisik.Satria mengangguk dan memberikan perintah sesuai permintaan Arga. Setelahnya, ia tahu bahwa apa yang dilihat sahabatnya di kamar Alina bukan sesuatu yang biasa.“Sepertinya baru, Sat. Pelan-pelan aja. Aku nggak mau kita malah bikin dia takut.” Setelah mengatakan itu, ia berjalan pelan mendekati ranjang tempat Alina menelungkup. Punggungnya banyak bekas kuku dan memar karena pukulan.Satria yang sekilas saja sudah paham apa yang baru saja terjadi pada Alina, menarik selimut dari bagian bawah ranjang dan menutupi tubuh wanita itu.“Mbak Alina …,” panggi
“Mas Satria baru pulang?” tanya Sheza dengan suara mengantuk. Ia tertawa kecil mendekap kepala Satria. “Udah makan?” Saat ia menunduk yang tak tampak dari sisinya hanyalah kepala Satria yang kini berada di dadanya. Matanya terpejam menikmati keinginan Satria siang itu sambil menunggu jawaban.Cukup lama Satria berada di dadanya. Mengisap pelan puncak payudaranya seakan memang berharap bahwa ASI untuk bayi mereka sudah keluar.“Ada sedikit, Zee,” ucap Satria saat akhirnya pria itu kembali mendongak.Sheza tertawa dan memencet hidung Satria yang tinggi. “Belum ada. Malah beberapa hari lahiran baru bisa lancar. Nanti aku minum suplemen biar ASI-nya nya banyak.”“Aku bakal bikin kamu happy biar ASI-nya lancar.” Satria kembali mengecup puncak payudara Sheza dengan satu tangan memilin puting satunya.Gerakan Satria terlihat tenang. Atau lebih tepatnya, ia baru saja mendapat ketenangan itu beberapa saat yang lalu saat kehangatan Sheza menyentuh lidahnya.“Mas Satria lagi mikirin apa?” tanya
Suara pendingin udara dan kecupan basah mengisi siang di kamar kedua. Desahan dan pekikan Sheza terdengar bergantian, beraturan. Seiring dengan usapan dan gerakan jari yang tahu ke mana menemukan jalannya.Untuk kedua kalinya Sheza mengangkat pinggul dengan pekikan tertahan. Gerakan itu menjadi sebuah penanda bagi Satria untuk bangkit dan kembali membuka paha Sheza perlahan. Memberi ruang pada tubuhnya sendiri untuk masuk lebih dekat.Sheza berbaring dengan kedua tangan di atas kepala. Terlihat berusaha mengatur napas dan kembali menguasai diri setelah dua kali dihantam kenikmatan. Ia kembali mengikuti ke mana Satria membawa tubuhnya. Kali ini ia dibawa bergeser sampai benar-benar berada di tepi ranjang. Kedua kakinya dibuka lebih lebar. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia merasakan bagian maskulin Satria mulai menekannya. Pelan, masuk lebih dalam. Ia meringis, lalu dalam detik yang berjalan sedikit lebih lambat, ia menghela napas lega ketika tubuhnya dipenuhi oleh Satria.Desah kenik
Seumur hidupnya, Satria tidak pernah benar-benar hidup tanpa masalah.Ia sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Dengan sesuatu yang diambil darinya sebelum sempat ia pertahankan.Orang tuanya. Perusahaan keluarganya. Nama yang harus ia bangun ulang dari nol. Pernikahan yang tidak bertahan. Dan setelah itu … ketenangan yang selalu datang dengan syarat.Ia terbiasa.Masalah baginya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Hanya sesuatu yang harus diselesaikan.Selalu begitu.Hanya saja … dulu, ia selalu sendirian.Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang perlu ia jaga dengan cara berbeda.Sampai Sheza masuk dalam hidupnya.Dan untuk pertama kalinya, Satria merasakan sesuatu yang tidak pernah ia hitung sebelumnya.Bahwa masalah … bisa terasa lebih ringan hanya karena ada seseorang di dekatnya.Bukan karena membantu menyelesaikan.Tapi karena … ada.Dan sekarang yang membuatnya paling berat bukan masalah itu sendiri.Tapi Sheza yang ada di dekatnya, tapi memilih diam.Rumah siang itu terasa terl
Satria merasakan tubuh Sheza menyambutnya sepenuhnya. Di dalam, tubuh Sheza hangat, hidup dan … berdenyut bagai nadi mereka. Satria memejamkan mata, menarik napas panjang ketika tubuh mereka menyatu lebih dalam. Sensasi itu membuat rahangnya mengeras. Kenikmatan yang sulit digambarkan menggelenyar
Restoran tempat Satria dan keluarga Salim Prajogo Kertasoedibyo bertemu tidak terlalu ramai. Pak Salim sudah meminta sekretarisnya memesan tempat sebuah restoran umum, tapi juga private. Menekankan kesan bahwa mereka sudah biasa masuk ke ruang publik tapi juga tidak berbaur sepenuhnya. Sebuah priva
Di sisi lain ruangan, seorang pria berdiri berbicara dengan dua lelaki pelaku di dunia tambang yang usianya jauh lebih tua. Jas hitamnya pas di badan. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak tertawa.Tapi semua orang mendengarkan saat ia bicara. Wajahnya tegas. Garis rahangnya jelas. Tatapannya tenang
Malam itu Satria menjabat tangan Pak Salim dengan mantap dan mengangguk sopan pada Nadine. Ia pergi dengan langkah tenang dan tak menoleh lagi ke belakang.Pintu ruang privat tertutup.Beberapa detik hening tersisa di antara ayah dan anak itu.Nadine tidak langsung bicara. Ia mengusap bibir gelasny







