Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 138. Ingat Pak Elang?

Share

Bab 138. Ingat Pak Elang?

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-03-06 11:51:03

Pintu terbuka perlahan.

Beberapa detik ruangan itu hening.

Sheza berdiri dekat meja Teguh. Teguh masih duduk di kursinya, tubuhnya condong sedikit ke depan seperti seseorang yang baru saja mengatakan sesuatu yang penting.

Di ambang pintu, Satria berdiri.

Tatapannya tenang. Tidak terburu-buru masuk. Seolah memastikan bahwa ia memang tidak salah ruangan.

“Mas?” suara Sheza lebih dulu terdengar.

Bukan kaget. Lebih seperti tidak menyangka.

Satria baru melangkah masuk setelah itu.

“Maaf,” katanya ri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (64)
goodnovel comment avatar
PiMary
Duhhh mas Satriaaaa,aku padamu hahaha.....
goodnovel comment avatar
~kho~
hahahaha.... gak mungkin lupa ya Dira klo ama yg ganteng² mah...
goodnovel comment avatar
Usnani
senengnya... suaminya perhatian
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 157. Hampir di Ujung Jalan

    “Mas Satria baru pulang?” tanya Sheza dengan suara mengantuk. Ia tertawa kecil mendekap kepala Satria. “Udah makan?” Saat ia menunduk yang tak tampak dari sisinya hanyalah kepala Satria yang kini berada di dadanya. Matanya terpejam menikmati keinginan Satria siang itu sambil menunggu jawaban.Cukup lama Satria berada di dadanya. Mengisap pelan puncak payudaranya seakan memang berharap bahwa ASI untuk bayi mereka sudah keluar.“Ada sedikit, Zee,” ucap Satria saat akhirnya pria itu kembali mendongak.Sheza tertawa dan memencet hidung Satria yang tinggi. “Belum ada. Malah beberapa hari lahiran baru bisa lancar. Nanti aku minum suplemen biar ASI-nya nya banyak.”“Aku bakal bikin kamu happy biar ASI-nya lancar.” Satria kembali mengecup puncak payudara Sheza dengan satu tangan memilin puting satunya.Gerakan Satria terlihat tenang. Atau lebih tepatnya, ia baru saja mendapat ketenangan itu beberapa saat yang lalu saat kehangatan Sheza menyentuh lidahnya.“Mas Satria lagi mikirin apa?” tanya

  • KAMAR KEDUA   Bab 156. Dalam Balutan Kehangatan 

    Suara pendingin udara dan kecupan basah mengisi siang di kamar kedua. Desahan dan pekikan Sheza terdengar bergantian, beraturan. Seiring dengan usapan dan gerakan jari yang tahu ke mana menemukan jalannya.Untuk kedua kalinya Sheza mengangkat pinggul dengan pekikan tertahan. Gerakan itu menjadi sebuah penanda bagi Satria untuk bangkit dan kembali membuka paha Sheza perlahan. Memberi ruang pada tubuhnya sendiri untuk masuk lebih dekat.Sheza berbaring dengan kedua tangan di atas kepala. Terlihat berusaha mengatur napas dan kembali menguasai diri setelah dua kali dihantam kenikmatan. Ia kembali mengikuti ke mana Satria membawa tubuhnya. Kali ini ia dibawa bergeser sampai benar-benar berada di tepi ranjang. Kedua kakinya dibuka lebih lebar. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia merasakan bagian maskulin Satria mulai menekannya. Pelan, masuk lebih dalam. Ia meringis, lalu dalam detik yang berjalan sedikit lebih lambat, ia menghela napas lega ketika tubuhnya dipenuhi oleh Satria.Desah kenik

  • KAMAR KEDUA   Bab 155. Yang Dibutuhkan Tanpa Kata

    Seumur hidupnya, Satria tidak pernah benar-benar hidup tanpa masalah.Ia sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Dengan sesuatu yang diambil darinya sebelum sempat ia pertahankan.Orang tuanya. Perusahaan keluarganya. Nama yang harus ia bangun ulang dari nol. Pernikahan yang tidak bertahan. Dan setelah itu … ketenangan yang selalu datang dengan syarat.Ia terbiasa.Masalah baginya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Hanya sesuatu yang harus diselesaikan.Selalu begitu.Hanya saja … dulu, ia selalu sendirian.Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang perlu ia jaga dengan cara berbeda.Sampai Sheza masuk dalam hidupnya.Dan untuk pertama kalinya, Satria merasakan sesuatu yang tidak pernah ia hitung sebelumnya.Bahwa masalah … bisa terasa lebih ringan hanya karena ada seseorang di dekatnya.Bukan karena membantu menyelesaikan.Tapi karena … ada.Dan sekarang yang membuatnya paling berat bukan masalah itu sendiri.Tapi Sheza yang ada di dekatnya, tapi memilih diam.Rumah siang itu terasa terl

  • KAMAR KEDUA   Bab 154. Saat Aku Butuh Kamu

    Satria berdiri menatapnya. Terlihat bahwa pria itu mendengar tiap kalimatnya.Sheza menarik napas kecil.“Aku ngerti Mas sibuk. Aku ngerti Mas lagi banyak pikiran.” Ia berhenti sebentar. “Tapi bukan berarti aku sama anak-anak harus berhenti hidup nunggu Mas terus.”Satria tidak menyela, masih berdiri di tempatnya. Dan Sheza pelan-pelan duduk menegakkan punggungnya.“Aku di rumah, aku nurut. Aku nunggu.” lanjut Sheza. “Tapi waktu aku keluar sebentar … Mas marah. Tanpa jelasin apa-apa. Salahku di mana?”Ia menatap Satria lebih dalam.“Aku ini istri Mas. Bukan orang yang cuma disuruh diam dan ikut tanpa ngerti kenapa.”“Aku tadi harus menjelaskan agak sedikit lebih panjang ke Nadine soal Nayla yang pulang sore.” Satria mengawali kalimatnya dengan tenang. Ia melangkah ke sofa untuk duduk di dekat Sheza. Tapi wanita itu sedikit beringsut.“Mas marah karena harus menjelaskan ke Mama Nayla?” Suara Sheza sangat pelan. “Aku jadi bingung ini soal apa. Soal aku yang keluar tanpa Mas atau soal ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 153. Perselisihan Lagi

    Mereka kembali ke mobil dengan langkah tenang. Arga masuk ke mobil lebih dulu.Satria menyusul ke belakang kemudi dan menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak pelan keluar dari komplek.Saat baru melaju beberapa meter, mata Satria menangkap sesuatu ketika menoleh ke kiri.Sebuah mobil yang terasa tidak asing melintas meninggalkan jajaran ruko. Mobil itu terasa familiar.Satria menyipitkan mata.Tangannya refleks sedikit menahan setir.“Ga ….”Arga menoleh.“Lihat itu.” Satria menunjuk dengan isyarat dagunya.Mobil yang dimaksud Satria mulai menjauh. Keluar dari komplek.Satria menekan gas sedikit.“Kayaknya … itu mobil yang kita lihat di CCTV.” Nada suaranya rendah.Arga langsung menatap ke depan.Mencoba menangkap bentuknya.Garis bodinya.Sekilas. Lalu saat plat mobil tidak terlihat, ia menggeleng pelan.“Mirip,” katanya. “Tapi … nggak yakin.”Satria tidak menjawab lagi. Tapi matanya masih mengikuti mobil itu yang semakin jauh.Beberapa detik.Cukup untuk membuatnya ragu atau justru s

  • KAMAR KEDUA   Bab 152. Tanpa Sepengetahuanmu

    Satria memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko tak berpenghuni. Lalu mereka turun dan mulai berjalan. Mengamati nomor bangunan yang tersembunyi atau yang mulai pudar. Mereka berjalan pelan. Dari satu blok ke blok lain.Kalau ada orang yang kebetulan melintas, mereka bertanya.Di bagian ujung salah satu blok, ada pintu ruko yang terbuka. Dua orang pria muda sedang menaikkan kantong semen ke mobil pickup.Arga berhenti untuk bertanya. “Perusahaan ini, Mas, tau?”Dua orang pria muda itu menggeleng. “Belum pernah dengar.”Jawaban yang sama berulang di beberapa tempat. Sampai akhirnya mereka berhenti di bagian belakang salah satu blok.Sebuah gudang yang pintu besinya tertutup rapat. Nomor bangunannya sesuai. Alamatnya cocok. Tapi tetap saja tidak ada tanda apa-apa.Satria berdiri di depan pintu itu beberapa detik. Tangannya menyentuh permukaan besi yang dingin. Seolah mencoba merasakan sesuatu yang tidak terlihat.Kosong.Arga melirik ke dalam melalui celah kecil.Gelap. “Ini harusnya

  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 78. Sedikit Refleksi

    Di malam-malam lain, Satria semakin sering duduk di tepi ranjang Sheza. Saat ia pulang larut dan mendapati wanita itu tertidur di ruang televisi dengan wajah lelah. Ia selalu mengangkat Sheza ke kamar dan duduk di tepi ranjang sejenak hanya untuk memandang wajah Sheza dan tangan wanita itu selalu m

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 67. Mungkin Hanya Sebuah Kewajiban

    “Zee … kalau aku lanjut, aku nggak akan setengah-setengah.” Kalimat itu jatuh keluar tanpa tekanan dan paksaan. Justru itulah yang membuat Sheza terdiam. Ia berdiri di hadapan Satria, berusaha mencerna bagaimana ia bisa sampai di kamar ini—kamar yang tak pernah ia masuki, kamar seorang pria yang k

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status