Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Share

Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 21:18:09

Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’

Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras karena merasa diperintah-perintah, ia langsung bersiap-siap.

Satria masuk melalui pintu garasi dan muncul di ruang makan. “Dio udah makan siang, kan?” tanya Satria saat melihat Dio. Ekor matanya menyapu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (15)
goodnovel comment avatar
~kho~
aduuuhh sedihnya nyampe sini loh zee.... mesakke
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Mertua macam apa pk Rudy,boro² membantu meringanka masalah yg dtimbulkan setelah kematian Prabu,ini malah bikin kisruh..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 380. Kehangatan yang Dipenuhi

    Tapi tubuhnya mengatakan hal lain. Pinggulnya bergerak sedikit di sofa, menekan ke depan, mencari sesuatu yang belum ia dapat. Satria merasakannya, dan tangannya yang bebas turun dan menekan lembut di pinggul perempuan itu, menahannya tetap di tempat, seolah berjanji bahwa semuanya akan datang pada waktunya.Ia terus meminum, hangat, dalam, dan lama, sampai napas Sheza menjadi satu-satunya suara selain denting piano dari pengeras suara. Di sela-sela itu, di antara kedua matanya yang terpejam, Satria berpikir bahwa tidak ada yang pernah memberinya seperti ini. Tanpa meminta, tanpa menghitung, tanpa mengeluh. Dan ia sedang menerima semuanya sebagai sesuatu yang tidak pantas ia terima, tapi ingin sekali ia jaga.Satria terus minum sampai payudara Sheza tak lagi setegang tadi dan tetesannya melambat. Ia bergantian menyesap puncak yang menonjol itu dengan lidahnya, hidup dan hangat di antara bibirnya, memenuhi mulutnya sepenuhnya. Dada yang tak pernah membuatnya merasa cukup, tak peduli be

  • KAMAR KEDUA   Bab 379. Sebelum Benar-benar Sore

    Hampir empat bulan ini Satria dipuaskan tanpa pernah benar-benar bersatu dengan istrinya. Sheza memanjakannya dengan mulut dan tangannya, juga dengan payudaranya yang sedang penuh dan sensitif karena menyusui, sampai Satria klimaks. Setiap kali, Sheza memastikan ia selesai dengan baik, tapi mereka tidak pernah sampai ke cara yang sebenarnya. Sheza tidak pernah mengeluh. Satria pun tidak. Tapi yang ia rindukan bukan sekadar pelepasan. Ia merindukan masuk ke dalam tubuh istrinya, merasakan Sheza menyambutnya, dan bergerak bersama hingga perempuan itu sendiri yang mencapai puncaknya."Sekarang aku mau yang sebenarnya," kata Satria pelan, bibirnya hampir menyentuh bibir Sheza.Tangan Satria bergerak ke punggung Sheza, menelusuri tulang belakangnya perlahan melalui kain tipis blus bertali itu. Setiap ruasnya terasa di bawah telapak tangannya, hangat dan sedikit lembap oleh udara studio yang tertutup. Jemarinya berhenti di pinggang, tempat kulit terasa di balik ujung blus dan kancing-kancin

  • KAMAR KEDUA   Bab 378. Sesi Pemotretan

    Mobil berhenti di depan rumah tepat ketika matahari mulai condong. Satria mematikan mesin, menarik napas sebentar sebelum membuka pintu, lalu menyerahkan kuncinya pada Pak Heri yang sudah menunggu di dekat gerbang. Hari itu hari biasa. Nayla sedang tidak di rumah itu, dan Dio masih di sekolah. Seluruh perjalanan pulang tadi ia habiskan dengan memikirkan satu orang, dan perasaan itu belum juga reda ketika ia melangkah melewati halaman.Dari pintu depan ia sudah mendengar suara Sagara. Bukan tangisan, hanya rengekan khas anak yang tahu ia sedang dibujuk dan memutuskan untuk menolak sebentar lagi. Suara Nila terdengar lembut dari dalam, mengulang kata "tidur siang dulu, yuk" dengan sabar yang sudah jelas berulang kali.Begitu Satria masuk, Saga menoleh. Bocah itu berhenti merengek, matanya melebar, lalu ia berlari kecil dengan langkah goyang dan kedua tangan terentang. "Papa!"Satria berjongkok dan mengangkatnya tanpa berpikir. Tubuh kecil itu hangat dan beraroma susu. Ia menaruh Saga di

  • KAMAR KEDUA   Bab 377. Merasa Cukup

    Satria tidak langsung menjawab. Ia menatap Nadine beberapa detik, lalu mengulang kalimat itu dalam kepalanya perlahan, seolah sedang membaca isi kontrak yang baru pertama kali ia lihat.Marah-marah. Mengungkit rumah. Dia dan anaknya."Benar kamu pernah bilang begitu? Ke Sheza?" tanyanya akhirnya, tanpa nada menuduh.Nadine menelan ludah. Raut wajahnya sulit dibaca, antara menyesal dan bersiap menerima apa pun yang akan datang. "Benar. Waktu itu ... aku merasa rumah itu seharusnya untuk Nayla."Satria mengangguk pelan. Ia mencoba mengingat apakah Sheza pernah menyinggung hal seperti itu, di meja makan, di tempat tidur, di sela-sela malam yang panjang ketika ia menceritakan hampir semua hal pada perempuan itu. Dan jawabannya sederhana: tidak pernah. Sekali pun tidak."Sheza nggak pernah ngomong apa-apa," ucapnya. "Nggak sekali pun."Nadine terdiam.Lalu Satria tertawa. Bukan tawa mengejek, hanya tawa pendek yang keluar begitu saja dari dadanya, seperti ketika seseorang menemukan sesuatu

  • KAMAR KEDUA   Bab 376. Review Masa Lalu (2)

    Ruangan itu mendadak hening. Semacam jeda saat dua orang yang sama-sama menyadari mereka baru saja mengatakan sesuatu yang lebih jujur dari rencana. Di luar jendela tinggi, awan bergeser pelan melewati gedung-gedung, dan teh di cangkir Nadine mulai berhenti mengepul."Sebenarnya, aku sendiri mungkin belum terlalu familiar dengan perasaan seperti ini," ucap Nadine tiba-tiba, lalu cepat-cepat meralat. "Maksudku, perasaan bertemu orang baru, lantas kagum dan ingin selalu dekat. Aku yakin sekarang kita udah cukup dewasa untuk bisa membicarakan hal seperti ini. Tapi ini bukan bentuk keraguanku. Kamu mungkin pernah kenal aku gimana—kenal aku lebih dulu. Mungkin selama ini, meski diam, kamu bisa menilai aku."Ia berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati, seperti menyusun poin-poin yang biasa ia paparkan—namun kali ini poin-poin itu tidak mau berurutan."Menurut kamu, perempuan seperti aku ini masih bisa memulai hidup baru dengan laki-laki yang benar-benar menerima aku apa adanya? Lalu

  • KAMAR KEDUA   Bab 375. Review Masa Lalu (1)

    Nadine tidak pernah terlambat, dan hari itu pun tidak berbeda. Tepat ketika jam makan siang baru dimulai, mobilnya sudah memasuki halaman Rylee Logistics dan berhenti di sisi gedung yang menghadap deretan truk kontainer. Jam sebelas hingga satu adalah waktu paling sibuk bagi orang-orang kantor mencari makan, tapi ia tahu jam makan siang di tempat ini bisa mundur sampai pukul dua. Mengobrol di jam seperti ini tidak mengganggu siapa pun.Ia melangkah masuk ke lobi dan beberapa kepala langsung terangkat dari balik meja. Ada yang tampak terkejut, ada yang buru-buru kembali menunduk ke layar. Nadine bisa menebak isi pikiran mereka. Mungkin mereka mengira setelah Satria menikah lagi, kantor ini akan menjadi tempat yang dihindarinya. Padahal kenyataannya terbalik. Di awal pernikahan Satria, justru ia yang sering muncul di sini, dengan alasan yang kadang masuk akal dan kadang tidak, tapi tujuan sebenarnya selalu sama: memancing reaksi dari ayah anaknya itu.Memikirkannya sekarang membuat sudu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status