Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Share

Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 21:18:09

Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’

Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras karena merasa diperintah-perintah, ia langsung bersiap-siap.

Satria masuk melalui pintu garasi dan muncul di ruang makan. “Dio udah makan siang, kan?” tanya Satria saat melihat Dio. Ekor matanya menyapu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (15)
goodnovel comment avatar
~kho~
aduuuhh sedihnya nyampe sini loh zee.... mesakke
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Mertua macam apa pk Rudy,boro² membantu meringanka masalah yg dtimbulkan setelah kematian Prabu,ini malah bikin kisruh..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 343. Belum Kenal

    Roman menarik napas, lalu menyelipkan kedua tangan ke saku celana. Bukan gaya santai seperti biasanya. Kali ini ia terlihat seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.Ia sedikit berputar agar bisa menatap mata Rania. "Maksudku…" Ia berhenti sebentar, memilih kata. "Aku serius sama kamu, Ran. Bukan serius yang cuma ngajak makan atau jalan. Aku mau kita menuju ke arah yang jelas."Rania tidak menyela. Jemarinya kembali memegang tali tas, kali ini lebih erat. Roman sudah berganti panggilan menyebut dirinya. Dari saya yang terkesan berjarak, kini menjadi aku, yang terasa lebih dekat."Aku nggak akan minta kamu ngambil keputusan apa pun sekarang. Kamu masih praktik, masih ada skripsi." Roman menatapnya lurus. "Tapi kalau skripsi kamu udah selesai, aku mau datang ke Kebumen. Ketemu orang tuamu, dan melamar kamu secara baik-baik. Ini … soal hubungan serius yang begitu, Rania.”Angin siang berembus pelan. Dari dalam rumah terdengar tawa Nayla, samar dan jauh, seakan berasal dari

  • KAMAR KEDUA   Bab 342. Yang Perlu Diketahui

    Sagara sudah terlelap di pangkuan Sheza. Ia memindahkan bayi itu ke stroller di samping sofa, lalu kembali duduk menghadap Rania yang masih tertunduk dengan pipi hangat."Ran," panggilnya pelan. "Ada yang perlu Kakak jelasin soal Roman. Bukan buat nakut-nakutin. Kamu berhak tahu dari orang yang nggak punya kepentingan bela dia."Rania mengangkat wajah. "Iya, Kak.""Roman itu memang supel dan banyak temen wanita. Dari dulu. Tapi selama Kakak kenal, dia belum pernah bawa satu pun buat dikenalin ke kami." Sheza menghela napas. "Jadi kalau kamu dengar cerita macem-macem tentang dia, pasti ada. Orang suka bicara.""Cerita macam apa, Kak?""Cerita masa lalu. Siapa dia dulu, sama siapa aja." Sheza menatapnya lurus. "Nah, itu risikonya. Bukan dari Roman, tapi dari luar. Gosip, orang yang bandingin kamu, atau orang yang nggak percaya dia bisa berubah. Itu nyata, Ran. Kakak nggak mau bohong."Rania mengangguk pelan, jemarinya saling meremas di atas lutut. "Terus ... Mas Roman harus cerita semua

  • KAMAR KEDUA   Bab 341. Percakapan Laki-laki

    Di teras belakang, Satria duduk di tepi kolam renang. Ia mengeluarkan rokok dari kantongnya dan meletakkannya ke meja kecil hingga menimbulkan bunyi sentakan pelan.Roman sedikit kaget melihatnya. "Udah lama nggak gini, Sat. Boleh? Soalnya sejak punya anak, lo ketat banget sama protokol kesehatan." Ia terkekeh.Satria mengambil sebatang dan menyulutnya. "Boleh. Kadang gue rasa perlu sesekali. Kalau ngomong begini, kita bisa lebih santai. Obrolan laki-laki."Roman ikut mengambil sebatang dari bungkus yang tergeletak di meja, menyulutnya, lalu duduk di kursi seberang Satria. Asap tipis mengepul di antara mereka, menyatu dengan udara sore yang mulai teduh."Udah berapa lama, Sat? Rokok terakhir kapan?" tanya Roman, mencoba membuka obrolan santai."Sejak Sheza hamil Sagara." Satria menghembuskan asap pelan-pelan, matanya menatap permukaan kolam yang beriak kecil. Ia lalu memandang temannya di sebelah. "Lo nggak ada mau cerita sesuatu ke gue?"Roman yang tadi memperlihatkan gurat senyum sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 340. Wawancara dari Sheza

    Saat Roman datang dan terlihat oleh Satria, pria itu langsung diajak ke belakang. Satria hanya memberi isyarat dengan dagu, dan seketika itu juga Roman paham maksudnya.Roman melangkah melewati meja makan, tempat Sheza dan Rania masih berdiri. Ia tersenyum sekilas pada keduanya. Siang itu ia mengenakan jeans dan kemeja lengan pendek bermotif ombak laut berwarna biru pastel dan putih."Hai…," sapa Roman. "Saya ke belakang dulu, ya. Dipanggil Mas Satria," katanya.Sheza terbelalak, kaget mendengar Roman memanggil suaminya dengan sebutan "Mas". Namun Roman sudah keburu berlalu sebelum sempat ditanya lebih jauh, mengikuti langkah Satria menuju bagian belakang rumah.Sheza masih menatap punggung dua pria itu yang menjauh, lalu berpaling pada Rania."Mas? Ada apa? Kenapa tiba-tiba manggil temennya dengan sebutan Mas? Biasa dia nggak gitu," kata Sheza, memandang Rania.Rania masih memandangi punggung Roman yang berjalan mengikuti Satria ke belakang. Ia lalu menoleh pada Sheza. "Biasa manggil

  • KAMAR KEDUA   Bab 339. Silaturahmi Kebetulan?

    Setelah selesai makan, Roman membayar dua porsi mie ayam. Rania sempat menawarkan untuk membayar bagiannya sendiri, tetapi Roman menolaknya."Kali ini biar aku aja," katanya.Rania mengangkat alis. "Kali ini?" Setelah kali ini, apakah artinya akan ada kali lainnya?, batinnya.Roman terdiam sebentar, kemudian tersenyum. "Kalau kamu mau."Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil tasnya. "Ya sudah."Mereka meninggalkan gerobak pedagang. Udara malam terasa lebih sejuk. Jalan di depan rumah sakit mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas."Kos kamu benar-benar dekat?" tanya Roman."Dekat.""Biasanya jalan kaki?""Iya. Di sana," katanya, menunjuk lokasi di seberang rumah sakit.Roman melihat arah jalan yang ditunjuk Rania. "Saya temenin.""Nggak usah, Mas.""Kenapa?""Sudah malam.""Karena udah malem, makanya ditemenin. Yuk."Rania terdiam, lalu akhirnya mengangguk. "Ya sudah."Mereka berjalan berdampingan. Tidak ada kendaraan di antara mereka, tidak ada jarak

  • KAMAR KEDUA   Bab 338. Percakapan di Tepi Jalan

    Pedagang mie ayam yang mereka datangi hanya berupa gerobak, meja panjang, dan bangku-bangku plastik yang disusun rapi. Malam itu bagian ujung meja terisi dua orang pekerja rumah sakit yang baru pulang, serta seorang pria muda yang tampilannya seperti mahasiswa yang tinggal di sekitar rumah sakit.Rania berjalan di samping Roman. Awalnya ia masih sedikit canggung, sesekali tangannya merapikan tali tas yang menggantung di bahu, sementara Roman berjalan santai di sebelahnya."Sering makan di sini?" tanya Rania."Lumayan." Roman merapikan bangku untuk Rania. "Kalau lagi praktik sampai malam, kadang mampir." Padahal yang barusan dikatakannya itu sebuah kebohongan kecil—ia tidak pernah makan di sana. Hanya melihat gerobak itu sesaat sebelum berbelok ke rumah sakit tadi.Rania duduk. "Berarti rumah sakit Mas Roman juga dekat dari sini?""Nggak terlalu dekat. Saya praktik di Jakarta Selatan.""Oh." Rania mengangguk kecil. "Kalau di sini Jakarta Barat, Jakarta Selatan itu jauh nggak, ya? Saya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status