Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Share

Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-07 21:18:09

Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’

Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras karena merasa diperintah-perintah, ia langsung bersiap-siap.

Satria masuk melalui pintu garasi dan muncul di ruang makan. “Dio udah makan siang, kan?” tanya Satria saat melihat Dio. Ekor matanya menyapu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (15)
goodnovel comment avatar
~kho~
aduuuhh sedihnya nyampe sini loh zee.... mesakke
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Mertua macam apa pk Rudy,boro² membantu meringanka masalah yg dtimbulkan setelah kematian Prabu,ini malah bikin kisruh..
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 374. Agar Semuanya Rapi

    Pagi itu Satria berangkat dengan aroma bedak bayi masih menempel di kemejanya. Ia baru menyadarinya ketika mobil berhenti di lampu merah dan ia mengangkat lengan untuk merapikan kerah. Wangi samar itu milik Sofia, yang sebelum berangkat tadi sempat digendongnya karena rewel dan tidak mau diletakkan ke boks-nya.Hampir sejam ia menggendong Sofia sampai akhirnya ia meletakkan bayi itu ke dalam pelukan Sheza yang menerimanya dengan setengah terpejam. Ia sempat berdiri lama di ambang pintu kamar, memandang dua orang yang paling ia cintai terlelap di ranjang yang sama.Lampu berganti hijau. Ia menginjak gas pelan, dan pikirannya ikut bergerak tanpa diminta.Berbulan-bulan terakhir hidupnya berisi berkas. Akta kelahiran, kartu keluarga, surat-surat yang harus sama tulisannya sampai huruf terakhir, tanda tangan di tempat yang itu-itu juga. Ia tidak pernah menyangka mengurus anak bisa serumit itu di atas kertas. Tapi ia mengerjakannya satu per satu, sering larut malam, dengan keras kepala ya

  • KAMAR KEDUA   Bab 373. Dua Versi Nadine 

    "Menurut kamu, sekarang … kita ini sedang apa, Nad?"Nadine tidak langsung menjawab.Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu di kaca depan. Di pangkuannya, mawar itu masih mengeluarkan wangi segar yang entah kenapa membuatnya sulit berpikir lurus."Tiga poin," katanya akhirnya. Ia menegakkan punggung dan menatap lurus ke depan. "Pertama, ini bukan pertemanan biasa. Kedua, aku nggak suka kata pacaran. Terlalu ringan untuk usia kita. Ketiga, secara tahapan, menurutku kita udah sampai di fase serius.""Serius ke arah mana?" tanya Damar, tenang, tanpa menoleh."Itu pertanyaan buat Mas Damar atau buat aku?""Pertanyaan terbuka." Sudut bibir Damar terangkat. "Aku mau tau apa kamu juga membayangkan hal yang sama. Pernikahan, misalnya."Kata itu keluar di antara mereka dengan ringan, tanpa dramatisasi. Nadine menatap jalan di depan, dan untuk beberapa detik hanya terdengar desis pendingin mobil."Empat bulan," ucapnya pelan. Jemarinya merapikan pita kotak cokelat di pangkuan, seakan itu

  • KAMAR KEDUA   Bab 372. Bukan Buket yang Tertinggal

    Acara test food itu ternyata jauh lebih meriah dari yang Nadine bayangkan. Di tengah ruang makan, meja panjang dari kayu jati sudah ditata dengan belasan piring kecil, masing-masing disertai kartu nama hidangan dan sebuah nomor. Para koki berdiri berjajar di belakang meja dengan celemek bersih dan wajah tegang, seperti peserta lomba yang menunggu juri. Beberapa tamu lain, para manajer dan perwakilan hotel yang sepertinya dikenal baik oleh kakak kelas Damar, sudah lebih dulu berkeliling sambil berbincang pelan dan mencatat. Dari dapur terbuka tercium aroma bawang, rempah, dan asap bakaran yang membuat perut siapa pun ikut bersuara.Nadine biasanya makan sedikit dan cepat, lebih karena kebiasaan daripada selera. Ia bukan orang yang betah duduk berlama-lama di depan makanan. Tapi di sini keadaannya berbeda. Ia diminta menilai, dan menilai berarti harus mencicipi semuanya, satu per satu, tanpa boleh melewatkan satu piring pun. Tidak ada yang akan menganggapnya rakus, tidak ada yang akan m

  • KAMAR KEDUA   Bab 371. Hari yang Penuh Kebetulan

    Mobil Damar meninggalkan tol menjelang pukul sepuluh pagi, lalu menyusuri jalan kecil yang diapit pohon kelapa dan hamparan tambak. Nadine duduk di kursi penumpang dengan map gambar di pangkuan, memeriksa lagi catatan yang dibuatnya semalam. Damar hanya bilang ada klien yang ingin merenovasi resort, dan ia butuh pendapat Nadine soal pembagian zona bangunan baru. Alasannya masuk akal. Nadine tidak menaruh curiga sedikit pun."Resortnya di tepi pantai?" tanyanya sambil membalik halaman."Menghadap laut langsung," jawab Damar, matanya tetap pada jalan. "Rencananya kami tambah bangunan di dua sayap. Aku butuh orang yang paham sirkulasi dan efisiensi ruang. Kamu kan jago soal itu.""Maksud kamu …." Nadine melirik Damar dengan alis terangkat. "Kamu konsultan, tapi aku yang dipanggil jadi konsultan buat kamu?""Konsultan buat konsultan." Damar tersenyum, matanya tetap di jalan. "Tapi ada bayarannya. Makan siang. Aku sudah pastikan tempatnya enak."Tidak sampai ke luar kota terlalu jauh, reso

  • KAMAR KEDUA   Bab 370. Sebelum Kereta Berangkat

    Sore itu, Rania datang bersama Roman. Mereka disambut Tuti di ruang tamu, dan tak lama kemudian Sheza keluar dari kamar dengan langkah pelan, dibantu Satria."Kak Sheza, aku pamit ya," ucap Rania, menyalami Sheza dengan hangat. "Malam ini aku pulang ke Kebumen.""Naik apa, Ran? Roman nyetir?""Tadinya mau, Kak." Rania melirik Roman sambil menahan senyum. "Tapi Kebumen jauh. Mas Roman bisa capek nyetir sendirian pulang-pergi.”"Tapi aku tetap mau nganter," sahut Roman cepat. "Sampai stasiun.""Iya, sampai stasiun Kebumen saja."Sheza tertawa kecil. "Ya sudah. Hati-hati ya. Titip salam buat ibu kamu."Sebelum pamit, Rania meminta izin menggendong Sofia. Lastri menyerahkan bayi itu dengan hati-hati, dan Rania langsung tahu cara menopang kepalanya, gerakan yang terbiasa dari kuliah kebidanan. Sofia menggeliat sedikit, bibirnya bergerak-gerak, lalu kembali tenang dalam dekapannya."Cantik sekali," bisik Rania.Tak lama kemudian Sheza merasa perlu ke toilet, dan Satria membantunya. Lastri p

  • KAMAR KEDUA   Bab 369. Cinta Seorang Satria

    Lewat tengah malam, Satria terbangun tanpa alarm. Lampu tidur masih menyala redup. Sheza tidur miring dengan napas dalam dan teratur.Dengan sangat pelan ia menyibak selimut dan memeriksa dada istrinya. Payudara itu terasa penuh dan hangat, kencang dibanding tadi. Ia memeriksa kembali putingnya, tak ada yang lecet karena pompa ASI ataupun Sofia yang kadang belum menempel sempurna saat menyusu. Ia lalu memasang corong ke payudara Sheza dengan hati-hati."Hmm ... Mas?" gumam Sheza, matanya nyaris tak terbuka."Tidur lagi, Zee. Aku yang urus.”Sheza menghela napas dan terlelap lagi. Pompa berdengung lirih. Satria duduk menunggu sambil sesekali memijat pelan sisi dada istrinya, sampai botol terisi hampir penuh. Ia mematikan mesin dan melepas corong dengan hati-hati.Kain kecil yang sudah dibasahi air hangat sudah ia siapkan di meja samping. Dengan gerakan ringan, ia membersihkan puting Sheza satu per satu, menepuk pelan tanpa menggosok, lalu mengeringkannya dengan tisu lembut. Ia memeriks

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status