Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Share

Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 21:18:09

Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’

Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras karena merasa diperintah-perintah, ia langsung bersiap-siap.

Satria masuk melalui pintu garasi dan muncul di ruang makan. “Dio udah makan siang, kan?” tanya Satria saat melihat Dio. Ekor matanya menyapu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (15)
goodnovel comment avatar
~kho~
aduuuhh sedihnya nyampe sini loh zee.... mesakke
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Mertua macam apa pk Rudy,boro² membantu meringanka masalah yg dtimbulkan setelah kematian Prabu,ini malah bikin kisruh..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 383. Kecupan Selamat Malam

    Mobil Damar berhenti di halaman, tepat di depan teras kediaman Kertasoedibyo. Mesin ia biarkan menyala pelan, dan lampu dasbor memantulkan cahaya kehijauan di wajah Nadine yang duduk di sampingnya. Hampir pukul sebelas malam. Jalan di luar pagar sudah sepi, hanya sesekali terdengar bunyi jangkrik dari taman.Tadi ia menjemput Nadine sepulang kerja dan mengajaknya makan. Obrolan mereka berjalan santai, tapi pertanyaan yang sejak sore mengganjal akhirnya ia lepaskan ketika pesanan penutup datang."Kamu sudah sempat bicara ke Satria soal pertemuan kami? Dia bersedia?"Nadine mengaduk sendok kecilnya di mangkuk, lalu mengangkat wajah. "Aku udah selesai ngobrol sama dia, Mas.""Jadi?""Mas Damar bisa mengirim pesan ke papanya Nayla. Dia mau kok ketemu." Senyumnya muncul pelan, lebih ringan dari beberapa hari terakhir. "Kami udah ngobrol dan … cukup santai. Mungkin tadi siang adalah obrolan paling santai yang pernah kami lakukan." Ia kemudian tertawa kecil.Jawaban itu membuat dada Damar lo

  • KAMAR KEDUA   Bab 382. Kehidupan Domestik Kita

    Beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dadanya. ASI kembali menetes dan membasahi dada Satria di bawah pipinya. Satria membuka mata. Ia menunduk, melihat noda basah di dadanya sendiri, lalu tangannya yang bebas terangkat dan menyentuh puncak payudara Sheza yang masih menegak."Udah penuh lagi," katanya pelan, setengah geli. "Kita harus keluar, Zee. Kamu harus pompa.""Stok Sofia udah sekulkas kecil, Mas," jawab Sheza, wajahnya bersandar di bahu Satria. "Nggak akan habis."Satria tertawa, suara rendah yang terasa sampai ke tulang rusuk Sheza. "Anak-anak kita beruntung. Minuman semahal itu, dan mereka dapat berlimpah."Ia mengangkat lengannya perlahan dari bawah kepala Sheza, lalu berguling. Kini ia berada di atas Sheza, setengah menindihnya, bertumpu pada satu siku. Ia menunduk dan melumat bibir Sheza, lama dan lembut, tanpa tergesa. Sheza membalasnya dengan mata terpejam, jemarinya naik menyentuh pipi Satria."Terima kasih untuk sore yang luar biasa ini,

  • KAMAR KEDUA   Bab 381. Rengkuhan Sore

    Satu kali mencapai titik kepuasan seharusnya sudah cukup. Satria tahu itu. Tubuhnya baru saja melepaskan semua yang ia tahan selama empat bulan, napasnya belum teratur, dan jantungnya masih berdebar cepat di balik tulang dada, jauh dari tenang. Tapi bagian tubuhnya yang lain tidak mau menurut. Bahkan setelah ia menumpahkan kehangatan dan membantu memijat dirinya sendiri untuk mengeluarkan semua sisanya, bagian tubuhnya itu masih penuh, dan masih sanggup masuk lagi ke tubuh istrinya seakan tadi hanyalah pemanasan.Ia tidak mengerti dari mana datangnya tenaga itu. Mungkin dari Sheza yang masih bergelayut di bahunya dengan napas basah di lehernya. Mungkin dari tubuh perempuan itu yang masih mengungkungnya hangat, tak mau melepaskan. Yang ia tahu, ia belum selesai.Satu tangannya terulur ke sandaran sofa dan menarik selimut tipis yang tersampir di sana. Ia melemparkannya ke atas karpet tanpa terlalu peduli, agak asal, lipatannya berantakan, tapi cukup lebar untuk menambah lapisan empuk di

  • KAMAR KEDUA   Bab 380. Kehangatan yang Dipenuhi

    Tapi tubuhnya mengatakan hal lain. Pinggulnya bergerak sedikit di sofa, menekan ke depan, mencari sesuatu yang belum ia dapat. Satria merasakannya, dan tangannya yang bebas turun dan menekan lembut di pinggul perempuan itu, menahannya tetap di tempat, seolah berjanji bahwa semuanya akan datang pada waktunya.Ia terus meminum, hangat, dalam, dan lama, sampai napas Sheza menjadi satu-satunya suara selain denting piano dari pengeras suara. Di sela-sela itu, di antara kedua matanya yang terpejam, Satria berpikir bahwa tidak ada yang pernah memberinya seperti ini. Tanpa meminta, tanpa menghitung, tanpa mengeluh. Dan ia sedang menerima semuanya sebagai sesuatu yang tidak pantas ia terima, tapi ingin sekali ia jaga.Satria terus minum sampai payudara Sheza tak lagi setegang tadi dan tetesannya melambat. Ia bergantian menyesap puncak yang menonjol itu dengan lidahnya, hidup dan hangat di antara bibirnya, memenuhi mulutnya sepenuhnya. Dada yang tak pernah membuatnya merasa cukup, tak peduli be

  • KAMAR KEDUA   Bab 379. Sebelum Benar-benar Sore

    Hampir empat bulan ini Satria dipuaskan tanpa pernah benar-benar bersatu dengan istrinya. Sheza memanjakannya dengan mulut dan tangannya, juga dengan payudaranya yang sedang penuh dan sensitif karena menyusui, sampai Satria klimaks. Setiap kali, Sheza memastikan ia selesai dengan baik, tapi mereka tidak pernah sampai ke cara yang sebenarnya. Sheza tidak pernah mengeluh. Satria pun tidak. Tapi yang ia rindukan bukan sekadar pelepasan. Ia merindukan masuk ke dalam tubuh istrinya, merasakan Sheza menyambutnya, dan bergerak bersama hingga perempuan itu sendiri yang mencapai puncaknya."Sekarang aku mau yang sebenarnya," kata Satria pelan, bibirnya hampir menyentuh bibir Sheza.Tangan Satria bergerak ke punggung Sheza, menelusuri tulang belakangnya perlahan melalui kain tipis blus bertali itu. Setiap ruasnya terasa di bawah telapak tangannya, hangat dan sedikit lembap oleh udara studio yang tertutup. Jemarinya berhenti di pinggang, tempat kulit terasa di balik ujung blus dan kancing-kancin

  • KAMAR KEDUA   Bab 378. Sesi Pemotretan

    Mobil berhenti di depan rumah tepat ketika matahari mulai condong. Satria mematikan mesin, menarik napas sebentar sebelum membuka pintu, lalu menyerahkan kuncinya pada Pak Heri yang sudah menunggu di dekat gerbang. Hari itu hari biasa. Nayla sedang tidak di rumah itu, dan Dio masih di sekolah. Seluruh perjalanan pulang tadi ia habiskan dengan memikirkan satu orang, dan perasaan itu belum juga reda ketika ia melangkah melewati halaman.Dari pintu depan ia sudah mendengar suara Sagara. Bukan tangisan, hanya rengekan khas anak yang tahu ia sedang dibujuk dan memutuskan untuk menolak sebentar lagi. Suara Nila terdengar lembut dari dalam, mengulang kata "tidur siang dulu, yuk" dengan sabar yang sudah jelas berulang kali.Begitu Satria masuk, Saga menoleh. Bocah itu berhenti merengek, matanya melebar, lalu ia berlari kecil dengan langkah goyang dan kedua tangan terentang. "Papa!"Satria berjongkok dan mengangkatnya tanpa berpikir. Tubuh kecil itu hangat dan beraroma susu. Ia menaruh Saga di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status