Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Share

Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 21:18:09

Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’

Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras karena merasa diperintah-perintah, ia langsung bersiap-siap.

Satria masuk melalui pintu garasi dan muncul di ruang makan. “Dio udah makan siang, kan?” tanya Satria saat melihat Dio. Ekor matanya menyapu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (15)
goodnovel comment avatar
~kho~
aduuuhh sedihnya nyampe sini loh zee.... mesakke
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Mertua macam apa pk Rudy,boro² membantu meringanka masalah yg dtimbulkan setelah kematian Prabu,ini malah bikin kisruh..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 362. Sofia Rylee

    Sheza mengangguk lemah. Tangan bidan yang cekatan membuka kancing baju bersalin itu dan menyibaknya hingga dada Sheza terbuka. Kulitnya hangat dan basah oleh keringat, naik turun mengikuti napasnya yang belum sepenuhnya tenang. Dengan hati-hati bidan mengangkat bayi mungil itu dan meletakkannya telungkup tepat di antara kedua payudara ibunya, lalu menyelimuti punggung kecilnya dengan kain.Tangis bayi itu reda seketika. Pipinya menempel pada kulit Sheza, dan tubuh kecil itu bergerak pelan, menggeliat, seolah sedang mencari-cari sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu."Ya ampun…." Sheza tertawa kecil di sela tangisnya, satu tangannya refleks menopang punggung bayinya. "Mas, dia nyari.""Iya, dia tau." Satria sudah kembali ke sisi kepala ranjang. Tangannya bergerak sendiri, terlatih oleh pengalaman sebelumnya. Ia menyelipkan telapak tangannya di bawah kepala mungil itu, menyangga tengkuknya yang masih lunglai, lalu dengan jari yang lain menggeser tubuh bayinya sedikit ke bawah, sampai

  • KAMAR KEDUA   Bab 361. Yang Datang dan Yang Pergi

    Satria masih berdiri di sisi ranjang dengan tangan Pak Hendra di genggamannya, dingin dan kaku, sampai isakan Darto di ambang pintu menyadarkannya. Ia melepaskan tangan itu perlahan, merapikan selimut sebatas dada, lalu berbalik. Roman yang sejak tadi menahan orang-orang di pintu bergeser memberi jalan. Di belakangnya, Pak RT sudah mengangkat ponsel untuk menghubungi pihak-pihak yang diperlukan. Roman menepuk bahu Satria sekali, tanpa bicara.Dalam perjalanan keluar kamar, langkah Satria melambat di depan ruang makan. Ia berhenti.Meja itu bersih. Tidak ada surat perjanjian Bram Hanggodo, tidak ada koran lama yang ia lihat kemarin. Entah kapan, entah bagaimana, semuanya sudah lenyap, dimusnahkan mungkin tidak lama setelah Pak Hendra membaca surat dari Pak Salim.“Mungkin karena surat itu,” gumamnya.“Surat apa, Sat?” Roman yang menjadi langkah Satria ikut mendengar ucapan itu.“Surat Pak Salim yang gue antar ke sini semalam.”Pintu ruang kerja di ujung lorong masih terbuka. Satria mel

  • KAMAR KEDUA   Bab 360. Dua Jam

    Satria berdiri diam di koridor rumah sakit dengan ponsel masih menempel di telinga, sampai panggilan itu terputus dan hanya menyisakan suara langkah perawat yang lewat. Ia mengetik pesan dengan jari yang terasa kaku. Ia sedang di rumah sakit, Sheza sedang menjalani proses melahirkan, dan ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.Balasan Ratri datang tak lama kemudian. It's okay. Temani Sheza. Aku hubungi manajemen perumahan sekarang.Satria menatap layar itu beberapa detik sebelum menyimpan ponselnya dan kembali masuk ke ruang bersalin.Sheza berbaring miring di ranjang dengan satu tangan di atas perutnya. Wajahnya sesekali mengernyit ketika kontraksi datang, lalu mengendur lagi seperti ombak yang surut. Satria duduk di kursi di sisi ranjang, tetapi tak lama kemudian ia menumpukan siku di tepi kasur dan merebahkan kepalanya di dekat perut istrinya, seperti yang selalu ia lakukan sejak kehamilan Saga. Tangannya ikut mengusap perut itu pelan-pelan, mengikuti lengkungannya.Biasanya ia

  • KAMAR KEDUA   Bab 359. Dua Kabar dalam Satu Hari

    Pak Hendra menurunkan kertas itu perlahan, tangannya gemetar lebih hebat dari sebelumnya.Ia menatap ruangan di sekelilingnya. Foto-foto lama di dinding, lemari besi yang menyimpan rahasia puluhan tahun, kursi tempat ia sering duduk sendirian sejak Ratri dan Raka pergi.Matanya memanas. Untuk pertama kalinya sejak entah kapan terakhir, Hendra Kusuma Wijaya menangis tanpa berusaha menahannya, tanpa peduli ada yang melihat atau tidak.Ia meraih album foto yang tadi ditutupnya buru-buru, membukanya kembali. Halaman itu menunjukkan foto lama. Dua anak laki-laki berdiri di dermaga, tersenyum lebar, salah satunya mengenakan topi terlalu besar untuk kepalanya.Jarinya menyentuh foto itu pelan."Maaf, Salim," gumamnya, suaranya nyaris tidak terdengar di ruangan yang sunyi itu. "Maaf."Ia melipat surat itu kembali dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam amplop, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di samping album foto itu. Dua benda yang menyimpan seluruh hidupnya, diletakkan berdampingan u

  • KAMAR KEDUA   Bab 358. Surat untuk Hendra, Sahabatku

    Satria menarik kursi di seberang meja, duduk, memperhatikan pria tua di hadapannya yang tampak semakin kurus sejak terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya yang dulu masih terawat rapi kini dibiarkan tumbuh lebih panjang dari biasanya, beberapa helai jatuh menutupi dahi. Sorot mata gagah dan percaya diri itu hilang entah ke mana."Gimana kabar keluarga, Sat? Istri? Nayla dan anakmu … siapa nama anakmu yang kecil?" tanya Pak Hendra, mencoba terdengar seperti biasa."Kabar keluarga baik-baik semua, Pak. Nayla, Dio, juga Sagara. Semuanya baik. Istri saya juga sangat baik. Sheza sedang menunggu lahiran. Mungkin minggu-minggu ini.""Oh, iya. Anakmu dari Sheza, sudah mau dua." Pak Hendra tersenyum tipis, meski matanya tampak jauh menerawang. "Cepat sekali waktu berjalan."Satria tidak menjawab, hanya mengangguk sopan."Kamu tau," lanjut Pak Hendra, menatap album tertutup di mejanya, "dulu saya juga pengen banyak anak. Tapi Tuhan cuma kasih Ratri." Ia tertawa pelan, suara yang terdengar lebih

  • KAMAR KEDUA   Bab 357. Sebuah Titipan

    Kandungan Sheza sudah memasuki bulan kesembilan, dan malam itu ia belum juga bisa tidur. Kontraksi palsu datang dan pergi sejak sore, membuatnya gelisah berpindah posisi berkali-kali di atas ranjang. Kapan saja bisa terjadi, kata dokter kandungannya minggu lalu."Sini, Mas," katanya, membalikkan tubuh miring, menarik ujung kaus Satria. "Punggungnya pegel banget. Oles minyak telon dong."Satria meraih botol kecil dari laci nakas, menuangkan sedikit ke telapak tangannya, lalu mulai mengusapkannya perlahan di punggung Sheza yang sudah lama tidak merasakan posisi tidur nyaman."Rania jadi pulang minggu ini?" tanya Satria, melanjutkan obrolan yang sempat terhenti."Harusnya. Tapi aku tahan dia." Sheza mengerang pelan ketika Satria menekan satu titik yang terasa paling pegal. "Minimal tunggu aku lahiran dulu, Mas. Untungnya dia mau.""Oh, iya. Roman kemarin chat, lho." Satria terkekeh, mengusap area pinggang istrinya. "Makasih katanya, karena kamu nahan Rania.""Roman jadi mau nganterin? Em

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status