Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 18. Pilihan untuk Membenci

Share

Bab 18. Pilihan untuk Membenci

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 21:18:22

Wajah Pak Rudi semakin memerah. “Masalah dan hutang apa yang ditinggalkan Prabu sampai kamu harus langsung menikah. Janda lain ditinggal mati mungkin masih diam di rumah dan berduka. Kamu ke sana kemari dengan temannya.”

Sheza menghapus air matanya dengan napas tersengal. “Tadi malam jendela rumah kami dilempar APAR dan kantong plastik berisi ayam baru disembelih. Aku nggak tau apa-apa, Yah. Aku nggak tau sebenci apa orang sama Mas Prabu sampai tega ngirim hal kayak gitu ke anak istrinya. Aku didatangi pengacara yang bawa surat dari pengadilan. Aku nggak paham, Yah. Aku benar-benar nggak paham apa yang dilakukan Mas Prabu. Kalau nggak percaya dengan teman-temannya Mas Prabu, aku nggak tau lagi harus percaya sama siapa.” Sheza memeluk lengannya seakan menggigil dengan fakta yang baru saja ia ucapkan sendiri.

“Apa teman-teman Prabu nggak mau membantu tanpa pernikahan? Kami sudah terima nggak dapat satu pun peninggalan Prabu, kamu bisa jual semua yang dimiliki perusahaan buat menutupi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (34)
goodnovel comment avatar
Lembayung NanElok
Shee... aku paham dengan rasa sakit berikut ketakutanmu dgn yg terjadi seperti tanpa memberi Jeda
goodnovel comment avatar
Tini Wartini
Warisan yg dtgalkan alm,bukan harta melimpah,tpi hutang melimpah yg d benankan sm ahli waris....Kasian Sheza & Dio..
goodnovel comment avatar
Ria Zakaria
kasih aja mobil ny Zee , paling nanti dikejar² merka
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Kesalahan Bab 27 dan Bab 28

    Selamat malam .... Mohon maaf sebelumnya ada kesalahan copy paste setengah halaman pada bab 27 dan bab 28 saat saya memecah bab. Segera saya perbaiki malam ini tapi baru bisa berubah hari Senin. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. 😘

  • KAMAR KEDUA   Bab 28. Boleh Menangis

    Bab 28. Boleh Menangis Perjalanan pulang ke rumah terasa amat panjang dengan keheningan yang menyesakkan. Sheza melangkah gontai dengan tas, map dan amplop cokelat yang mungkin sudah muak dibawanya ke sana kemari. Bahkan rumah yang biasanya memang sunyi, malam itu terasa terlalu sunyi. Televisi berbulan-bulan tak menyala. Dio yang biasanya tidur pukul sembilan malam, kini selalu tidur sebelum pukul delapan selama di sana. Sheza berdiri cukup lama di ruang keluarga. Satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari standing lamp yang mengeluarkan pijar kekuningan. Sheza mengamati ruangan itu tanpa tujuan. Hanya berdiri dengan dress selutut berwarna krem yang dikenakannya dari pagi. Tasnya masih menggantung di bahu. Pandangannya kosong, tertancap pada dinding yang tidak benar-benar ia lihat. Putusan itu masih berputar di kepalanya. Angka-angka. Kalimat hukum. Nada suara hakim yang datar. Ia tidak menangis. Belum. Satria memperhatikannya dari jarak beberapa langkah. Pria itu sudah mel

  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Satria memperhatikannya sejak awal. Cara Sheza berdiri lebih lama di depan wastafel. Cara ia menahan napas sebentar sebelum melangkah. “Kamu kenapa?” tanya Satria akhirnya, nadanya datar tapi tajam. Sheza menoleh sekilas. Ragu. Lalu menghela napas pendek. “Aku lagi dapet. Kram dikit.” Satria mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Saat Sheza lebih dulu masuk ke mobil dan duduk di sebelah pengemudi. Wajahnya terlihat lesu. “Hari ini kamu duduk di belakang aja,” pinta Satria. Sheza mengernyit. “Kenapa?” Satria belum menjawab tapi sudah turun dan kembali masuk ke rumah tanpa menjawab. Sheza kembali keluar dari kursi depan dan berpindah ke belakang tanpa banyak bertanya. Ia tak punya energi la

  • KAMAR KEDUA   Bab 26. Seiris Masa Lalu

    Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya. Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja. Ia hanya sedang memperhitungkan beberapa hal. Bukan soal angka atau besar-kecil yang akan dihasilkan Sheza. Yang dihitungnya tak lain soal waktu, ritme, dan seorang anak laki-laki yang sebentar lagi akan mengenal bangku sekolah dasar. Tadi Sheza memang tidak bicara panjang. Hanya mengatakan ingin bekerja. Tapi Satria tahu, di balik kalimat itu ada banyak hal yang sedang ia susun sendiri. Soal harga diri, kemandirian, dan ketakutan untuk terlalu bergantung. Satria menghela napas panjang di depan jendela kamar kedua sambil mengamati halaman belakang yang sunyi. Sel lembut di dalam kepalanya sedang mengumpulkan ingatan. “Pekerjaan …. Kamu mau bekerja,” gumam Satria seraya membayangkan

  • KAMAR KEDUA   Bab 25. Perdebatan Pertama

    Rasanya Sheza sekarang lebih hafal lorong pengadilan dibanding suasana hatinya sendiri. Ia tahu di mana lantai sedikit lebih licin, di mana bangku yang kakinya goyah, di mana suara pendingin ruangan terdengar paling keras. Bahkan langkah para panitera tak lagi asing di telinganya. Di rumah, Dio mulai sering bertanya setiap kali ia mengenakan pakaian rapi dan membawa map tipis. “Ke pengadilan lagi, Bun?” Kalau beruntung, Sheza bisa bertemu Dio sepulang dari pengadilan. Kadang ia hanya kebagian menepuk-nepuk paha atau membetulkan selimut Dio yang sudah terlelap di malam hari. Kini bahkan Satria sudah berhenti bertanya apakah ia capek atau tidak. Pria itu tidak lagi menawarkan kata-kata yang terasa terlalu besar untuk hari-hari yang berulang. Ia menggantinya dengan hal lain. Suatu sore, sepulang dari pengadilan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tak sadar Sheza sedikit menggigil. Satria yang berjalan di sampingnya berhenti sesaat, lalu menyampirkan jaket tipis miliknya ke bahu

  • KAMAR KEDUA   Bab 24. Menjadi Rutinitas

    Mau tak mau sidang ketiga harus dihadapi juga. Rasanya Sheza ingin kembali bergulung ke dalam selimut dan melupakan segala sesuatu soal pengadilan. Athar yang baru tiba dengan motornya sedang meletakkan helm di kemudi. Ia sudah memarkirkan sepeda motornya di garasi Satria. “Aku sebenarnya nggak apa-apa naik motor nganter Dio, Kak. Kan udah biasa. Kenapa sekarang harus pakai taksi? Dio juga suka naik motor.” Sheza meletakkan telunjuknya di bibir Athar. “Jangan kenceng banget suaranya. Mas Satria bilang jarak TK Dio lumayan jauh dari sini. Nggak aman naik motor. Kamu harusnya paham urusan begini.” Sheza mengerling pintu penghubung garasi dan ruang keluarga dengan gelisah. Cemas kalau tiba-tiba Satria muncul. Sejurus kemudian Satria benar-benar muncul dengan pakaian rapi. “Aku panggil taksinya sekarang, ya,” kata Satria. “Harusnya aku aja, Mas,” sahut Sheza, lagi-lagi dengan gesture serba salah. Tangan Satria sempat terangkat ke belakang punggung Sheza, namun kemudian tangan itu kem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status