Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 18. Pilihan untuk Membenci

Share

Bab 18. Pilihan untuk Membenci

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-07 21:18:22

Wajah Pak Rudi semakin memerah. “Masalah dan hutang apa yang ditinggalkan Prabu sampai kamu harus langsung menikah. Janda lain ditinggal mati mungkin masih diam di rumah dan berduka. Kamu ke sana kemari dengan temannya.”

Sheza menghapus air matanya dengan napas tersengal. “Tadi malam jendela rumah kami dilempar APAR dan kantong plastik berisi ayam baru disembelih. Aku nggak tau apa-apa, Yah. Aku nggak tau sebenci apa orang sama Mas Prabu sampai tega ngirim hal kayak gitu ke anak istrinya. Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (39)
goodnovel comment avatar
PiMary
Untung Satria sekeren itu,yg ada diotak ortunya Prabu itu cuma harta,tanpa mau tahu urusan apa yg sebenarnya sedang Sheza hadapi....sdh bnr kamu nikah sama Satria,Zee....
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
selalu sukaa karya mu njuuus
goodnovel comment avatar
Ningrum Winar
ceriranya agak lain,, suka banget..bagus🫰
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 312. Seorang Orangtua 

    Satria berada di pelabuhan sejak sebelum matahari terlalu tinggi.Ia berdiri di dekat meja kerja sementara beberapa lembar manifest terbuka di hadapannya. Di luar ruangan, suara mesin kapal bercampur dengan bunyi rantai dan aktivitas pekerja mulai memenuhi area dermaga.“Yang ini belum lengkap.” Satria menunjuk bagian bawah salah satu lembar manifest.Pria di hadapannya segera mendekat. “Bagian pengirim sudah ada, Pak. Tinggal nomor dokumen pengangkut.”“Jangan diberangkatkan sebelum lengkap,” ujar Satria lagi. “Baik, Pak.”Satria menggeser lembar berikutnya. “Jumlah muatan di manifest ini beda dengan loading report.”Pria itu kembali melihat dokumen.“Selisih dua puluh tujuh ton, Pak.”“Kenapa?” Mata Satria masih mengawasi angka demi angka. “Masih saya cek ke tim lapangan,” sahut pria di depannya. “Saya tunggu sekarang. Kapal tinggal menunggu clearance.”“Baik, Pak.”Satria mengangguk lalu kembali memeriksa dokumen lain.Seharian itu ia sudah mengecek angka, nama barang, pemilik m

  • KAMAR KEDUA   Bab 311. Yang Tetap Ada

    Beberapa saat sebelumnya, setelah Satria pergi Sheza masih berdiri di dekat pintu. Ia masih berdiri di sana sampai mobil suaminya menghilang dari pandangan.Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak percakapan mereka tadi malam. Ia sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa Satria akan baik-baik saja, bahwa Nadine tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Nayla.Tetapi semakin ia mencoba tidak memikirkannya, semakin pikirannya kembali ke sana.Sheza melihat jam.Sudah lewat pukul sembilan.Ia berjalan menuju kamar Saga. Bayi itu masih terjaga ketika Sheza masuk. Beberapa menit kemudian ia menggendongnya dan mencoba menyusui seperti biasanya.Namun Saga hanya mengisap sebentar sebelum melepaskan mulutnya.Sheza mengernyit.Ia mencoba lagi.Tidak banyak yang keluar.Sejak kehamilannya memasuki bulan keempat, ASI-nya memang semakin sedikit. Kadang masih keluar, tetapi tidak lagi cukup untuk membuat Saga kenyang seperti sebelumnya. Akhirnya Nila menyiapkan susu formula untuknya.Mal

  • KAMAR KEDUA   Bab 310. Yang Akhirnya Dilepaskan

    Nadine baru menyalakan mesin ketika pintu restoran Jepang itu mulai tampak jauh di belakangnya.Ia tidak langsung menjalankan mobil.Kedua tangannya masih berada di atas kemudi. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam, menatap kosong ke depan.Pertemuan yang sebenarnya tidak berlangsung lama itu terasa seperti seharian penuh baginya. Menguras tenaga, juga menghabiskan seluruh kekuatan yang sejak tadi ia gunakan untuk menahan dirinya tetap tenang.Kemudian ia menarik napas panjang.Sekali. Dua kali. Tidak berhasil.Nadine menundukkan kepala sampai dahinya hampir menyentuh kemudi. Matanya terpejam rapat.Tangisnya kembali pecah.Sendirian di mobil saat itu hingga ia rasa tak ada lagi yang perlu ditahan.Setelah berpisah dari Satria beberapa tahun yang lalu, baru malam itu ia merasa mereka benar-benar mengakhiri perjalanan rumah tangga mereka.Bukan ketika Satria meninggalkan rumahnya, atau ketika surat-surat perceraian mereka selesai dibereskan. Malam ini.Entah karena permintaan maaf

  • KAMAR KEDUA   Bab 309. Semua Harus Diselesaikan 

    “Lalu ... saat Nayla hadir di antara kita, setiap hari aku selalu berusaha menjadi papa yang baik buat Nayla.”Satria membuang pandangan sejenak sebelum kembali menatap Nadine.“Aku harus tetap berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun melihat kamu—orang yang sejak awal paling ingin punya anak, tapi kemudian kulihat nggak benar-benar menginginkan anak itu.”Nadine terdiam.Satria masih menatapnya. “Apa waktu itu kamu berpikir bahwa mencintai suami lebih penting daripada mencintai anak yang kamu usahakan siang dan malam?”Nadine mencondongkan tubuh hingga kedua tangannya nyaris menyentuh meja. “Tapi aku mau dicintai seperti wanita lain, Sat!” Suaranya bergetar. “Aku mau diusahakan.”“Aku mencoba, Nad. Setiap hari aku mencoba.”Satria menarik napas.“Bahkan aku pernah berpikir, mungkin aku bisa mencintai kamu mati-matian setelah kamu melahirkan anakku. Tapi ternyata, ketidakpedulian kamu terhadap Nayla justru membuatku semakin sulit percaya bahwa perempuan yang melahirkan putriku benar-

  • KAMAR KEDUA   Bab 308. Sebelum Air Mata

    Nadine tertawa lagi.Kali ini tawanya benar-benar terdengar seperti ia menemukan sesuatu yang lucu. “Kamu dari dulu terlalu serius.”Satria tidak ikut tertawa.“Bisa nggak kita ngobrol sedikit lebih santai?” Nadine menyandarkan tubuhnya. “Masa kamu nggak paham maksud aku?”“Bicara yang jelas.”Nadine mengembuskan napas, lalu berdeham kecil. “Oke.”Ia menatap Satria lurus-lurus.“Kamu bisa mengajukan tuntutan hukum terhadap Salim Prajogo Kertasoedibyo. Mau dipenjara atau apa pun proses hukumnya, terserah kamu. Jalankan aja.”Satria tidak bergerak.“Aku akan menyediakan semua bukti yang kamu butuhkan. Orang tua kamu meninggal karena keteledoran papaku.” Suara Nadine tetap tenang. “Aku bisa kasih kamu bukti untuk memproses orang yang bertanggung jawab atas KSD Holding waktu itu.”Ia berhenti sebentar.“Sebagai gantinya, kasih aku hak asuh penuh atas Nayla.” Nadine mengangkat bahu, seolah baru saja menyampaikan sebuah kesepakatan bisnis. “Kurasa itu nggak akan terlalu berat buat kamu.”Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 307. Kebaikan Bersama

    Satria mengemudikan mobilnya menuju restoran Jepang yang dipilih Nadine malam itu.Lampu-lampu kota bergerak di balik kaca jendela. Jalanan cukup padat, tetapi pikirannya jauh lebih ramai daripada lalu lintas yang dihadapinya.Sheza masih terbayang di kepalanya.Cara perempuan itu menangis ketika menyebut Nayla. Cara tangannya mencengkeram lengan Satria seolah takut satu keputusan yang belum terjadi sudah cukup untuk mengambil Nayla dari mereka.Mungkin sebagian adalah pengaruh kehamilan.Satria tahu istrinya memang jauh lebih sensitif beberapa bulan terakhir. Namun ia juga tahu, ketakutan Sheza bukan sesuatu yang dibuat-buat.Dengan segala dugaan yang terlintas di pikiran mereka, serta kemungkinan terburuk, ia sendiri tidak akan sanggup kehilangan NaylaKarena itu, sejak siang tadi ia sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Ia pulang, menghabiskan waktu bersama Sheza dan Sagara, lalu malam ini memenuhi janji dengan Nadine.Ia tidak ingin pertemuan itu menjadi sesuatu yang kemudi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status