Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 216. Luka yang Disembunyikan

Share

Bab 216. Luka yang Disembunyikan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-05-22 22:22:50

Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.

Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.

“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.

Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.

Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.

Beberapa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (40)
goodnovel comment avatar
Yuli Defika
Chapter ini romantis banget deep talk yang menyentuh hati..
goodnovel comment avatar
~kho~
anak² lagiii.... siap² bu sheza, wkwkwk
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
idaman banget Ya Allah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 305. Yang Ditakutkan Itu Terjadi

    Sejak pertemuannya dengan Nadine, ada satu bagian dalam kepala Sheza yang tidak pernah benar-benar tenang.Ia tetap menjalani hari seperti biasa.Pagi-pagi mengurus Saga, membuat konten sesuai perjanjian kontrak kerjanya, juga beberapa konten tambahan yang akan di-upload secara bertahap sesuai tema. Sesekali keluar bersama Dio dan Nayla, lalu kembali ke rumah sebelum sore. Kehamilannya yang sudah memasuki bulan keempat juga membuat tubuhnya jauh lebih bersahabat dibandingkan beberapa bulan pertama.Tetapi pikirannya tidak.Di sela-sela memeriksa naskah konten, Sheza bisa tiba-tiba berhenti membaca hanya karena teringat satu kalimat Nadine.“Saya sudah mendapatkan informasi yang saya butuhkan.”Informasi apa?Untuk apa?Dan kenapa setelah itu Nadine justru tidak melakukan apa-apa?Hari berganti.Minggu pertama, Nayla datang seperti biasa. Minggu berikutnya juga. Tidak ada perubahan.Nadine tidak pernah menghubunginya. Tidak pernah mempertanyakan kapan Nayla pulang. Tidak pernah mengiri

  • KAMAR KEDUA   Bab 304. Sayang Tak Terbagi

    Pertanyaan itu datang begitu mendadak sampai Sheza tidak langsung menemukan jawaban.Nadine tidak tersenyum. Tatapannya masih tertuju pada perut Sheza. “Atau lebih tepatnya,” lanjutnya, “seberapa besar peran seks dalam mempertahankan rumah tangga kamu dan Satria?”Sheza mengembuskan napas pelan. “Mbak Nadine sebenarnya sedang bertanya tentang apa?”“Saya cuma penasaran.”“Pertanyaan seperti itu biasanya bukan sekadar penasaran.”Nadine mengangkat alis. “Kenapa? Kamu tersinggung?”“Tidak.” Sheza meraih gelasnya dan menuangkan air mineral. Es batu di dalamnya bergeser pelan ketika ia mengangkat gelas itu. “Saya cuma mau tahu arah pertanyaannya.” Ia meneguk sedikit, lalu meletakkan kembali gelasnya.Nadine masih menunggu. “Saya lihat kamu hamil lagi,” katanya. “Jadi saya bertanya-tanya. Apa memang sesederhana itu? Satria mau punya banyak anak, kamu hamil, lalu semuanya berjalan baik?”Sheza menatapnya dengan tenang. “Rumah tangga nggak sesederhana itu, Mbak.”“Bukannya berarti seks itu h

  • KAMAR KEDUA   Bab 303. Yang Ingin Dipastikan

    Nadine menatap Sheza beberapa saat setelah perempuan itu mengatakan, Ternyata cuma soal ini? Ia menarik napas lalu berkata,“Buat kamu mungkin cuma.”Sheza menatap Nadine lebih lama. Nadine lalu berkata, “Nayla satu-satunya anak saya.”“Saya tau.” Sheza memang paham itu. Tapi ia mulai gelisah dan punya firasat tidak enak tentang hal yang baru diucapkan wanita di depannya.“Sedangkan sebentar lagi Satria punya tiga anak di rumah itu.”Sheza langsung mengernyit. “Dio bukan anak kandung Mas Satria.”“Tapi hidupnya dibiayai Satria, tinggal di rumah Satria, memang dia memanggil kamu Ibun dan tumbuh bersama anak-anak Satria.” Nadine mengangkat bahu. “Mau disebut apa juga terserah. Faktanya Satria membesarkan dia.”Sheza tidak membantah.“Dan sekarang kamu hamil lagi.”“Iya.”“Masih mau tambah?”Sheza sempat mengernyit mendengar pertanyaan itu. “Tadi kita sudah membicarakan hal ini.”Nadine tertawa sumbang. “Iya benar. Tadi kamu udah bilang Satria mau anak banyak.”“Mas Satria memang suka an

  • KAMAR KEDUA   Bab 302. Setajam Kata-katanya

    Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Senyum yang tadi masih tersisa di wajah Sheza perlahan menghilang. Hari yang sejak pagi terasa begitu ringan tiba-tiba berubah arah.Dari sorot mata Nadine, Sheza langsung tahu bahwa pertemuan mereka kali ini tidak akan berlangsung sebentar.Ada sesuatu yang menyala di sana. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketegasan yang jauh lebih sulit dihadapi. Seolah-olah perempuan itu sudah lama menunggu kesempatan untuk berbicara dengannya tanpa kehadiran Satria di antara mereka.Kaki Sheza terasa sedikit lemas.Terlebih ketika beberapa detik sebelumnya ia menangkap perubahan kecil pada wajah Nadine saat melihat Nayla duduk bersama mereka.Sheza tidak tahu apa yang terjadi antara ibu dan anak itu. Namun ia cukup mengenal Nadine untuk tahu bahwa perempuan itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.Nadine berjalan mendekati meja.Wajahnya datar. Tidak ada kemarahan yang diperlihatkan secara terang-terangan. Mung

  • KAMAR KEDUA   Bab 301. Pertemuan di Luar Jadwal 

    Setelah selesai dengan pemotretan itu, Sheza mengganti pakaiannya tadi dengan pakaian yang lebih ringan untuk bepergian.Ia memilih atasan warna merah muda pucat dengan detail ruffle bertumpuk di bagian depan dan lengan pendek yang jatuh lembut di bahunya. Atasan itu dipadukan dengan rok panjang berwarna putih gading yang melebar ringan dari pinggang, cukup longgar untuk perutnya yang mulai membulat.Sheza menambahkan sepasang anting mutiara kecil dan handbag berwarna nude yang senada dengan sepatunya. Bukan high heels seperti yang biasa ia kenakan ketika menghadiri acara, melainkan sepatu berhak rendah sekitar tiga sentimeter. Cukup untuk membuat langkahnya tetap terlihat anggun tanpa membuat kakinya cepat lelah.Ia berdiri sebentar di depan cermin.Perutnya belum terlalu besar, tetapi bentuknya mulai terlihat jelas jika diperhatikan. Sheza tanpa sadar mengusapnya sebentar.“Kita pergi, ya.” Senyum kecil muncul di wajahnya.Pagi itu, Sheza merasa jauh lebih segar daripada hari-hari s

  • KAMAR KEDUA   Bab 300. Studio Sheza

    Rumah terasa lebih hidup daripada beberapa minggu sebelumnya. Tidak ada suara muntah dari kamar mandi—yang biasa disertai langkah tergesa-gesa seseorang yang panik mencari obat atau air putih.Kehamilan Sheza sudah memasuki bulan ketiga.Tubuhnya memang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum hamil, tetapi pagi-pagi seperti ini mulai terasa lebih mudah. Mual masih sesekali datang, terutama kalau perutnya terlalu kosong, tetapi tidak lagi sampai membuatnya menghabiskan separuh hari di tempat tidur.Pagi ini bahkan Sheza sudah mandi, merapikan rambut, dan mengenakan pakaian rumah yang nyaman dan cantik.Ia sedang sibuk di ruangan yang belakangan sudah ditempel tulisan manis ‘Studio Sheza’. Ruangan kosong di belakang garasi dan berbatasan langsung dengan ruang keluarga—yang sekarang semakin terlihat lengkap dan benar-benar menyerupai studio berkarya. Ruangan kecil itu perlahan berubah menjadi tempat kerjanya. Ada meja, rak penyimpanan, kamera, tripod, beberapa lampu, serta berbagai prod

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status