Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam

Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam

last updateآخر تحديث : 2026-05-06
بواسطة:  Diganti Mawaddahتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
9فصول
5وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

"Jangan, Om. Nanti mama lihat!" Om Beni menarik pinggangku dengan pelan, hingga tu 6uh kami menempel. "Mama mertua kamu sudah tidur. Kita bisa bebas. Om sedih liat kamu tadi ditamparnya. Sini, Om obati!" "Om, jangan!" Om Beni sudah menggendongku masuk ke kamarnya.

عرض المزيد

الفصل الأول

1. Suami Baru Ibu Mertua

"Suami Mama hari ini nginep di sini, jadi usahakan Hakim gak nangis terus malam hari. Suami Mama nanti gak bisa tidur nyenyak karena berisik!" Lia bicara pada pada Saskia saat menantunya tengah melipat pakaian di kamar.

"Iya, Ma."

"Udah tiga malam ini Hakim begadang terus, Ma. Asi Kia belum keluar banyak jadinya haus," lanjut Kia lagi.

"Ya, gimana caranya biar asi lancar. Minum asi booster, minum sayur katuk atau apalah namanya."

"Udah bilang Mas Adrian, mau pesen online biar COD, tapi kata Mas Adrian gak usah."

"Kenapa ikutin Adrian, kamu harus punya inisiatif sendiri dong."

"Ma, uangnya ada di Mas Adrian." Lia terdiam.

"Masa kamu gak punya uang sama sekali? Asi booster gitu paling sepuluh ribu. Masa sepuluh ribu harus minta sama suami kamu? Jangan manja, Kia. Mama udah bilang kan!"

"Mama, Bella mau bukber sama temen sore ini. Bagi saku tiga ratus ribu, Ma." Bella yang duduk di kelas dua belas, menghampiri mamanya.

"Kurang gak tiga ratus? Mama transfer aja lima ratus ya."

"Asiik, makasih Mama." Bella langsung pergi begitu saja. Saskia hanya bisa menghela napas. Bagaimana asinya bisa banyak jika setiap harinya ia tertekan dengan sikap mertua dan suaminya.

"Kia, jangan lupa sore ini buka puasa suamiku siapin ya. Nasi goreng seafood, kangkung plate, sama jus lidah buaya. Bahannya udah Mama siapkan semua. Untuk kamu udah Mama belanjakan sayur bayam dan ikan cue keranjang. Tinggal masak aja." Kia hanya bisa mengangguk pasrah.

Tangan kirinya menggendong Hakim yang bahkan belum puput pusar. Tangan kanannya mengambil bahan masakan dari kulkas.

"Mas, aku mau masak untuk buka puasa. Ini tolong gendong Hakim sebentar, Mas." Kia menghampiri Adrian di ruang tengah yang sedang asik dengan ponselnya.

"Ya, taro aja anaknya! Bau tangan nanti, malah kamu yang repot."

"Mas, Hakim nangis kalau ditaro. Kata Mama Lia, Hakim jangan nangis."

"Au ah! Ganggu gue aja! Gue puasa, lu gak puasa Kia. Masa lu tega nyusahin gue suruh gendong anak!" Kia langsung berbalik, tak mau menimpali ucapan suaminya. Hatinya seperti diremas setiap hari oleh mertua dan juga suaminya. Masih dengan menggendong Hakim, ia melanjutkan menyalakan kompor.

"Kia, kamu sedang apa?" suara itu lagi yang menegurnya.

"Oh, ini Om. Masak untuk buka puasa."

"Emang udah bisa masak? Jangan, gak boleh, Kia! Ibu baru melahirkan harus banyak istirahat." Beni menghampiri Kia untuk melihat wajah Hakim yang tertidur dalam gendongan Kia.

"Gak papa, Om. Kata Mama, harus masak yang spesial untuk Om buka puasa."

"Gak usah." Beni mematikan kompor.

"Saya mau pesen menu untuk buka puasa di online saja. Nanti makan sama-sama. Kamu masuk saja."

"Jangan, Om, nanti saya dimarahin Mama. Gak papa saya yang ..."

"Kamu gak perlu masak. Kata Lia, asi kamu sedikit. Adikku seorang bidan, aku udah minta dikirimin asi booster untuk kamu." Kia terdiam lama.

"Om, maaf jadi merepotkan. Saya gak ..."

"Saya tahu isi rumah ini, Kia. Saya suami baru ibu mertua kamu. Jadi sedikit banyak, saya paham anak-anak dari Lia. Kalau nanti udah sampai dibawa kurir asi boosternya, harus langsung kamu minum ya."

"Iya, Om, makasih banyak."

"Kamu ngapain di sini, Mas? Aku cari ke mana-mana, rupanya lagi di dapur."

"Iya, mau liat Hakim, kirain lagi tidur di kamar, rupanya lagi diajak masak sama ibunya. Kasihan nanti bisa kena minyak."

"Memang Kia gak ngerti, Mas. Udah aku bilang tadi, gak usah masak, kasihan baru melahirkan, tapi udah sibuk di dapur. Tapi Kia maksa mau masak. Ya udah, aku juga gak bisa larang kan." Kia hanya bisa mendengus dalam hati. Padahal ibu mertuany yang tadi siang memaksanya masak ini dan itu, tapi di depan suami barunya, malah mengatakan yang sebaliknya.

"Kalau Kia masak, harusnya Adrian bisa gendong anaknya, atau kamu neneknya yang gendong, masa cucu pertama lelaki masih berumur lima hari, udah di dapur, masak sama ibunya!"

"Aku pesen makan aja untuk buka. Gak usah masak!"

"Mas, tapi ..." Beni pergi dari dapur. Lia menoleh tajam pada menantunya.

"Awas kamu, Kia! Gara-gara kamu suami aku jadi kesal. Ck, dasar menantu gak tahu diuntung!"

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
9 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status