Mag-log in"Jangan, Om. Nanti mama lihat!" Om Beni menarik pinggangku dengan pelan, hingga tu 6uh kami menempel. "Mama mertua kamu sudah tidur. Kita bisa bebas. Om sedih liat kamu tadi ditamparnya. Sini, Om obati!" "Om, jangan!" Om Beni sudah menggendongku masuk ke kamarnya.
view more"Suami Mama hari ini nginep di sini, jadi usahakan Hakim gak nangis terus malam hari. Suami Mama nanti gak bisa tidur nyenyak karena berisik!" Lia bicara pada pada Saskia saat menantunya tengah melipat pakaian di kamar.
"Iya, Ma." "Udah tiga malam ini Hakim begadang terus, Ma. Asi Kia belum keluar banyak jadinya haus," lanjut Kia lagi. "Ya, gimana caranya biar asi lancar. Minum asi booster, minum sayur katuk atau apalah namanya." "Udah bilang Mas Adrian, mau pesen online biar COD, tapi kata Mas Adrian gak usah." "Kenapa ikutin Adrian, kamu harus punya inisiatif sendiri dong." "Ma, uangnya ada di Mas Adrian." Lia terdiam. "Masa kamu gak punya uang sama sekali? Asi booster gitu paling sepuluh ribu. Masa sepuluh ribu harus minta sama suami kamu? Jangan manja, Kia. Mama udah bilang kan!" "Mama, Bella mau bukber sama temen sore ini. Bagi saku tiga ratus ribu, Ma." Bella yang duduk di kelas dua belas, menghampiri mamanya. "Kurang gak tiga ratus? Mama transfer aja lima ratus ya." "Asiik, makasih Mama." Bella langsung pergi begitu saja. Saskia hanya bisa menghela napas. Bagaimana asinya bisa banyak jika setiap harinya ia tertekan dengan sikap mertua dan suaminya. "Kia, jangan lupa sore ini buka puasa suamiku siapin ya. Nasi goreng seafood, kangkung plate, sama jus lidah buaya. Bahannya udah Mama siapkan semua. Untuk kamu udah Mama belanjakan sayur bayam dan ikan cue keranjang. Tinggal masak aja." Kia hanya bisa mengangguk pasrah. Tangan kirinya menggendong Hakim yang bahkan belum puput pusar. Tangan kanannya mengambil bahan masakan dari kulkas. "Mas, aku mau masak untuk buka puasa. Ini tolong gendong Hakim sebentar, Mas." Kia menghampiri Adrian di ruang tengah yang sedang asik dengan ponselnya. "Ya, taro aja anaknya! Bau tangan nanti, malah kamu yang repot." "Mas, Hakim nangis kalau ditaro. Kata Mama Lia, Hakim jangan nangis." "Au ah! Ganggu gue aja! Gue puasa, lu gak puasa Kia. Masa lu tega nyusahin gue suruh gendong anak!" Kia langsung berbalik, tak mau menimpali ucapan suaminya. Hatinya seperti diremas setiap hari oleh mertua dan juga suaminya. Masih dengan menggendong Hakim, ia melanjutkan menyalakan kompor. "Kia, kamu sedang apa?" suara itu lagi yang menegurnya. "Oh, ini Om. Masak untuk buka puasa." "Emang udah bisa masak? Jangan, gak boleh, Kia! Ibu baru melahirkan harus banyak istirahat." Beni menghampiri Kia untuk melihat wajah Hakim yang tertidur dalam gendongan Kia. "Gak papa, Om. Kata Mama, harus masak yang spesial untuk Om buka puasa." "Gak usah." Beni mematikan kompor. "Saya mau pesen menu untuk buka puasa di online saja. Nanti makan sama-sama. Kamu masuk saja." "Jangan, Om, nanti saya dimarahin Mama. Gak papa saya yang ..." "Kamu gak perlu masak. Kata Lia, asi kamu sedikit. Adikku seorang bidan, aku udah minta dikirimin asi booster untuk kamu." Kia terdiam lama. "Om, maaf jadi merepotkan. Saya gak ..." "Saya tahu isi rumah ini, Kia. Saya suami baru ibu mertua kamu. Jadi sedikit banyak, saya paham anak-anak dari Lia. Kalau nanti udah sampai dibawa kurir asi boosternya, harus langsung kamu minum ya." "Iya, Om, makasih banyak." "Kamu ngapain di sini, Mas? Aku cari ke mana-mana, rupanya lagi di dapur." "Iya, mau liat Hakim, kirain lagi tidur di kamar, rupanya lagi diajak masak sama ibunya. Kasihan nanti bisa kena minyak." "Memang Kia gak ngerti, Mas. Udah aku bilang tadi, gak usah masak, kasihan baru melahirkan, tapi udah sibuk di dapur. Tapi Kia maksa mau masak. Ya udah, aku juga gak bisa larang kan." Kia hanya bisa mendengus dalam hati. Padahal ibu mertuany yang tadi siang memaksanya masak ini dan itu, tapi di depan suami barunya, malah mengatakan yang sebaliknya. "Kalau Kia masak, harusnya Adrian bisa gendong anaknya, atau kamu neneknya yang gendong, masa cucu pertama lelaki masih berumur lima hari, udah di dapur, masak sama ibunya!" "Aku pesen makan aja untuk buka. Gak usah masak!" "Mas, tapi ..." Beni pergi dari dapur. Lia menoleh tajam pada menantunya. "Awas kamu, Kia! Gara-gara kamu suami aku jadi kesal. Ck, dasar menantu gak tahu diuntung!""Kamu baru melahirkan beberapa bulan lalu. Kamu mengurus bayi tanpa bantuan siapapun, termasuk Adrian. Kamu juga sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di rumah itu. Jangan memikul semua kesalahan sendirian. Suamimu yang tak pernah bersyukur."Kia terdiam. Ucapan Beni semuanya benar. Harusnya ia sedih karena perbuatan sang Suami, tapi nyatanya, hatinya malah merasa sedikit lega."Sini, Om bawa Hakim ke dalam. Kamu minum dulu tehnya." Beni menggendong Hakim dengan pelam dan hati-hati, lalu ia bawa masuk ke kamar yang sudah ia siapkan. Kia menyusul sambil membawa tas.Wanita itu memperhatikan keadaan kamar dengan nuansa coklat susu dan hitam yang sangat rapi."Ini kamar Om?" tanya Kia."Iya, biasanya saya tidur di sini kalau lagi males pulang ke rumah atau jika ada rapat di daerah sini. Maaf kalau apartemennya gak terlalu besar. Hanya ada dua kamar.""Harusnya saya yang merasa sungkan." Kia menunduk malu. Beni menghampiri Kia, lalu mengusap pucuk kepala wanita itu dengan kele
"Kamu terlalu berlebihan Kia. Lagian, semua ini terjadi karena kamu juga turut andil. Sebagai pria normal, seorang suami, aku tidak mendapatkan hakku sebagai suami. Kamu gak mau kusentuh sama sekali, sejak kamu kembali ke rumah ini. Usia Hakim juga sudah dua bulan dan kamu sudah selesai nifas. Jadi...""Rasanya itu hanya alasan untuk menutupi kebusukan kalian!" Kia menatap Mirna dan Adrian dengan nyalang."Maaf, Mbak Kia ... saya sebenarnya..." "Kamu bisa diam, Mirna? Ini urusanku. Kamu masuk ke dalam sana!" Mirna langsung berbalik."Mbak Mirna, celana dalam kamu jangan lupa diambil!" Kia menunjuk lantai dengan matanya. Lantai di mana celana dalam Mirna tergeletak mengenaskan."Kukira kamu upgrade level perempuan, tapi malah memilih lebih hina!""Kia, jaga ucapan kamu!" Adrian tak terima dengan ucapan Kia."Sudahlah, Mas, ceraikan saja aku. Kamu jadi bisa bebas dengan Mirna. Aku juga udah gak mau sama laki-laki kayak kamu! Ah, kalau kamu gak mau ceraikan aku, maka aku aja yang gugat!
"Kia, kenapa?" Beni melampaikan telapak tangannya di depan wajah Kia. Wanita itu tersentak dengan wajah merah. Beni sampai mengernyit tak paham."Kamu sakit?" pria dewasa itu meletakkan punggung tangannya di kening Kia. "Tidak demam," gumamnya."Oh, gak papa, Om. Saya cuma ... cuma agak mules aja. Saya ke kamar mandi dulu ya, Om." Kia bergegas berjalan menuju kamar mandi karena malu.Beni membawa semangkuk mi yang telah dibuatkan oleh Kia, kembali duduk di ruang tengah. Pria itu tersenyum sambil memperhatikan pintu kamar Adrian yang masih saja tertutup rapat. Ia tahu, Mirna sang ART tidak akan berani keluar kamar jika ia masih duduk di sana.Mi rebus habis. Air mineral dingin pun sudah tiga gelas habis ia teguk. Jam dinding sudah berada di angka tiga, tapi Beni masih belum beranjak dari tempatnya. Ia ingin memberikan pelajaran pada Adrian dan juga Mirna bahwa yang mereka lakukan itu salah.Mirna tersentak saat adzan subuh. Pelan-pelan ia turun dari rajang Adrian sambil merapikan baj
Beni tersenyum saat melihat Mirna pembantunya masuk ke kamar Adrian pada jam sebelas malam, dengan cara mengendap-endap. Tentu saja ia tak mau melawatkan momen. Kejadian itu ia foto, juga rekam lewat video.Beni menatap kamar Kia yang lampunya sudah padam sejak jam sembilan malam. Namun, tiba-tiba pintu kamar Kia terbuka. Hakim terbangun dan menangis."Kia, ada apa?" tanya Beni menghampiri Kia."Hakim kebangun, terus gak mau tidur lagi, Om. Padahal udah saya susui. Mungkin masih haus, makanya mau saya buatkan susu." "Oh, gitu. Ya sudah, biar Hakim saya gendong. Kamu buatkan dulu susunya." Kia bergegas memberikan Hakim pada Om Beni. Tangis itu pun perlahan reda, apalagi Beni sambil menimang Hakim."Maaf jadi merepotkan Om Beni," ucap Kia sambil membawa botol susu."Gak repot, kok. Sini, biar saya yang kasih susunya. Kamu mau tidur? Kalau ngantuk, tidur saja. Biar saya main sama Hakim.""Jangan, Om. Biar Hakim sama saya saja di kamar. Siapa tahu dikasih susu langsung tidur." Beni menga
Kalimat itu seperti peringatan halus. Setelah mengatakannya, Bella berjalan menuju dapur, mengambil minum tanpa banyak bicara lagi."Udah tahu kakak ipar kamu baru keluar dari rumah sakit, kenapa gak dibantuin mengerjakan pekerjaan rumah?" tanya Beni saat Bella melewatinya."Karena aku bukan pemban
Sementara itu, Beni mulai mengepel lantai dengan cepat dan rapi. Gerakannya cekatan, jauh berbeda dengan Kia yang terlihat kehabisan tenaga tadi. Setelah lantai selesai, ia lanjut ke dapur. Piring kotor dicuci, meja dibersihkan, bahkan sampah pun ia buang tanpa diminta. Kia hanya bisa menatap dar
"Kamu semalam ke mana, Ben? Lia ke sini. Dia nungguin kamu sampe ketiduran di sofa." Beni mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tubuhnya segar sehabis mandi. Fatma, mama Beni yang lumpuh, masuk ke kamar putranya dengan menggunakan kursi roda elektrik."Beni ada urusan, Ma.""Urusan apa? Mama
"Halo, Mas, kamu di mana?""Oh, iya, maaf, Lia. Aku gak pulang semalam. Lembur di kantor. Hp ku lowbatt, jadi gak bisa kabarin kamu. Kamu masih di rumah mama?""Ya ampun, kamu keterlaluan,Mas. Tahu gitu, aku gak perlu ke rumah kamu. Aku juga di sini dicuekin. Sekarang aku udah jalan pulang. Mau ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.