FAZER LOGIN“Yang menarik itu ... cara Anda berhenti peduli.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria memutar pelan ponsel di atas meja.Lalu meletakkannya kembali.“Sebenarnya saya juga nggak terlalu peduli dengan ponsel ini.”Tatapan Pak Hendra sekilas tertuju pada ponsel.“Padahal isinya lumayan menarik.” Sudut bibir Satria bergerak tipis. “Ada rekaman suara. Ada potongan video. Ada beberapa percakapan yang seharusnya cuma diketahui orang-orang tertentu.”Pak Hendra tetap diam.“Anda pasti nggak menyangka orang-orang yang paling dekat dengan Anda ternyata menyimpan rasa takut juga.” Jari telunjuk Satria mengetuk ponsel itu sekali. “Takut kalau suatu hari mereka mengalami nasib yang sama seperti orang-orang sebelumnya.”Ruangan kembali sunyi.“Makanya saya bilang ponsel ini menarik.” Satria menggeleng kecil. “Bukan karena nilainya sebagai barang bukti.”Ia membalas tatapan Pak Hendra. “Tapi karena benda ini membuat saya memahami satu hal.”Pak Hendra menyipitkan mata. “Oh, ya? Apa itu?”Satria tersen
“Empat puluh miliar tidak akan membuat perusahaan saya goyah.”Satria menyandarkan tubuhnya.“Tapi Anda dan saya sama-sama tahu itu cukup untuk menghancurkan Prabu.”Pak Hendra diam beberapa saat.Ia mengusap bibir cangkir tehnya dengan ibu jari sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Tidak.”Satria mengangkat alis.“Yang menghancurkan Prabu bukan empat puluh miliar itu.”“Lalu apa?” Bagaimana pun juga ia tidak suka seseorang bicara buruk tentang temannya.“Keserakahannya,” kata Pak Hendra.Suara pendingin ruangan kembali terdengar ketika dialog mereka terhadap. Satria memandangi pria tua di depannya. Pak Hendra terlihat jauh lebih santai sekarang.Seolah akhirnya mereka sampai pada bagian cerita yang ingin ia sampaikan sejak awal.“Awalnya Prabu datang ke saya sebagai pengusaha yang sedang kesulitan,” lanjut Pak Hendra. “Itu manusiawi, kan? Banyak orang datang dengan masalah yang sama. Awalnya Prabu bahkan tidak pernah bertanya apa usaha saya. Begitu kesulitan, dia datang lagi.”Rahang S
"Kalau begitu saya juga nggak akan buru-buru menjawab sesuatu yang belum pantas saya jawab. Mana ponsel staf saya?”Satria tersenyum samar. Pak Hendra melanjutkan, "Dan kalau kamu memang mau ikut mengurus peninggalan Prabu, mungkin kamu juga harus mulai memikirkan uang saya yang dibawa dia.”Satria menelan ludah pelan. Kalimat yang baru saja diucapkan Pak Hendra baru pertama kali didengar Satria.Selanjutnya ia bisa saja bertanya langsung soal bagaimana praktik money laundry yang terjadi di pelabuhan dan di bawah kontrol pria itu selama ini. Tapi tentu saja dunia ini berjalan tidak semudah itu."Sebenarnya kapan Bapak mulai mengenal Prabu?” Satria merasa itu adalah pertanyaan paling aman yang akan dijawab Pak Hendra. Pria tua itu licin dan hati-hati.“Sudah cukup lama,” sahut Pak Hendra.Jawaban yang belum bisa memberi gambaran jelas baginya. Masih terlalu hati-hati."Saya anggap kita sama-sama paham kalau percakapan hari ini tetap ada di ruangan ini.” Satria mengingatkan bahwa harusn
Esok harinya setelah pertemuan di halaman belakang rumah, Satria akhirnya menghubungi Pak Hendra dengan cara yang sama saat pria tua itu menghubunginya untuk bertemu di gudang nomor tujuh belas.Pesan yang netral dan datar. Namun masih menyiratkan kesopanan bicara seorang muda pada yang lebih tua.‘Selamat siang, Pak Hendra.’‘Bagaimana kalau Senin depan pukul 10 pagi kita ngobrol sambil ngopi di ruang private Estate cafe?’Dan sesuai tebakan Satria, jawaban dari Pak Hendra tak perlu menunggu waktu lama. Seolah Pak Hendra memang sudah menunggu.‘Boleh saja. Senin pagi di Estate cafe pukul 10 pagi.’Satria memandang pesan singkat itu dengan senyum di salah satu sudut bibirnya.“Seperti biasa … selalu optimis, ramah dan percaya diri,” ucapnya setelah membaca ulang pesan Pak Hendra.__________Pagi itu langit kota terlihat pucat. Mendung tipis menggantung sejak pagi tanpa benar-benar berubah menjadi hujan.Satria datang tepat waktu.Restoran yang dipilihnya bukan tempat mewah yang ramai
Pertanyaan itu cukup penting karena mereka semua tahu beberapa bulan terakhir ada terlalu banyak kejadian aneh di sekitar Satria dan Sheza.Satria menggeleng. “Udah nggak ada.”Arga langsung memperhatikan. “Yakin?”“Yakin.” Tatapan Satria bergerak ke arah rumah sesaat. “Nggak ada lagi yang ngikutin, nggak ada lagi yang nongkrong depan komplek karena nunggu kapan gue pulang.”Roman ikut mengangkat alis. “Bener-bener bersih?”“Bersih.” Satria mengambil gelasnya. “Dan gue cukup yakin orang yang ngikutin itu memang si kidal sama temennya.”“Lo yakin?” tanya Julian.Satria mengangguk. “Posturnya sama. Caranya juga.”“Temennya si kidal yang di gudang gimana?” tanya Roman. “Masih hidup?”Arga menggeleng. “Udah nggak. Menyusul si kidal beberapa waktu lalu.”“Wah … kebetulan, ya. Untung lo, Sat. Nggak ada yang sisa buat balas dendam.” Roman terkekeh-kekeh.“Kalau menurut gue harusnya dia masih bisa hidup, sih …. Kayak sengaja dihabisin aja. If you know, you know,” kata Arga.Semuanya menghela
Asap dari panggangan masih bergerak tipis ke udara malam. Gelas-gelas mulai berkurang isinya. Wajah-wajah yang tadi tampan santai dan penuh tawa, kini mulai berubah sedikit serius.Terutama Satria.Pria itu meletakkan gelasnya di meja. Tatapannya berpindah dari Roman ke Julian, lalu ke Arga dan Vian.“Ada satu hal yang mau gue minta,” ucapnya dengan nada suara cukup tenang tapi membuat suasana berubah. Semua yang di situ mengenal Satria. Nada suara seperti itu berarti bukan lagi membahas soal Sheza, bayi, anak-anak atau kehidupan rumah tangganya.Arga ikut meletakkan gelasnya lalu menegakkan punggungnya. “Kita semua nyimak, Sat,” ucapnya.Satria diam beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Gue mau kita nginget lagi semuanya.”Julian mengernyit.Lalu Satria kembali menyambung, “Kita harus inget semua yang terjadi sejak Prabu pergi.”Tiba-tiba angin malam bergerak melewati halaman belakang. Angin itu hangat membelai wajah mereka. Semua terlihat menghela napas pelan. Karena nama yang baru
Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b
“Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny
Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad
Sheza sebenarnya ingin langsung masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin mengobrol. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Hanya ingin duduk di kursi kerjanya, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang tertunda sejak kemarin. Berharap kalau rutinitas bisa menahan kepalanya agar tidak meledak. Di mejanya, ia







