Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 232. Malam Kesimpulan

Share

Bab 232. Malam Kesimpulan

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-06-02 23:56:36

Pertanyaan itu cukup penting karena mereka semua tahu beberapa bulan terakhir ada terlalu banyak kejadian aneh di sekitar Satria dan Sheza.

Satria menggeleng. “Udah nggak ada.”

Arga langsung memperhatikan. “Yakin?”

“Yakin.” Tatapan Satria bergerak ke arah rumah sesaat. “Nggak ada lagi yang ngikutin, nggak ada lagi yang nongkrong depan komplek karena nunggu kapan gue pulang.”

Roman ikut mengangkat alis. “Bener-bener bersih?”

“Bersih.” Satria mengambil gelasnya. “Dan gue cukup yakin orang yang ng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (30)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Lima sahabat lagi memecahkan misteri
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Prabu banyak menyimpan rahasia yg belom terungkap
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih up nya kk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 238. Harga Sebuah Akhir

    Satria keluar dari Estate cafe hampir tengah hari. Langit masih mendung. Udara terasa lembap setelah hujan tipis yang turun sebentar pagi tadi. Ia tidak langsung masuk ke mobil.Beberapa detik pria itu berdiri di dekat parkiran sambil memandang lalu lintas yang bergerak pelan di depan sana.Pertemuan itu sudah selesai.Mungkin untuk selamanya.Namun anehnya, ia tidak merasa menang.Karena semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa beberapa masalah memang tidak bisa diselesaikan dengan kemenangan sederhana.Ada terlalu banyak orang di belakang Pak Hendra.Terlalu banyak nama yang bahkan tidak pernah muncul di dokumen resmi.Terlalu banyak kepentingan yang berdiri di atas bisnis-bisnis kotor yang selama ini dijalankan diam-diam.Beberapa minggu terakhir Satria sudah berbicara dengan banyak orang.Dengan Arga.Dengan penyidik swasta.Dengan orang-orang yang memahami bagaimana perkara seperti itu biasanya berakhir.Dan jawabannya hampir selalu sama. Kalau satu batu dibalik

  • KAMAR KEDUA   Bab 237. Yang Paling Masuk Akal

    Pak Hendra menatap Satria cukup lama. Seakan ja sedang memilih akan menanggapi Satria dengan serius … atau membawanya santai. Setelah sepersekian detik dalam kecanggungan, pria tua itu akhirnya tertawa pendek.Tawa yang terdengar kosong."Bahkan kalau semua asumsi kamu benar..." suaranya terdengar lebih berat sekarang, "...apa yang sebenarnya kamu mau?"Satria merapikan letak ponsel si kidal di meja. Lalu berkata pelan. "Saya mau keluarga saya ditinggalkan."Pak Hendra mengernyit, tapi menunggu Satria meneruskan ucapannya."Saya mau Sheza ditinggalkan. Dio ditinggalkan.” Ia sengaja menyebut nama-nama itu tanpa basa-basi."Saya mau semua orang yang masih membawa nama Prabu ditinggalkan."Pak Hendra memandangnya diam.Sementara Satria melanjutkan. "Tarik semua gugatan. Semua tuntutan. Semua laporan—yang kemarin-kemarin mengaku dirugikan oleh Prabu. Setidaknya saya tau dari mana orang-orang itu berasal.”Pak Hendra tersenyum miring. "Kamu minta banyak,” ucapnya."Saya belum selesai,” ka

  • KAMAR KEDUA   Bab 236. Kesalahan Sama, Orang yang Berbeda

    “Yang menarik itu ... cara Anda berhenti peduli.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria memutar pelan ponsel di atas meja.Lalu meletakkannya kembali.“Sebenarnya saya juga nggak terlalu peduli dengan ponsel ini.”Tatapan Pak Hendra sekilas tertuju pada ponsel.“Padahal isinya lumayan menarik.” Sudut bibir Satria bergerak tipis. “Ada rekaman suara. Ada potongan video. Ada beberapa percakapan yang seharusnya cuma diketahui orang-orang tertentu.”Pak Hendra tetap diam.“Anda pasti nggak menyangka orang-orang yang paling dekat dengan Anda ternyata menyimpan rasa takut juga.” Jari telunjuk Satria mengetuk ponsel itu sekali. “Takut kalau suatu hari mereka mengalami nasib yang sama seperti orang-orang sebelumnya.”Ruangan kembali sunyi.“Makanya saya bilang ponsel ini menarik.” Satria menggeleng kecil. “Bukan karena nilainya sebagai barang bukti.”Ia membalas tatapan Pak Hendra. “Tapi karena benda ini membuat saya memahami satu hal.”Pak Hendra menyipitkan mata. “Oh, ya? Apa itu?”Satria tersen

  • KAMAR KEDUA   Bab 235. Kenyataan yang Semakin Pahit

    “Empat puluh miliar tidak akan membuat perusahaan saya goyah.”Satria menyandarkan tubuhnya.“Tapi Anda dan saya sama-sama tahu itu cukup untuk menghancurkan Prabu.”Pak Hendra diam beberapa saat.Ia mengusap bibir cangkir tehnya dengan ibu jari sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Tidak.”Satria mengangkat alis.“Yang menghancurkan Prabu bukan empat puluh miliar itu.”“Lalu apa?” Bagaimana pun juga ia tidak suka seseorang bicara buruk tentang temannya.“Keserakahannya,” kata Pak Hendra.Suara pendingin ruangan kembali terdengar ketika dialog mereka terhadap. Satria memandangi pria tua di depannya. Pak Hendra terlihat jauh lebih santai sekarang.Seolah akhirnya mereka sampai pada bagian cerita yang ingin ia sampaikan sejak awal.“Awalnya Prabu datang ke saya sebagai pengusaha yang sedang kesulitan,” lanjut Pak Hendra. “Itu manusiawi, kan? Banyak orang datang dengan masalah yang sama. Awalnya Prabu bahkan tidak pernah bertanya apa usaha saya. Begitu kesulitan, dia datang lagi.”Rahang S

  • KAMAR KEDUA   234. Sebuah Kepastian 

    "Kalau begitu saya juga nggak akan buru-buru menjawab sesuatu yang belum pantas saya jawab. Mana ponsel staf saya?”Satria tersenyum samar. Pak Hendra melanjutkan, "Dan kalau kamu memang mau ikut mengurus peninggalan Prabu, mungkin kamu juga harus mulai memikirkan uang saya yang dibawa dia.”Satria menelan ludah pelan. Kalimat yang baru saja diucapkan Pak Hendra baru pertama kali didengar Satria.Selanjutnya ia bisa saja bertanya langsung soal bagaimana praktik money laundry yang terjadi di pelabuhan dan di bawah kontrol pria itu selama ini. Tapi tentu saja dunia ini berjalan tidak semudah itu."Sebenarnya kapan Bapak mulai mengenal Prabu?” Satria merasa itu adalah pertanyaan paling aman yang akan dijawab Pak Hendra. Pria tua itu licin dan hati-hati.“Sudah cukup lama,” sahut Pak Hendra.Jawaban yang belum bisa memberi gambaran jelas baginya. Masih terlalu hati-hati."Saya anggap kita sama-sama paham kalau percakapan hari ini tetap ada di ruangan ini.” Satria mengingatkan bahwa harusn

  • KAMAR KEDUA   Bab 233. Orang Tua yang Tidak Suka Kalah

    Esok harinya setelah pertemuan di halaman belakang rumah, Satria akhirnya menghubungi Pak Hendra dengan cara yang sama saat pria tua itu menghubunginya untuk bertemu di gudang nomor tujuh belas.Pesan yang netral dan datar. Namun masih menyiratkan kesopanan bicara seorang muda pada yang lebih tua.‘Selamat siang, Pak Hendra.’‘Bagaimana kalau Senin depan pukul 10 pagi kita ngobrol sambil ngopi di ruang private Estate cafe?’Dan sesuai tebakan Satria, jawaban dari Pak Hendra tak perlu menunggu waktu lama. Seolah Pak Hendra memang sudah menunggu.‘Boleh saja. Senin pagi di Estate cafe pukul 10 pagi.’Satria memandang pesan singkat itu dengan senyum di salah satu sudut bibirnya.“Seperti biasa … selalu optimis, ramah dan percaya diri,” ucapnya setelah membaca ulang pesan Pak Hendra.__________Pagi itu langit kota terlihat pucat. Mendung tipis menggantung sejak pagi tanpa benar-benar berubah menjadi hujan.Satria datang tepat waktu.Restoran yang dipilihnya bukan tempat mewah yang ramai

  • KAMAR KEDUA   Bab 55. Alasan untuk Pergi

    Ada keputusan yang terlihat benar saat diambil. Tapi bertahun-tahun kemudian berubah menjadi penyesalan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Satria tidak pernah berniat masuk ke hidup Sheza. Ia hanya ingin satu jam dalam sehari di mana dunia tidak menuntut apa pun darinya. Dua meja kosong d

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 52. Hari Sudah Terang

    Satria masih duduk di tepi ranjang dengan jarak yang sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang belum sepenuhnya saling menerima. Jarak mereka saat itu bahkan terasa lebih panjang daripada pelukan kemarin. Saat itu tangan Satria masih berada dalam genggaman Sheza. Wanita itu mengepaln

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

    Sheza tidak pernah berniat jatuh cinta hari itu. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang. Cafe kecil itu bukan tempat istimewa. Letaknya di sudut jalan yang agak masuk dan selalu ramai di jam makan siang. Salah satu alasannya memilih cafe itu bukan karena masakannya enak. Toh, ia kadang membawa bek

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 56. Penerimaan yang Sebenarnya

    “Mau makan?” tanya Satria setelah akhirnya melepaskan pelukan itu. Nada suaranya biasa saja, seolah ia hanya menanyakan jam. Sheza menggeleng pelan. “Belum selera.” “Jangan mikir terlalu berat,” kata Satria. Tangannya sempat menepuk pundak Sheza dengan ringan. “Rambut kamu bisa rontok.” Sheza m

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status