INICIAR SESIÓNLanjutannya sebentar lagi ya
Nadine duduk di balik kemudi SUV hitam itu—sebuah Volvo. Ia menyesuaikan posisi spion, lalu mulai berjalan pelan menuju rumahnya, tanpa perlu menoleh ke belakang untuk tahu Damar pasti sudah mengikuti.Dasbornya bersih, nyaris steril. Tidak ada tisu berserakan, tidak ada kemasan permen atau struk parkir yang menumpuk seperti yang biasa ia lihat di mobil kebanyakan orang. Hanya ada pengharum mobil kecil yang terpasang di ventilasi AC, aromanya seperti kopi hitam, tidak menyengat, hanya samar dan hangat.Di bagian tengah konsol, ada charger ponsel tergulung rapi, dan di sampingnya—Nadine hampir tertawa melihatnya—segepok uang pecahan lima ribu, terikat karet gelang.Ia tersenyum kecil. Untuk hal itu, mereka ternyata sama. Selalu siap sedia uang receh untuk tol atau parkir dadakan, kebiasaan orang-orang yang terlalu sering terjebak macet dan malas repot mencari uang pas.Senyum itu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari, sampai akhirnya ia sendiri merasa aneh dengan ekspr
Rasanya benar-benar tidak mungkin meminta Lala menelepon mobil derek dan menyebutkan posisinya sekarang. Lala pasti akan bertanya, kenapa hampir tengah malam begini Nadine masih berada persis di dekat kantor konsultan bangunan itu. Dan sopir mereka—kalau sampai tahu posisi persisnya, semua orang akan mengira ia memang sengaja mendatangi pria itu malam-malam begini.Nadine menggeleng keras, seolah bisa mengusir pikiran itu dari kepalanya."Nggak boleh begini," gumamnya pelan.Ia membuka ponselnya, menggulir daftar kontak, berhenti sejenak di satu nama. Jarinya melayang di atas tombol panggil, ragu. Ia bisa saja mencari aplikasi derek sendiri, menunggu entah berapa lama di jalanan sepi ini sendirian. Atau ia bisa menelepon satu orang yang kebetulan—hanya kebetulan, pikirnya—tahu persis di mana ia berada tanpa perlu penjelasan panjang kenapa.Ia menggigit bibir. Ragu. Namun belum sempat ia berpikir soal keraguan lain, ia melihat sekeliling tempatnya. Gelap. Jalan itu bukan tempat biasa o
"Saya belum tahu persisnya. Cuma kerasa kurang pas aja.""Oke." Damar mengetuk-ngetuk pensilnya di meja, pura-pura berpikir keras. "Kalau gitu saya cariin pintu yang bikin Ibu suka. Biar nggak kurang pas lagi."Nadine hampir tersenyum, sudut bibirnya bergerak naik sedikit sebelum buru-buru ia tahan kembali. "Bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal fungsi.""Iya, Bu, saya ngerti. Cuma kadang fungsi sama selera itu tipis bedanya." Damar menggeser gambar, menunjukkan dua alternatif posisi pintu. "Yang ini lebih logis dari sisi alur orang masuk. Yang ini lebih logis dari sisi pencahayaan. Ibu pilih yang mana?"Nadine menatap kedua opsi itu cukup lama, lalu menunjuk salah satunya tanpa banyak komentar. Damar mencatat pilihan itu, lalu beralih ke bagian lain denah, menunjuk area dekat tangga darurat."Ini juga ada masalah kecil, Bu. Bekas rembesan air dari atap lama. Sekarang sih udah kering, tapi nodanya di dinding masih keliatan, bandel banget, susah hilang meski udah dicat ulang dua ka
“Aku baru nyampe kantor, Pa. Mau buru-buru aja langsung nelepon,” kata Nadine.“Proyeknya udah kelamaan. Udah jadi bangunan terbengkalai. Jadi gimana?" Suara Pak Salim di ujung telepon benar-benar menyiratkan ketidaksabaran. "Papa dengar konsultannya juga mau mundur, ya? Nyerah gitu aja dia? Menurut kamu, gedung itu masih bisa dilanjutkan tanpa nambah kerugian? Atau lebih baik dijual aja sekalian? Papa sudah nggak mau pusing-pusing lagi, Nad.”“Konsultannya nyerah?” Nadine terbatuk-batuk kecil. Damar mau mundur bukan karena gedungnya tidak bisa diselamatkan, melainkan karena dirinya sendiri yang selama ini malas-malasan setiap diajak bertemu untuk menjalankan konsultasi lanjutan rencana gedung itu."Konsultan yang ini profesional, Pa," jawabnya, berusaha menjaga nadanya tetap datar. "Namanya Damar, dosen S2, punya perusahaan konsultan sendiri. Analisisnya jelas, bukan asal bicara." Ia berhenti sejenak. "Aku bakal usahakan supaya dia tetap lanjut. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki
Di sudut bangunan, Damar membentangkan gambar kerja di atas meja lipat, menahan salah satu sudutnya dengan gelas teh yang sudah dingin. Ia menunjuk garis merah yang melingkari salah satu kolom."Ini kolom K-14, Bu. Retakannya masih di ambang aman, tapi posisinya persis di titik yang menahan beban terbesar dari lantai tiga ke atas." Ia menggeser jarinya ke bagian lain gambar. "Kalau saya biarkan dan dipaksa lanjut, dalam dua tahun ke depan retaknya bisa menjalar. Bukan besok roboh, Bu. Tapi bukan sesuatu yang saya mau tanda tangani nama saya di atasnya."Nadine menyilangkan tangan. "Berapa biayanya kalau diperbaiki?""Kalau cuma injeksi epoksi dan perkuatan lokal, sekitar dua ratus juta. Selesai tiga minggu." Damar tidak perlu membuka catatan mana pun. "Tapi saya sarankan sekalian evaluasi lima kolom di sekitarnya. Developer sebelumnya memangkas volume tulangan di beberapa titik. Saya baru tahu setelah bongkar selubung beton kemarin.""Kenapa baru sekarang ketahuan?""Karena orang sebe
Roman menarik napas, lalu menyelipkan kedua tangan ke saku celana. Bukan gaya santai seperti biasanya. Kali ini ia terlihat seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.Ia sedikit berputar agar bisa menatap mata Rania. "Maksudku…" Ia berhenti sebentar, memilih kata. "Aku serius sama kamu, Ran. Bukan serius yang cuma ngajak makan atau jalan. Aku mau kita menuju ke arah yang jelas."Rania tidak menyela. Jemarinya kembali memegang tali tas, kali ini lebih erat. Roman sudah berganti panggilan menyebut dirinya. Dari saya yang terkesan berjarak, kini menjadi aku, yang terasa lebih dekat."Aku nggak akan minta kamu ngambil keputusan apa pun sekarang. Kamu masih praktik, masih ada skripsi." Roman menatapnya lurus. "Tapi kalau skripsi kamu udah selesai, aku mau datang ke Kebumen. Ketemu orang tuamu, dan melamar kamu secara baik-baik. Ini … soal hubungan serius yang begitu, Rania.”Angin siang berembus pelan. Dari dalam rumah terdengar tawa Nayla, samar dan jauh, seakan berasal dari







