เข้าสู่ระบบIsyana mengikuti suaminya ke hotel. Demi mendapatkan bukti perselingkuhan suaminya, dia menyamar menjadi pelayan hotel dengan kamera yang terpasang di liontinnya, bukan hanya pengkhianatan yang dia temukan, diam-diam ternyata suami dan selingkuhannya ingin merampas harta Isyana. "Baiklah, kuanggap ini tawaran perang. Akan kuladeni sampai akhir."
ดูเพิ่มเติม"Sayang, kapan kau ceraikan wanita tua itu?"
Suara manja yang keluar dari bibir wanita ber-bathrobe putih itu langsung menyengat telinga Isyana. Melalui celah pintu kamar 4020 yang sedikit terbuka, sepasang mata indahnya menyaksikan pemandangan yang memuakkan. Di atas sofa beludru, Rehan suaminya justru terkekeh. Tangan pria itu bergerak mengusap pinggang wanita yang kini duduk dengan nyaman di pangkuannya. Tatapan penuh kehangatan yang tak pernah Isyana dapatkan di rumah, kini diobral murah untuk perempuan lain. "Sabar, Sayang. Menyingkirkan Isyana tidak semudah membalik telapak tangan. Harta dan aset perusahaan masih atas namanya," jawab Rehan, santai tanpa beban. Di balik masker kain hitam yang menutupi separuh wajahnya, sudut bibir Isyana justru terangkat. Senyuman dingin yang mengerikan terbentuk di sana. Wanita tua? Menyingkirkannya? Jemari lentik Isyana bergerak pelan menuju dada, menyentuh liontin perak berbentuk bulat yang menggantung di leher. Sebuah ketukan halus menggunakan kuku jarinya mengaktifkan lensa mikroskopis yang tertanam di tengah liontin tersebut. Alat pengintai mutakhir itu kini merekam setiap jengkal kemesraan menjijikkan mereka, lengkap dengan suara pengakuan dosa yang keluar dari mulut suaminya sendiri. "Tapi aku bosan bersembunyi terus, Mas. Aku mau status kita resmi," rengek wanita itu lagi, memajukan bibirnya manja. "Sebentar lagi. Begitu semua sahamnya berpindah tangan, aku sendiri yang akan melemparkan surat cerai itu ke mukanya. Dia tidak akan punya apa-apa lagi untuk disombongkan." Rehan mengecup kilat pipi wanita itu. Isyana menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin koridor hotel menekan letupan amarah yang sempat menyengat dada. Air mata? Tidak, mereka tidak layak mendapatkan setetes pun air matanya. Rasa sakit itu langsung menguap, berganti menjadi kalkulasi pembalasan dendam yang rapi di dalam kepala. Mereka ingin bermain api dengannya? Isyana akan memastikan seberapa cepat mereka akan hangus terbakar. Dengan gerakan yang sangat tenang, Isyana mendorong troli hotel yang dipinjamnya paksa dari pelayan asli di lantai bawah. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati sofa, lalu meletakkan dua botol air mineral di atas meja tepat di bawah hidung mereka. "Silakan dinikmati, Bapak, Ibu," ucap Isyana dengan suara yang sengaja dibuat agak serak dan dalam. Mendengar suara asing yang terlalu dekat, Rehan seketika menoleh tajam. Matanya menyipit penuh selidik, menatap seragam pelayan hotel yang dikenakan Isyana dan masker hitam yang menutupi wajah istrinya itu. "Kamu pelayan baru? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?!" bentak Rehan, suaranya terdengar berwibawa namun penuh kepalsuan. Isyana tidak gentar. Dari balik masker, matanya menatap lurus ke dalam manik mata pria yang sudah bersamanya selama 11 tahun ini. Dia sengaja membungkukkan badan sedikit lebih dalam, menyembunyikan sorot matanya yang tajam di balik topi pet hotel. "Maaf, Pak. Saya hanya mengantarkan pesanan tambahan dari dapur hotel," sahut Isyana dengan suara serak yang dibuat-buat, begitu tenang tanpa ada getaran panik sedikit pun. Sinta, wanita ber-bathrobe putih yang merupakan rekan bisnis Rehan, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. Dia kembali bergelayut di pundak Rehan, mengabaikan keberadaan pelayan di depan mereka. "Sudahlah, Mas, jangan marahi pelayan itu. Mending kamu fokus ke aku saja. Oh ya, besok saat rapat tender proyek dengan investor baru, kamu pastikan Isyana tidak ikut campur, ya? Aku mau kita yang pegang kendali penuh," ucap Sinta dengan nada manja yang dibuat sehalus mungkin, penuh ambisi terselubung. Rehan terkekeh, mengusap pipi Sinta dengan gemas. "Tenang saja, Sayang. Isyana itu cuma tahu beres-beres rumah. Dia tidak akan paham urusan tender besar seperti ini. Semua dokumen kuasa sudah aku siapkan untuk kutandatangani atas namanya." Isyana tetap bergerak santai, menata piring-piring kecil berisi camilan di atas meja dengan gerakan tangan yang begitu presisi. Setiap kalimat yang keluar dari mulut dua orang di depannya justru menjadi peluru gratis yang tersimpan rapi dalam rekaman kalungnya. Tidak ada air mata atau jeritan histeris. Otak jenius Isyana justru sedang sibuk mengalkulasi bagaimana cara membalikkan dokumen kuasa itu untuk menjerat Rehan ke dalam lubang pailit. Setelah memastikan semua hidangan tertata, Isyana melangkah mundur. Dia memutar tubuhnya, bersiap mendorong troli untuk keluar dari kamar terkutuk itu. "Hei, pelayan! Tunggu!" panggil Rehan tiba-tiba. Langkah kaki Isyana seketika terhenti. Tubuhnya mematung di dekat pintu. Jantungnya sempat berdesir tajam. Apakah penyamarannya terbongkar? Apakah Rehan mengenali postur tubuhnya atau tatapan matanya? Isyana mengatur napasnya agar tetap teratur, lalu perlahan membalikkan badan, kembali menundukkan kepalanya dengan patuh. Rehan merogoh dompet dari saku celananya yang tergeletak di sandaran sofa. Pria itu menarik selembar uang ratusan ribu, lalu dengan angkuh melempar lembaran merah itu ke arah Isyana. Uang itu melayang di udara sebelum akhirnya jatuh di atas lantai, tepat di dekat ujung sepatu Isyana. "Uang tutup mulut. Jangan sampai ada yang tahu apa yang kamu lihat di kamar ini, atau kamu kehilangan pekerjaanmu besok pagi," ucap Rehan dengan nada merendahkan yang sangat kental. Sinta di pangkuannya tertawa cekikikan, menganggap tindakan Rehan sangat keren dan berkuasa. Isyana menatap lembaran uang di lantai itu sejenak. Sudut bibirnya di balik masker tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis yang tersembunyi. Dengan gerakan anggun, dia membungkuk, memungut uang ratusan ribu itu dan menggenggamnya erat. "Terima kasih atas kemurahan hatinya, Bapak," jawab Isyana pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu kamar 4020 tertutup rapat di belakangnya. Isyana berjalan cepat menuju lift kosong di ujung koridor. Begitu pintu lift tertutup dan membawanya turun, Isyana melepaskan masker hitam dan topi pet yang dipakainya. Dia mengangkat selembar uang ratusan ribu di tangan kanannya, menatap benda itu dengan sorot mata sedingin es yang mematikan. "Seperti ini ternyata sifat aslimu, Mas," bisik Isyana, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang berbahaya. "Kuanggap uang ini adalah tawaran perang. Baiklah, akan kuladeni sampai akhir."Amara menggeleng-gelengkan kepalanya, perlahan rasa syoknya berubah menjadi kekaguman yang luar biasa pada sahabatnya. "Jadi karena itu kamu bergerak secepat kilat pagi ini? Luar biasa. Lalu, apa Rehan sudah tahu kalau kamu tahu soal anak itu?""Tidak," Isyana menyesap jus jeruknya perlahan, lalu menatap Amara dengan kilat mata yang mematikan. "Tadi dia datang kelabakan ke ruanganku, mengamuk karena rekeningnya dibekukan. Dia mengira aku hanya tahu soal kelakuan ibunya dan masalah anggaran kantor. Aku sengaja menyembunyikan kartu as soal Sinta dan Rosy agar dia merasa di atas angin dalam ketidaktahuannya. Biarkan dia panik dengan urusan keuangan dan pemecatan adiknya dulu."Amara mengepalkan tangannya di atas meja, ikut merasakan kepedihan sekaligus amarah sahabatnya. "Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Isyana? Sebagai pengacaramu, aku sudah merapikan semua dokumen kepemilikan saham dan aset pribadimu sejak beberapa bulan lalu. Kapan kita layangkan gugatan cerai?"Isyana menatap Amar
"Kantor ini berdiri di atas tanah keluargaku, dibangun dengan modal penuh dari asetku, dan 70 persen sahamnya adalah milikku mutlak," Isyana menegakkan punggungnya, menatap Tio dengan sorot mata yang membuat pemuda itu mendadak ciut. "Dua tahun kamu menikmati posisi manajer tanpa kualifikasi yang jelas, hanya mengandalkan nepotisme kakakmu, dan berani memotong anggaran staf bawah untuk gaya hidupmu. Hari ini, semuanya berakhir."Isyana menggeser sebuah dokumen bermaterai ke ujung meja."Ini surat pemecatanmu secara tidak hormat. Dan Bagito sudah menyiapkan rincian pengembalian dana 1,2 miliar yang kamu selewengkan. Jika dalam waktu tiga hari uang itu tidak kembali ke kas perusahaan, Hendy akan langsung menyerahkan berkas ini ke kepolisian atas tuduhan penggelapan dalam jabatan.""Mbak Isyana!! Kau keterlaluan!! Aku ini adik suamimu!!" teriak Tio frustrasi, wajahnya memerah padam karena terkejut dan malu."Di dalam perusahaan ini, kamu hanya seorang karyawan yang tertangkap tangan menc
Kau pikir aku bodoh, Mas?" Isyana bangkit dari kursinya, membuat tinggi mereka kini sejajar. Aura dominan Isyana seketika mengintimidasi Rehan, menekan pria itu hingga mundur setengah langkah. "Sepuluh tahun aku di rumah, bukan berarti otakku tumpul. Aku tahu setiap sen uang yang keluar dari perusahaan ini. Aku tahu kau menggunakan uangku untuk membiayai semua keluargamu bahkan sepupu-sepupumu, memanjakan mereka, dan memberi ibumu yang tidak pernah merasa cukup itu."Rehan membelalakkan matanya, rasa muak dan benci mendadak memenuhi dadanya melihat wajah Isyana yang begitu tenang tanpa cela.Dadanya sedikit lega karena Isyana tidak mengetahui tentang Sinta."Kau memata-mataiku?! Menjijikkan sekali kelakuanmu, Isyana! Kau wanita berhati batu! Ibu sedang sakit di rumah sakit, dan kau dengan teganya memotong biaya pengobatannya hanya karena egomu yang terluka?!"Isyana tidak marah mendengar makian itu. Di dalam hatinya, dia justru sedang bersorak sorai merayakan kemenangan babak pertama.
Rehan menutup panggilan telepon dari Bagito, dengan tangan yang bergetar hebat.Ponsel di genggamannya hampir saja lolos dari jemari yang mendadak mati rasa. Wajahnya yang semula kemerahan penuh keangkuhan kini berubah pucat pasi, bagai mayat hidup."Rehan, kamu kenapa? Siapa yang menelepon? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?" Ibu Rehan bangkit dari sofa, melangkah mendekati putranya dengan raut cemas.Sisil yang baru saja kembali setelah membayar kurir makanan langsung meletakkan kantong plastik di meja. "Iya, Rehan. Uangku sudah terpakai dua juta. Mana transferannya? Kok belum masuk ke rekeningku?"Rehan menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap ibunya, Sisil, dan Sinta bergantian dengan pandangan kosong."Semua rekeningku... dibekukan.""Apa?!" Sisil berteriak histeris. "Dibekukan bagaimana? Jangan bercanda, Rehan! Kamu kan bos di Pilar Corporation!""Ini pasti ulah Isyana," desis Rehan, suaranya parau penuh amarah yang mulai membakar dadanya. "Manager keuangan baru saja bilang,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.