KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT

KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-24
โดย:  Azitungอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
12บท
10views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Isyana mengikuti suaminya ke hotel. Demi mendapatkan bukti perselingkuhan suaminya, dia menyamar menjadi pelayan hotel dengan kamera yang terpasang di liontinnya, bukan hanya pengkhianatan yang dia temukan, diam-diam ternyata suami dan selingkuhannya ingin merampas harta Isyana. "Baiklah, kuanggap ini tawaran perang. Akan kuladeni sampai akhir."

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

KSP - 1

"Sayang, kapan kau ceraikan wanita tua itu?"

Suara manja yang keluar dari bibir wanita ber-bathrobe putih itu langsung menyengat telinga Isyana.

Melalui celah pintu kamar 4020 yang sedikit terbuka, sepasang mata indahnya menyaksikan pemandangan yang memuakkan. Di atas sofa beludru, Rehan suaminya justru terkekeh.

Tangan pria itu bergerak mengusap pinggang wanita yang kini duduk dengan nyaman di pangkuannya. Tatapan penuh kehangatan yang tak pernah Isyana dapatkan di rumah, kini diobral murah untuk perempuan lain.

"Sabar, Sayang. Menyingkirkan Isyana tidak semudah membalik telapak tangan. Harta dan aset perusahaan masih atas namanya," jawab Rehan, santai tanpa beban.

Di balik masker kain hitam yang menutupi separuh wajahnya, sudut bibir Isyana justru terangkat. Senyuman dingin yang mengerikan terbentuk di sana.

Wanita tua? Menyingkirkannya?

Jemari lentik Isyana bergerak pelan menuju dada, menyentuh liontin perak berbentuk bulat yang menggantung di leher.

Sebuah ketukan halus menggunakan kuku jarinya mengaktifkan lensa mikroskopis yang tertanam di tengah liontin tersebut.

Alat pengintai mutakhir itu kini merekam setiap jengkal kemesraan menjijikkan mereka, lengkap dengan suara pengakuan dosa yang keluar dari mulut suaminya sendiri.

"Tapi aku bosan bersembunyi terus, Mas. Aku mau status kita resmi," rengek wanita itu lagi, memajukan bibirnya manja.

"Sebentar lagi. Begitu semua sahamnya berpindah tangan, aku sendiri yang akan melemparkan surat cerai itu ke mukanya. Dia tidak akan punya apa-apa lagi untuk disombongkan." Rehan mengecup kilat pipi wanita itu.

Isyana menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin koridor hotel menekan letupan amarah yang sempat menyengat dada.

Air mata? Tidak, mereka tidak layak mendapatkan setetes pun air matanya. Rasa sakit itu langsung menguap, berganti menjadi kalkulasi pembalasan dendam yang rapi di dalam kepala.

Mereka ingin bermain api dengannya? Isyana akan memastikan seberapa cepat mereka akan hangus terbakar.

Dengan gerakan yang sangat tenang, Isyana mendorong troli hotel yang dipinjamnya paksa dari pelayan asli di lantai bawah.

Dia melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati sofa, lalu meletakkan dua botol air mineral di atas meja tepat di bawah hidung mereka.

"Silakan dinikmati, Bapak, Ibu," ucap Isyana dengan suara yang sengaja dibuat agak serak dan dalam.

Mendengar suara asing yang terlalu dekat, Rehan seketika menoleh tajam. Matanya menyipit penuh selidik, menatap seragam pelayan hotel yang dikenakan Isyana dan masker hitam yang menutupi wajah istrinya itu.

"Kamu pelayan baru? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?!" bentak Rehan, suaranya terdengar berwibawa namun penuh kepalsuan.

Isyana tidak gentar. Dari balik masker, matanya menatap lurus ke dalam manik mata pria yang sudah bersamanya selama 11 tahun ini. Dia sengaja membungkukkan badan sedikit lebih dalam, menyembunyikan sorot matanya yang tajam di balik topi pet hotel.

"Maaf, Pak. Saya hanya mengantarkan pesanan tambahan dari dapur hotel," sahut Isyana dengan suara serak yang dibuat-buat, begitu tenang tanpa ada getaran panik sedikit pun.

Sinta, wanita ber-bathrobe putih yang merupakan rekan bisnis Rehan, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. Dia kembali bergelayut di pundak Rehan, mengabaikan keberadaan pelayan di depan mereka.

"Sudahlah, Mas, jangan marahi pelayan itu. Mending kamu fokus ke aku saja. Oh ya, besok saat rapat tender proyek dengan investor baru, kamu pastikan Isyana tidak ikut campur, ya? Aku mau kita yang pegang kendali penuh," ucap Sinta dengan nada manja yang dibuat sehalus mungkin, penuh ambisi terselubung.

Rehan terkekeh, mengusap pipi Sinta dengan gemas. "Tenang saja, Sayang. Isyana itu cuma tahu beres-beres rumah. Dia tidak akan paham urusan tender besar seperti ini. Semua dokumen kuasa sudah aku siapkan untuk kutandatangani atas namanya."

Isyana tetap bergerak santai, menata piring-piring kecil berisi camilan di atas meja dengan gerakan tangan yang begitu presisi.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut dua orang di depannya justru menjadi peluru gratis yang tersimpan rapi dalam rekaman kalungnya.

Tidak ada air mata atau jeritan histeris. Otak jenius Isyana justru sedang sibuk mengalkulasi bagaimana cara membalikkan dokumen kuasa itu untuk menjerat Rehan ke dalam lubang pailit.

Setelah memastikan semua hidangan tertata, Isyana melangkah mundur. Dia memutar tubuhnya, bersiap mendorong troli untuk keluar dari kamar terkutuk itu.

"Hei, pelayan! Tunggu!" panggil Rehan tiba-tiba.

Langkah kaki Isyana seketika terhenti. Tubuhnya mematung di dekat pintu. Jantungnya sempat berdesir tajam. Apakah penyamarannya terbongkar? Apakah Rehan mengenali postur tubuhnya atau tatapan matanya?

Isyana mengatur napasnya agar tetap teratur, lalu perlahan membalikkan badan, kembali menundukkan kepalanya dengan patuh.

Rehan merogoh dompet dari saku celananya yang tergeletak di sandaran sofa. Pria itu menarik selembar uang ratusan ribu, lalu dengan angkuh melempar lembaran merah itu ke arah Isyana.

Uang itu melayang di udara sebelum akhirnya jatuh di atas lantai, tepat di dekat ujung sepatu Isyana.

"Uang tutup mulut. Jangan sampai ada yang tahu apa yang kamu lihat di kamar ini, atau kamu kehilangan pekerjaanmu besok pagi," ucap Rehan dengan nada merendahkan yang sangat kental.

Sinta di pangkuannya tertawa cekikikan, menganggap tindakan Rehan sangat keren dan berkuasa.

Isyana menatap lembaran uang di lantai itu sejenak. Sudut bibirnya di balik masker tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis yang tersembunyi. Dengan gerakan anggun, dia membungkuk, memungut uang ratusan ribu itu dan menggenggamnya erat.

"Terima kasih atas kemurahan hatinya, Bapak," jawab Isyana pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi.

Pintu kamar 4020 tertutup rapat di belakangnya. Isyana berjalan cepat menuju lift kosong di ujung koridor. Begitu pintu lift tertutup dan membawanya turun, Isyana melepaskan masker hitam dan topi pet yang dipakainya.

Dia mengangkat selembar uang ratusan ribu di tangan kanannya, menatap benda itu dengan sorot mata sedingin es yang mematikan.

"Seperti ini ternyata sifat aslimu, Mas," bisik Isyana, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang berbahaya. "Kuanggap uang ini adalah tawaran perang. Baiklah, akan kuladeni sampai akhir."

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
12
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status