INICIAR SESIÓNBaru saja aku merajut mimpi sebagai seorang istri, kini aku harus menelan pil pahit karena diusir oleh suamiku sendiri dalam keadaan hamil tua. Semua karena kehadiran cinta pertama suamiku. Rasa cinta yang tersisa kini menjelma menjadi dendam membara. Aku bersumpah akan memberikan balasan yang setimpal. Hingga pada malam itu…
Ver más"Pergi dari rumah ini sekarang, Ayu! Aku harus segera menikah dengan Siska!"
Bentakan Andre bagai palu godam yang menghantam dadaku tanpa ampun. Di usia kehamilanku yang kini menginjak tujuh bulan — usia di mana seharusnya seorang suami mengecup perut istrinya dengan penuh kelembutan. Andre justru mengusirku begitu saja demi cinta pertamanya yang tiba-tiba datang mengaku mengandung anaknya. Lebih menyakitkan lagi, ibu mertuaku justru berdiri di ambang pintu dapur sambil melipat tangan di dada. Beliau tersenyum lega, menatapku dengan sorot penuh jijik seolah aku adalah kotoran yang harus segera disingkirkan dari rumah itu. Setahun lalu, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang gadis sebatang kara lulusan sarjana sastra yang terpaksa menyamar sederhana menjadi penjual es krim demi menyambung hidup. Ketika keluarga Andre dilanda kepanikan besar karena Siska sang pengantin wanita kabur menjelang ijab kabul demi melanjutkan pendidikan ke luar negeri, aku nekat menawarkan diri sebagai pengantin pengganti. Aku ingin menyelamatkan muka keluarga mereka dari rasa malu di hadapan ratusan tamu undangan. Aku pikir, dengan ketulusan dan pengabdianku selama setahun ini, perlahan-lahan hati Andre akan luluh dan belajar mencintaiku sebagai istrinya yang sah. Namun, semua mimpi sederhana itu hancur berkeping-keping dalam satu malam yang jahanam. "Kamu mau pergi sendiri secara baik-baik, atau kupermalukan kamu agar diseret warga keluar dari komplek ini, hah?!" bentak Andre kasar, sama sekali tidak peduli pada air mataku yang sudah tumpah membasahi pipi. Tanpa menunggu jawabanku, ia menyambar sebuah koper besar berisi pakaianku yang tersudut di kamar, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai hingga membentur kakiku. Ia menarik gagang pintu utama dan membantingnya dengan sangat keras tepat di hadapanku saat aku terpaksa melangkah keluar. Suara bantingan itu menggema nyaring, memutus seluruh ikatan pernikahan yang selama ini kupertahankan mati-matian di atas genangan luka. Hujan badai langsung menyambutku di luar. Dalam hitungan detik, air dingin malam mengguyur tubuhku yang basah kuyup, meresap hingga ke tulang di jalanan komplek yang gelap gulita dan licin. Langkah kakiku goyah. Belum genap seratus meter aku menjauh dari rumah neraka itu, rasa perih di dadaku tiba-tiba menjalar hebat, berubah menjadi kram luar biasa di perut bagian bawah. Aduh... Rasa sakit itu menusuk-nusuk dengan kejam, membuat napas pendek-pendeku tersengat udara malam yang membekukan. Aku meringis kesakitan sambil mencengkeram erat perutku yang membuncit besar, berusaha menahan beban yang terasa kian menghimpit. "Nak... bertahan ya... Ibu mohon, jangan sekarang..." bisikku merintih lemah di tengah derasnya guyuran air hujan yang terus menerpa wajahku. Kakiku sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhku sendiri. Pandanganku mendadak menggelap, membuat kelopak mataku terasa sangat berat hingga aku tak lagi mampu melihat jalanan di depanku. Tepat saat lututku lemas dan tubuhku ambruk tersungkur ke aspal jalanan yang basah, samar-samar aku merasakan sepasang tangan kokoh menyambut tubuhku dari belakang. Dekapan itu begitu hangat, sangat kontras dengan dinginnya malam dan kejamnya dunia yang baru saja kurasakan. Aroma parfum maskulin yang elegan langsung menguar samar di indra penciumanku, menopang ragaku yang hampir terhempas seutuhnya ke tanah. Sebelum kesadaranku benar-benar terenggut oleh pekatnya malam, aku tidak tahu siapa pria yang telah menangkap tubuh ku di ambang kehancuran. Yang aku tahu, malam itu hidupku telah runtuh sepenuhnya, membawa serta sebuah misteri baru yang tak terduga dan di balik pekatnya badai hujan. "Pilih sekarang, Adrian! Tetap menjadi penerus tunggal keluarga Diningrat, atau pergi secara tidak terhormat bersama perempuan buangan yang tidak jelas asal-usulnya itu?!"Gebrakan meja kaca di ruang tamu rumah peristirahatan privat milik Adrian bergetar keras. Suara Tuan Besar Diningrat menggema dingin, sarat akan amarah yang sudah mencapai puncaknya.Aku yang berdiri kaku di balik pilar lantai dua sambil memeluk Gibran erat-erat dalam dekapanku menahan napas dengan dada bergemuruh. Kedatangan orang tua Adrian bersama Fani yang tiba-tiba melacak keberadaan tempat ini berubah menjadi medan pertempuran yang paling menakutkan dalam hidupku.Adrian berdiri tegap di hadapan ayahnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, rahangnya mengeras tajam, memancarkan aura ketenangan yang begitu membekukan."Aku tidak pernah meminta tahta atau harta warisan itu, Pa," jawab Adrian dengan suara bariton yang begitu tenang namun tajam menghujam. "Kalau Papa ingin memakai kekayaan itu untuk me
Suara bantingan pintu dari kepergian Tuan Besar Diningrat masih menyisakan dengung ngilu di telingaku. Napasku memburu, sementara dadaku bergemuruh hebat. Pria paruh baya tadi baru saja mengancam akan mencoret Adrian dari daftar pewaris kekayaan keluarga Diningrat —semua itu gara-gara aku dan bayiku.Adrian menarik kursi dan duduk kembali di samping ranjangku. Wajahnya tetap tenang, seolah ancaman pemecatan dari tahta keluarga konglomerat itu tidak lebih berharga dari angin lalu."Adrian..." suaraku tercekat, air mataku kembali meleleh membasahi pipi. "Kenapa... kenapa kamu harus separah ini membelaku? Kamu baru saja mempertaruhkan masa depanmu sendiri demi aku... wanita asing yang tidak punya apa-apa."Adrian menatapku lekat-lekat. Sorot matanya yang tajam melembut, menyalurkan kehangatan yang belum pernah kudapatkan seumur hidupku bahkan dari Mas Andre, pria yang dulu kusebut suami."Karena aku bukan tipe pria yang bisa diam melihat manusia lain diinjak-injak di hadapanku, Ayu," jaw
"Adrian! Kamu benar-benar anak yang sudah kehilangan akal sehat!"Suara bentakan Tuan Besar Diningrat menggema di seluruh sudut ruangan rawat inap yang mewah itu. Kemurkaan terpampang jelas di wajah pria paruh baya tersebut, membuat udara di sekitar kami terasa begitu menyesakkan.Aku yang baru saja siuman dari operasi darurat hanya bisa terdiam kaku di atas ranjang. Jantungku berdegup kencang, dihantui rasa takut yang luar biasa. Caci maki dan pengusiran yang kuterima dari keluarga Andre beberapa hari yang lalu seolah terulang kembali, kali ini dalam skala yang jauh lebih besar dan menakutkan. Keluarga Diningrat adalah raksasa bisnis di kota ini yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam sedetik.Namun, Adrian sedikit pun tidak bergeming. Pria itu tetap berdiri kokoh di samping ranjangku, memasang badannya sebagai perisai pelindung yang tangguh."Aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan, Pa," jawab Adrian dengan nada suara yang dingin, tenang, namun penuh keyakinan. "Ayu dan ana
"Tahan sebentar, Ayu. Kamu harus kuat!" Suara bariton Adrian terdengar panik, mengiris kesadaranku yang mulai menipis akibat rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah. Darah segar merembes begitu deras, membasahi kain seprai putih rumah sakit saat aku dibopong paksa kembali menuju ruang tindakan darurat. Di luar lorong, samar-samar kulihat bayangan Nyonya Besar Diningrat berteriak murka dan Fani yang menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, ancaman mereka tidak ada apa-apanya dibanding ketakutan terbesarku saat ini: bagaimana nasib anakku jika aku mati di meja operasi? Pintu putih ruang darurat membanting tertutup. Suster dan dokter spesialis bedah langsung berlari panik, mengerubungiku yang sudah menggigil hebat. "Jahitannya robek karena pasien histeris dan memaksakan diri bergerak," seru dokter perempuan itu tegas. "Siapkan alat anestesi sekarang! Kita harus lakukan tindakan darurat kedua!" Masker oksigen dipasang menutupi wajahku. Sebelum pandanganku benar-ben


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.