Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 64. Hari yang Berat

Share

Bab 64. Hari yang Berat

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-25 01:34:27

Sabtu pagi, Satria sudah duduk di ruang kerjanya sejak matahari belum tinggi. Pakaian rumahnya rapi. Kemeja lengan pendek putih dengan bagian kerah terbuka seperti piyama, jeans biru dan rambut sedikit basah. Di meja kerja, kopi yang dibuatnya subuh tadi sudah habis. Ia bahkan belum sarapan. Belum lapar. Ia memutuskan keluar ruang kerjanya untuk meminta Tuti membuatkan kopi baru.

Saat melintas meja makan, ia melihat satu cangkir kopi yang sepertinya baru dibuat. Masih hangat. Tanpa perlu bertan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (23)
goodnovel comment avatar
henny.orlee
roman awas lepas rahang loh, mulut ga bsia di jaga sok paling tau tentang istri orang
goodnovel comment avatar
henny.orlee
salah satu cara biar satria balik ke putri nya adalah menghancurkan bisnis satria
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
waduhh..langsung hantam aja nih bang sat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 170. Meninggalkan Jejak Luka

    Bab 170. Meninggalkan Jejak LukaSatria mendesis pelan.Sedetik kemudian sesuatu yang hangat membasahi siku kemejanya. Diikuti dengan rasa perih. Satria tahu luka itu tidak dalam. Tapi gudang yang pengap dan gerakan yang sangat intens membuat keringatnya dengan cepat bercampur dengan darah dari lukanya.Kedua pria itu kembali beradu.Kali ini lebih brutal.Tubuh saling hantam tanpa pola. Saling dorong dengan tendangan dan pukulan membuat punggung mereka bergantian menghantam rak besi yang kokoh. Beberapa map jatuh berserakan. Debu beterbangan, membuat napas semakin berat.Pria itu menyerang lagi.Meski pincang, ia tetap berbahaya.“Harusnya lo berhenti dari awal,” geramnya.Satria menangkap lengannya, membantingnya ke sisi rak. Suara benturan keras menggema di dalam gudang. Pisau itu terlepas.Jatuh berputar di lantai.Keduanya sama-sama melihat.Dan dalam satu detik yang terlalu cepat—keduanya bergerak bersamaan.Satria lebih dulu.Ia menyepak pisau itu menjauh ke lorong lain.Pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 169. Duel Dalam Gelap

    Langkah kaki itu terdengar perlahan, sengaja diringankan agar tidak diketahui jelas arah langkahnya. Sedetik kemudian langkah itu berhenti—belum jauh dari pintu.Satria tidak bergerak.Punggungnya menempel pada sisi rak. Menahan napasnya sebentar lalu mengaturnya menjadi napas lebih pendek. Tangan kirinya yang mencengkeram ransel, pelan-pelan turun. Merapikan ransel itu agar tangannya leluasa jika harus melakukan sesuatu. Terdengar dering ponsel yang kemudian secepat kilat dipadamkan. Tak lama, sepertinya seseorang di dekat pintu mengetik sesuatu di ponsel. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering.“Jangan telepon sekarang. Lo nggak baca pesan?” Suara pria itu terdengar berbisik. Pria di dekat pintu sepertinya mengakhiri pembicaraan. Suasana hening seketika. Satria memindahkan tangannya di rak dengan pelan. Meraba permukaan rak terdekat dengannya untuk mencari sesuatu. Hening.Lalu … suara benda logam dijatuhkan pelan ke lantai.Seperti kunci.Atau … sesuatu yang sengaja

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 166. Realita yang Semakin Dekat

    Satria tidak langsung duduk ketika masuk ke ruang observasi. Ia berdiri di samping ranjang, cukup dekat untuk menyentuh Sheza, tapi ia tidak terburu-buru melakukannya.Setelah memastikan sekilas bahwa Nayla dan Dio baik-baik saja, kini tatapannya tinggal lebih lama pada Sheza. Memandang perutnya lalu kembali memandang wajahnya. Ia sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia tanyakan dengan kata-kata.“Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan suara pelan. Kini suaranya mengandung nada kekhawatiran yang tidak pernah didengar Sheza sebelumnya.Sheza mengangguk tegas. Ia tidak ingin Satria mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Meski udara di sekitar mereka mendadak berat, ia menarik napas—menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya belum sepenuhnya ikut tenang.“Tadi … mobil kita ditabrak dari belakang,” ucap Sheza. “Pak Heri juga kaget. Aku ikut kaget … terus perutku langsung kencang.” Ia berhenti sebentar, memberi jarak di antara kalimatnya. “Makanya aku minta dibawa ke sini.”Satria m

  • KAMAR KEDUA   Bab 165. Gudang yang Terlalu Biasa

    Mobil berhenti di depan gudang nomor tujuh belas. Tidak ada penampilan yang mencolok dari luar. Beberapa pekerja pelabuhan melintas seperti biasa. Suara kontainer dipindahkan, teriakan mandor, dan dentingan besi saling bersahutan seperti rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.Gudang itu berdiri panjang dan lebar.Bukan tinggi menjulang, tapi melebar seperti bangunan yang tidak ada niat untuk terlihat penting. Catnya sudah kusam. Pintu besarnya tertutup, tapi tidak terkunci.“Tau ini nomor tujuh belas dari mana, sih? Di peta ada nomor-nomor gudang, tapi di bangunannya malah nggak ada.” Arga berdiri di bagian depan gudang dan berjalan beberapa langkah mengitarinya.Satria berjalan menuju pintu yang tingginya nyaris dua kali orang dewasa. Ia menekan celah pintu dan bagian itu bergeser sedikit.“Nomor gudang itu buat sistem, Ga. Bukan buat orang.” Satria menoleh Arga sekilas. “Yang kerja di sini udah hafal nggak perlu lihat.”“Kalau gitu gue cek dulu kepemilikannya,” kata Arga

  • KAMAR KEDUA   Bab 111. Keluarga Kertasoedibyo

    Satria tidak bereaksi atas kalimat pertama Nadine. Wanita itu seperti mendapat angin segar untuk menyudutkan Satria. Apalagi Nayla yang ditunggu belum keluar.“Katanya Pak Elang akhir-akhir ini sering tiba-tiba keluar kantor. Pulang lebih cepat dari biasanya, lalu nambah supir khusus buat anter jem

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • KAMAR KEDUA   Bab 101. Di Antara Angka dan Nama

    Satria tertawa.Tawa kecil yang membuat orang di ruangan itu cukup kaget. Untungnya tidak ada yang terganggu oleh tawa itu. Malah, Vian ikut tertawa meski Satria yakin pria itu tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.Satria menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan apa yang baru dilontark

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 103. Reaksi Penasaran 

    Arga yang pertama memecah sunyi. Ia tidak meninggikan suara atau bergerak mendekati Roman. Ia hanya menyilangkan tangan, menatap Roman sejenak—cukup lama untuk membuat orang lain sadar, sekarang giliran siapa yang diuji.“Man,” kata Arga ringan, “gue mau nanya satu hal.”Roman mengangkat wajah, lal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 102. Alur yang Disimpan

    Alina membasahi bibirnya.Tatapannya sempat turun ke lantai, lalu naik perlahan ke wajah Sheza. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan—wanita di depannya cukup kuat untuk mendengar cerita yang akan ia buka. Meski bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan saat itu. Ia men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status