Mag-log inSatria kemudian berjongkok. Mengusap pusara Prabu pelan. Kali itu … air matanya tidak terbendung. Sebulir air mata jatuh dan cepat-cepat disekanya.“Lo pasti tau alasan gue nikahin Sheza, Bu.” Ia menunduk. “Lo tau kalau gue sayang kalian. Gue sayang mereka. Gue ... sekarang gue cinta Sheza, Bu.""Dan gue rasa ... kalau lo lihat dia sekarang..." Sudut bibirnya bergerak tipis."...lo bakal marah."Satria tertawa kecil sendiri. "Karena dia jauh lebih cantik sekarang.""Lo dulu sering cerita kalau Sheza ngambek bisa lama. Waktu itu gue nggak bisa ngasih saran karena gue nggak tau gimana. Ternyata lo harus lebih keras usahanya. Lo harus tetap ngomong meski dia diem. Lo harus paksa dia buat jawab pertanyaan lo.”"Kerasnya Sheza itu beda. Kerasnya Sheza nggak egois, Bu. Sheza cuma terlalu lama melindungi dirinya sendiri.”Ia menggeleng pelan."Dan sekarang Sheza bukan cuma tanggung jawab lo lagi."Tatapannya lurus ke depan."Dia tanggung jawab gue. Dio juga.”Kalimat itu keluar mantap. Tidak
Satria keluar dari Estate cafe hampir tengah hari. Langit masih mendung. Udara terasa lembap setelah hujan tipis yang turun sebentar pagi tadi. Ia tidak langsung masuk ke mobil.Beberapa detik pria itu berdiri di dekat parkiran sambil memandang lalu lintas yang bergerak pelan di depan sana.Pertemuan itu sudah selesai.Mungkin untuk selamanya.Namun anehnya, ia tidak merasa menang.Karena semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa beberapa masalah memang tidak bisa diselesaikan dengan kemenangan sederhana.Ada terlalu banyak orang di belakang Pak Hendra.Terlalu banyak nama yang bahkan tidak pernah muncul di dokumen resmi.Terlalu banyak kepentingan yang berdiri di atas bisnis-bisnis kotor yang selama ini dijalankan diam-diam.Beberapa minggu terakhir Satria sudah berbicara dengan banyak orang.Dengan Arga.Dengan penyidik swasta.Dengan orang-orang yang memahami bagaimana perkara seperti itu biasanya berakhir.Dan jawabannya hampir selalu sama. Kalau satu batu dibalik
Pak Hendra menatap Satria cukup lama. Seakan ja sedang memilih akan menanggapi Satria dengan serius … atau membawanya santai. Setelah sepersekian detik dalam kecanggungan, pria tua itu akhirnya tertawa pendek.Tawa yang terdengar kosong."Bahkan kalau semua asumsi kamu benar..." suaranya terdengar lebih berat sekarang, "...apa yang sebenarnya kamu mau?"Satria merapikan letak ponsel si kidal di meja. Lalu berkata pelan. "Saya mau keluarga saya ditinggalkan."Pak Hendra mengernyit, tapi menunggu Satria meneruskan ucapannya."Saya mau Sheza ditinggalkan. Dio ditinggalkan.” Ia sengaja menyebut nama-nama itu tanpa basa-basi."Saya mau semua orang yang masih membawa nama Prabu ditinggalkan."Pak Hendra memandangnya diam.Sementara Satria melanjutkan. "Tarik semua gugatan. Semua tuntutan. Semua laporan—yang kemarin-kemarin mengaku dirugikan oleh Prabu. Setidaknya saya tau dari mana orang-orang itu berasal.”Pak Hendra tersenyum miring. "Kamu minta banyak,” ucapnya."Saya belum selesai,” ka
“Yang menarik itu ... cara Anda berhenti peduli.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria memutar pelan ponsel di atas meja.Lalu meletakkannya kembali.“Sebenarnya saya juga nggak terlalu peduli dengan ponsel ini.”Tatapan Pak Hendra sekilas tertuju pada ponsel.“Padahal isinya lumayan menarik.” Sudut bibir Satria bergerak tipis. “Ada rekaman suara. Ada potongan video. Ada beberapa percakapan yang seharusnya cuma diketahui orang-orang tertentu.”Pak Hendra tetap diam.“Anda pasti nggak menyangka orang-orang yang paling dekat dengan Anda ternyata menyimpan rasa takut juga.” Jari telunjuk Satria mengetuk ponsel itu sekali. “Takut kalau suatu hari mereka mengalami nasib yang sama seperti orang-orang sebelumnya.”Ruangan kembali sunyi.“Makanya saya bilang ponsel ini menarik.” Satria menggeleng kecil. “Bukan karena nilainya sebagai barang bukti.”Ia membalas tatapan Pak Hendra. “Tapi karena benda ini membuat saya memahami satu hal.”Pak Hendra menyipitkan mata. “Oh, ya? Apa itu?”Satria tersen
“Empat puluh miliar tidak akan membuat perusahaan saya goyah.”Satria menyandarkan tubuhnya.“Tapi Anda dan saya sama-sama tahu itu cukup untuk menghancurkan Prabu.”Pak Hendra diam beberapa saat.Ia mengusap bibir cangkir tehnya dengan ibu jari sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Tidak.”Satria mengangkat alis.“Yang menghancurkan Prabu bukan empat puluh miliar itu.”“Lalu apa?” Bagaimana pun juga ia tidak suka seseorang bicara buruk tentang temannya.“Keserakahannya,” kata Pak Hendra.Suara pendingin ruangan kembali terdengar ketika dialog mereka terhadap. Satria memandangi pria tua di depannya. Pak Hendra terlihat jauh lebih santai sekarang.Seolah akhirnya mereka sampai pada bagian cerita yang ingin ia sampaikan sejak awal.“Awalnya Prabu datang ke saya sebagai pengusaha yang sedang kesulitan,” lanjut Pak Hendra. “Itu manusiawi, kan? Banyak orang datang dengan masalah yang sama. Awalnya Prabu bahkan tidak pernah bertanya apa usaha saya. Begitu kesulitan, dia datang lagi.”Rahang S
"Kalau begitu saya juga nggak akan buru-buru menjawab sesuatu yang belum pantas saya jawab. Mana ponsel staf saya?”Satria tersenyum samar. Pak Hendra melanjutkan, "Dan kalau kamu memang mau ikut mengurus peninggalan Prabu, mungkin kamu juga harus mulai memikirkan uang saya yang dibawa dia.”Satria menelan ludah pelan. Kalimat yang baru saja diucapkan Pak Hendra baru pertama kali didengar Satria.Selanjutnya ia bisa saja bertanya langsung soal bagaimana praktik money laundry yang terjadi di pelabuhan dan di bawah kontrol pria itu selama ini. Tapi tentu saja dunia ini berjalan tidak semudah itu."Sebenarnya kapan Bapak mulai mengenal Prabu?” Satria merasa itu adalah pertanyaan paling aman yang akan dijawab Pak Hendra. Pria tua itu licin dan hati-hati.“Sudah cukup lama,” sahut Pak Hendra.Jawaban yang belum bisa memberi gambaran jelas baginya. Masih terlalu hati-hati."Saya anggap kita sama-sama paham kalau percakapan hari ini tetap ada di ruangan ini.” Satria mengingatkan bahwa harusn
Karena tidak ingin Julian menunggunya, Sheza sudah duduk di foyer ketika suara klakson mobil terdengar. “Aku nggak telat, kan?” tanya Julian dengan senyum yang tidak biasa. Sheza menggeleng. “Nggak, Mas. Makasih udah jemput aku sama Athar.” Ia menggamit lengan Athar dan meminta adiknya naik ke k
Dio keluar rumah hampir berlari. Langkah kecilnya berhenti mendadak di teras ketika matanya menangkap pot-pot yang tersusun rapi. “Ibun!” serunya. “Itu…itu bunga kita!” Sheza menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya. Ibun bawa beberapa dari rumah kita.” Dio mendekat, berjongkok di depan pot mawar ya
Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya. Sheza tidak
Sheza berdiri lebih tegak. Seperti baru saja mengingat sesuatu yang lama tersimpan. “Mas pernah bilang sesuatu ke aku,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Waktu itu Mas bilang … kalau suatu hari aku menemukan pria yang tulus dan kucintai, yang mau menerima aku dan Dio, aku boleh pergi.” Ia berhenti sejen







