Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 64. Hari yang Berat

Share

Bab 64. Hari yang Berat

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-25 01:34:27

Sabtu pagi, Satria sudah duduk di ruang kerjanya sejak matahari belum tinggi. Pakaian rumahnya rapi. Kemeja lengan pendek putih dengan bagian kerah terbuka seperti piyama, jeans biru dan rambut sedikit basah. Di meja kerja, kopi yang dibuatnya subuh tadi sudah habis. Ia bahkan belum sarapan. Belum lapar. Ia memutuskan keluar ruang kerjanya untuk meminta Tuti membuatkan kopi baru.

Saat melintas meja makan, ia melihat satu cangkir kopi yang sepertinya baru dibuat. Masih hangat. Tanpa perlu bertan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (23)
goodnovel comment avatar
henny.orlee
roman awas lepas rahang loh, mulut ga bsia di jaga sok paling tau tentang istri orang
goodnovel comment avatar
henny.orlee
salah satu cara biar satria balik ke putri nya adalah menghancurkan bisnis satria
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
waduhh..langsung hantam aja nih bang sat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 239. Obrolan Rindu

    Satria kemudian berjongkok. Mengusap pusara Prabu pelan. Kali itu … air matanya tidak terbendung. Sebulir air mata jatuh dan cepat-cepat disekanya.“Lo pasti tau alasan gue nikahin Sheza, Bu.” Ia menunduk. “Lo tau kalau gue sayang kalian. Gue sayang mereka. Gue ... sekarang gue cinta Sheza, Bu.""Dan gue rasa ... kalau lo lihat dia sekarang..." Sudut bibirnya bergerak tipis."...lo bakal marah."Satria tertawa kecil sendiri. "Karena dia jauh lebih cantik sekarang.""Lo dulu sering cerita kalau Sheza ngambek bisa lama. Waktu itu gue nggak bisa ngasih saran karena gue nggak tau gimana. Ternyata lo harus lebih keras usahanya. Lo harus tetap ngomong meski dia diem. Lo harus paksa dia buat jawab pertanyaan lo.”"Kerasnya Sheza itu beda. Kerasnya Sheza nggak egois, Bu. Sheza cuma terlalu lama melindungi dirinya sendiri.”Ia menggeleng pelan."Dan sekarang Sheza bukan cuma tanggung jawab lo lagi."Tatapannya lurus ke depan."Dia tanggung jawab gue. Dio juga.”Kalimat itu keluar mantap. Tidak

  • KAMAR KEDUA   Bab 238. Harga Sebuah Akhir

    Satria keluar dari Estate cafe hampir tengah hari. Langit masih mendung. Udara terasa lembap setelah hujan tipis yang turun sebentar pagi tadi. Ia tidak langsung masuk ke mobil.Beberapa detik pria itu berdiri di dekat parkiran sambil memandang lalu lintas yang bergerak pelan di depan sana.Pertemuan itu sudah selesai.Mungkin untuk selamanya.Namun anehnya, ia tidak merasa menang.Karena semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa beberapa masalah memang tidak bisa diselesaikan dengan kemenangan sederhana.Ada terlalu banyak orang di belakang Pak Hendra.Terlalu banyak nama yang bahkan tidak pernah muncul di dokumen resmi.Terlalu banyak kepentingan yang berdiri di atas bisnis-bisnis kotor yang selama ini dijalankan diam-diam.Beberapa minggu terakhir Satria sudah berbicara dengan banyak orang.Dengan Arga.Dengan penyidik swasta.Dengan orang-orang yang memahami bagaimana perkara seperti itu biasanya berakhir.Dan jawabannya hampir selalu sama. Kalau satu batu dibalik

  • KAMAR KEDUA   Bab 237. Yang Paling Masuk Akal

    Pak Hendra menatap Satria cukup lama. Seakan ja sedang memilih akan menanggapi Satria dengan serius … atau membawanya santai. Setelah sepersekian detik dalam kecanggungan, pria tua itu akhirnya tertawa pendek.Tawa yang terdengar kosong."Bahkan kalau semua asumsi kamu benar..." suaranya terdengar lebih berat sekarang, "...apa yang sebenarnya kamu mau?"Satria merapikan letak ponsel si kidal di meja. Lalu berkata pelan. "Saya mau keluarga saya ditinggalkan."Pak Hendra mengernyit, tapi menunggu Satria meneruskan ucapannya."Saya mau Sheza ditinggalkan. Dio ditinggalkan.” Ia sengaja menyebut nama-nama itu tanpa basa-basi."Saya mau semua orang yang masih membawa nama Prabu ditinggalkan."Pak Hendra memandangnya diam.Sementara Satria melanjutkan. "Tarik semua gugatan. Semua tuntutan. Semua laporan—yang kemarin-kemarin mengaku dirugikan oleh Prabu. Setidaknya saya tau dari mana orang-orang itu berasal.”Pak Hendra tersenyum miring. "Kamu minta banyak,” ucapnya."Saya belum selesai,” ka

  • KAMAR KEDUA   Bab 236. Kesalahan Sama, Orang yang Berbeda

    “Yang menarik itu ... cara Anda berhenti peduli.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria memutar pelan ponsel di atas meja.Lalu meletakkannya kembali.“Sebenarnya saya juga nggak terlalu peduli dengan ponsel ini.”Tatapan Pak Hendra sekilas tertuju pada ponsel.“Padahal isinya lumayan menarik.” Sudut bibir Satria bergerak tipis. “Ada rekaman suara. Ada potongan video. Ada beberapa percakapan yang seharusnya cuma diketahui orang-orang tertentu.”Pak Hendra tetap diam.“Anda pasti nggak menyangka orang-orang yang paling dekat dengan Anda ternyata menyimpan rasa takut juga.” Jari telunjuk Satria mengetuk ponsel itu sekali. “Takut kalau suatu hari mereka mengalami nasib yang sama seperti orang-orang sebelumnya.”Ruangan kembali sunyi.“Makanya saya bilang ponsel ini menarik.” Satria menggeleng kecil. “Bukan karena nilainya sebagai barang bukti.”Ia membalas tatapan Pak Hendra. “Tapi karena benda ini membuat saya memahami satu hal.”Pak Hendra menyipitkan mata. “Oh, ya? Apa itu?”Satria tersen

  • KAMAR KEDUA   Bab 235. Kenyataan yang Semakin Pahit

    “Empat puluh miliar tidak akan membuat perusahaan saya goyah.”Satria menyandarkan tubuhnya.“Tapi Anda dan saya sama-sama tahu itu cukup untuk menghancurkan Prabu.”Pak Hendra diam beberapa saat.Ia mengusap bibir cangkir tehnya dengan ibu jari sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Tidak.”Satria mengangkat alis.“Yang menghancurkan Prabu bukan empat puluh miliar itu.”“Lalu apa?” Bagaimana pun juga ia tidak suka seseorang bicara buruk tentang temannya.“Keserakahannya,” kata Pak Hendra.Suara pendingin ruangan kembali terdengar ketika dialog mereka terhadap. Satria memandangi pria tua di depannya. Pak Hendra terlihat jauh lebih santai sekarang.Seolah akhirnya mereka sampai pada bagian cerita yang ingin ia sampaikan sejak awal.“Awalnya Prabu datang ke saya sebagai pengusaha yang sedang kesulitan,” lanjut Pak Hendra. “Itu manusiawi, kan? Banyak orang datang dengan masalah yang sama. Awalnya Prabu bahkan tidak pernah bertanya apa usaha saya. Begitu kesulitan, dia datang lagi.”Rahang S

  • KAMAR KEDUA   234. Sebuah Kepastian 

    "Kalau begitu saya juga nggak akan buru-buru menjawab sesuatu yang belum pantas saya jawab. Mana ponsel staf saya?”Satria tersenyum samar. Pak Hendra melanjutkan, "Dan kalau kamu memang mau ikut mengurus peninggalan Prabu, mungkin kamu juga harus mulai memikirkan uang saya yang dibawa dia.”Satria menelan ludah pelan. Kalimat yang baru saja diucapkan Pak Hendra baru pertama kali didengar Satria.Selanjutnya ia bisa saja bertanya langsung soal bagaimana praktik money laundry yang terjadi di pelabuhan dan di bawah kontrol pria itu selama ini. Tapi tentu saja dunia ini berjalan tidak semudah itu."Sebenarnya kapan Bapak mulai mengenal Prabu?” Satria merasa itu adalah pertanyaan paling aman yang akan dijawab Pak Hendra. Pria tua itu licin dan hati-hati.“Sudah cukup lama,” sahut Pak Hendra.Jawaban yang belum bisa memberi gambaran jelas baginya. Masih terlalu hati-hati."Saya anggap kita sama-sama paham kalau percakapan hari ini tetap ada di ruangan ini.” Satria mengingatkan bahwa harusn

  • KAMAR KEDUA   Bab 20. Malam Diskusi

    Sewaktu mereka tiba di rumah, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu taman menyala temaram dan dari dapur tercium aroma masakan hangat yang langsung membuat rumah terasa hidup. Tuti sedang menyusun lauk di meja makan. Semuanya lauk pauk yang baru dimasak dengan asap masih mengepul. Sebelum mere

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 22. Jangan Sampai Pusing

    Menatap berkas KUA yang bertuliskan nama lengkapnya dan Satria membuat perasaan asing yang tidak nyaman menggerogotinya. Sheza merasa ditarik ke sebuah lorong yang ia belum paham betul ke mana arah dan tujuannya. Ia malu. Bukan pada siapa-siapa melainkan pada Satria. Malu karena ia berdiri di sebe

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 18. Pilihan untuk Membenci

    Wajah Pak Rudi semakin memerah. “Masalah dan hutang apa yang ditinggalkan Prabu sampai kamu harus langsung menikah. Janda lain ditinggal mati mungkin masih diam di rumah dan berduka. Kamu ke sana kemari dengan temannya.” Sheza menghapus air matanya dengan napas tersengal. “Tadi malam jendela rumah

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

    Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status