ログインNadine terdiam. Ia tidak menyangka anak ini akan menemukan celahnya secepat itu."Untuk yang itu," ujarnya pelan, "Mama sama Om Damar belum pernah ngomongin. Jadi jujur, Mama belum tau. Karena kamu nanya begini, kayaknya Mama memang harus ngomongin dulu sama Om Damar.""Terus Mama maunya gimana?""Maunya Mama?" Nadine berpikir sejenak. "Mama nggak yang pengen banget nambah anak, tapi juga nggak yang ngotot nggak mau. Semuanya Mama ikutin aja, yang terbaik gimana. Kalau Om Damar oke, Mama juga oke." Ia mengusap rambut Nayla ke belakang telinga. "Tapi nanti Mama omongin lagi sama Om Damar, ya.""Oke." Nayla mengangguk, sudah kembali tenang. Ia memejamkan mata dan menggeser tubuhnya sedikit mendekat. "Aku cuma nanya.""Iya, Nay," ujar Nadine lembut. "Sekarang kamu tidur ya. Mama juga sudah tahu harus gimana."Nayla mengangguk kecil dengan mata terpejam. Tidak lama kemudian napasnya berubah pelan dan teratur.**********Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi waktu terasa berger
Lampu kamar Nayla masih menyala ketika Nadine melewati lorong. Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, terlihat bayangan anaknya berbaring dengan buku terangkat di depan wajah.Nadine mengetuk pelan. "Tok tok tok,” ucapnya menirukan suara ketukan.Nayla menurunkan bukunya dan menoleh. "Ma."Nadine masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan ke tepi ranjang. "Baca sambil tiduran itu nggak baik, lho. Nanti mata kamu capek.""Iya, sih." Nayla menguap kecil. "Tapi aku capek banget, Ma. Dari tadi duduk lama sambil gambar.""Ya udah. Bukunya ditaruh dulu. Kita ngobrol boleh nggak?""Boleh."Nayla menyerahkan bukunya. Nadine menerimanya, meletakkannya di meja belajar dengan halaman yang masih terbuka, lalu kembali ke ranjang."Mama ikut tiduran di sini, boleh?""Boleh. Tapi jangan sampai pagi, ya. Ini ranjangnya kecil." Nayla bergeser sedikit memberi ruang. "Mama kalau tidur suka muter. Kayak baling-baling.""Heh." Nadine tertawa, tapi tetap masuk ke bawah selimut. Mereka berbarin
Damar tiba di kediaman Kertasoedibyo pukul sepuluh pagi, di hari kerja. Pak Salim sengaja memilih waktu itu, dan Damar mengerti alasannya: Nadine sedang di kantor, Nayla di sekolah, dan rumah itu cukup tenang untuk bicara.Ia membawa sekeranjang buah dan sekotak kue dari toko langganan keluarga Nadine, yang ia tanyakan lewat pesan tadi malam. Di mobil, sebelum turun, ia sempat membetulkan kerah kemejanya sekali. Hanya sekali. Ia sudah terbiasa berdiri di depan ruangan penuh orang dan bicara berjam-jam tanpa catatan, jadi gugup yang ia rasakan tidak sebesar yang bisa dibayangkan siapa pun. Tapi ini lain. Ini bukan ruang kuliah.Seorang asisten rumah tangga mengantarnya masuk. Rumah itu hangat, rapi, dan tenang. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu terbuka dan Pak Salim berdiri menyambutnya."Pak Damar. Silakan masuk.""Terima kasih, Pak Salim. Maaf merepotkan.""Tidak merepotkan sama sekali."Ruang kerjanya dipenuhi rak buku tinggi bergaya klasik. Meja kayu besar, dan seperangkat kursi t
Damar sampai di Kopi Sandar lima belas menit lebih awal, dan Satria sudah ada di sana. Ia duduk di meja sudut dekat jendela, lantai dua, jauh dari keramaian. Kemeja lengan panjang, jam tangan di pergelangan, satu gelas air putih di depannya yang baru diminum sedikit. Begitu melihat Damar, ia berdiri dan mengulurkan tangan. Jabat tangannya mantap, tidak lama. "Pak Damar." "Pak Satria. Maaf, saya kira saya yang lebih dulu." "Saya kebetulan dekat." Satria duduk kembali. "Mejanya saya yang pilih. Kalau tidak cocok, bisa pindah." "Ini pas, Pak." Satu hal yang Damar perhatikan di menit pertama: Satria sudah memilih meja sebelum ia datang. Kursinya menghadap arah masuk, dan jaraknya cukup jauh dari meja lain, jadi mereka bisa bicara tanpa perlu merendahkan suara. Orang yang hanya kebetulan lewat tidak akan memikirkan hal sedetail itu. Satria jelas datang lebih awal untuk menyiapkan pertemuan ini. Mereka memesan makan siang. Percakapan awal berjalan ringan, soal lalu lintas, soal kopi,
Mobil Damar berhenti di halaman, tepat di depan teras kediaman Kertasoedibyo. Mesin ia biarkan menyala pelan, dan lampu dasbor memantulkan cahaya kehijauan di wajah Nadine yang duduk di sampingnya. Hampir pukul sebelas malam. Jalan di luar pagar sudah sepi, hanya sesekali terdengar bunyi jangkrik dari taman.Tadi ia menjemput Nadine sepulang kerja dan mengajaknya makan. Obrolan mereka berjalan santai, tapi pertanyaan yang sejak sore mengganjal akhirnya ia lepaskan ketika pesanan penutup datang."Kamu sudah sempat bicara ke Satria soal pertemuan kami? Dia bersedia?"Nadine mengaduk sendok kecilnya di mangkuk, lalu mengangkat wajah. "Aku udah selesai ngobrol sama dia, Mas.""Jadi?""Mas Damar bisa mengirim pesan ke papanya Nayla. Dia mau kok ketemu." Senyumnya muncul pelan, lebih ringan dari beberapa hari terakhir. "Kami udah ngobrol dan … cukup santai. Mungkin tadi siang adalah obrolan paling santai yang pernah kami lakukan." Ia kemudian tertawa kecil.Jawaban itu membuat dada Damar lo
Beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dadanya. ASI kembali menetes dan membasahi dada Satria di bawah pipinya. Satria membuka mata. Ia menunduk, melihat noda basah di dadanya sendiri, lalu tangannya yang bebas terangkat dan menyentuh puncak payudara Sheza yang masih menegak."Udah penuh lagi," katanya pelan, setengah geli. "Kita harus keluar, Zee. Kamu harus pompa.""Stok Sofia udah sekulkas kecil, Mas," jawab Sheza, wajahnya bersandar di bahu Satria. "Nggak akan habis."Satria tertawa, suara rendah yang terasa sampai ke tulang rusuk Sheza. "Anak-anak kita beruntung. Minuman semahal itu, dan mereka dapat berlimpah."Ia mengangkat lengannya perlahan dari bawah kepala Sheza, lalu berguling. Kini ia berada di atas Sheza, setengah menindihnya, bertumpu pada satu siku. Ia menunduk dan melumat bibir Sheza, lama dan lembut, tanpa tergesa. Sheza membalasnya dengan mata terpejam, jemarinya naik menyentuh pipi Satria."Terima kasih untuk sore yang luar biasa ini,







