MasukMei langsung membalas dengan emoticon ketawa dan menulis. “Bersuami juga tapi tetap bisa melayani kamu kan, Say? Oh iya, padahal aku tadi sudah kepengen banget, eh ternyata ada warga mandi.” “Iya. Sama. Kok bisa pengen terus, ya? Padahal baru semalam kita naik ke puncak.” “Ya wajarlah, Say. Kamu kan berondong, sedangkan aku seorang istri yang jarang mendapat kepuasan dari suamiku. Aku trus jadi bertanya-tanya, apakah hubungan kita ini hanya di sini saja?” “Maumu?” “Ya mauku seterusnya. Tapi kadang merasa sayang juga.” “Merasa sayang juga? Maksudmu?” “Ya bibitmu, sayang kalau disemburkan tapi tidak bisa dibuahi. Padahal sp**ma kamu itu kalau keluar banyak banget.” “Ya kalau main kan memang harus munc**t, Say.” “Iya sih. Maksud aku, andaikata aku belum bersuami, aku tetap membiarkan benihmu itu tumbuh. Kamu mikirmu seperti apa, Say? Apakah setelah pulang dari sini kita bisa melakukannya lagi?” “Gampanglah nanti. Urusan besok pikirkan besok s
Tentu saja Om Jody sangat yakin jika janin yang ada dalam rahim istrinya itu adalah janinnya. Bahkan tak sedikit pun terbersit dalam pikirannya bahwa itu bukan janinnya. Ia sangat tahu, bahwa sang istri adalah wanita yang sangat setia dan berwibawa. Dan, pada keesokan harinya, dokter kandungan yang memeriksanya menyampaikan, bahwa dari hasil USG, Tante Luluk dinyatakan positif hamil. “Usia kandungan Bu Luluk sekarang lebih kurang sudah tiga Minggu,” ucap Bu Dokter. “Selamat ya, Bu, Pak, atas kehamilannya. Tolong diperhatikan kesehatan ibu dan janinnya. Nanti saya akan berikan buku panduan tentang ibu dan kandungannya.” “Terima kasih, Bu Dokter. Terima kasih ya Rabb,” ucap Om Jody sembari mengusap kedua sudut matanya dengan ujung jari tangannya. Ia begitu terharu. Betapa tidak, di usia ia dan istrinya sudah tidak muda lagi, namu Tuhan masih memberi mereka buah hati. *** Ada panggilan di ponselnya Alex. Anak-anak yang sedang mengobrol di ruang tamu hanya m
Seperti biasa, yang selalu berinisiatif dan menguasai medan pertempuran itu adalah Mei. Wanita itu begitu beringas dan ganas, bak seekor singa betina yang benar-benar sedang ingin bertarung. Hanya saja mereka tidak mengeluarkan suara, takut tiba-tiba ada yang turun ke sungai. Jurus-jurus awal yang mereka peragakan adalah pertarungan dengan bersilat lidah. Dan sekali-sekali Mei menarik serangan berl1d4hnya lalu menjelajahi wajah dan l3h3rnya sang PIL, sementara tangan kanannya menggenggam sesuatu yang seharusnya ia genggam. Dan sesuatu itu terasa makin keras, melengkung panjang, dan gagah saja. Jantung Mei makin berdegup kuat. Kendati ia sudah sering menggenggam dan memanjakan milik sang PIL-nya itu, namun tetap saja membuat jantungnya berdetak kuat dan suhu tubuhnya naik seketika. Benar-benar amazing! Selesai menjajah area sekitar wajah Alex dengan semangat dan emosi tinggi, Mei meminta sang PIL untuk duduk di atas batu di pinggir lubukan. Alex paham d
Kembali Bu Galuh mengirim emoticon tertawa dan menulis, “Alhamdulillah, Dik Alex, awet muda untuk ukuran wanita kampung.” Dan entah mengapa Alex tiba-tiba menulis, “Wanita kampung tapi kecantikannya melebihi wanita kota.” Setelah mengirim pesan itu, baru Alex seperti menyadari, bahwa kalimatnya itu harusnya kurang elok, dan ia khawatir Bu Galuh merasa sedang dirayu. Namun untungnya, Bu Galuh malah membalas dengan emoticon tertawa bentuk lain dan menulis, “Dik Alex bisa aja. Masak ibu-ibu kampung dibilang cantik?” Balasan itu membuat Alex langsung memperbaiki letak bantal yang ia pakai untuk alas punggungnya, lalu menulis, “Saya serius, Bu. Makanya saya tadi siang mengira Ibu itu putrinya Pak Alwi. Saya pikir begini, ya wajarlah putrinya Pak Alwi cantik, wong Pak Alwi juga ganteng walau sudah tua.” “Hahaha, gitu, ya? Bu Kadus juga kan cantik, Dik Alex.” “Bu Kadus kalau menurut saya lebih tepatnya manis, Bu Galuh. Artinya, walau sudah tua tapi masih menyi
Malamnya, ketika selesai acara evaluasi sosialisasi proker hari tadi yang dilaksanakan oleh ketujuh temannya, Alex berkesempatan untuk buka ponsel setelah ia sambungkan pada kabel penguat sinyal. Ada beberapa pesan SMS yang masuk. Ada dari Tante Lena, Mbak Olive, Tante Tera, Tante Luluk, dan lain-lain. Ia langsung menjawab satu persatu. Seperti biasa, para wanita itu menanyakan kabarnya dan ungkapan rasa kangen. Selebihnya mengingatkannya beberapa hal, seperti makan, mandi, serta istirahat yang cukup. Dan Alex pun membalasnya dengan kalimat yang singkat-singkat saja. Lalu selanjutnya ia membuka pesat SMS dari Mis Mirna. Perempuan itu mengabarkan tentang meninggalkan Julian. Nampaknya wanita itu baru tahu tentang kematian laki-laki itu. Artinya, belum lama ini beliau mendapatkan kabar dari Madam lena atau Om Garvin tentang peristiwa yang terjadi hampir tiga minggu yang lalu itu. “Iya, Mis. Dia memang sudah meninggal sekitar tiga minggu yang lalu. Mis Mirna bar
“Iya juga, sih. Lalu benang merahnya kamu suka aku?” “Ya itu, dengan kondisi suamiku seperti itu, aku jadi keinget kamu lagi. Lalu, ketika belum lama ini kamu putus dengan Selena, seperti aku merasa punya kesempatan lagi untuk menyukai kamu, Yank. Kebetulan juga Selena minta tukeran kelompok, aku langsung mau. Tujuanku tentu saja agar bisa lebih dekat dengan kamu.” “Hm ya, ya. Lalu tiba-tiba kamu ikut tidur di luar sini, apakah itu sebuah kebetulan?” tulis Alex. “Antara dua-duanya. Karena aku lihat Ambar tidur di luar sini, ya aku jadi ikut-ikutan. Dan sengajanya adalah, aku mengambil tempat tak jauh dari kamu. Eh, ternyata Ambar dan Kulman memang sudah niatan sejak awal.” “Kok kamu tau?” “Kayaknya begitu. Di kampus pun kulihat mereka berdua kadang terlihat jalan bareng, sekalipun Ambar sudah bersuami.” “Kamu sudah lama kenal Ambar? Atau Kulman?” “Ambar itu teman satu SMA dulu, tapi beda jurusan. Kami berdua juga anggota pandu (pramuka) di sekolah kam







