Chapter: PART 20 Alex menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara pendek sembari melemparkan ponselnya begitu saja di dekatnya. Untuk selanjutnya ia pun berusaha memejamkan kedua matanya sembari mengatur pernapasannya, berhadap segera melelapkan pikiran dan raganya. Tapi ia malah tidak bisa tidur. Rasa kantuknya malah entah pergi ke mana. Obrolan dengan Mbak Olive kembali terngiang dalam telinganya. Ia pun kembali meninggikan bantal untuk bersandar lalu meraih kembali ponselnya. Aku membaca kembali semua SMS yang pernah dilakukan dengan beberapa orang, yang dimulai dari Madam Lena, Tante Luluk, dan Mbak Olive. Tetapi itu tidak mengundang rasa kantuknya. Aku pun memsang headset untuk mendengarkan musik dari Walkman. Tetapi baru setengah lagu, ia sudah melepaskan headsetnya dan mematikan Walkman-nya. Saat ia kembali menenangkan pikriannya sembari memejamkan kedua matanya, justru yang muncul dalam benaknya saat itu adalah sosok Mbak Olive. Ia jadi membayangkan ber
Last Updated: 2026-01-14
Chapter: PART 19 Alex bangun dari tempat tidur dan melangkah ke arah kamar mandi. Tanpa pikir panjang ia mencopot semua pakaiannya lalu mengguyur tubuhnya dengan air hangat di bawah shower. Selesai mandi, seperti biasa, ia menghidupkan kipas angin biasa dan mematikan AC serta membuka jendela, selanjutnya menikmati asap rokok di dekat jendela. Tampaknya ada dua panggilan tak terjawab dan satu pesan SMS dari Mbak Olive. “Dik Alex lagi apa?” “Maaf, Mbak, saya baru selesai mandi. Sekarang lagi duduk di dekat jendela sembari menikmati jeruk kiriman Mbak. Terima kasih, ya?” “Ya sama. Manis gak jeruknya?” “Manis banget, Mbak.” “Kalau Mbak biasanya langsung digigit berikut kulitnya.” “Oh ya? Memangnya gak sepat?” “Gak, malah rasanya manis. Kan memang bisa dimakan dengan kulitnya. Katanya sih pada kulitnya itu mengandung beberapa zat yang bermanfaat.” Alex memang benar-benar mencoba jeruk itu. Ia mengikuti ucapan Mbak Olive, tidak mengupasnya, dan langsung mengg
Last Updated: 2026-01-14
Chapter: PART 18 Baru saja ia selesai menutup telepon dengan Madam Lena, ada panggilan masuk. Dari Mbak Olive. “Selamat pagi, Mbak. Mbak sudah bangun?” “Sudah, dong. Sudah bersiap-siap ke tempat acara. Oh ya, kamu lagi apa?” “Ini lagi mau turun ke bawah. Jam sepuluh nanti saya mau ke diler sepeda motor, buar cari motor untuk ke kampus.” “Kenapa tidak pakai mobil saja, Dik Alex?” “Ya kelak kalau sudah cukup modal untuk beli mobil, saya beli mobil, Mbak. Hehehe.” “Gak gini, saya punya dua mobil di garasi rumah saya yang satu. Itu ada Daihatsu Taruna dan BMW. Itu mobil peninggalan dari mendiang suami saya. Daripada hanya disimpan begitu saja, Dik Alex pakai saja salah satunya. Yang lebih baru itu yang Daihatsu Taruna. Oleh mendiang suami saya itu mobil baru dipakai beberapa bulan dulunya. Itu keluaran pertama. Kalau BMW agak lama dikit pakeknya.” “Jadi boleh saya pakai dulu, Mbak?” “Ya bolehlah. Kamu mau pakai yang mana?” “Yang Daihatsu saja, Mbak.” “Ya sudah.
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: PART 17 Sampai di rumah sudah malam, pukul sembilan. Jalanan tadi lumayan macet. Sampai di kamar, hal pertama yang dilakukan Alex adalah mencopot semua pakaiannya lalu mengguyur tubuh dengan air hangat di bawah shower. Ketika mandi biasanya Alex tak pernah menutup pintu kamar mandi yang luas itu, karena toh yang ada dalam dalam kamar hanya dia sendiri dan pintu kamarnya juga di tutup. Namun kali itu Alex sangsi, apakah tadi pintu kamar sudah ia kunci? Tapi kemudian ia abaikan saja, lagi pula tak mungkin ada orang yang masuk begitu saja. Ia pun melanjutkan menikmati guyuran air hangat dari shower. Saat itu, pikirannya masih membayangkan semua pembahasan dengan Madam Lena dim jalan tadi. Hal itu membuat bagian terhebatnya kembali bereaksi dan lencang depan dengan gagahnya. Alex membiarkannya saja dan tidak berniat untuk mengakhiri ketegangannya dengan membuatnya memuntahkan semua yang hendak meledak di baliknya. Entah mengapa, sejak keperjakaannya dinikmati habis-habisan
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: PART 16 “Iya, Madam.” “Dik Alex pasti sering melakukan, kan? Wajarlah, kan masih darah muda.” “Ya gak sering sih, Madam. Cuman pernah.” Pembahasan tentang topik ‘sensitif’ itu membuah Alex jadi panas dingin. Gairahnya seperti digelitik dan disulut, dan itu membuat miliknya pelan-pelan bereaksi dan melitang kaku. Terasa sangat sesak. Ia berkali-kali meneguk air ludahnya sendiri. “Ya jangan keseringan, Dik Alex. Bisa habis bibitmu.” “Benar, Madam. Paling ya sekali sehari.” “Hah? Jadi setiap hari?” “Ya masih normal, Madam. Kalau mengikuti hentakan nafsu, ya bisa tiap jam.” “Oh ya? Lh, kalau gak dikeluarkan?” “Ya bisa mengeras dan kaku, Madam. Ah, maaf, Madam, saya sampai bahas gituan.” “Ah gak apa-apa, Dik Alex. Hal yang normal. Oh jadi mengeras dan kaku ya? Ya maklumlah masih muda.” “Ya mungkin bisa terjadi pada orang tua juga, Madam. Seperti misalnya pada Om Garvin.” “Oh, kalau Om sudah tidak seperti itu lagi, Dik Alex. Paling kerasnya seb
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: PART 15 Acara itu diadakan di rumah salah seorang anggota. Rumah itu tak kalah mewahnya dengan rumahnya Madam Lena sendiri. “Dik Alex tunggu dalam mobil saja gak apa-apa sambil dengerin musik,” pesan Madam Lena sebelum beliau keluar dari mobil yang Alex bukakan. “Siap, Madam.” Tampaknya mereka adalah orang pertama yang hadir di rumah itu. Tak lama kemudian mobil-mobil mewah lain berdatangan. Ada sembilan mobil. Alex lihat Ibu-Ibu pemilik mobil mewah memang rata-rata sangat berkelas dengan kecantikan dari masa muda mereka yang masih ada pada wajah mereka. Dan seperti keadaannya, sopir-sopir mereka pun tak ikut ke dalam. Setelah turun dan membukakan pintu mobil buat sang majikan, mereka masuk kembali, menunggu dalam mobil, seperti dirinya. Alex sempai melihat wajah-wajah sopir itu. Mereka mereka tak ada yang tua. Ia perkirakan rata-rata sedikit lebih tua dari dirinya. Dan mereka rata-rata tampan, tentu saja. Tapi bukannya ge-er sih, jika disejajarkan dengan diri
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: PART 47Panji Jagat alias Prabu Kertabhumi harus berpikir untuk menetap sedikit lebih lama di Kuwu Kradenan ini. Ia harus menyelesaikan permasalahan di desa itu dengan tuntas. Warga harus dibebaskan dari segala penderitaan yang ditimbulkan oleh pemimpin lalimmereka, Lurah Arga Seta. Mungkin langkan yang paling bagus adalah ia harus melenyapkan sang lurah itu tanpa menimbulkan gejolak apa pun. Dan itu ia mampu melakukannya dengan kesaktian yang dimilikinya. Hanya saja, tentu ia akan melakukan secara pelan-pelan dan bertahap. Pada suatu siang Panji Jagat mengajak Arya Wening untuk jalan-jalan berkeliling dengan menunggang kuda. Keduanya berkeliling hingga ke kawasan persawahan yang di sebelah timur desa atau kuwu. Kawasan persawahan itu merupakan persawahan yang bisa ditanami tiga kali dalam setahun karena memiliki bendungan yang bisa mengairi persawahan itu di sepanjang tahun. Sementara kawasan persawahan di sebelah barat desa kebanyakan tanah tadah hujan. Hanya sedikit lahan persaw
Last Updated: 2024-01-18
Chapter: PART 46 Beberapa hari setelah keluarga itu kembali menempati rumahnya, keadaan berangsur-angsur membaik. Ada perasaan tenang di wajah mereka, walau rasa waswas itu tetap ada dalam hati mereka. Mereka masih belum yakin akan jaminan kedamaian hidup mereka. Ki Lurah Arga Seta adalah orang yang licik dan culas. Ia punya banyak cara untuk tidak membiarkan warganya untuk menikmati hidup aman dan tenteram. Seolah-olah hanya dia saja yang boleh tenteram dan makmur hidupnya, sementara rakyatnya tak boleh lebih dari hanya sekelompok sapi perah saja baginya. Siang itu wajah Nyi Utari, Nyi Utanti, Ajeng Kumalahari, serta Nismara terlihat cerah ketika melihat Panji Jagat dan Arya Wening kembali dari padang perburuan dengan membawa hasil perburuan mereka. Di punggung kuda kedua laki-laki itu masing-masing membawa dua ekor kijang jantan yang besar-besar. Semuanya ada empat ekor rusa yang berhasil mereka buru. Tetangga kiri kanan yang melihat kepulangan dua laki-laki itu dari perburuan, se
Last Updated: 2023-12-16
Chapter: PART 45 Namun saat hampir semua warga sudah pulang ke rumahnya masing-masing, tiba-tiba seorang ibu dan anak gadisnya datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung memeluk tubuh Nyi Utari dan Ajeng Kumalahari semari memecahkan tangis mereka. Menurut Ki Martani, keduanya adalah adik dan kemenakan dari istrinya. Namanya Nyi Utanti dan putrinya Nismara. Rumah mereka berada di ujung perkampungan di sebelah timur. Nyi Utanti tinggal bertiga dengan kedua anaknya, Bayuaji dan Nismara, setelah setahun yang lalu suaminya meninggal. “Kalian dari mana kok baru tiba sekarang?” tanya Nyi Utari pada Nyi Utanti dan Nismara. “Kami baru pulang dari persawahan untuk mencari sisa-sisa padi, Yu. Kami sangat kaget sekaligus gembira karena kalian sudah kembali di rumah ini.” “Iya, Nimas. Itu karena Angger Panji yang melunasi semua hutang kami,” jawab Ki Martani. “Tole Bayuaji ke mana kok tidak bersama kalian?” “Dia belum pulang dari menjagakan ternak Ki Lurah dimpadang sebelah ut
Last Updated: 2023-10-07
Chapter: PART 44Melihat pemberian di luar dugaan itu, membuat Poranda dan kesembilan anak buahnya kaget, terbelalak, dan girang yang bercampur aduk. Setelah meletakkan segenggam keping emas itu di tangannya Ki Poranda, Panji Jagat pun segera bergegas masuk dengan mengabaikan ucapan terima kasih dari laki-laki itu dan anak buahnya, menyusul Ki Martani dan keluarganya. Saat ia menyusul masuk ke dalam rumah besar yang tadi dilihatnya, Ki Martani dan Nyi Utari sedang menangis berpelukan haru dengan putrinya, Ajeng Kumalahari. “Apakah Anak Muda ini yang akan melunaskan hutangmu, Ki Martani?” tanya Ki Lurah Arga Seta sembari menatap kepada Panji Jagat. Dan pertanyaan itu langsung dibenarkan sendiri oleh Panji Jagat. “Baik, silakan duduk,” Ki Lurah Arga Seta mempersilakan Panji Jagat duduk, sebelum lanjut bertanya, “Apakah kalian sudah tahu berapa hutang kalian sekarang? Jumlahnya masih delapan ratus keping emas ! Apakah kalian membawa keping emas sejumlah itu?” Mendengar juml
Last Updated: 2023-10-06
Chapter: PART 43 Benar saja apa yang diceritakan oleh Ki Martani, dalam kamar itu tersimpan berpeti-peti keping emas dan perak (selaka). Selain disimpan dalam peti-peti yang terbuat dari bahan yang sama dengan isinya, keping-keping emas dan perak disimpan dalam kantong-kantong dari bahan kulit hewan. Kantong serupa banyak dijual di pasar-pasar dan kedai. Panji Jagat memperkirakan, tiap kantong itu berisi lebih dari lima ribu keping emas atau perak. “Benar-benar gila ini lurah. Seolah-olah jika dia mampus seluruh harta yang ditumpuknya akan dibawanya serta ke neraka,” gumannya sambil menggeleng-geleng. “Hm, jika aku ambil dua kantong saja, tentu si lurah fasik dan zalim itu tak akan menyadarinya,” desahnya pula. Karena kantong-kantong itu hanya disusun dan ditumpuk begitu saja. Dan ia sama sekali tak merasa akan menjadi pencuri atas harta itu, karena ia merasa bahwa harta-harta itu diperoleh oleh Ki Lurah Arga Seta dengan jalan fasik dan zalim. Ia mengambilnya untuk dikembalikan kepada
Last Updated: 2023-10-05
Chapter: PART 42 Terenyuh sekaligus geram hati Panji Jagat mendengar cerita laki-laki yang malang di depannya. “Lalu dangau dan sawah yang Ki Martani tanami dan jaga ini milik siapa?” “Ini milik saudara laki-laki saya, Ngger. Dia seorang perwira di kerajaan. Dia menyerahkan kepada saya untuk menggarapnya.” “Saudara laki-laki Ki Martani seorang perwira kerajaan? Mengapa dia tak turun tangan untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh Ki Martani?” “Pastinya dia sangat ingin melakukannya,” sahut Ki Martani sembari menyelesaikan makanannya. “Tapi dia tak memiliki kuasa apa pun, kendati ia seorang perwira kerajaan. Sementara Ki Lurah Arga Seta masih merupakan kerabat istana. Tentu raja akan membela trahnya sendiri. Salah-salah saudara saya justru mendapat masalah. Raja kami bukanlah seorang raja yang adil dan bijaksana, Ngger.” Kendati dirinya juga seorang raja dari sebuah kerajaan besar, namun Panji Jagat belum begitu paham dan kenal tentang kerajaan-kerajaan lain beriku
Last Updated: 2023-10-04
Sesungguhnya Aku Bukan Suami yang Miskin
“Ya, mencintai itu memang butuh ketulusan, kesabaran, juga pengorbanan,” jerit batin Raditya Pambudi. “Tapi, ketulusan, kesabaran, serta pengorbanan seperti apa lagi yang harus aku persembahkan kepada seorang istri yang tidak memberikan hal yang sama terhadap diriku, suaminya? Memang, aku nyaris tak pernah diperlakukan selayaknya seorang suami oleh wanita yang aku nikahi dan cintai itu. Di kala aku berusaha membahagiakannya dengan segenap jiwa dan ikhtiarku, dia malah dengan tanpa merasa berdosa justru menganggapku bukan siapa-siapa dalam kehidupannya. Walau berat dan seolah hidup dalam neraka, tapi aku mencoba bertahan, bersabar, dan tanpa lelah berdoa, semoga kelak ia menjadi istri terbaik dan calon bidadari syurga bagi aku dan anak-anaknya kelak, seperti yang kuimpi-impikan dahulu.”
***
Read
Chapter: PART 53 Atas pengangkatannya sebagai orang nomor dua di konglomerasi PT. Jaya Semesta Group, Ningrum menyukurinya dengan mengadakan kenduri kecil-kecilan dan pengajian sebagai rasa syukur di beberapa hari kemjudian. Dalam acara itu Radit juga hadir. Bagi sang presiden direktur muda itu, Ningrum beserta keluarganya sudah dianggapnya sebagai keluarga keduanya. Acaranya walaupun menggunakan konsep sederhana, namun suasana demikian meriah. Warga komplek nyaris semuanya hadir, baik dalam acara kenduri maupun pada acara pengajian di malam harinya. Selesai acara, Edwin tak langsung pulang. Ia dan Ningrum menyempatkan diri untuk duduk mengobrol berdua di halaman belakang rumah di samping kolam renang sembari membuat api unggun kecil. Pada kesempatan yang santai penuh keakraban itu keduanya membicarakan banyak hal, dari tentang pekerjaan, tentang kondisi terakhirnya, dan juga perkembangan kondisi Noni. Radit juga membahas tentang nasib rumah tangganya. Radit mengatakan, untuk
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: PART 52 Dengan berbagai pertimbangan, Nagita pun memutuskan untuk mengajak Radit untuk bicara. Akan tetapi, ketika ia hendak membuka mulutnya, laki-laki yang telah berstatus sebagai mantan suaminya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya, dan tidur miring memeluk guling dengan posisi membelakangi Noni dan dirinya. Nagita menghela nafasnya lalu mengecilnya nyala lampu tidur. Selanjutnya ia berusaha untuk memejamkan matanya. Saat itu jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 00.22. Namun pada keesokan harinya ia masih memikirkan tentang rencananya itu. Setelah memikirkannya secara berulang-ulang, Nagita pun memutuskan untuk menelepon Radit. Ia menyampaikan keinginannya untuk bicara itu dengan sangat hati-hati. “Ya silakan bicara saja, insha Allah aku akan mendengarkannya?” sahut Radit. Saat itu kebetulan ia baru saja selesai melakukan pengecekan terhadap file-file laporan yang masuk pada hari itu yang tertera pada layar laptop di hadapannya. “Aku ingin bicara empat mata d
Last Updated: 2023-10-08
Chapter: PART 51 Beberapa bulan kemudian Noni sudah menemukan kembali keceriaannya. Pihak tim dokter yang menanganinya sudah memperbolehkan ia untuk check out dari rumah sakit. Artinya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Hanya saja, gadis kecil itu selanjutnya masih harus menjalani terapi-terapi khusus di rumah sakit Indonesia secara berkala, terutama untuk mengetahui perkembangan dari kondisi penyakitnya. Namun dokter di Beijing itu berpendapat, bahwa Noni akan mendapatkan kesehatan kesehatannya secara optimal seiring waktu. Setelah di Indonesia, gadis itu lebih banyak tidur bersama kedua orang tuanya, Radit dan Nagita. Ia sangat bahagia karena ia bisa kembali tidur di antara kedua orang yang paling disayanginya. Ia memang selalu rindu pada dongeng-dongeng yang selalu dituturkan oleh kedua orang tuanya itu untuk mengantarkannya ke dunia mimpi. “Oh ya, Sayang,” ucap Radit suatu malam pada Noni, sebelum ia menuturkan sebuah dongeng pada sang putrinya, “sembari menungg
Last Updated: 2023-10-07
Chapter: PART 50Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. “Ya, silakan masuk,” ucap Radit. “Selamat siang, Mas,” salam Ningrum sembari menutup kembali pintunya. “Silakan duduk.” “Terima kasih.” Raditya menatap wajah wanita di depannya dan tersenyum. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Raditya. “Alhamdulillah baik, Mas.” “Tadi malam Ning punya mimpi apa?” “Mimpi?” Kedua Ningrum saling merapat. Terasa ada semacam kejanggalan yang ia rasakan dalam pertanyaan itu. “Malah aku nggak sempet mimpi kayaknya, Mas. Tidur saja baru jam dua dini hari baru bisa terlelap, trus bangun subuh. Kenapa, Mas?” “Ntar kujawab pertanyaanmu, aku ingin lanjut bertanya dulu,” ucap Radit. “Kenapa tidurnya terlambat?” “Hm, nggak tau juga, Mas. Terasa gelisah saja, padahal aku sedang tidak memikirkan sesuatu apa pun yang sifatnya berat.” “Hm, berarti itu pengganti mimpinya!” celetuk Radit. “Maksud, Mas?” “Begini, tadi papaku video ca
Last Updated: 2023-02-14
Chapter: PART 49 Kondisi Raditya sudah dinyatakan pulih seratus persen setelah beberapa bulan pasca operasi transplantasi. Kondisi Noni pun makin mengarah ke kemajuan. Hanya saja ia masih terus menjalani siklus kemoterasi. Namun tim dokter memprediksi, bahwa kesembuhan Noni bisa lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Sebuah keajaiban. Setelah benar-benar klir dinyatakan sembuh sempurna, Raditya diperbolehkan oleh sang ayah, Abdul Karim Pambudi, untuk kembali mengurus perusahaan. Ia tidak hanya menangani secara online, namun juga pulang ke Indonesia. Seminggu di Indonesia dan seminggu di Beijing secara rutin. Sementara Pak Abdul Karim lebih betah mengendalikan kerajaan bisnisnya di Beijing dengan dibantu oleh beberapa tenaga ahlinya yang didatangkan ke Beijing, walau sekali-sekali beliau datang ke Jakarta. Laki-laki paruh baya itu terlihat lebih betah, terlebih karena beliau di Beijing ia selalu ada Bu Ratri untuk temannya bercerita. Begitu pun Bu Ratri, terlihat selalu c
Last Updated: 2023-02-13
Chapter: PART 48 Setelah dua minggu dalam masa menunggu, tim dokter memberikan kabar yang menggembirakan kepada Radit bahwa telah ada seseorang yang menyatakan siap untuk menjadi pendonornya. “Hanya saja,” kata sang dokter yang diterjemahkan oleh Nona Lie, “dengan alasan tertentu, sang pendonor meminta agar kami merahasiakan dulu identitasnya kepada Tuan Raditya.” “Mengapa seperti itu? Harusnya aku tahu siapa orang yang mau mengorbankan dirinya untuk menolomng hidup aku, Pak?” Radit justru menatap dan bertanya pada papanya. “Ya, seperti Pak Dokter barusan bilang, dengan alasan tertentu sang pendonor minta identitasnya untuk dirahasiapakan pada kamu. Papa kira nggak masalah. Mungkin itu berkenaan dengan privacy-nya sang pendonor?” Radit menoleh pada Nagita, “Apakah kamu yang akan melakukannya?” Nagita menggeleng, “Bukan, Mas. Lagi pula ... aku belum lama mendonorkan sumsum tulang kepada Noni. Apakah seseorang boleh mendonorkan bagian tubuhnya yang berbeda s
Last Updated: 2023-02-05