Chapter: PART 79 Setelah permainan itu keduanya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan mereka. Pada kesepatan itu mereka mengulanginya sekali lagi. Alex benar-benar ingin membayar tuntas berikut bunga-bunganya kegersangan yang dialami oleh Bu Ema selama ini. Dan wanita itu benar-benar merasakan itu. Seperti ucapannya, ketika mereka sedang menuju pasar, bahwa Alex telah melenyapkan segala kegersangan itu. Seumpama kemarau bertahun-tahun telah disiram oleh hujan dalam tempat dua jam. “Sumpah, kamu benar-benar luar biasa, Sayang,” ucap Bu Ema sembari menggenggam dan mengecup tangan kiri Alex. “Kamu bukan saja kuat, namun juga alatmu begitu amazing dan sangat memvaskan.” “Sama, Bunda sayang. Punya Bunda juga sangat luar biasa,” balas Alex. Bu Ema hanya berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan, sehingga tidak menyita waktu lagi. Hanya saja mereka membeli makanan berupa siomay dan bakso untuk oleh-oleh anak-anak di posko dan juga buat suami dan anak Bu Ema. Alex juga membeli
Terakhir Diperbarui: 2026-04-13
Chapter: PART 78 Hunjaman demi hunjaman Alex dinikmati oleh Bu Ema dengan lengvhan panjang. Permainan kedua insan berlainan usia itu benar-benar pana5 dan cukup br*tal. Ketika Alex meningkatkan sod*kannya, Bun Ema langsung mengimbanginnya dengan g0yangan pelan namun sangat er**is. Gerakan lembut namun sangat menj*p1t itu membuat Alex langsung dibuat mendes*h dan meracau. “Kenapa, Sayang...?” bisik Bu Ema sambil terus menatap wajah Alex yang sedang menunjukkan ekspresi tanda ia sedang merasakan sensasi nik-mat yang luar biasa. “Goy**gan Bu Ema bikin nik*at sekali. Oooh punya Bu Ema tebal dan per*t. Uuuhsss, Bu Emaa,” des*h Alex sembari menempelkan sisi wajahnya pada sisi wajah Bu Ema. Namun BU Ema merasa sangat gemas dan menc**mnya sebelum melumat bi*ir sang pemuda dengan sangat bergelora. Nampaknya ekspresi dan ucapan Alex itu membuat bi**hi sang Bu Kadus itu terpancing dan menggelegak. “Iya, Sayang, punyamu juga sangat nik*at. Ooohh besar, panjang, dan keras se
Terakhir Diperbarui: 2026-04-11
Chapter: PART 77 Alex benar-benar dibuat kagum dengan keindahan milik wanita STW itu. Lebih mentul dan tebal jika dibandingkan dengan miliknya Bu Gahuh. Benar-benar indah itu. Milik Bu Ema itu tak kalah indahnya dengan milik para wanita yang lebih muda seperti Meilin. Tak nampak bekas hitam ataupun jejak gesekan tuasnya Pak Kadus yang membuat bagian itu tak sedap dipandang. Ketika kedua kaki Bu Ema ia renggangkan, maka sepetak sawah Bu Ema yang indah yang ditumbuhi oleh rerumputan yang tak begitu lebat itu ikut terbuka. Celah itu benar-benar sudah basah. Selanjutnya Alex berjongkok dan menggarap sawah itu dengan menggunakan lidahnya. “Aaaah Aleeexx kamu gila, sayaaang ….” jerit Bu Ema sembari memejamkan matanya dan kedua tangannya mengelus dan menekan kepala Alex. Permainan Alex itu adalah permainan yang tergila yang ia rasakan seumur hidupnya. Bahkan misuanya tak pernah memperlakukannya segila itu. Maka, ia tidak kecewa walau harus mendapatkan puncak kebahagiaan dari p
Terakhir Diperbarui: 2026-04-05
Chapter: PART 76 Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah di sebuah komplek perumahan di kota itu. Sebuah rumah type 45. Rumah itu telah mengalami renovasi tambahan, termasuk bagian pagar depan. Menurut Bu Ema, rumah itu tidak ditinggali sudah hampir satu tahun karena pemiliknya yang merupakan adik kandungnya telah dimutasi ke kota kabupaten. Maka setiap bulan ia akan datang ke tempat itu untuk membersihkan halaman maupun bagian dalam rumah itu. Perabotannya masih komplit. Bu Ema turun untuk membuka pintu geser halaman rumah itu. Ia memegang kuncinya. Setelah pintu yang terbuat dari besi dan papan kayu yang kuat itu digeser, Alex langsung memasukkan mobilnya. Akhirnya kini keduanya sudah masuk didalam rumah tersebut. Rumah tersebut memiliki dua kamar, dan Bu Ema menarik tangan Alex dan melangkah ke salah satu kamar. Ia membuka dengan kunci dan kedua masuk ke dalam kamar itu. Kondisi kamar itu terlihat bersih, dan sepreinya pun seperti baru dirapikan. “Seminggu yang lalu saya ke
Terakhir Diperbarui: 2026-04-04
Chapter: PART 75 Setelah suasana batin reda, Alex memberi isyarat pada Mei untuk mengambil posisi menaungi raganya. Posisi dan variasi seperti itu selalu membuat wanita itu tak mampu bertahan lama. Hanya butuh beberapa menit sudah terkulai di atas raga sang pejantan setelah mengalami kejang yang cukup kuat. Setelah cukup lama Mei nyaman di atas raganya, Alex kemudian membalikkan posisi dengan hati-hati, bersamaan dengan suasana resah-gelisah makin meningkat di sebelah mereka. Pada posisi itu Alex melakukan g3njot4n dengan hati-hati namun cukup ketat. Dan hanya butuh waktu beberapa menit, mereka berdua berhasil mencapai puncak kebahagiaan tertinggi. Mereka mencapainya dengan saling merengkuh dengan sangat ketatnya. Sensasinya selalu sangat luar biasa yang mereka dapatkan. Keesokan harinya, Bu Ema (Bu Kadus) datang bersama Ikhsan ke rumah posko. Wanita itu berpura-pura minta bantuan untuk diantarkan ke pasar untuk membeli bahan bumbu sapi berikut juga beberapa bahan lain untuk keperlua
Terakhir Diperbarui: 2026-04-03
Chapter: PART 74 Alex langsung telepon. Saat itu lampu di ruang tamu sudah dipadamkan oleh Kulman, namun cahaya lampu dari kamar masih membuat ruang itu tidak begitu gelap. Terlebih Kulman, Ambar, dan Mei juga masih main hape. Jadi cahaya layar ponsel mereka masih membuat ruangan itu masih terbilang temaram. Begitu Bu Ema mengangkat panggilannya, wanita itu sudah langsung beraksi. Suara jeritan lirih dan desa-han sambil menyebut-nyebut namanya membuat Alex benar-benar panas dingin. Celana tidur dari bahan batiknya terasa sudah sangat sesak. Bu Ema bukan saja hanya menyebut-nyebut namanya saja, namun meracau dan mengatakan bahwa ia sangat ingin main dengannya. Sekali-sekali Alex menanggapinya dengan deheman-deheman kecil. Aksi swalayan yang dilakukan oleh wanita STW itu berlangsung sekitar lima menit. Tak lama. Alex mendengar jeritan kuat sembari kembali menyebut-menyebut namanya seolah-olah ia sedang menggempurnya kuat-kuat. Lalu tak lama kemudian sepi. Dua menit kemudian masuk S
Terakhir Diperbarui: 2026-04-02
Chapter: PART 47Panji Jagat alias Prabu Kertabhumi harus berpikir untuk menetap sedikit lebih lama di Kuwu Kradenan ini. Ia harus menyelesaikan permasalahan di desa itu dengan tuntas. Warga harus dibebaskan dari segala penderitaan yang ditimbulkan oleh pemimpin lalimmereka, Lurah Arga Seta. Mungkin langkan yang paling bagus adalah ia harus melenyapkan sang lurah itu tanpa menimbulkan gejolak apa pun. Dan itu ia mampu melakukannya dengan kesaktian yang dimilikinya. Hanya saja, tentu ia akan melakukan secara pelan-pelan dan bertahap. Pada suatu siang Panji Jagat mengajak Arya Wening untuk jalan-jalan berkeliling dengan menunggang kuda. Keduanya berkeliling hingga ke kawasan persawahan yang di sebelah timur desa atau kuwu. Kawasan persawahan itu merupakan persawahan yang bisa ditanami tiga kali dalam setahun karena memiliki bendungan yang bisa mengairi persawahan itu di sepanjang tahun. Sementara kawasan persawahan di sebelah barat desa kebanyakan tanah tadah hujan. Hanya sedikit lahan persaw
Terakhir Diperbarui: 2024-01-18
Chapter: PART 46 Beberapa hari setelah keluarga itu kembali menempati rumahnya, keadaan berangsur-angsur membaik. Ada perasaan tenang di wajah mereka, walau rasa waswas itu tetap ada dalam hati mereka. Mereka masih belum yakin akan jaminan kedamaian hidup mereka. Ki Lurah Arga Seta adalah orang yang licik dan culas. Ia punya banyak cara untuk tidak membiarkan warganya untuk menikmati hidup aman dan tenteram. Seolah-olah hanya dia saja yang boleh tenteram dan makmur hidupnya, sementara rakyatnya tak boleh lebih dari hanya sekelompok sapi perah saja baginya. Siang itu wajah Nyi Utari, Nyi Utanti, Ajeng Kumalahari, serta Nismara terlihat cerah ketika melihat Panji Jagat dan Arya Wening kembali dari padang perburuan dengan membawa hasil perburuan mereka. Di punggung kuda kedua laki-laki itu masing-masing membawa dua ekor kijang jantan yang besar-besar. Semuanya ada empat ekor rusa yang berhasil mereka buru. Tetangga kiri kanan yang melihat kepulangan dua laki-laki itu dari perburuan, se
Terakhir Diperbarui: 2023-12-16
Chapter: PART 45 Namun saat hampir semua warga sudah pulang ke rumahnya masing-masing, tiba-tiba seorang ibu dan anak gadisnya datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung memeluk tubuh Nyi Utari dan Ajeng Kumalahari semari memecahkan tangis mereka. Menurut Ki Martani, keduanya adalah adik dan kemenakan dari istrinya. Namanya Nyi Utanti dan putrinya Nismara. Rumah mereka berada di ujung perkampungan di sebelah timur. Nyi Utanti tinggal bertiga dengan kedua anaknya, Bayuaji dan Nismara, setelah setahun yang lalu suaminya meninggal. “Kalian dari mana kok baru tiba sekarang?” tanya Nyi Utari pada Nyi Utanti dan Nismara. “Kami baru pulang dari persawahan untuk mencari sisa-sisa padi, Yu. Kami sangat kaget sekaligus gembira karena kalian sudah kembali di rumah ini.” “Iya, Nimas. Itu karena Angger Panji yang melunasi semua hutang kami,” jawab Ki Martani. “Tole Bayuaji ke mana kok tidak bersama kalian?” “Dia belum pulang dari menjagakan ternak Ki Lurah dimpadang sebelah ut
Terakhir Diperbarui: 2023-10-07
Chapter: PART 44Melihat pemberian di luar dugaan itu, membuat Poranda dan kesembilan anak buahnya kaget, terbelalak, dan girang yang bercampur aduk. Setelah meletakkan segenggam keping emas itu di tangannya Ki Poranda, Panji Jagat pun segera bergegas masuk dengan mengabaikan ucapan terima kasih dari laki-laki itu dan anak buahnya, menyusul Ki Martani dan keluarganya. Saat ia menyusul masuk ke dalam rumah besar yang tadi dilihatnya, Ki Martani dan Nyi Utari sedang menangis berpelukan haru dengan putrinya, Ajeng Kumalahari. “Apakah Anak Muda ini yang akan melunaskan hutangmu, Ki Martani?” tanya Ki Lurah Arga Seta sembari menatap kepada Panji Jagat. Dan pertanyaan itu langsung dibenarkan sendiri oleh Panji Jagat. “Baik, silakan duduk,” Ki Lurah Arga Seta mempersilakan Panji Jagat duduk, sebelum lanjut bertanya, “Apakah kalian sudah tahu berapa hutang kalian sekarang? Jumlahnya masih delapan ratus keping emas ! Apakah kalian membawa keping emas sejumlah itu?” Mendengar juml
Terakhir Diperbarui: 2023-10-06
Chapter: PART 43 Benar saja apa yang diceritakan oleh Ki Martani, dalam kamar itu tersimpan berpeti-peti keping emas dan perak (selaka). Selain disimpan dalam peti-peti yang terbuat dari bahan yang sama dengan isinya, keping-keping emas dan perak disimpan dalam kantong-kantong dari bahan kulit hewan. Kantong serupa banyak dijual di pasar-pasar dan kedai. Panji Jagat memperkirakan, tiap kantong itu berisi lebih dari lima ribu keping emas atau perak. “Benar-benar gila ini lurah. Seolah-olah jika dia mampus seluruh harta yang ditumpuknya akan dibawanya serta ke neraka,” gumannya sambil menggeleng-geleng. “Hm, jika aku ambil dua kantong saja, tentu si lurah fasik dan zalim itu tak akan menyadarinya,” desahnya pula. Karena kantong-kantong itu hanya disusun dan ditumpuk begitu saja. Dan ia sama sekali tak merasa akan menjadi pencuri atas harta itu, karena ia merasa bahwa harta-harta itu diperoleh oleh Ki Lurah Arga Seta dengan jalan fasik dan zalim. Ia mengambilnya untuk dikembalikan kepada
Terakhir Diperbarui: 2023-10-05
Chapter: PART 42 Terenyuh sekaligus geram hati Panji Jagat mendengar cerita laki-laki yang malang di depannya. “Lalu dangau dan sawah yang Ki Martani tanami dan jaga ini milik siapa?” “Ini milik saudara laki-laki saya, Ngger. Dia seorang perwira di kerajaan. Dia menyerahkan kepada saya untuk menggarapnya.” “Saudara laki-laki Ki Martani seorang perwira kerajaan? Mengapa dia tak turun tangan untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh Ki Martani?” “Pastinya dia sangat ingin melakukannya,” sahut Ki Martani sembari menyelesaikan makanannya. “Tapi dia tak memiliki kuasa apa pun, kendati ia seorang perwira kerajaan. Sementara Ki Lurah Arga Seta masih merupakan kerabat istana. Tentu raja akan membela trahnya sendiri. Salah-salah saudara saya justru mendapat masalah. Raja kami bukanlah seorang raja yang adil dan bijaksana, Ngger.” Kendati dirinya juga seorang raja dari sebuah kerajaan besar, namun Panji Jagat belum begitu paham dan kenal tentang kerajaan-kerajaan lain beriku
Terakhir Diperbarui: 2023-10-04
Sesungguhnya Aku Bukan Suami yang Miskin
“Ya, mencintai itu memang butuh ketulusan, kesabaran, juga pengorbanan,” jerit batin Raditya Pambudi. “Tapi, ketulusan, kesabaran, serta pengorbanan seperti apa lagi yang harus aku persembahkan kepada seorang istri yang tidak memberikan hal yang sama terhadap diriku, suaminya? Memang, aku nyaris tak pernah diperlakukan selayaknya seorang suami oleh wanita yang aku nikahi dan cintai itu. Di kala aku berusaha membahagiakannya dengan segenap jiwa dan ikhtiarku, dia malah dengan tanpa merasa berdosa justru menganggapku bukan siapa-siapa dalam kehidupannya. Walau berat dan seolah hidup dalam neraka, tapi aku mencoba bertahan, bersabar, dan tanpa lelah berdoa, semoga kelak ia menjadi istri terbaik dan calon bidadari syurga bagi aku dan anak-anaknya kelak, seperti yang kuimpi-impikan dahulu.”
***
Baca
Chapter: PART 53 Atas pengangkatannya sebagai orang nomor dua di konglomerasi PT. Jaya Semesta Group, Ningrum menyukurinya dengan mengadakan kenduri kecil-kecilan dan pengajian sebagai rasa syukur di beberapa hari kemjudian. Dalam acara itu Radit juga hadir. Bagi sang presiden direktur muda itu, Ningrum beserta keluarganya sudah dianggapnya sebagai keluarga keduanya. Acaranya walaupun menggunakan konsep sederhana, namun suasana demikian meriah. Warga komplek nyaris semuanya hadir, baik dalam acara kenduri maupun pada acara pengajian di malam harinya. Selesai acara, Edwin tak langsung pulang. Ia dan Ningrum menyempatkan diri untuk duduk mengobrol berdua di halaman belakang rumah di samping kolam renang sembari membuat api unggun kecil. Pada kesempatan yang santai penuh keakraban itu keduanya membicarakan banyak hal, dari tentang pekerjaan, tentang kondisi terakhirnya, dan juga perkembangan kondisi Noni. Radit juga membahas tentang nasib rumah tangganya. Radit mengatakan, untuk
Terakhir Diperbarui: 2025-12-28
Chapter: PART 52 Dengan berbagai pertimbangan, Nagita pun memutuskan untuk mengajak Radit untuk bicara. Akan tetapi, ketika ia hendak membuka mulutnya, laki-laki yang telah berstatus sebagai mantan suaminya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya, dan tidur miring memeluk guling dengan posisi membelakangi Noni dan dirinya. Nagita menghela nafasnya lalu mengecilnya nyala lampu tidur. Selanjutnya ia berusaha untuk memejamkan matanya. Saat itu jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 00.22. Namun pada keesokan harinya ia masih memikirkan tentang rencananya itu. Setelah memikirkannya secara berulang-ulang, Nagita pun memutuskan untuk menelepon Radit. Ia menyampaikan keinginannya untuk bicara itu dengan sangat hati-hati. “Ya silakan bicara saja, insha Allah aku akan mendengarkannya?” sahut Radit. Saat itu kebetulan ia baru saja selesai melakukan pengecekan terhadap file-file laporan yang masuk pada hari itu yang tertera pada layar laptop di hadapannya. “Aku ingin bicara empat mata d
Terakhir Diperbarui: 2023-10-08
Chapter: PART 51 Beberapa bulan kemudian Noni sudah menemukan kembali keceriaannya. Pihak tim dokter yang menanganinya sudah memperbolehkan ia untuk check out dari rumah sakit. Artinya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Hanya saja, gadis kecil itu selanjutnya masih harus menjalani terapi-terapi khusus di rumah sakit Indonesia secara berkala, terutama untuk mengetahui perkembangan dari kondisi penyakitnya. Namun dokter di Beijing itu berpendapat, bahwa Noni akan mendapatkan kesehatan kesehatannya secara optimal seiring waktu. Setelah di Indonesia, gadis itu lebih banyak tidur bersama kedua orang tuanya, Radit dan Nagita. Ia sangat bahagia karena ia bisa kembali tidur di antara kedua orang yang paling disayanginya. Ia memang selalu rindu pada dongeng-dongeng yang selalu dituturkan oleh kedua orang tuanya itu untuk mengantarkannya ke dunia mimpi. “Oh ya, Sayang,” ucap Radit suatu malam pada Noni, sebelum ia menuturkan sebuah dongeng pada sang putrinya, “sembari menungg
Terakhir Diperbarui: 2023-10-07
Chapter: PART 50Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. “Ya, silakan masuk,” ucap Radit. “Selamat siang, Mas,” salam Ningrum sembari menutup kembali pintunya. “Silakan duduk.” “Terima kasih.” Raditya menatap wajah wanita di depannya dan tersenyum. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Raditya. “Alhamdulillah baik, Mas.” “Tadi malam Ning punya mimpi apa?” “Mimpi?” Kedua Ningrum saling merapat. Terasa ada semacam kejanggalan yang ia rasakan dalam pertanyaan itu. “Malah aku nggak sempet mimpi kayaknya, Mas. Tidur saja baru jam dua dini hari baru bisa terlelap, trus bangun subuh. Kenapa, Mas?” “Ntar kujawab pertanyaanmu, aku ingin lanjut bertanya dulu,” ucap Radit. “Kenapa tidurnya terlambat?” “Hm, nggak tau juga, Mas. Terasa gelisah saja, padahal aku sedang tidak memikirkan sesuatu apa pun yang sifatnya berat.” “Hm, berarti itu pengganti mimpinya!” celetuk Radit. “Maksud, Mas?” “Begini, tadi papaku video ca
Terakhir Diperbarui: 2023-02-14
Chapter: PART 49 Kondisi Raditya sudah dinyatakan pulih seratus persen setelah beberapa bulan pasca operasi transplantasi. Kondisi Noni pun makin mengarah ke kemajuan. Hanya saja ia masih terus menjalani siklus kemoterasi. Namun tim dokter memprediksi, bahwa kesembuhan Noni bisa lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Sebuah keajaiban. Setelah benar-benar klir dinyatakan sembuh sempurna, Raditya diperbolehkan oleh sang ayah, Abdul Karim Pambudi, untuk kembali mengurus perusahaan. Ia tidak hanya menangani secara online, namun juga pulang ke Indonesia. Seminggu di Indonesia dan seminggu di Beijing secara rutin. Sementara Pak Abdul Karim lebih betah mengendalikan kerajaan bisnisnya di Beijing dengan dibantu oleh beberapa tenaga ahlinya yang didatangkan ke Beijing, walau sekali-sekali beliau datang ke Jakarta. Laki-laki paruh baya itu terlihat lebih betah, terlebih karena beliau di Beijing ia selalu ada Bu Ratri untuk temannya bercerita. Begitu pun Bu Ratri, terlihat selalu c
Terakhir Diperbarui: 2023-02-13
Chapter: PART 48 Setelah dua minggu dalam masa menunggu, tim dokter memberikan kabar yang menggembirakan kepada Radit bahwa telah ada seseorang yang menyatakan siap untuk menjadi pendonornya. “Hanya saja,” kata sang dokter yang diterjemahkan oleh Nona Lie, “dengan alasan tertentu, sang pendonor meminta agar kami merahasiakan dulu identitasnya kepada Tuan Raditya.” “Mengapa seperti itu? Harusnya aku tahu siapa orang yang mau mengorbankan dirinya untuk menolomng hidup aku, Pak?” Radit justru menatap dan bertanya pada papanya. “Ya, seperti Pak Dokter barusan bilang, dengan alasan tertentu sang pendonor minta identitasnya untuk dirahasiapakan pada kamu. Papa kira nggak masalah. Mungkin itu berkenaan dengan privacy-nya sang pendonor?” Radit menoleh pada Nagita, “Apakah kamu yang akan melakukannya?” Nagita menggeleng, “Bukan, Mas. Lagi pula ... aku belum lama mendonorkan sumsum tulang kepada Noni. Apakah seseorang boleh mendonorkan bagian tubuhnya yang berbeda s
Terakhir Diperbarui: 2023-02-05