Chapter: PART 62 Namun begitu keenam temannya itu telah terlihat sudah menuruni tebing sungai, maka hal pertama yang keduanya lakukan adalah menutup pintu lalu memanfaatkan situasi dan kondisi untuk saling memanjakan hasrat mereka yang selalu menggebu-gebu. Naga-naganya, memanfaatkan kondisi sepi yang tidak lama itu bisa menjadi sensasi tersendiri bagi mereka sehingga mampu mencapai puncak kepuasan yang tertinggi. Mereka benar-benar seperti sepasang pengantin baru. Tentang janin yang ada dalam rahimnya, Ambar meyakinkan kepada PIL-nya, Kulman, melalui chat, bahwa janin itu adalah janinnya. “Kok kamu sangat yakin jika itu janinku? Argumennya apa?” tanya Kulman, membalas chat Ambar, pada malam harinya setelah perempuan itu melakukan tespek yang memastikan jika dia memang positif hamil. “Alasannya, karena setelah setiap habis main dengan suamiku, aku selalu meminum pil anti hamil. Jadi tak mungkin aku telah membuahi benih suamiku.” “Apakah suamimu tahu kalau kamu mengonsumsi
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: PART 61 “Yang paling besar anggarannya itu apa?” “Yang paling besar tentu untuk biaya kenduri. Biasanya kami memotong tiga atau kambing. Untuk beras dan bumbu-bumbunya disiapkan oleh warga.” “Untuk tiga atau empat kambing itu biasanya berapa juta, Pak?” “Perekor tahun ini rata-rata tiga juta. Jika empat ekor ya dua belas juta. Dan kemungkinan tahun sekarang harus lima ekor karena kan jumlah warga dan undangan juga bertambah.” ”Kenapa tidak sekalian beli seekor sapi, Pak Kadus?” “Maunya sih seperti itu, Dik Alex, tapi kemampuan dana kami sangat terbatas. Jika sapi yang dipotong, maka anggaran buat yang lainnya habis.” “Iya juga, ya? Lalu acara lain yang tinggi dananya apa lagi, Pak Kadus?” “Ya untuk nanggap grup Kuda Kepang.” “Tergantung grupnya juga, Dik Alex. Yang membuat tinggi nilai nanggap itu yaitu nama dan kualitas grupnya, lalu jumlah penarinya, durasi pertunjukan. Yang terakhir kami mengundang grup kuda kepang yang levelnya sederhana.” “
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: PART 60 Ya, saat-saat sendiri seperti itu, maka keinginannya langsung melonjak kalau ia membayangkan Alex. Dari tampilan tubuhnya yang kekar dan kokoh walaupun tak berotot menonjol bak seorang binaragawan, Bu Galuh langsung membayangkan milik pemuda itu menegak begitu gagah dan perkasanya, seperti yang di’ramal’kan oleh Bu Ema itu. “Ah, andaikata fantasiku bisa menjadi kenyataan, betapa indahnya,” desah Bu Galuh. Suhu tubuhnya berasa naik secara drastis. Ada sesuatu yang menggelegak dalam dirinya. Saat itu ia membayangkan sedang digumuli oleh pemuda yang kebule-bulean itu. Pada saat itu, di rumah posko lampu-lampu sudah dimatikan. Kondisi dalam rumah malam itu benar-benar gelap gulita. Dan sama seperti malam-malam sebelumnya, Alex, Mei, Ambar, dan Kulman tetapi memilih tidur di ruang tamu. Kondisi gelap gulita itu membuat Mei sudah menggeser tubuhnya ke dekat Alex, dan keduanya sudah saling memanjakan dengan saling membelai, mengusap, memuntir, dan menggenggap bagian-bag
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: PART 59 Benar. Yang merasa kagum--atau lebih tepatnya, tertarik--terhadap sosok Alex itu bukan saja dirinya saja, namun juga Bu Ema atau Bu Kadus. Itu diungkapkan oleh Bu Ema sendiri kepadanya pada suatu kesempatan. Saat itu Bu Ema datang berkunjung ke rumahnya. Pada kesempatan itu mereka membicarakan kondisi dan suasana dusun mereka yang sudah banyak berubah sejak kehadiran para peserta KKN itu. Perubahan nyata pertama adalah kampung mereka tidak menjadi kampung yang selalu berselimut suasana gelap saat malam hari tanpa rembulan, dan kini telah menjadi kampung yang berlistrik berkat sumbangan PLTS sumbangan anak-anak KKN. Lalu berikutnya adalah sumbangan untuk anggaran pembangunan mesjid, sehingga tak lama lagi mereka memiliki sebuah mesjid yang cukup megah. Setelah pembahasan tentang suasana dan kondisi kampung mereka yang sudah berubah, pembahasan mereka lalu beralih kepada hal-hal tentang para anggota KKN di dusun mereka itu, terutama yang berkenaan pada keempat anggo
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: PART 58 Mei langsung membalas dengan emoticon ketawa dan menulis. “Bersuami juga tapi tetap bisa melayani kamu kan, Say? Oh iya, padahal aku tadi sudah kepengen banget, eh ternyata ada warga mandi.” “Iya. Sama. Kok bisa pengen terus, ya? Padahal baru semalam kita naik ke puncak.” “Ya wajarlah, Say. Kamu kan berondong, sedangkan aku seorang istri yang jarang mendapat kepuasan dari suamiku. Aku trus jadi bertanya-tanya, apakah hubungan kita ini hanya di sini saja?” “Maumu?” “Ya mauku seterusnya. Tapi kadang merasa sayang juga.” “Merasa sayang juga? Maksudmu?” “Ya bibitmu, sayang kalau disemburkan tapi tidak bisa dibuahi. Padahal sp**ma kamu itu kalau keluar banyak banget.” “Ya kalau main kan memang harus munc**t, Say.” “Iya sih. Maksud aku, andaikata aku belum bersuami, aku tetap membiarkan benihmu itu tumbuh. Kamu mikirmu seperti apa, Say? Apakah setelah pulang dari sini kita bisa melakukannya lagi?” “Gampanglah nanti. Urusan besok pikirkan besok s
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: PART 57 Tentu saja Om Jody sangat yakin jika janin yang ada dalam rahim istrinya itu adalah janinnya. Bahkan tak sedikit pun terbersit dalam pikirannya bahwa itu bukan janinnya. Ia sangat tahu, bahwa sang istri adalah wanita yang sangat setia dan berwibawa. Dan, pada keesokan harinya, dokter kandungan yang memeriksanya menyampaikan, bahwa dari hasil USG, Tante Luluk dinyatakan positif hamil. “Usia kandungan Bu Luluk sekarang lebih kurang sudah tiga Minggu,” ucap Bu Dokter. “Selamat ya, Bu, Pak, atas kehamilannya. Tolong diperhatikan kesehatan ibu dan janinnya. Nanti saya akan berikan buku panduan tentang ibu dan kandungannya.” “Terima kasih, Bu Dokter. Terima kasih ya Rabb,” ucap Om Jody sembari mengusap kedua sudut matanya dengan ujung jari tangannya. Ia begitu terharu. Betapa tidak, di usia ia dan istrinya sudah tidak muda lagi, namu Tuhan masih memberi mereka buah hati. *** Ada panggilan di ponselnya Alex. Anak-anak yang sedang mengobrol di ruang tamu hanya m
Last Updated: 2026-02-21
Sesungguhnya Aku Bukan Suami yang Miskin
“Ya, mencintai itu memang butuh ketulusan, kesabaran, juga pengorbanan,” jerit batin Raditya Pambudi. “Tapi, ketulusan, kesabaran, serta pengorbanan seperti apa lagi yang harus aku persembahkan kepada seorang istri yang tidak memberikan hal yang sama terhadap diriku, suaminya? Memang, aku nyaris tak pernah diperlakukan selayaknya seorang suami oleh wanita yang aku nikahi dan cintai itu. Di kala aku berusaha membahagiakannya dengan segenap jiwa dan ikhtiarku, dia malah dengan tanpa merasa berdosa justru menganggapku bukan siapa-siapa dalam kehidupannya. Walau berat dan seolah hidup dalam neraka, tapi aku mencoba bertahan, bersabar, dan tanpa lelah berdoa, semoga kelak ia menjadi istri terbaik dan calon bidadari syurga bagi aku dan anak-anaknya kelak, seperti yang kuimpi-impikan dahulu.”
***
Read
Chapter: PART 53 Atas pengangkatannya sebagai orang nomor dua di konglomerasi PT. Jaya Semesta Group, Ningrum menyukurinya dengan mengadakan kenduri kecil-kecilan dan pengajian sebagai rasa syukur di beberapa hari kemjudian. Dalam acara itu Radit juga hadir. Bagi sang presiden direktur muda itu, Ningrum beserta keluarganya sudah dianggapnya sebagai keluarga keduanya. Acaranya walaupun menggunakan konsep sederhana, namun suasana demikian meriah. Warga komplek nyaris semuanya hadir, baik dalam acara kenduri maupun pada acara pengajian di malam harinya. Selesai acara, Edwin tak langsung pulang. Ia dan Ningrum menyempatkan diri untuk duduk mengobrol berdua di halaman belakang rumah di samping kolam renang sembari membuat api unggun kecil. Pada kesempatan yang santai penuh keakraban itu keduanya membicarakan banyak hal, dari tentang pekerjaan, tentang kondisi terakhirnya, dan juga perkembangan kondisi Noni. Radit juga membahas tentang nasib rumah tangganya. Radit mengatakan, untuk
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: PART 52 Dengan berbagai pertimbangan, Nagita pun memutuskan untuk mengajak Radit untuk bicara. Akan tetapi, ketika ia hendak membuka mulutnya, laki-laki yang telah berstatus sebagai mantan suaminya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya, dan tidur miring memeluk guling dengan posisi membelakangi Noni dan dirinya. Nagita menghela nafasnya lalu mengecilnya nyala lampu tidur. Selanjutnya ia berusaha untuk memejamkan matanya. Saat itu jarum jam dinding telah menunjukkan pukul 00.22. Namun pada keesokan harinya ia masih memikirkan tentang rencananya itu. Setelah memikirkannya secara berulang-ulang, Nagita pun memutuskan untuk menelepon Radit. Ia menyampaikan keinginannya untuk bicara itu dengan sangat hati-hati. “Ya silakan bicara saja, insha Allah aku akan mendengarkannya?” sahut Radit. Saat itu kebetulan ia baru saja selesai melakukan pengecekan terhadap file-file laporan yang masuk pada hari itu yang tertera pada layar laptop di hadapannya. “Aku ingin bicara empat mata d
Last Updated: 2023-10-08
Chapter: PART 51 Beberapa bulan kemudian Noni sudah menemukan kembali keceriaannya. Pihak tim dokter yang menanganinya sudah memperbolehkan ia untuk check out dari rumah sakit. Artinya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke Indonesia. Hanya saja, gadis kecil itu selanjutnya masih harus menjalani terapi-terapi khusus di rumah sakit Indonesia secara berkala, terutama untuk mengetahui perkembangan dari kondisi penyakitnya. Namun dokter di Beijing itu berpendapat, bahwa Noni akan mendapatkan kesehatan kesehatannya secara optimal seiring waktu. Setelah di Indonesia, gadis itu lebih banyak tidur bersama kedua orang tuanya, Radit dan Nagita. Ia sangat bahagia karena ia bisa kembali tidur di antara kedua orang yang paling disayanginya. Ia memang selalu rindu pada dongeng-dongeng yang selalu dituturkan oleh kedua orang tuanya itu untuk mengantarkannya ke dunia mimpi. “Oh ya, Sayang,” ucap Radit suatu malam pada Noni, sebelum ia menuturkan sebuah dongeng pada sang putrinya, “sembari menungg
Last Updated: 2023-10-07
Chapter: PART 50Beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. “Ya, silakan masuk,” ucap Radit. “Selamat siang, Mas,” salam Ningrum sembari menutup kembali pintunya. “Silakan duduk.” “Terima kasih.” Raditya menatap wajah wanita di depannya dan tersenyum. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Raditya. “Alhamdulillah baik, Mas.” “Tadi malam Ning punya mimpi apa?” “Mimpi?” Kedua Ningrum saling merapat. Terasa ada semacam kejanggalan yang ia rasakan dalam pertanyaan itu. “Malah aku nggak sempet mimpi kayaknya, Mas. Tidur saja baru jam dua dini hari baru bisa terlelap, trus bangun subuh. Kenapa, Mas?” “Ntar kujawab pertanyaanmu, aku ingin lanjut bertanya dulu,” ucap Radit. “Kenapa tidurnya terlambat?” “Hm, nggak tau juga, Mas. Terasa gelisah saja, padahal aku sedang tidak memikirkan sesuatu apa pun yang sifatnya berat.” “Hm, berarti itu pengganti mimpinya!” celetuk Radit. “Maksud, Mas?” “Begini, tadi papaku video ca
Last Updated: 2023-02-14
Chapter: PART 49 Kondisi Raditya sudah dinyatakan pulih seratus persen setelah beberapa bulan pasca operasi transplantasi. Kondisi Noni pun makin mengarah ke kemajuan. Hanya saja ia masih terus menjalani siklus kemoterasi. Namun tim dokter memprediksi, bahwa kesembuhan Noni bisa lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Sebuah keajaiban. Setelah benar-benar klir dinyatakan sembuh sempurna, Raditya diperbolehkan oleh sang ayah, Abdul Karim Pambudi, untuk kembali mengurus perusahaan. Ia tidak hanya menangani secara online, namun juga pulang ke Indonesia. Seminggu di Indonesia dan seminggu di Beijing secara rutin. Sementara Pak Abdul Karim lebih betah mengendalikan kerajaan bisnisnya di Beijing dengan dibantu oleh beberapa tenaga ahlinya yang didatangkan ke Beijing, walau sekali-sekali beliau datang ke Jakarta. Laki-laki paruh baya itu terlihat lebih betah, terlebih karena beliau di Beijing ia selalu ada Bu Ratri untuk temannya bercerita. Begitu pun Bu Ratri, terlihat selalu c
Last Updated: 2023-02-13
Chapter: PART 48 Setelah dua minggu dalam masa menunggu, tim dokter memberikan kabar yang menggembirakan kepada Radit bahwa telah ada seseorang yang menyatakan siap untuk menjadi pendonornya. “Hanya saja,” kata sang dokter yang diterjemahkan oleh Nona Lie, “dengan alasan tertentu, sang pendonor meminta agar kami merahasiakan dulu identitasnya kepada Tuan Raditya.” “Mengapa seperti itu? Harusnya aku tahu siapa orang yang mau mengorbankan dirinya untuk menolomng hidup aku, Pak?” Radit justru menatap dan bertanya pada papanya. “Ya, seperti Pak Dokter barusan bilang, dengan alasan tertentu sang pendonor minta identitasnya untuk dirahasiapakan pada kamu. Papa kira nggak masalah. Mungkin itu berkenaan dengan privacy-nya sang pendonor?” Radit menoleh pada Nagita, “Apakah kamu yang akan melakukannya?” Nagita menggeleng, “Bukan, Mas. Lagi pula ... aku belum lama mendonorkan sumsum tulang kepada Noni. Apakah seseorang boleh mendonorkan bagian tubuhnya yang berbeda s
Last Updated: 2023-02-05
Chapter: PART 47Panji Jagat alias Prabu Kertabhumi harus berpikir untuk menetap sedikit lebih lama di Kuwu Kradenan ini. Ia harus menyelesaikan permasalahan di desa itu dengan tuntas. Warga harus dibebaskan dari segala penderitaan yang ditimbulkan oleh pemimpin lalimmereka, Lurah Arga Seta. Mungkin langkan yang paling bagus adalah ia harus melenyapkan sang lurah itu tanpa menimbulkan gejolak apa pun. Dan itu ia mampu melakukannya dengan kesaktian yang dimilikinya. Hanya saja, tentu ia akan melakukan secara pelan-pelan dan bertahap. Pada suatu siang Panji Jagat mengajak Arya Wening untuk jalan-jalan berkeliling dengan menunggang kuda. Keduanya berkeliling hingga ke kawasan persawahan yang di sebelah timur desa atau kuwu. Kawasan persawahan itu merupakan persawahan yang bisa ditanami tiga kali dalam setahun karena memiliki bendungan yang bisa mengairi persawahan itu di sepanjang tahun. Sementara kawasan persawahan di sebelah barat desa kebanyakan tanah tadah hujan. Hanya sedikit lahan persaw
Last Updated: 2024-01-18
Chapter: PART 46 Beberapa hari setelah keluarga itu kembali menempati rumahnya, keadaan berangsur-angsur membaik. Ada perasaan tenang di wajah mereka, walau rasa waswas itu tetap ada dalam hati mereka. Mereka masih belum yakin akan jaminan kedamaian hidup mereka. Ki Lurah Arga Seta adalah orang yang licik dan culas. Ia punya banyak cara untuk tidak membiarkan warganya untuk menikmati hidup aman dan tenteram. Seolah-olah hanya dia saja yang boleh tenteram dan makmur hidupnya, sementara rakyatnya tak boleh lebih dari hanya sekelompok sapi perah saja baginya. Siang itu wajah Nyi Utari, Nyi Utanti, Ajeng Kumalahari, serta Nismara terlihat cerah ketika melihat Panji Jagat dan Arya Wening kembali dari padang perburuan dengan membawa hasil perburuan mereka. Di punggung kuda kedua laki-laki itu masing-masing membawa dua ekor kijang jantan yang besar-besar. Semuanya ada empat ekor rusa yang berhasil mereka buru. Tetangga kiri kanan yang melihat kepulangan dua laki-laki itu dari perburuan, se
Last Updated: 2023-12-16
Chapter: PART 45 Namun saat hampir semua warga sudah pulang ke rumahnya masing-masing, tiba-tiba seorang ibu dan anak gadisnya datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung memeluk tubuh Nyi Utari dan Ajeng Kumalahari semari memecahkan tangis mereka. Menurut Ki Martani, keduanya adalah adik dan kemenakan dari istrinya. Namanya Nyi Utanti dan putrinya Nismara. Rumah mereka berada di ujung perkampungan di sebelah timur. Nyi Utanti tinggal bertiga dengan kedua anaknya, Bayuaji dan Nismara, setelah setahun yang lalu suaminya meninggal. “Kalian dari mana kok baru tiba sekarang?” tanya Nyi Utari pada Nyi Utanti dan Nismara. “Kami baru pulang dari persawahan untuk mencari sisa-sisa padi, Yu. Kami sangat kaget sekaligus gembira karena kalian sudah kembali di rumah ini.” “Iya, Nimas. Itu karena Angger Panji yang melunasi semua hutang kami,” jawab Ki Martani. “Tole Bayuaji ke mana kok tidak bersama kalian?” “Dia belum pulang dari menjagakan ternak Ki Lurah dimpadang sebelah ut
Last Updated: 2023-10-07
Chapter: PART 44Melihat pemberian di luar dugaan itu, membuat Poranda dan kesembilan anak buahnya kaget, terbelalak, dan girang yang bercampur aduk. Setelah meletakkan segenggam keping emas itu di tangannya Ki Poranda, Panji Jagat pun segera bergegas masuk dengan mengabaikan ucapan terima kasih dari laki-laki itu dan anak buahnya, menyusul Ki Martani dan keluarganya. Saat ia menyusul masuk ke dalam rumah besar yang tadi dilihatnya, Ki Martani dan Nyi Utari sedang menangis berpelukan haru dengan putrinya, Ajeng Kumalahari. “Apakah Anak Muda ini yang akan melunaskan hutangmu, Ki Martani?” tanya Ki Lurah Arga Seta sembari menatap kepada Panji Jagat. Dan pertanyaan itu langsung dibenarkan sendiri oleh Panji Jagat. “Baik, silakan duduk,” Ki Lurah Arga Seta mempersilakan Panji Jagat duduk, sebelum lanjut bertanya, “Apakah kalian sudah tahu berapa hutang kalian sekarang? Jumlahnya masih delapan ratus keping emas ! Apakah kalian membawa keping emas sejumlah itu?” Mendengar juml
Last Updated: 2023-10-06
Chapter: PART 43 Benar saja apa yang diceritakan oleh Ki Martani, dalam kamar itu tersimpan berpeti-peti keping emas dan perak (selaka). Selain disimpan dalam peti-peti yang terbuat dari bahan yang sama dengan isinya, keping-keping emas dan perak disimpan dalam kantong-kantong dari bahan kulit hewan. Kantong serupa banyak dijual di pasar-pasar dan kedai. Panji Jagat memperkirakan, tiap kantong itu berisi lebih dari lima ribu keping emas atau perak. “Benar-benar gila ini lurah. Seolah-olah jika dia mampus seluruh harta yang ditumpuknya akan dibawanya serta ke neraka,” gumannya sambil menggeleng-geleng. “Hm, jika aku ambil dua kantong saja, tentu si lurah fasik dan zalim itu tak akan menyadarinya,” desahnya pula. Karena kantong-kantong itu hanya disusun dan ditumpuk begitu saja. Dan ia sama sekali tak merasa akan menjadi pencuri atas harta itu, karena ia merasa bahwa harta-harta itu diperoleh oleh Ki Lurah Arga Seta dengan jalan fasik dan zalim. Ia mengambilnya untuk dikembalikan kepada
Last Updated: 2023-10-05
Chapter: PART 42 Terenyuh sekaligus geram hati Panji Jagat mendengar cerita laki-laki yang malang di depannya. “Lalu dangau dan sawah yang Ki Martani tanami dan jaga ini milik siapa?” “Ini milik saudara laki-laki saya, Ngger. Dia seorang perwira di kerajaan. Dia menyerahkan kepada saya untuk menggarapnya.” “Saudara laki-laki Ki Martani seorang perwira kerajaan? Mengapa dia tak turun tangan untuk membantu permasalahan yang dihadapi oleh Ki Martani?” “Pastinya dia sangat ingin melakukannya,” sahut Ki Martani sembari menyelesaikan makanannya. “Tapi dia tak memiliki kuasa apa pun, kendati ia seorang perwira kerajaan. Sementara Ki Lurah Arga Seta masih merupakan kerabat istana. Tentu raja akan membela trahnya sendiri. Salah-salah saudara saya justru mendapat masalah. Raja kami bukanlah seorang raja yang adil dan bijaksana, Ngger.” Kendati dirinya juga seorang raja dari sebuah kerajaan besar, namun Panji Jagat belum begitu paham dan kenal tentang kerajaan-kerajaan lain beriku
Last Updated: 2023-10-04