Home / Pendekar / KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA / BAB 5 : NAPAS ENERGI & ALAM

Share

BAB 5 : NAPAS ENERGI & ALAM

Author: Djallonly
last update publish date: 2026-07-09 11:31:35

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan itu. Di pinggir desa yang dikelilingi bukit hijau dan aliran sungai jernih, kedamaian masih terasa menyelimuti, meski Mpu Suro selalu merasa ada pandangan yang mengintai dari kejauhan. Namun, ia tidak membiarkan kekhawatiran itu menghalangi langkahnya. Saatnya bagi Jaya untuk memahami apa yang tersembunyi di dalam dirinya.

Pagi itu, mentari baru saja menyingsing, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah dedaunan. Mpu Suro membawa Jaya ke sebuah tempat lapang di tepi hutan, jauh dari keramaian. Di sana, rumput tumbuh subur, udara terasa segar, dan suara alam terdengar jelas tanpa gangguan.

“Duduklah dengan tenang, Jaya,” perintah Mpu Suro sambil duduk bersila di atas tikar daun pandan yang ia hamparkan. “Hari ini kita tidak akan berlari, tidak akan mengangkat beban, dan tidak akan memegang tongkat. Kita mulai dari hal yang paling dasar, yang paling penting, namun seringkali dilupakan orang.”

Jaya menirukan gerakan lelaki tua itu, duduk dengan punggung tegak namun rileks. “Apa yang akan kita pelajari, Kakek?”

“Kita akan belajar mengenal napas, dan merasakan energi yang ada di sekeliling kita,” jawab Mpu Suro dengan suara lembut namun tegas. “Dengarkan baik-baik. Segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki nyawa dan energi. Pohon yang tumbuh menjulang, air yang mengalir tenang, angin yang berhembus, bahkan tanah tempat kita berpijak—semuanya memiliki kekuatan yang mengalir terus-menerus. Tubuhmu juga memiliki energi yang sama. Selama ini, kekuatanmu keluar secara tiba-tiba karena kau tidak tahu cara mengendalikannya, persis seperti air sungai yang meluap dan merusak tepiannya karena tidak ada saluran yang teratur.”

Jaya mendengarkan dengan saksama, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Jadi, aku bisa mengatur energi itu seperti mengatur aliran air?”

“Tepat sekali,” senyum Mpu Suro. “Dan kuncinya ada pada napas. Napas adalah jembatan antara tubuhmu dan alam semesta. Sekarang, coba tarik napas perlahan melalui hidung. Bayangkan kau menarik udara yang segar, penuh cahaya mentari dan kesejukan tanah. Rasakan ia mengalir masuk, mengisi paru-parumu, lalu turun ke perutmu. Tahan sejenak, lalu hembuskan perlahan melalui mulut, bayangkan kau membuang segala rasa lelah, takut, dan pikiran yang kacau.”

Jaya mengikuti perintah itu. Awalnya ia merasa canggung. Ia sering menarik napas terlalu cepat, atau pikirannya melayang ke hal-hal lain—ingin tahu kapan ia bisa berlari lebih cepat, atau apakah ia bisa mengangkat batu besar hanya dengan satu tangan. Ia merasa pelatihan ini terlalu lambat, terlalu tenang, dan tidak ada yang terasa berubah.

“Kakek, ini tidak terasa berbeda,” keluhnya setelah beberapa kali mencoba. “Aku hanya menarik dan menghembuskan napas saja.”

Mpu Suro tidak marah, malah tertawa pelan. “Kesabaran adalah kunci terbesar, Jaya. Jangan terburu-buru. Seorang petani tidak bisa memanen padi hanya dalam satu malam, bukan? Ia harus menanam, menyiram, dan menunggu dengan sabar. Begitu juga dengan kekuatan dalam dirimu. Coba lagi, tapi kali ini, jangan hanya memikirkan gerakan napas. Coba rasakan apa yang ada di sekitarmu.”

Jaya mengangguk, mencoba menenangkan hatinya. Ia memejamkan mata, menarik napas perlahan, dan kali ini ia benar-benar berkonsentrasi. Perlahan, rasa tidak sabar di dadanya mulai mereda. Udara yang ia hirup terasa lebih sejuk, seolah membawa kesegaran dari hutan di kejauhan. Saat ia menghembuskan napas, ketegangan di bahunya perlahan hilang.

Lama-kelamaan, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh namun menenangkan. Tubuhnya terasa lebih ringan, seolah tidak terbebani oleh berat bumi. Pikirannya yang tadinya penuh pertanyaan kini menjadi jernih, bagaikan air sungai yang tidak keruh. Ia bisa mendengar suara air yang mengalir di sungai kecil yang letaknya cukup jauh, suara burung yang berkicau di puncak pohon tinggi, bahkan desiran angin yang menyentuh permukaan daun.

“Aku… aku bisa mendengar semuanya dengan lebih jelas,” bisik Jaya tanpa membuka matanya. “Rasanya seperti jarak menjadi lebih dekat.”

“Bagus sekali,” puji Mpu Suro, matanya memancarkan kekaguman. “Itu artinya kau mulai membuka indra batinmu. Saat napasmu selaras dengan alam, batasan antara dirimu dan lingkungan sekitar perlahan menghilang. Energi alam akan mengalir masuk dan menyatu dengan energimu sendiri.”

Hari demi hari berlalu. Rutinitas mereka berulang: bangun pagi, mengatur napas, merasakan alam, lalu beristirahat sejenak. Lambat laun, Jaya menemukan bahwa ia bisa duduk diam berjam-jam tanpa merasa bosan atau lelah. Ia mulai merasakan adanya aliran hangat yang berputar perlahan di dalam perutnya, yang menyebar ke seluruh tubuhnya saat ia menarik napas dengan benar.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan mewarnai langit dengan jingga keemasan, mereka berpindah tempat ke sebuah tebing rendah yang menghadap ke lembah luas. Angin berhembus agak kencang di sana, membawa aroma tanah dan bunga liar.

“Hari ini kita akan mencoba sesuatu yang lebih dalam,” kata Mpu Suro sambil berdiri di samping Jaya. “Konsentrasikan energi yang kau rasakan di dalam tubuhmu, salurkan ke telapak kakimu. Rasakan setiap getaran yang ada di dalam tanah. Coba ceritakan padaku, apa yang kau rasakan di sekitar kita?”

Jaya menuruti perintah itu. Ia memejamkan mata, mengatur napas panjang, dan memusatkan seluruh perhatiannya pada kedua kakinya yang menapak di atas tanah yang ditumbuhi rumput. Awalnya hanya terasa dingin dan kasar, namun saat aliran energi hangat itu mengalir turun ke kakinya, persepsinya berubah.

Ia tidak hanya merasakan tanah. Ia merasakan denyut lembut yang berirama, seolah bumi itu sendiri bernapas. Melalui getaran halus yang merambat di bebatuan dan akar pohon, ia bisa “melihat” tanpa menggunakan matanya. Ia merasakan gerakan cacing yang menggali tanah di bawahnya, aliran air yang mengalir di celah-celah batu jauh di dalam tanah, bahkan detak jantung seekor tupai yang sedang tidur di lubang pohon tidak jauh dari situ.

“Ada banyak makhluk hidup,” bisik Jaya, suaranya penuh takjub. “Ada air yang mengalir di bawah tanah, ada hewan kecil yang bergerak di balik semak, dan… ada sesuatu yang lain.”

Saat kata-kata itu terucap, aliran energi yang ia rasakan tiba-tiba berubah. Ia merasakan dua titik kehadiran yang asing, bergerak perlahan namun pasti mendekat dari arah hutan. Tidak seperti hewan, mereka bergerak dengan hati-hati, berusaha menyembunyikan keberadaan mereka. Dan yang paling jelas—dari arah mereka, terasa hawa dingin yang tidak alami, membawa niat yang gelap dan berbahaya.

Jaya membuka matanya dengan tiba-tiba, napasnya sedikit terengah karena kaget. Wajahnya berubah menjadi serius. Ia menoleh ke arah hutan lebat di sebelah kanan mereka, lalu menatap Mpu Suro dengan pandangan waspada.

“Kakek… ada orang lain di sini,” ucapnya tegas, tidak ada keraguan dalam suaranya. “Dua orang. Mereka bergerak diam-diam, berusaha tidak terdengar. Dan… mereka tidak datang dengan niat baik. Aku bisa merasakannya.”

Mpu Suro yang tadinya tampak santai seketika berubah. Postur tubuhnya yang agak bungkuk kini menegang, matanya yang tadinya lembut kini menjadi tajam dan penuh kewaspadaan, mengamati setiap sudut hutan di sekitar mereka. Tangannya secara alami mencengkeram gagang tongkat kayunya, siap menghadapi apa pun yang akan datang.

“Tetap di belakangku, Jaya,” bisiknya perlahan namun tegas. “Jangan lepaskan konsentrasimu. Terus rasakan gerakan mereka. Kita tidak tahu siapa mereka, tapi kehadiran mereka di sini bukanlah kebetulan.”

Angin berhembus lebih kencang, membawa suara gemerisik daun yang terdengar lebih keras dari biasanya. Di balik bayangan pepohonan yang mulai gelap karena senja, dua sosok samar mulai terlihat, berhenti sejenak seolah menyadari bahwa keberadaan mereka telah diketahui. Udara di sekitar tebing itu tiba-tiba terasa menjadi berat dan mencekam.

Tiba-tiba, dari balik semak yang lebat, terdengar suara tawa dingin yang menusuk telinga. Dua sosok berpakaian serba hitam melangkah keluar, wajah mereka tertutup kain, hanya menyisakan mata yang bersinar tajam dan penuh kebencian. Di tangan mereka, tergenggam pedang pendek yang berkilat terkena cahaya matahari terbenam.

“Pantas saja sulit ditemukan,” ucap salah satu dari mereka dengan suara parau. “Ternyata anak ini sudah mulai membangkitkan indranya. Tidak apa-apa—lebih baik kita selesaikan semuanya di sini, sebelum ia tumbuh semakin besar dan menjadi ancaman.”

Mpu Suro melindungi Jaya sepenuhnya di belakang tubuhnya, energi halus mulai memancar dari tubuhnya, membuat rumput di sekitarnya bergetar perlahan. “Siapa kalian? Dan apa urusan kalian dengan anak ini?”

Sosok itu tersenyum miring, mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi. “Kami adalah utusan yang dikirim untuk memastikan… bahwa benih Merak Putih tidak akan pernah tumbuh menjadi pohon yang besar.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA   Bab 13 : Kisah Lalu dan Tanggung Jawab

    Suasana di dalam gubuk terasa semakin hening. Setelah Kiyo dan Sari bercerita, Mpu Suro yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan perlahan maju mendekat. Wajahnya yang keriput dipenuhi kesedihan namun juga keteguhan, seolah ia sedang membuka lembaran sejarah yang telah lama dikubur dalam kegelapan. Ia menarik napas panjang, lalu memulai ceritanya dengan suara yang berat namun jelas. “Apa yang diceritakan Ayah dan Ibu angkatmu ini hanyalah permulaan, Jaya,” ucapnya pelan. “Untuk memahami siapa dirimu, kau harus melihat jauh ke masa lalu—masa ketika Kerajaan Jayantara masih berdiri megah, mempersatukan tanah ini di bawah satu pemerintahan yang adil dan makmur.” Mpu Suro bercerita tentang kejayaan Jayantara: tentang istana yang megah, perdagangan yang ramai, dan rakyat yang hidup damai di bawah perlindungan raja-raja yang bijaksana. "Masa-masa damai dan penuh kebahagiaan itu, pada saat Raja Bhre Sanjaya V memerintah, ternyata tidak berlangsung selamanya", Mpu Suro terus mencerita

  • KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA   Bab 12 : Rahasia yang Mulai Terbuka

    Hari-hari di desa kini terasa semakin berat. Rasa waspada menggantung di udara seperti kabut tebal yang sulit hilang. Setiap suara yang tidak biasa, setiap langkah kaki yang asing, membuat hati penduduk berdebar. Bagi Kiyo dan Sari, pasangan tua yang telah membesarkan Jaya dengan penuh kasih sayang selama dua belas tahun terakhir, beban di hati mereka terasa semakin berat seiring berjalannya waktu. Selama ini, mereka berusaha menjalani hidup seperti keluarga biasa. Mereka menyimpan rahasia besar itu rapat-rapat, berharap suatu hari bahaya akan berlalu dan Jaya bisa tumbuh besar tanpa mengetahui masa lalunya yang kelam. Namun, peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuka mata mereka: cahaya aneh dari gua, serangan perampok, kabar yang menyebar ke luar lembah, hingga kehadiran mata-mata yang diam-diam mengawasi. Semua itu menunjukkan bahwa kedamaian yang mereka jaga tidak akan bertahan lama. Suatu sore, setelah Jaya selesai berlatih dan pulang ke gub

  • KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA   Bab 11 : Pengawasan yang Semakin Ketat

    Udara di lembah itu kini terasa berbeda. Meskipun matahari masih bersinar terang dan suara burung masih berkicau seperti biasa, ada beban halus yang menggantung di udara—seolah alam sendiri merasakan bahwa kedamaian yang selama ini ada perlahan terancam. Penduduk desa mulai bergerak lebih hati-hati, dan setiap kali ada orang asing yang terlihat di jalan setapak, percakapan akan berhenti seketika hingga sosok itu menghilang dari pandangan. Bagi Jaya, perasaan diawasi itu menjadi semakin nyata. Sejak kabar tentang kekuatannya mulai menyebar, ia sering merasa ada pandangan tak terlihat yang mengikuti setiap langkahnya. Saat ia pergi ke sawah, saat ia mengambil air di sungai, bahkan saat ia duduk diam di depan gubuknya, ia selalu merasakan ada sesuatu yang mengamati dari balik semak-semak atau di balik bayangan pohon yang tinggi. “Kakek, aku merasa ada orang yang selalu mengawasiku,” ucap Jaya suatu sore, saat mereka berlatih di tempat yang agak tersembunyi di tepi hutan. “Setiap kali

  • KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA   Bab 10 : Kabar yang Menyebar

    Beberapa hari telah berlalu sejak serangan kelompok perampok di desa. Kehidupan penduduk perlahan kembali berjalan seperti biasa, namun ada perbedaan yang tak terucapkan di udara. Senyum di wajah mereka tidak lagi seluas sebelumnya, dan setiap kali ada orang asing yang lewat di jalan setapak, mata mereka akan mengikuti dengan penuh kewaspadaan. Peristiwa itu tidak hanya berhenti menjadi cerita di dalam desa. Seperti air yang merembes keluar dari celah bendungan, kabar tentang apa yang terjadi mulai menyebar perlahan namun pasti. Para pedagang dan pengembara yang melintasi lembah itu mendengar desas-desus dari mulut ke mulut: tentang sekelompok perampok yang gagal menjarah, tentang seorang anak muda yang mampu mengusir mereka sendirian, dan tentang cahaya aneh yang sempat terlihat di tengah lapangan. Awalnya, banyak yang menganggapnya hanya cerita bohong atau dongeng untuk menakut-nakuti anak-anak. Namun, seiring berjalannya waktu, kabar itu sampai ke telinga orang-orang yang memili

  • KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA   Bab 9 : Kekuatan yang Tak Terkendali

    Debu perlahan mengendap di atas tanah lapang desa. Suara teriakan dan gemeretak senjata telah lenyap, digantikan oleh hening yang terasa berat. Jaya masih berdiri di tempatnya, napasnya teratur namun hatinya berdebar kencang. Ia menatap kedua telapak tangannya yang terasa sedikit hangat, seolah masih menyimpan sisa kekuatan yang baru saja meledak. Ia tidak memahami apa yang terjadi—satu saat ia hanya merasa marah dan takut melihat anak kecil terancam, dan sesaat kemudian, semua penyerang terlempar jauh seolah dihantam angin raksasa. “Kakek… apa yang baru saja aku lakukan?” tanyanya pelan, suaranya bergetar bercampur kebingungan. “Aku tidak bermaksud melukai mereka. Aku hanya ingin melindungi…” Mpu Suro melangkah mendekat, meletakkan tangan tua dan keriputnya di bahu Jaya. Tatapannya lembut namun penuh keseriusan. “Aku tahu. Itu bukan keinginan hatimu, melainkan naluri perlindungan yang terbangun. Kekuatan yang ada di dalam dirimu seperti air sungai yang dibendung—selama ini tertaha

  • KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA   Bab 8 : Serangan di Tengah Kedamaian

    Udara di lembah itu masih terasa sejuk dan segar saat pagi mulai berganti siang. Matahari bersinar lembut, menembus celah dedaunan dan menciptakan pola cahaya yang bergerak di atas tanah yang ditumbuhi rumput hijau. Suasana desa masih sama seperti biasanya: para petani sibuk mengurus sawah, anak-anak bermain di tepi sungai, dan para ibu beraktivitas di depan gubuk masing-masing. Bagi penduduk desa yang sederhana ini, hidup berjalan tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk perang dan intrik kekuasaan yang melanda sebagian besar wilayah bekas Kerajaan Jayantara. Namun, kedamaian itu tidak akan bertahan selamanya. Berita tentang cahaya aneh yang menyembur dari dalam gua di pegunungan telah menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan Mpu Suro. Seorang pengembara yang kebetulan melihatnya dari kejauhan telah menceritakannya kepada pedagang yang lewat, dan dari mulut ke mulut, kabar itu akhirnya sampai ke telinga Adipati Ranawara—salah satu penguasa yang paling berkuasa dan haus kekuasaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status