Share

Bab 5: Rin Yang Menggoda

Author: Phoenix
last update publish date: 2026-08-06 12:29:55

Insting lelakinya berteriak menyuruhnya menerkam tubuh sintal itu, merobek sisa jubahnya, dan menghajarnya habis-habisan di ranjang ini sebagai balasan atas rasa sakit hatinya pada Lian.

Namun, bayangan lukisan Lian yang buram itu tiba-tiba lewat di kepalanya.

Lukisan itu tidak jelas. Semuanya baru desas-desus. Dia belum melihat sendiri bukti nyata kalau istrinya benar-benar berselingkuh.

'Sialan! Kalau aku tidur dengan mertuaku sendiri malam ini tanpa bukti yang jelas soal Lian, aku tidak ada bedanya dengan binatang bajingan!' batin Yohan keras-keras.

Dengan rahang mengeras, Yohan mencengkeram tangan Nyonya Mei dan menyingkirkannya dengan paksa dari atas celananya.

Yohan menarik napas panjang, lalu mengambil jubah sutra itu dan memakaikannya kembali menutupi dada Nyonya Mei.

"Cukup! Hentikan, Nyonya Mei," ucap Yohan dengan napas ngos-ngosan, menatap tajam wanita di depannya.

"Jangan mengujiku lebih jauh lagi. Selama aku belum melihat sendiri bukti istriku selingkuh... aku tidak akan merusak pernikahan ini. Apalagi dengan mertuaku sendiri. Keluar dari kamarku sekarang!"

Nyonya Mei kaget. Ia menatap Yohan yang wajahnya merah padam menahan nafsu, tapi anehnya punya pendirian yang sangat kuat.

Janda cantik itu akhirnya tersenyum miring.

"Kau benar-benar keras kepala, Yohan. Tapi kita lihat saja nanti..." Nyonya Mei berdiri dan merapikan jubahnya, "sampai kapan kau bisa jadi suami setia, apalagi saat kebenaran itu nanti menghancurkanmu."

Nyoxnya Mei berbalik dan pergi dari kamar, menyisakan wangi mawar yang kental di udara.

Begitu pintu tertutup, Yohan merebahkan tubuhnya dengan lemas. Ia mengusap wajahnya yang penuh keringat.

Dadanya naik turun menahan nyeri dari pusaka pribadi-nya yang dipaksa menahan gairah sebelum tuntas.

Baru saja Yohan mau menenangkan detak jantungnya, sebuah suara terdengar dari arah jendela.

Takk!

Sesuatu menancap di kayu jendelanya dari luar.

Yohan langsung melompat dan membuka jendela. Halaman luar paviliun tampak sepi dan gelap.

Tapi di bingkai jendela, menancap sebuah anak panah hitam kecil. Di ujung panah itu, ada secarik kertas yang digulung.

Dengan tangan sedikit gemetar, Yohan mencabut anak panah itu dan membaca pesan di dalamnya. Isinya singkat, tapi sukses membuat darah Yohan seakan berhenti mengalir.

"Ingin tahu rahasia besar yang disembunyikan istrimu? Temui aku besok siang di Ruang Penyimpanan Kitab... atau kau akan selamanya hidup sebagai suami bodoh yang buta.”

Sial, kenapa orang-orang ini bisa tahu apa yang tidak kuketahui!?

Tanpa menunggu lagi, Yohan segera bangkit dan langsung menuju ruang yang diminta oleh si pengirim pesan.

Saat ia sampai, jantungnya tiba-tiba berdegup semakin kencang. Apakah perselingkuhan istrinya benar-benar terjadi?

Atau ini hanyalah trik murahan? Tapi, untuk apa?

"Aduh... sakit sekali..."

Rintihan manja itu menggema pelan di sela-sela deretan rak kayu jati yang berdebu siang itu.

Yohan menghentikan langkahnya. Tangannya yang baru saja mendorong pintu tebal itu masih menggantung di udara.

"Siapa di sana? Keluarlah! Aku sudah memenuhi pesanmu!" seru Yohan tajam, bersiap menghadapi pengirim anak panah misterius semalam untuk membongkar rahasia Lian.

Namun, tidak ada sosok berjubah hitam yang muncul. Yohan justru disuguhi pemandangan yang membuat napasnya seketika tertahan.

Di lantai sudut ruangan, tampak Rin—sepupu ipar dari pihak istrinya—sedang duduk bersandar pada rak buku. Janda muda yang blak-blakan itu hanya mengenakan jubah sutra pendek yang bagian bawahnya tersingkap sangat tinggi.

"Rin? Apa yang kau lakukan di bawah sana?" tanya Yohan dengan dahi berkerut, perlahan melangkah mendekat.

Rin tidak buru-buru merapikan jubahnya. Ia justru memasang wajah memelas dengan mata berkaca-kaca. "Yohan, syukurlah kau datang. Aku tadi mau mencari gulungan kitab tingkat dasar, tapi malah terpeleset. Pergelangan kakiku terkilir, rasanya sakit sekali."

"Kenapa kau mencari kitab dengan pakaian seperti ini?" keluh Yohan seraya menghela napas.

"Aku kegerahan, Yohan. Jangan marah-marah, bantu aku dulu," rengek Rin dengan suara yang sengaja dilembutkan.

Meski sedang waspada mencari si pengirim pesan, Yohan tidak mungkin meninggalkan kerabat istrinya yang kesakitan. Ia akhirnya berjongkok di hadapan Rin.

"Biar aku lihat. Titik kakimu mungkin sedikit bergeser," ucap Yohan.

Tanpa ragu, Rin langsung menjulurkan kaki jenjangnya ke pangkuan Yohan. "Ughh... pelan-pelan, Yohan... rasanya ngilu tapi enak," desahnya sambil memejamkan mata saat tangan Yohan mulai memijat.

"Tulangmu baik-baik saja. Ini hanya kram," balas Yohan, berusaha menahan desiran di aliran darahnya akibat sentuhan kulit Rin yang sangat hangat.

Namun, belum ada lima menit, tangan Rin tiba-tiba merayap ke bawah. Janda muda itu menarik tangan pemuda tersebut agar naik lebih tinggi ke atas betisnya.

"Rin, apa yang kau lakukan? Titik terkilirnya ada di bawah," tegur Yohan dengan suara yang mulai serak.

"Aliran darahnya tersumbat sampai ke atas, Yohan. Tolong pijat bagian paha atasku juga... di sana terasa sangat kaku," bisik Rin.

Wanita itu sedikit menggeser posisi duduknya. Tanpa rasa malu, Rin sengaja melebarkan kedua pahanya, menarik tubuh Yohan hingga posisi pemuda itu kini berlutut tepat di antara kakinya.

"Gila! Apa isi kepala wanita-wanita di paviliun ini?!" desis Yohan tertahan, matanya membelalak panik.

"Kenapa tanganmu gemetar, hm?" Rin tersenyum nakal. Ia sengaja membiarkan jubah pendeknya tersingkap habis.

Yohan bisa melihat dengan sangat jelas lembah rahasia wanita itu. Lembah yang hanya tertutup celana sutra dalaman tipis, dan celana itu sudah terlihat sedikit basah mencetak garis yang menggoda.

"Tutup kakimu, Rin. Ini salah," ucap Yohan, napasnya mulai terengah-engah meski matanya terpaku di bawah sana.

"Kau pasti sangat kesepian, kan, Yohan?" bisik Rin dengan suara serak.

Kedua tangan Rin tiba-tiba terulur, menangkup rahang Yohan. Dengan dorongan lembut namun bertenaga, ia menuntun wajah Yohan menunduk, mendekatkannya tepat ke arah lembah rahasia-nya yang mengundang.

"Lupakan sepupuku yang dingin itu... Biar aku yang menghiburmu siang ini. Hirup aku, Yohan... rasakan betapa aku menginginkanmu," erang Rin manja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KEPALANG BASAH, SEKALIAN NYEBUR AJA!   Bab 9: Kali Ini Yohan Tidak Menolak

    Wanita misterius itu memutar tubuhnya ke depan Yohan, lalu tanpa ragu langsung meraup bibir pemuda itu dengan lumatan yang sangat panas dan rakus. Jika ini terjadi kemarin, Yohan pasti akan langsung menepisnya. Tapi malam ini, hatinya sudah mati. Insting liarnya mengambil alih. "Kau pikir aku akan menolakmu malam ini?" geram Yohan di sela ciuman mereka. Dengan napas memburu, ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita tersebut, menariknya hingga jatuh ke pangkuannya. "Jangan menyesal jika aku menghancurkanmu." "Nghhh... lakukan sesukamu..." lenguh wanita itu tertahan, membiarkan tangan Yohan meremas puncak aset kembar dan pinggulnya dengan liar. Namun, di tengah kegilaan dan ciuman yang memabukkan itu, Yohan tersentak. Dari arah samping dipan, sepasang tangan yang berbeda merayap naik ke atas pahanya. Mata Yohan terbelalak. "Tunggu... tangan siapa ini? Ada dua orang di ruangan ini?!" seru Yohan syok, mencoba memundurkan tubuhnya. Tangan wanita kedua itu sama se

  • KEPALANG BASAH, SEKALIAN NYEBUR AJA!   Bab 8: Serangan Dua Orang Wanita

    Hati Yohan bergetar pelan. Sentuhan dan kata-kata Hana membelai egonya yang sudah lama hancur. "Istriku punya ambisi yang jauh lebih besar dari sekadar memikirkan suaminya," balas Yohan tersenyum getir. Ia menarik tangannya perlahan. "Terima kasih atas jamuannya hari ini. Tapi hari sudah mulai sore, dan aku harus kembali ke paviliun untuk memeriksa pekerjaan pemugaran." Melihat Yohan bersiap pergi, Nyonya Han ikut berdiri. Ia justru melangkah maju hingga tubuh sintalnya menempel ringan di dada Yohan. Kedua tangannya terangkat, merapikan kerah jubah Yohan dengan gerakan yang sangat lambat. "Kau selalu berusaha lari dariku, Yohan," bisik Nyonya Han di depan bibir pemuda itu. Napas hangatnya menyapu wajah Yohan. "Tapi ingat... ranjang di paviliun itu akan terasa semakin dingin setiap malamnya. Pintuku di ibu kota selalu terbuka lebar untukmu." Yohan menahan napas saat Nyonya Han mendaratkan kecupan singkat yang basah di sudut bibirnya. "Kapan pun kau butuh pelampiasan... datangl

  • KEPALANG BASAH, SEKALIAN NYEBUR AJA!   Bab 7: Undangan dari Nyonya Han

    Bukannya merapikan posisi duduknya yang berantakan, wanita itu justru sengaja mengubah posisinya.Rin merebahkan tubuhnya sedikit ke belakang, lalu dengan gerakan pelan yang sangat memancing, ia melebarkan kedua pahanya.Celana sutra pendek yang ketat itu semakin tertarik ke atas, nyaris mengekspos pangkal lembah rahasia-nya secara terang-terangan."Masih belum puas menatapku di ruang kitab tadi?" goda Rin sambil menggigit bibir bawahnya. "Kemarilah. Aula ini sedang sepi. Kau bisa melanjutkannya di sini."Melihat paha mulus yang terbuka lebar menantang di depannya, jakun Yohan bergerak naik turun.Hawa panas kembali menjalari aliran darahnya, memancing pusaka pribadi-nya yang baru saja tenang untuk kembali berdenyut keras.Namun, luka di hatinya akibat pesan berdarah tadi jauh lebih kuat menguasai perasaannya saat ini."Tutup kakimu, Rin. Dan pakai pakaian yang pantas jika kau sedang berada di aula utama," balas Yohan dengan nada suara yang sangat dingin dan datar, nyaris terdengar se

  • KEPALANG BASAH, SEKALIAN NYEBUR AJA!   Bab 6: Sayang Sekali, Rin Gagal.

    Akal sehat Yohan benar-benar berada di ujung tanduk. Hawa panas meledak di kepalanya. Pusaka pribadi miliknya di balik celana langsung menegang keras dan berdenyut menyakitkan.Naluri lelakinya mendesaknya untuk merobek celana sutra tipis itu. Namun, tepat saat hidungnya hampir menyentuh kehangatan tersebut, isi surat semalam menyambar benaknya."Tunggu," geram Yohan, menahan napasnya. "Apa kau yang mengirim pesan panah semalam, Rin?""Panah? Panah apa maksudmu?" Rin membuka matanya, menatap bingung."Pesan untuk menemuiku di ruang kitab siang ini. Apa ini semua hanya jebakanmu untuk menggodaku?!" tuntut Yohan."Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Yohan! Aku benar-benar jatuh!"Mendengar itu, darah Yohan mendidih. Jika Rin tidak berbohong, berarti pengirim aslinya mungkin sedang mengawasi mereka sekarang! Jika ia menyerah pada godaan ini, ia tak lebih dari pria rendahan yang gampang dipermainkan.Dengan rahang mengeras, Yohan mencengkeram lantai kayu, lalu dengan satu sentakan kuat

  • KEPALANG BASAH, SEKALIAN NYEBUR AJA!   Bab 5: Rin Yang Menggoda

    Insting lelakinya berteriak menyuruhnya menerkam tubuh sintal itu, merobek sisa jubahnya, dan menghajarnya habis-habisan di ranjang ini sebagai balasan atas rasa sakit hatinya pada Lian.Namun, bayangan lukisan Lian yang buram itu tiba-tiba lewat di kepalanya.Lukisan itu tidak jelas. Semuanya baru desas-desus. Dia belum melihat sendiri bukti nyata kalau istrinya benar-benar berselingkuh.'Sialan! Kalau aku tidur dengan mertuaku sendiri malam ini tanpa bukti yang jelas soal Lian, aku tidak ada bedanya dengan binatang bajingan!' batin Yohan keras-keras.Dengan rahang mengeras, Yohan mencengkeram tangan Nyonya Mei dan menyingkirkannya dengan paksa dari atas celananya.Yohan menarik napas panjang, lalu mengambil jubah sutra itu dan memakaikannya kembali menutupi dada Nyonya Mei."Cukup! Hentikan, Nyonya Mei," ucap Yohan dengan napas ngos-ngosan, menatap tajam wanita di depannya. "Jangan mengujiku lebih jauh lagi. Selama aku belum melihat sendiri bukti istriku selingkuh... aku tidak akan

  • KEPALANG BASAH, SEKALIAN NYEBUR AJA!   Bab 4: Godaan Nyonya Mei

    Tangan Yohan yang gemetar akhirnya menyerah. Ia mencengkeram pinggang sintal Nyonya Han dengan kuat, menarik tubuh basah wanita itu merapat tanpa jarak. Yohan menundukkan wajahnya, bersiap melumat bibir merah yang terus mendesah itu.Namun, tepat saat bibir mereka nyaris bersentuhan...Wuuunggg!Sebuah cahaya merah darah berkedip terang dari arah pinggang Nyonya Han, disusul dengungan spiritual yang nyaring."Sialan!" umpat Nyonya Han. Gerakannya terhenti seketika. Gairahnya pudar digantikan wajah pucat."Ada apa?" tanya Yohan dengan napas terengah-engah, pusaka-nya masih menegang maksimal di balik celana.Nyonya Han menarik slip giok darurat itu dan membacanya cepat. "Waktunya sungguh tidak tepat! Ada pengkhianatan di gudang pusatku di ibu kota!"Wanita itu menatap Yohan dengan wajah frustrasi. "Urusan kita terpaksa berhenti di sini, Yohan."Nyonya Han memajukan wajahnya, menggigit pelan cuping telinga Yohan sebelum mundur. "Tapi ingat... aku akan kembali untuk menagih jawabanmu, da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status